"Tuan Gama! Maaf, Tuan. Apa kita tidak segera pulang? Langitnya sudah mendung, sepertinya sebentar lagi hujan akan turun. Anda bisa kehujanan jika terus berdiri di sini." dengan hati-hati, sopir Gama bertanya pada Gama yang berdiri membelakanginya. Enam tahun berlalu, dan Gama masih setampan dulu. Tidak ada yang berubah dari lelaki itu kecuali brewok tipis yang menghiasi rahangnya. Wajah tegas Gama menghadap ke depan. Matanya lurus menatap pada makam Jessy, ibu kandungnya. Jessy meninggal tepat empat tahun setelah Hera kabur. Karena ia terus sakit-sakitan dan semakin hari, kondisinya semakin memburuk. Tidak sehari pun Jessy berhenti memikirkan Hera. Bagaimana nasib menantunya, dan dengan siapa dia tinggal. Hal itu membuat Gama menyesal karena orang suruhannya tak bisa menemukan keberad

