Chapter 5: FLAMING SWORD

2269 Kata
...100%   Kali ini bukan asap yang mengganggu jarak pandang. Box besar itu, dindingnya hanya terangkat dari satu sisi dan sangat lambat. Baru terbuka beberapa inchi, ada kepulan asap keluar dari celah yang tercipta itu. Kepulan asap yang lebih tipis dari asap yang pertama, namun aku bisa mendeteksinya dengan mudah karena warnanya yang mencolok, hijau. Bukk... Bukk... Saat ku tebarkan pandanganku ke sekitar, aku dapat melihat beberapa dari mereka sudah tergeletak di atas lantai. Beberapa di antaranya bahkan sempat terbatuk terlebih dahulu sebelum ikut tumbang. Sungguh pemandangan yang sangat buruk. Panca indraku, selain lebih tajam daripada yang lainnya, mereka juga sangat peka dan otomatis adaptif dengan kondisi di lingkungan tempatku berada. Mendeteksi kadar racun yang sangat rendah di udara saja sudah mampu membuat indra penciumanku menghentikan fungsinya seketika. Saat ini, aku tidak bernafas karena robot tidak membutuhkan aktivitas itu. Beberapa orang ku lihat berhasil menonaktifkan indra penciuman mereka, termasuk Amel tentu saja. Aku yakin dia yang paling cepat menonaktifkan indranya ketika racun terdeteksi. Toni, ia tampak terhuyung namun segera berhasil mengendalikan kembali tubuhnya yang besar. Sepertinya ia sedikit terlambat menemukan solusinya. Aku berniat menggunakan helm yang harusnya masih melindungi kepalaku, namun aku sendiri tidak ingat kemana perginya helm itu. Apakah sudah hancur selama pertempuranku melawan laba-laba itu? – maksudku, alien tarantula. Bodoh, memangnya apa bedanya? Ibuku pasti menertawakanku kalau tau aku tidak bisa membedakan antara laba-laba dan tarantula. Apa? Ibu? Apa maksudnya? Tunggu-apa itu bagian dari ingatanku? “Arghh...” Aku terhuyung ke belakang, menabrak tubuh besar Toni yang otomatis membantuku kembali berdiri tegap. “Kau baik-baik saja?” tanyanya khawatir. Aku rasa khawatir karena belum tahu alien apa yang harus kita hadapi kali ini. Sial- Sengatan aliran listrik di otakku membuatku gila. Kenapa itu harus muncul setiap kali aku teringat sesuatu. Aku tidak akan berusaha mengingat apapun lagi, rasa sengatan listrik itu sungguh tidak nyaman. Lebih menyakitkan daripada membenturkan kepalaku ke permukaan baja. Aku mendorong tangan Toni, menghempaskannya yang berusaha menopang tubuhku. Aku tidak butuh itu. Aku adalah subjek 888, aku adalah pemimpin dari mereka. Aku tidak boleh terlihat lemah. “Bodoh, lukamu terlalu berat, sebaiknya kau mundur kali ini,” Amel sudah berdiri tepat di sampingku. Ku amati garis wajahnya yang tegas dari samping. Hidungnya mancung, mata dan bibirnya mungil, dan kulitnya putih. Aku bisa melihat rona kemerahan di kulit pipinya. Beep… Jenis Monster: Nagini Breed: Alien Tingkat Kesulitan: Kelas D “Ular, aku sempat membaca tentang monser itu,” ujar Amel, sepertinya ia juga telah menerima informasi dari layar mini itu. Aku tidak punya bayangan sama sekali bagimana bentuk dari monster kelas D kali ini. Ah- iya, aku tidak tahu maksud tingkat kesulitan di sini. Kelas D? Apakah itu lebih mudah atau justru lebih sulit untuk dikalahkan dibandingkan dengan monster tarantula itu? Kembali ku fokuskan kedua mataku ke dalam celah box yang sudah seperempat jalan terbuka. Monster itu tidak menunggu box sepenuhnya terbuka untuk keluar, karena sebuah kepala berukuran sekitar satu setengah meter dipenuhi sisik tampak menyembul keluar. Monster itu menjulurkan lidahnya yang mengerikan setiap beberapa detik. Ia masih berusaha untuk mengeluarkan seluruh tubuhnya dari box itu, tidak langsung menyerang. Aku mendengar langkah kaki orang-orang yang masih bertahan. Langkah kaki mereka kompak mundur ke arah yang sama. Kecuali dua orang lain yang memutuskan untuk menetap berdiri mengapit kedua sisiku seakan-akan aku butuh perlindungan. Benar dugaan Amel, monster itu memiliki bentuk menyerupai seekor ular. Hanya saja aku tidak pernah melihat ular yang asli sebelumnya. Apa ular yang asli memang se-mengerikan itu? Panjangnya dari pangkal kepala sampai ujung ekornya yang berbentuk seperti pentungan kira-kira lima belas meter. Bagian yang ku anggap ekor itu terus bergetar dan sepertinya aku tahu darimana asal asap beracun itu. Suara aneh dapat ku dengar dari bagian ekor monster itu, asap terus keluar dari lubang-lubang di atas permukaannya. Apa ia sedang buang angin? Baunya sangat busuk dan berhasil membuat sebagian besar teman-temanku kehilangan kesadaran mereka karena kandungan racunnya. “Dengar, apapun yang terjadi, kita pasti bisa mengalahkannya. Jangan biarkan autopilot milikmu itu muncul. Kau mengerti?” Amel. Aku bisa mendeteksi rasa takut dari nada bicaranya, namun gadis itu berusaha keras untuk menyembunyikannya. Aku mengangguk. “Aku akan memotongnya dengan pedangku,” tambah Toni. Pedang? Sebelum aku sempat melemparkan pertanyaan itu, ku lihat bagian belakang punggung Toni berkilat dan kemudian dari kosong, keluarlah dua bilah pedang berwarna hitam yang terlihat seperti bisa memotong apapun. Ia lalu mengambil kedua bilah pedang itu dengan kedua tangannya, kuda-kudanya menunjukkan kalau ia sudah terbiasa menggunakan pedang itu. Aku menelan air liurku sendiri saat melihatnya. “Darimana pedang itu muncul?” aku penasaran. “Maksudmu? Aku sudah memilikinya dari awal.” Toni berjalan maju, membelakangiku dan Amel yang masih menetap di tempatnya. Saat ku lihat ke arah Amel, gadis itu sudah tidak berdiri dengan tangan kosong dan kaki yang gemetar lagi. Sepasang fire gun berukuran sedang sudah berada di kedua tangannya yang ia silangkan di depan d**a. Merasa paling tertinggal karena tidak tahu bagaimana cara mendapatkan special weapon keren itu membuatku frustasi. “Kenapa, Kau? Tidak tahu cara melawan alien tanpa sistem otomatismu itu, hah?” Rayhan, ia sengaja membenturkan pundaknya yang keras itu ke pundakku dan berjalan mendekati Toni. Sekali lagi, rasa frustasiku semakin menjadi-jadi ketika mendapati tangan Rayhan sudah membawa sebuah senapan api yang ukurannya lebih besar dari tangannya yang berotot. “Poison, mungkin ini giliranku beraksi,” seorang gadis berbadan kurus dan tidak terlalu tinggi pun menyusul barisan yang Toni bentuk. Tata, aku sempat membaca namanya sebelum melawan tarantula. Dan ia memiliki kelebihan yang membuatnya sangat percaya diri, Poison-resistant. Ia kebal terhadap racun, pantas saja aku bisa melihat dadanya naik-turun normal seperti sedang bernafas di udara yang tidak bisa mengancam jiwanya. Semakin kesal, aku mengepalkan tinjuku. Tanganku masih kosong. Sarung tangan yang beberapa waktu yang lalu sempat sangat ku kagumi pun tidak juga menampakkan dirinya. Tapi, setelah tahu special weapon yang mereka miliki, aku merasa mendapatkan sarung tangan merupakan hal yang sial. “Amel, apa kau tahu kelemahan alien ini?” Toni berseru. Suara beratnya yang terdengar sangat fokus berhasil mengusir rasa frustasiku. Benar, aku tidak boleh frustasi saat ini. Aku harus ikut serta mengalahkan monster itu meskipun aku sendiri tidak tahu bagaimana cara mengeluarkan special weaponku. Persetan dengan kata special weapon! Amel, gadis itu menggeleng. Dahinya berkerut. Mungkin karena kesal dengan kenyataan kalau ada pertanyaan yang ia tidak bisa jawab. “Aku tidak tahu kalau itu alien, tapi kalau itu nagini-” suaranya terputus oleh suara raungan monster berbentuk ular itu. Monster itu meraung dan melolong dengan suara yang aneh, seperti tersiksa. Tapi aku tidak bisa memahami bahasanya. Mungkin aku akan meminta translator bahasa alien ditanamkan dalam chip otakku setelah latihan menyebalkan ini berakhir. Nagini, monster itu meliuk-liukkan kepalanya. Membantingnya ke arah yang berlawanan, tidak ada tanda-tanda ia mau menyerang. Meskipun begitu, aku tetap bersiaga. “Aku akan coba memotong kepalanya!” putus Toni. Aku melihat ia mulai mengangkat kakinya. Aku tidak menyangka ia akan seberani itu, menyerang terlebih dulu sebelum lawan menyerang? Aku tidak tahu apakah itu perbuatan yang benar saat ini? Toni berlari dengan kecepatannya yang dulunya nomer satu, iya, dulunya, sebelum orang dewasa itu memotong lututku dan melakukan sesuatu di bagian itu sehingga aku bisa berlari lebih cepat darinya. Ku perhatikan kuda-kuda yang Toni pakai menggunakan kedua bilah pedang itu, aku tidak ingat kapan kami mendapatkan latihan menggunakan special weapon, apalagi pedang. Bentuk special weapon yang sepertinya sudah cukup ketinggalan zaman. Tapi, dari cara Toni menggunakannya, aku percaya kalau dia cukup terlatih dan terbiasa menggunakan pedangnya itu. Setelah berlari, Toni menekuk lututnya dalam-dalam sebelum melompat setinggi-tingginya. Zeshhhhhh… Brukkk… Aku terperangah, tidak hanya aku. Mungkin yang lainnya juga. Tidak memperdulikan kondisi monster yang masih perang dengan isi kepalanya sendiri, Toni berhasil menebas kepala Nagini menggunakan kedua bilah pedangnya yang ternyata sangat tajam dalam sekali serang. Kepala itu jatuh di atas lantai dan cairan lendir yang persis dengan isi tubuh monster tarantula pun meluber keluar dari bagian yang terpenggal. “YEAH!” seru Toni sambil mengangkat salah satu pedangnya tinggi-tinggi ke atas udara. Yang lain kompak bertepuk tangan gaduh melihat aksi Toni yang benar-benar menyita perhatian itu. “TUNGGU!” Amel. “LIHAT!” Amel menunjuk sisa potongan tubuh Nagini, tepatnya di bagian kepalanya yang terpenggal. Toni yang tadinya memunggungi monster itu pun membalikkan badannya. Blurrrb… Blurrbb… Gelembung-gelembung aneh berwarna hijau tampak bereaksi pada bekas penggalan kepala. Benar, seharusnya bagian tubuh Nagini yang panjang itu harusnya ikut ambruk ketika kepalanya terpisah dari badannya. Tapi, itu tidak terjadi. Bagian tubuhnya tetap menjulang tinggi, sementara sisanya menjulur di lantai. Bahkan bentuk ekornya yang aneh itupun tidak berhenti bergetar, asap tidak berhenti keluar. Blurbbb… Gelembung-gelembung itu membesar kemudian meletus, begitu terus tiada henti. Sampai, tak butuh waktu lama, kejadian yang benar-benar tak pernah ku bayangkan pun kembali terjadi. Gelembung itu, terus bergerak seakan-akan menunjukkan kalau monster itu tidak benar-benar telah dikalahkan. Sampai-sampai aku baru sadar, setiap gelembung itu membesar kemudian meletus, daging Nagini menumbuhkan dirinya. Membentuk kembali bagian yang sudah hilang dari tubuhnya. Cukup dengan waktu lima menit, gelembung itu berhasil membuat ulang kepala Nagini yang bentuknya sama persis dengan bagian yang sudah tidak bergerak di atas lantai. Kali ini, saat gelembung terakhir meletus dan berhasil membentuk lidah sempurnanya, mata monster itu terlihat sangat tidak senang. Tidak ada lagi gangguan yang ada di dalam kepalanya. Sepasang mata yang berkilat mengerikan itu kini tertuju pada Toni dan pedangnya. Toni, ia masih membeku di tempat. Ia terlalu dini merayakan kemenangan yang belum berhasil ia raih. Aku yakin, apabila ular itu menyerangnya, Toni tidak akan sempat menghindar. “TONI, LARI!” seru Amel, suaranya berhasil merebut perhatian Nagini. Juga perhatiann Toni yang seakan-akan baru terseret kembali ke waktu saat ini. Sshhhhhh… Nagini berdesis. Dari matanya, aku tahu kalau ia sedang siaga. Entah apa yang akan ia lakukan. Matanya kembali tertarik pada Toni yang berhasil berjalan mundur dengan langkah kaki yang bunyinya berhasil ia redam. Cesssssshhh… Nagini, ia menyemburkan sesuatu dari dalam mulutnya. Membidik ke arah Toni namun meleset. Toni berhasil melompat untuk menghindar. Namun bukan itu masalahnya, saat ku lihat arah bidikan menyerupai air liur itu menyentuh lantai, hal mengerikan kembali terjadi. Meskipun sedikit saja, air liur Nagini berhasil menyulap lantai yang terbuat dari baja itu menjadi lubang berdiamter satu meter yang menganga, entah tembus sampai mana. Sepertinya ular itu telah menunjukkan betapa mengerikannya dirinya. “Sepertinya kita tidak boleh sampai terkena bisa-nya,” ujar Tata. Gadis itu melompat dan menyusul Toni. Berniat untuk membantu laki-laki itu supaya tidak sendirian. Tata, aku belum tahu apa senjata yang ia gunakan sampai dua kepingan baja berbentuk lingkaran dengan tepian yang berkilat tajam muncul di kedua tangannya. Gadis itu, tanpa rasa ragu, melempar kedua kepingan baja itu ke udara dengan menggunakan kekuatan tangannya. Kepingan itu berputar dengan cepat berkat dorongan yang Tata berikan dan … Zesshhhhh… Sekali lagi, kepala Nagini terpenggal dan jatuh di lantai karena tebasan yang dilakukan oleh dua kepingan itu. Bagaikan boomerang, keduanya berhasil berputar kembali ke pemiliknya, dan Tata dapat menangkapnya dengan mudah. Merasa berhasil mengulur waktu, Tata menarik tubuh besar Toni untuk mundur sebelum Nagini kembali mendapatkan kepalanya. Namun.. Shuuu…shuuu…shuuu.. Rayhan tidak memberikan waktu untuk Nagini. Ia mulai menembaki bagian tubuh Nagini yang tak berkepala itu dengan brutal. Ia berjalan mendekat untuk mengurangi jarak tembaknya supaya lebih efektif. Peluru yang keluar dari senjata apinya itu berwarna kebiruan, entah apa bahan yang digunakan untuk membuat peluru itu. Meskipun begitu, ku lihat usaha Rayhan berhasil membuahkan hasil. Ia berhasil membuat bagian tubuh Nagini berongga-rongga seperti daun yang digerogoti oleh ulat. Brukkkkkk…. Rayhan ambruk di atas lantai ketika bagian ekor Nagini menghantamnya dengan cepat dan tiba-tiba. Alih-alih mengira monster itu sudah buta, ternyata monster itu masih bisa mendeteksi letak musuh dengan tepat. “Arrrrrghhhhh!” Rayhan meronta dan berusaha menyingkirkan ekor berbentuk aneh milik Nagini yang masih menimpa tubuhnya. “Kau, Ketua Pasukan! Lakukan sesuatu!” teriak Rayhan yang tidak berdaya. Meskipun di posisi yang terjepit seperti itu, ia masih bisa mengucapkan kalimat kebencian padaku. Membuatku berniat untuk menontonnya sampai ia dihabisi oleh monster itu. Tapi, aku tidak bisa melakukan itu.    “Sial!” aku tidak tahu harus bagaimana. Bahkan mengaktifkan mode autopilot pun aku tidak tahu caranya, mode itu, entah kenapa dia tidak berfungsi secara otomatis seperti tadi. “API! Penggal kepalanya dan bakar pakai api!” seru Amel. Entah darimana ia mendapatkan ide itu. “Aku baru ingat, Nagini adalah ular keturunan Dewa. Hades berhasil mengalahkannya dengan api neraka,” jelas Amel. Memberikan penjelasan lebih yang benar-benar di luar batas nalarku. Apa itu api neraka? Darimana aku bisa mendapatkan api itu? Dan lagi, orang bernama Hades itu, siapa dia? Sial, percuma. Aku tidak memiliki api. Aku juga tidak tahu apakah di antara kami ada yang bisa mengeluarkan api. Amel mulai menggunakan senjata apinya untuk menembaki bagian perut Nagini. Senjata milik Amel, mengeluarkan peluru yang ternyata bisa meledak dan berkobar menjadi api. Senjata Amel berhasil membuat rongga yang lebih besar di tubuh Nagini. Meskipun begitu, usahanya cukup terlambat karena Nagini sudah berhasil mendapatkan kembali kepalanya. Monster itu tampak seperti meraung kesakitan. Sepertinya api benar-benar bisa mengalahkannya. Nagini tidak melepaskan Rayhan dan kepalanya yang berukuran raksasa itu kini menunduk untuk mendekati Rayhan yang tidak berdaya. “KETUA BODOH! LAKUKAN SESUATU!” ia masih sempat memakiku. Aku merasa tidak berdaya. Tanganku kosong. Tapi melihat Rayhan yang semakin terlihat putus asa dan ketakutan sambil terus mengeluarkan makian padaku membuatku nekat berlari ke arahnya. Aku tidak peduli lagi meskipun tanganku kosong. “Verlez!” Amel berteriak dari tempatnya berdiri. Tidak menghentikanku. Aku masih memiliki waktu sebelum monster itu berhasil melahap hidup-hidup Rayhan, atau yang lebih buruk, membuat tubuhnya berlubang seperti lantai itu. Aku, andai saat ini aku punya senjata tajam sekaligus sesuatu yang bisa membakar monster itu hidup-hidup. Beep… Transform Special Weapon: Lightbringer
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN