Bab 1: Wisuda
Aula SMA Meridian International riuh oleh suara yang tidak pernah gagal membuat Maia Anastasia tersenyum setiap tahunnya, decak shutter kamera, tawa renyah para orang tua, dan langkah-langkah kaki yang berdesakan di atas lantai marmer.
Wisuda.
Kata itu sendiri terasa asing di lidahnya. Rasanya, baru kemarin ia duduk di bangku kelas satu, sibuk mencari ruang kelas yang ternyata salah lantai. Sekarang, toga biru laut dengan jumbai emas tergantung di bahunya, dan selembar ijazah tersegel menunggu di dalam map yang ia jinjing erat.
"Maia, sini dulu. Toga-nya miring."
Tangan hangat merapikan kerah toganya. Maia menoleh, menemukan Ibunya Janet, Tante Rina, sedang sibuk membenahi lipatan di bahunya.
"Tante, ini bukan baju pengantin," protes Maia pelan, tapi ia tidak menghindar.
"Justru makanya harus rapi. Foto wisuda itu abadi, Nak." Tante Rina tersenyum, lalu menepuk pelan pipi Maia. "Lihat itu, cantiknya anak Tante."
Di sebelahnya, Ibunya Maia sendiri, Mami Diana, sudah sibuk memotret dengan kamera mirrorless barunya. "Sini, Mai, Senyum. Jangan cemberut gitu, ini hari bahagia."
Maia tertawa, menuruti perintah itu. Di seberang mereka, Erika sudah melompat ke pundak ayahnya, berpose konyol dengan jari membentuk simbol perdamaian. Janet berdiri di antara ibunya dan Ibunya Maia, tersenyum lembut sementara rambutnya diurai oleh kedua wanita itu bergantian.
Tidak ada satu pun dari mereka yang merasa asing.
Sejak TK, ketika Janet menangis karena sepatunya tertukar dan Maia dengan sigap meminjamkan sepatu cadangannya, sementara Erika langsung merangkul keduanya dengan es krim stroberi di tangan, tiga keluarga ini sudah menjadi satu. Ulang tahun dirayakan bergilir. Lebaran dan Natal selalu dihabiskan bersama. Tante Rina lebih hafal resep opor Mami Diana daripada yang empunya resep sendiri. Ayah Erika, Om Brama, adalah orang pertama yang diajak Mami Diana berkonsultasi saat Ayah Maia jatuh sakit tiga tahun lalu.
Mereka bukan sekadar tetangga. Mereka adalah keluarga yang dipilih.
"Oke, giliran kita bertiga!" Erika menyeret tangan Maia dan Janet ke tengah aula, memaksa seorang ayah dari keluarga lain untuk memotret mereka.
Tiga gadis. Tiga toga. Tiga senyum yang berbeda. Maia yang tenang dan bangga, Erika yang meledak-ledak, Janet yang lembut seperti air.
Klik.
Momen itu terekam. Sempurna.
Setelah hampir satu jam berfoto dengan setiap sudut aula, dari podium hingga tangga utama yang katanya"Instragramablе" ketiga gadis itu akhirnya lolos ke taman belakang sekolah.
Sore itu matahari bersikap baik. Cahayanya keemasan, jatuh miring di antara pepohonan trembesi yang rindang, menciptakan pola-pola abstrak di atas bangku-bangku beton.
Mereka duduk berjejer. Orang tua mereka tidak jauh, masih asyik mengobrol di bawah payung besar dekat pintu keluar, sesekali melempar tawa yang terdengar samar.
"Besok berangkat." Ayah Erika, Om Brama, tiba-tiba muncul di belakang mereka, menyandarkan tangan di sandaran bangku. Senyumnya lebar, tapi matanya tajam. "Jangan ada yang bangun kesiangan."
Erika mendengus. "Aku nggak pernah kesiangan, Pah."
"Kamu kesiangan setiap hari.." Maia tidak repot-repot menoleh dari buku catatannya.
"ITU KAN DULU! Sekarang kita sudah dewasa."
Janet tertawa kecil, menutup buku sketsanya. "Tenang aja, Eri. Aku sudah set alarm jam empat pagi. Kalau kamu nggak bangun, aku siram air satu ember."
"Pengkhianat."
Om Brama tertawa, menepuk pundak Erika keras-keras hingga gadis itu terbatuk. "Sudah, sudah. Papa cuma mau bilang, jaga diri. Eropa itu jauh. Kalau ada apa-apa, telepon."
"Siap, Pah."
Tidak ada nasihat panjang lebar. Tidak ada air mata. Mereka sudah melewati itu semua bertahun-tahun lalu, ketika pertama kali mengutarakan ide gila ini di kantin kelas tiga SMP.
'Eropa. Setelah lulus.'
Awalnya hanya lelucon. Tapi kemudian Maia membuka spreadsheet. Erika mulai menyisihkan uang jajan. Janet menjual lukisan-lukisan lamanya di marketplace. Orang tua mereka, setelah syok selama kurang lebih satu minggu, akhirnya setuju, dengan syarat dana ditabung sendiri, itinerary dibuat matang, dan mereka harus pulang dengan selamat.
Tiga tahun.
Tiga tahun menabung, merencanakan, berdebat tentang kota mana yang harus dikunjungi, belajar bahasa Prancis dasar dari YouTube, dan bermimpi tentang jalanan berbatu di Paris, gondola di Venesia, dan cahaya utara di Norwegia.
Dan besok, mimpi itu mulai.
Mereka sedang sibuk membagi tugas. Maia akan mengecek ulang tiket kereta, Erika mencari daftar kafe tersembunyi di Montmartre, Janet menggambar sketsa kecil Menara Eiffel di buku catatannya, ketika bayangan jatuh di atas halaman kertasnya.
"Jadi... kalian benar-benar jadi berangkat?"
Suara itu.
Maia tidak perlu mendongak untuk tahu siapa pemiliknya. Nada itu manis di permukaan, tajam di ujungnya, hanya dimiliki oleh satu orang di sekolah ini.
Angelica Wijaya.
Di belakangnya, seperti dua bayangan yang setia, berdiri Stefani dan Pilutri. Tiga gadis yang sudah menjadi ratu tidak resmi SMA Meridian International sejak kelas satu. Rambut Angelica jatuh sempurna, tas branded di bahunya harganya setara dengan tiket pesawat Maia ke Paris. Stefani mengunyah permen karet dengan sikap bosan, sementara Pilutri memutar-mutar kunci mobil di jarinya.
"Iya. Besok pagi," jawab Erika santai, bahkan tidak repot-repot menutup buku catatannya.
Angelica tertawa kecil. Tawa yang dibuat-buat, seperti sedang menonton komedi yang tidak lucu. "Serius deh, kalian ngumpulin uang bertahun-tahun cuma buat dihabisin jalan-jalan? Bukan buat biaya kuliah?"
"Kami sudah rencana masing-masing," kata Maia tenang. Matanya tetap di layar ponsel. "Tapi kuliah tetap jalan."
"Tapi kan, ya..." Stefani akhirnya bersuara, menyilangkan tangan di ɗada. "Kalau aku mau ke Eropa, tinggal bilang sama Papaku, aku tinggal berangkat," Ia mengangkat bahu, seperti sedang membicarakan cuaca. "Nggak perlu nabung tiga tahun. Capek."
Janet tersenyum tipis. Tidak membalas.
Pilutri menatap mereka bertiga dari atas ke bawah, seperti sedang menilai baju obralan di pasar malam. "Yang aku khawatirin bukan berangkatnya."
Ia menjeda, membiarkan keheningan menggantung.
"Tapi... kalian yakin bisa pulang? Jangan-jangan baru seminggu sudah kehabisan uang."
Ketiganya tertawa. Tawa yang tidak terlalu keras, tapi cukup untuk membuat beberapa orang di taman menoleh.
Erika sudah membuka mulut. Rahangnya mengeras, matanya menyipit. Maia bisa melihat tangan sahabatnya itu mengepal di sisi tubuh.
Tapi sebelum Erika sempat meledak, jari-jari Maia menyentuh pelan lengannya.
Cukup untuk berkata, 'Jangan.'
"Sudah," bisik Maia.
Janet, yang sedari tadi diam, akhirnya menoleh. Ia menatap Angelica dengan senyum yang sama, lembut, tulus, dan sama sekali tidak terpancing.
"Semoga liburan kalian juga menyenangkan."
Kalimat itu jatuh seperti air dingin.
Angelica berkedip, mulutnya sedikit terbuka. Ia jelas mengharapkan teriakan, air mata, atau setidaknya pembelaan diri yang panik. Bukan ini, bukan senyum tipis yang seolah berkata, 'Kami tidak butuh validasi kalian.'
"Ya... sudahlah." Angelica membalikkan badan, rambutnya berayun dramatis. "Awas aja nanti nangis di negara orang minta dipulangin."
Stefani dan Pilutri mengikuti di belakangnya, masih tertawa kecil.
Erika menghela napas panjang, bahunya turun. "Sumpah, ya. Tiap kali ada momen bahagia, mereka pasti muncul. Kayak kecoa."
"Biarkan saja," kata Maia, kembali menatap ponselnya. "Mereka nggak akan paham."
"Memangnya paham apa?"
" Bahwa ini bukan tentang uang. Ini tentang kita."
Janet, yang sedari tadi diam, dan bicara seadanya menutup buku sketsanya. "Mereka punya Papa yang bisa membelikan tiket. Kita punya tiga tahun yang kita perjuangkan sendiri."
Ia menatap sahabat-sahabatnya. "Itu beda."
Erika terdiam. Lalu perlahan, ia tersenyum. "Kalian berdua memang terlalu puitis buat hari biasa."
"Lho, kalian masih di sini?"
Suara berat yang familiar membuat mereka bertiga menoleh serentak.
Pak Hadi, wali kelas mereka selama tiga tahun terakhir, berdiri di sana dengan map di tangan dan kacamata yang melorot sedikit di hidungnya. Beliau adalah tipe guru yang selalu ke mana-mana membawa pulpen di saku baju dan permen jeruk di saku celana.
"Besok berangkat kan?" lanjutnya, tanpa menunggu jawaban.
Maia mengangguk. "Siap, Pak. Jam tujuh pagi."
Pak Hadi tersenyum. Senyum yang berbeda dari senyum-senyum sopan yang mereka terima hari ini. Ini senyum yang tulus, yang mencapai matanya.
"Bapak ikut senang."
Beliau menatap mereka satu per satu, lama. Seperti sedang memastikan bahwa mereka benar-benar nyata.
"Kalian tahu, nggak semua anak seusia kalian mau menabung bertahun-tahun demi mewujudkan mimpi. Kebanyakan maunya instan. Atau minta sama orang tua."
Ia menjeda, memasukkan tangan ke saku celananya, mengeluarkan beberapa permen jeruk. "Nih, buat di pesawat."
Mereka menerima dengan tangan terbuka.
"Jaga diri baik-baik," lanjut Pak Hadi, nadanya kini lebih pelan, lebih serius. "Cek lagi paspor, tiket, uang, dan barang-barang penting. Yang paling penting..."
Beliau menatap mereka dengan mata yang dalam.
"Jangan lupa berdoa."
Ketiga gadis itu mengangguk bersamaan. "Siap, Pak."
Pak Hadi mengangkat ibu jari. "Bapak doakan kalian selamat sampai tujuan... dan pulang membawa pengalaman yang luar biasa."
"Terima kasih, Pak," ucap Maia.
"Terima kasih banyak," tambah Janet pelan.
"Kalau ada oleh-oleh, jangan lupa buat Bapak. Tapi yang murah aja, Bapak nggak mau repotin." Pak Hadi tertawa, menepuk pundak Erika. "Terutama kamu, Nak. Jangan beli menara Eiffel satu set."
Erika tertawa. "Siap, Pak. Nanti saya beli gantungan kunci aja."
Pak Hadi mengangguk puas, lalu berbalik badan, melambaikan tangan tanpa menoleh.
Di belakangnya, beberapa guru lain baru saja keluar dari aula. Mereka berjalan cepat, sibuk dengan ponsel masing-masing, atau mengobrol tentang rapat minggu depan. Tidak ada satu pun yang menoleh ke arah mereka.
Tidak ada yang bertanya, "Besok berangkat, ya?"
Tidak ada yang tersenyum.
Mereka berlalu begitu saja.
Janet memperhatikan itu semua dengan tatapan yang sulit dibaca.
"Lucu ya," gumamnya pelan.
"Apa?" tanya Maia.
"Guru seperti Pak Hadi cuma satu orang. Tapi rasanya... lebih dari cukup."
Erika menyenggol bahu Janet. "Filosofis banget sih kamu, Net."
"Aku cuma bilang apa yang aku lihat."
Mereka tertawa pelan. Tapi di balik tawa itu, ada sesuatu yang mengendap. Sesuatu yang berkata bahwa perjalanan ini, perjalanan yang sudah mereka rencanakan selama tiga tahun, adalah milik mereka. Hanya milik mereka.
Dan tidak semua orang di dunia ini akan peduli.
Sore mulai merayap menjadi malam ketika kerumunan di aula perlahan menipis.
Mereka berpamitan pada teman-teman sekelas yang tersisa, saling berpelukan singkat, bertukar nomor yang sebenarnya sudah mereka punya sejak kelas satu.
Di parkiran, tiga mobil sudah menunggu.
Om Brama membunyikan klakson sekali. "Ayo, Dek. Besok pagi-pagi."
"Siap, Pah." Erika melambaikan tangan ke arah Maia dan Janet. "Jam empat ya. Kalau kalian nggak bangun, aku telepon dua puluh kali."
"Aku sudah set alarm," kata Janet.
"Aku sudah set lima alarm," koreksi Maia.
Erika mendengus. "Perfeksionis."
Mereka tertawa. Singkat. Ringan.
Tidak ada pelukan dramatis. Tidak ada air mata. Mereka masih akan sarapan bersama besok pagi di rumah Maia, seperti yang sudah direncanakan sebelum berangkat ke bandara.
Erika menoleh ke gedung SMA Meridian International. Gedung yang sudah mereka injak selama tiga tahun. Gedung yang menyimpan ribuan memori, dari hari pertama canggung, pertengkaran pertama karena tugas kelompok, sampai hari ini, hari terakhir.
"Aneh ya," gumamnya.
Maia menoleh. "Apa?"
Erika tersenyum kecil. Senyum yang tidak sering terlihat di wajahnya, senyum yang rapuh, yang jujur.
"Mulai besok... kita bukan anak SMA lagi."
Hening.
Angin sore meniup pelan, mengibaskan jumbai emas di toga mereka.
Janet menggenggam tangan Erika. Maia, setelah sejenak ragu, menggenggam tangan yang lain.
Tiga tangan. Satu genggam.
Tidak ada kata-kata. Tidak perlu.
Mereka berjalan bersama menuju parkiran, menuju mobil yang akan membawa mereka pulang untuk berkemas. Menuju malam terakhir di rumah. Menuju pagi yang akan mengubah segalanya.
Menuju masa depan yang belum mereka ketahui.
Ketiga gadis sudah naik mobil dengan orang tua masing-masing.
Jendela diturunkan. Tiga tangan melambai.
"Sampai besok!"
"Sampai besok."
Mobil-mobil itu bergerak, berbelok, dan menghilang di tikungan jalan.
Di kamar Maia, pukul sebelas malam.
Kamarnya rapi, terlalu rapi untuk ukuran seseorang yang akan berangkat pagi-pagi. Koper hitam berbaris di tengah lantai, sudah dikunci. Paspor, tiket, dan dokumen penting tersusun di atas meja belajar, dijepit dalam map transparan.
Maia duduk di tepi tempat tidur, menatap koper itu.
Ia sudah mengecek semuanya tiga kali. Baju, obat-obatan, adaptor, power bank, buku catatan, kamera. Tidak ada yang tertinggal. Tidak ada yang kurang.
Tapi daɗanya terasa aneh.
Bukan cemas. Bukan gugup. Sesuatu yang lebih dalam dari itu. Sesuatu yang seperti...
'Ini benar-benar terjadi.'
Ia menghela napas, berdiri, dan berjalan ke meja belajar. Mengambil paspornya yang berwarna hijau, lalu meletakkannya di atas koper.
Di samping paspor itu, ia meletakkan selembar kertas yang sudah dilaminating itinerary hari pertama yang ia buat enam bulan lalu.
Tulisan tangannya sendiri, rapi dan presisi.
'HARI 1: KEDATANGAN DI PARIS
Check-in hotel di Le Marais
Jalan kaki ke Notre-Dame
Makan malam di kafe dekat Seine
Foto pertama di depan Eiffel Tower'
Di bawahnya, dalam huruf yang sedikit lebih kecil, ia menulis satu kalimat yang tidak ia tunjukkan pada siapa pun
'Hari pertama dari sisa hidup kami.'
Maia menatap tulisan itu lama. Lalu ia mematikan lampu meja, membiarkan hanya cahaya bulan yang masuk dari jendela.
Di luar, kota sudah tidur.
Tapi di suatu tempat, jauh di seberang lautan, Paris sedang menunggu.
Pesawat dijadwalkan lepas landas esok pagi pukul tujuh.
Dan tidak ada satu pun dari mereka, baik Maia, Erika, atau Janet yang menyangka bahwa perjalanan yang mereka rencanakan dengan begitu hati-hati ini...
...akan mengubah hidup mereka selamanya.