Bab 13. Izin Kencan

1200 Kata
Melihat Hera yang tak kunjung meminum s**u yang ia buatkan, Gama menyipitkan matanya. “Mengapa kau tidak meminumnya?” Hera menoleh. Lalu ia meletakan gelas di atas meja. “Aku tidak mau!” Hingga Gama menaikan sebelah alisnya. Ia maju dan mencekal lengan atas istrinya. Bola mata mereka bertemu. Dengan tatapan yang sama. Kecewa, dan kesal menjadi satu. “Sebenarnya apa maumu? Jangan membuatku kesal! Aku sudah menyempatkan pergi ke supermarket 24 jam. Mencari s**u hamil terbaik untukmu. Aku sudah membuatkannya juga, walaupun keringat bekas kerja seharian masih menempel di tubuhku. Tapi malah begini balasanmu?” Gama merapatkan bibirnya. Hera menatap Gama dengan nanar. Sebelum akhirnya ia menyentakan kedua tangan Gama yang mencekalnya, hingga membuat lelaki itu terkejut. Hera bangkit berdiri. Gama menatapnya tak percaya. “Aku alergi vanilla! Aku bukan Karin! Jadi aku tidak suka dengan rasanya!” Hera berkata lantang. Nadanya tinggi. Gama tercenung. Ia sempat melihat gadis itu terisak, sebelum kemudian Hera berbalik pergi menuju kamarnya. Gama menghempaskan punggungnya di sandaran sofa. Ia memijat kening. Entah mengapa? Ada perasaan bersalah yang tiba-tiba saja menyeruak masuk dalam hatinya. *** Pagi harinya… Hera meregangkan tangannya, Ia mengucek mata. Lantas mengerjap. Hera keluar kamar dan tidak menemukan suaminya. Melihat ke arah jam dinding. Baru juga pukul setengah enam. Tumben sekali Gama berangkat sepagi ini? Namun, Hera tertegun. Matanya termangu melihat pada apa yang ada di atas meja makan. “s**u cokelat?” Hera berseru pelan. Ia menghampiri meja makan dan meraih gelas s**u itu untuk ia angkat. Sedangkan sebelah tangannya yang lain mengambil secarik kertas berwarna kuning, yang terletak di bawah gelas s**u tadi. Hera mendekatkan kertas itu untuk ia baca. “Sorry!” Hanya tulisan itu yang tertera di sana. Rupanya, Gama lah yang sudah membuatkannya s**u cokelat ini. Lelaki itu meminta maaf atas apa yang ia katakan semalam. Ya! Meski itupun hanya dengan sekadar ucapan sorry. Tapi, nampaknya satu kata itu saja sudah cukup membuat seulas senyum manis tersungging di bibir Hera. *** Hera menghela napas. Ia baru saja membuka pintu kulkas dan mendapati stock sayuran sudah mulai habis di sana. “Brokolinya juga habis, Diar. Sepertinya harus belanja dulu,” kata Hera seraya menutup pintu kulkas. “Kalau begitu, saya beli di supermarket saja ya, Nyonya.” Hera menggeleng. “Jangan! Kau sedang flu, ‘kan? Biar aku saja yang pergi ke supermarket! Lagipula, jarak ke supermarket tidak jauh juga dari rumah. Aku bisa naik taksi!” “Jangan, Nyonya. Nyonya ini sedang hamil. Masa mau naik taksi sendirian?” “Tidak sendirian kok, Diar. Aku akan menemani Hera!” Kevin menyela dengan tiba-tiba muncul di dapur, membuat Leanna dan Diar menoleh ke arahnya. “Kevin? Sejak kapan datang?” tanya Hera. Ia mengernyitkan dahi menatap Kevin. Kevin adalah sahabat Hera sejak masa sekolah, sekaligus sepupu Gama. Hera cukup terkejut melihat Kevin tiba-tiba datang ke rumahnya. Terlebih saat Gama tidak ada di rumah. Kevin menjawab, “Baru saja! Aku lihat pintunya terbuka, jadi aku langsung masuk saja,” ucap Kevin. Diar melebarkan matanya, melirik pada bingkisan yang ada di tangan Kevin. “Wah, Tuan Kevin bawa apa?” tanya Diar penuh antusias. Hera melirik ke arah yang sama. Kevin mengangkat bingkisannya. “Ini untuk si kecil,” kata Kevin sambil tersenyum. Hera mengerutkan dahi. “Si kecil?” Kevin mengangguk. “Iya. Calon anakmu yang sekarang masih menghuni perut ibunya.” Seketika, Diar tertawa. “Tuan Kevin, janinnya ‘kan masih dua bulan, tapi sudah dibelikan barang sebanyak ini. Kalau kata orang tua saya, itu pamali. Harusnya beli perlengkapan bayi itu pas mendekat-dekati hamil tua.” Diar menjelaskan. Kevin nyengir, menggaruk tengkuknya. “Oh.. Begitu ya? Saya tidak tahu soal itu. Maaf, Hera! Ya sudah, barangnya kubawa lagi. Nanti aku kasih kalau perutmu sudah besar.” Hera menggelengkan kepalanya cepat. Ia melangkah maju ke hadapan Kevin, lantas meraih bungkusan yang ada di tangan lelaki itu. “Tidak apa. Harusnya aku bilang terima kasih. Aku tersanjung. Kau begitu peduli pada calon anakku!” Hera mengulas senyum. Kevin melirik pada perut Hera yang masih datar. “Aku tidak sabar ingin melihat dia segera lahir ke dunia.” Hera terkekeh. “Kau ingin bermain dengannya, ya?” tebak Hrra. Ia menaruh bungkusan pemberian Kevin di atas meja. Kevin mengangguk dengan sebuah senyum yang tersumir di bibirnya. “Ya! Itu salah satunya. Tapi aku lebih ingin melihat raut wajah anakmu. Aku ingin membandingkan. Apa raut wajahnya akan selembut dirimu, atau sekecut Gama,” kata Kevin, lalu mendapatkan pukulan pelan di lengan kirinya dari Hera. Lelaki itu tertawa. Sedangkan Hera menggeleng dengan kekehan. *** Kevin berhasil membawa Hera pergi keluar bersamanya. Lelaki itu nampaknya harus mengucapkan terimakasih pada Diar yang lupa mengecek stok sayuran, hingga kini Kevin memiliki alasan yang logis untuk bisa berduaan dengan Hera. Meskipun mereka tak sepenuhnya berduaan. Sebab, tetap saja ada sekantung sayuran di antara mereka. Kevin memang telah menaruh perasaan terhadap Hera sejak dulu. Sayangnya, Hera lebih dulu menikah dengan Gama. Sekeluarnya Kevin dan Hera dari dalam supermarket, Lelaki itu tiba-tiba saja menghentikan langkahnya sejenak. Membuat Hera menoleh dan menatapnya dengan raut wajah penuh tanya. “Ada apa?” tanya Hera. Kevin yang sedang membawa belanjaan di tangannya, mendongkak. Ia melirik pada langit yang sepertinya mulai sedikit gelap. Tapi, ini masih jam empat sore. Hanya karena faktor cuaca lah yang membuat langit itu mendung. Lalu Kevin mengalihkan pandangannya pada Hera. Kemudian Kevin berkata, “Kalau kuajak jalan-jalan sebentar ke taman kota, mau tidak?” tanya Kevin. Ia menatap Hera dengan wajah penuh harap. Hera menggeleng. “Maaf, Kevin. Sebenarnya aku ingin … tapi tidak bisa.” Kevin meneguk ludah. Ia menaikan sebelah alisnya. “Kenapa? Apa karena langitnya sudah mendung? Jangan khawatir! Kita hanya sebentar! Aku janji!” kata Kevin meyakinkan. Hera menghembuskan napas, lantas menggeleng pelan. “Bukan. Tapi karena aku sudah bersuami.” jawabnya. Oh, iya! Kevin lupa! Wanita itu pasti akan menolak kalau ia bawa jalan-jalan. Beda halnya dengan hanya sekadar menunggu bis di halte. Ikatan pernikahan pasti membuat Hera merasa dirinya tak boleh sebebas dulu. Ia harus menjaga batasan dengan lelaki lain. Dan, Kevin paham untuk itu. Tapi, Bukan berarti Kevin tak punya jalan keluar lain. Ia sudah tanggung membawa Hera keluar, mengapa tidak sekalian saja membawanya jalan-jalan. “Baiklah. Aku mengerti. Ini pasti soal izin dari Gama, bukan? Kalau kutelelpon Gama untuk meminta izin membawamu pergi ke taman sebentar, apa kau masih akan menolak?” Kevin bertanya. Herq menatapnya tak percaya. Apa maksudnya? Apa Kevin akan nekad menelpon Gama? Tak mengulur waktu, Kevin bergegas mengeluarkan ponsel pintarnya. Hanya dalam sepuluh detik, Kevin sudah berhasil mendial nomor Gama. Dan … tersambung. ‘Kenapa, Kevin? Kuharap ini penting!’ tanya Gama di seberang telpon. terdengar dari nada bicaranya, Nampak sekali kalau Gama tengah sibuk. Kevin tersenyum miring. Sedangkan Hera menggigit bibir. “Santai, Brother. Kau ingin aku to the point? Baiklah, jadi begini, aku ingin mengajak istrimu kencan, tapi dia tidak mau karena belum mendapat izin dari suaminya yang super sibuk. So, aku menelpon hanya untuk meminta izinmu saja. Apa kau mengizinkan?” Diam sejenak, Hera melotot pada Kevin. Ia hendak merebut ponsel Kevin. Tapi tentu saja tak mudah. Tubuh Kevin lebih tinggi dari Hera. “Jadi bagaimana?” tanya Kevin lagi. sayup-sayup terdengar geraman dari telpon. ‘Hhh.. Terserah! Bawa saja dia sesuka hatimu!’
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN