Bab 14. Pengkhianat

1002 Kata
Gama langsung memutuskan sambungan. Membuat Kevin menatap dengan senyum senang pada ponsel pintarnya. “Wow, aku suka ini!” Kevin berseru. Hera mencubit pinggangnya, membuat Kevin mengaduh dan menatap Hera dengan raut tak berdosa. “Kenapa kau bilang padanya kalau kita mau kencan?” Hera bertanya. Air mukanya penuh tuntutan pada Kevin. Lelaki itu nyengir. Ia mengusap rambut dengan gaya santai. “Aku hanya bercanda! Tapi, kalau maumu kencan betulan juga tidak apa.” jawab Kevin. “Kevin!” Hera menggeram. Ia merogoh kantung plastik yang ada di tangan Kevin, mengeluarkan sebuah tomat, lantas melemparnya pada lelaki itu yang kini mulai berlari kecil menjauhinya dengan terbahak. *** Gama tengah duduk di meja kerjanya. Jemari tangannya bergerak-gerak gesit di atas keyboard. Kali ini tak nampak bergerak seperti biasanya. Karena jemarinya itu justru menekan-nekan tombol keyboard dengan sangat cepat dan penuh penekanan. Gama seolah melampiaskan apa yang tengah ia rasakan pada keyboard itu. Untung saja tak ada satupun huruf yang jebol atau terlepas dari tempatnya. Kesal, Gama memukul keyboard laptopnya dengan buku jari dengan kencang, hingga menimbulkan bunyi yang cukup keras. Menghempaskan punggungnya pada sandaran kursi, Gama meremas rambutnya. Ia kesal. Sebab, semenjak Kevin menelpon dan mengatakan kalau lelaki itu hendak berkencan dengan istrinya, darah di tubuh Gama langsung mendidih. Puncaknya langsung naik ke ubun-ubun. Entah mengapa? Gama merasa tak suka mendengar kata kencan dari mulut Kevin. “Apa yang kupikirkan? Konsentrasiku langsung pecah hanya karena membayangkan sesuatu yang tidak jelas!” desis Gama. Ya! Sebenarnya inilah yang membuat Gama sulit berpikir, tak fokus, bahkan berpuluh-puluh kali ia salah melakukan tanda tangan pada laporan yang bertumpuk di meja kerjanya. Gama membayangkan, kalau Kevin dan Hera akan pergi ke tempat-tempat romantis. Menikmati makan berdua di restoran mewah atau menonton film romantis di bioskop. Gama memejamkan matanya. Ia memijat kening, lantas mengusap wajah. “Mereka boleh saja berbuat sekotor apapun yang mereka mau di belakangku! Tapi tunggu dulu sampai Hera melahirkan! Aku tidak sudi kalau anakku harus menjadi saksi bisu dari pengkhianatan yang mereka lakukan!” *** Hujan deras mengguyur jalan dan atap-atap bangunan. Datangnya begitu tiba-tiba. Mengagetkan orang-orang yang tengah berjalan, hingga cepat-cepat berteduh di pinggir-pinggir rumah. Mengetahui menantunya belum pulang, Jessi segera menelpon Gama. “Gama, Hera! Hera dan Kevin belum pulang sejak pukul lima sore,” Jessi memberitahu. Terdengar suara pekikan dari sana. ‘Apa? Mereka belum pulang? Di luar sedang hujan deras, juga angin kencang! Kupikir mereka sudah pulang. Sebenarnya ke mana mereka?’ Jessi mengatur napas sejenak. “Kata Diar, mereka pergi ke supermarket. Tapi sampai pukul tujuh malam, belum pulang juga. Mama khawatir. Suara petirnya keras sekali. Gama, apa Hera tidak takut petir? Bagaimana kalau dia kedinginan di luar?” tanya Jessi dengan menahan tangis. Gama berpikir sejenak. Ia tidak pernah tahu apapun tentang Hera. Bahkan Gama pun tak pernah tahu apa yang disenangi dan ditakuti oleh wanita itu. “Cari dia, Gama! Tolong cari Hera! Dia tidak membawa ponsel. Punya Kevin pun tidak aktif.” Gama meremas buku jemarinya. Ia merutuki Kevin dalam hati. Kemana lelaki itu membawa Hera pergi?. Hingga sampai semalam ini, mereka belum pulang. ‘Ok, Ma. Tenang saja! Aku akan mencarinya sekarang juga!’ kata Gama, sebelum akhirnya ia memutuskan sambungan telpon. “Kevin!” Gama memukul meja. “Apa kau tidak bisa bertindak gentleman? Membawa pergi tapi tak mengembalikan. Benar-benar!” Gama terhenyak. Saat suara petir menyambar kaca bangunan kantornya. Ia menoleh dengan mata yang melebar. “Hera!” pekik Gama, sebelum kemudian ia bergegas bangkit, menyambar jas yang tersampir di kursi, memakainya sembari berlari. Hingga membuat sekretaris yang melihat Gama keluar ruangan dengan menyentak pintu kuat-kuat. Terkejut. Baru saja sekretaris itu hendak membuka suara, tapi Gama lebih cepat berlari lantas menghilang dari pandangannya. *** Seturunya dari lift baseman, Gama bergerak cepat menuju mobil. Tangannya memencet tombol kunci, lalu membuka pintu, ia menghempaskan diri di kursi kemudi. Lantas menyalakan mesin roda empat miliknya. Dengan kecepatan maksimal, Gama melajukan mobilnya untuk keluar dari baseman. Lantas membelah jalanan seperti orang gila. Ia tak menghiraukan seruan protes dan suara-suara klakson kendaraan orang lain yang memarahinya. Entah karena kecepatan mobilnya? Atau karena mobilnya menyalip dengan sembarangan? Yang Gama pikirkan saat ini adalah. Wanita itu baik-baik saja! Petir kembali menyambar, dengan gemuruh yang menggelegar hingga memekikan telinga. Gama menajamkan matanya. Ia benar-benar memacu kendaraan seolah sedang berkompetisi di arena balap. *** Bodoh! Gama merasa dirinya sangat bodoh! Sebab, ia repot-repot melajukan mobil dengan kecepatan tinggi, hanya demi seorang wanita yang kini bahkan tengah berkhianat di depan matanya. Tadi, saat Gama tak tahu arah kemana ia harus mencari Hera dan Kevin. Semua tempat yang ia kenal selalu dikunjungi Kevin, sudah Gama datangi. Namun, batang hidung mereka pun tak Gama temukan. Hinggalah selintas pikirannya tertuju pada sebuah tempat yang mana selalu dikunjungi Kevin dan dirinya semenjak masa kecil. Dulu sekali, mereka sering mendatangi tempat itu. Untuk bermain dan bercanda di sana. “Taman air mancur! Apa Kevin membawa Hera ke sana?” Gama bergumam. Meski hatinya sedikit ragu, tapi tak ada salahnya ia mencoba. Semoga saja dugaannya benar. Gama kembali menyalakan mesinnya lagi. Lantas melajukan mobil untuk kemudian menuju taman kota. Tempat dimana dulu Kevin dan Gama membangun masa kecil yang indah bersama-sama. Dan, kini Gama menyesal. Mengapa firasatnya menuntun langkahnya ke taman ini? Dengan berdiri di bawah guyuran hujan, Gama hanya mematung di salah satu bagian taman kota. Sekarang Gama berdiri dengan tatapan yang tajam. Telapak tangannya mengepal di kedua sisi. Sedang netranya menatap pada pemandangan yang terpampang di depannya. Di sana, tepat di bagian taman yang terdapat atap untuk berteduh. Sahabatnya sedang memeluk istrinya sendiri. Nampak sekali terlihat kalau Kevin mendekatkan wajahnya pada Hera. Meski Gama berdiri dengan jarak yang cukup jauh dari mereka. Tapi, posisi mereka sudah menunjukan apa yang tengah mereka lakukan saat ini. Gama mengetatkan rahangnya. Ia menghembuskan napas kasar. Lantas tersenyum kecut. “Hah, kau bodoh, Gama! Menghawatirkannya seperti orang gila, tapi dia sendiri justru asyik bermesraan dengan sahabatmu!” “Memang betul-betul pasangan pengkhianat,” desis Gama, sebelum akhirnya ia memutuskan untuk berbalik pergi meninggalkan taman kota yang sekarang sudah tak lagi menjadi kenangan manis untuknya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN