Chapter 4: POISON

2127 Kata
“Verlez,”             “Verlez,”             “Hei, Verlez!”             Aku bisa mendengar orang-orang memanggil-manggil namaku. Seseorang bahkan menggoncang tubuhku. Ku angkat kelopak mataku dan mendapati bayangan wajah seorang gadis yang tak asing bagiku menyembul tepat di atasku. Wajahnya terlalu dekat, bulir keringatnya bahkan menetes di kulitku. Mataku masih berusaha untuk beradaptasi dengan cahaya yang ada di ruangan itu.             Semakin jelas, hidungku mencium aroma amis sekaligus bau busuk yang berpadu jadi satu. Aku tidak tahu bau apa itu, mataku enggan mencari sumber bau itu. Masih berusaha fokus menatap wajah gadis itu.             “VERLEZ!”             Ternyata gadis itu yang menggoncang tubuhku, aku merasakan aliran listrik dalam diriku, menyengatku. Mengembalikan sistem dalam tubuhku. Aku bisa merasakan energi yang berangsur-angsur terkumpul sehingga aku mulai bisa mengangkat tanganku. Telingaku berdengung karena suara orang-orang di sekitarku yang gaduh. Ada teriakan, ada tangisan.             “Kau bisa mendengarku?”             Plakkk…             Tangan dingin gadis itu mendarat di pipiku. Membuat otakku terasa seperti bergetar selama beberapa detik. Tapi tidak buruk, aku harus berterima kasih padanya.             Ku angkat tanganku, mengepalkan jari-jariku dan semuanya terasa normal. Hanya saja aku bisa merasakan ngilu yang luar biasa dari sekujur tubuhku. Seakan-akan aku barusaja jatuh dari gedung tinggi dan mendarat dengan tangan terlebih dahulu. Tanganku sangat sakit tapi aku tetap memaksanya.             “A-apa yang terjadi?” tanyaku benar-benar tidak tahu apa-apa.             Sebuah tangan yang besar dan berurat tiba-tiba muncul dari sisi yang berlawanan dari gadis itu. Tangan itu menopang bagian atas tubuhku, membantuku duduk.             Aku bahkan baru sadar kalau sedari tadi aku tergeletak di atas lantai. Saat tanganku menyentuh lantai itu, aku bisa merasakan cairan yang hangat di sekitar tempatku duduk. Bukan darah, cairan itu lebih kental daripada darah dan lengket di jari-jariku.             “Kau baik-baik saja?”             Aku ingat wajahnya, laki-laki bernama Toni lah yang menopang tubuhku. Ia tampak berantakan terutama di bagian rambutnya. Ada beberapa luka goresan yang masih baru menghiasi wajahnya. Aku membalas tatapan laki-laki itu dengan kebingungan. Sementara ia, entah antara lega atau cemas. Aku tidak cukup pandai membaca ekspresi orang.              Masih menjadi sebuah misteri kenapa tubuhku terasa sakit semua. Dari ujung kepala hingga ujung kakiku. Bahkan aku mendapati luka goresan yang cukup dalam merobek bagian bawah lengan kiriku. Berhasil menembus armorku.             Tunggu-             Armorku?             Ah- aku baru ingat. Beberapa waktu yang lalu aku sedang berdiri di depan box raksasa yang di dalamnya ternyata memuat monster menyerupai laba-laba aneh yang mengerikan. Lalu? Apa kelanjutannya? Aku tidak bisa mengingat apapun.             Tunggu-             Dimana monster itu?             Apa monster itu hanya halusinasiku?             Beep..             Ah- kali ini aku benar-benar senang mendengar bunyi itu. Sebuah layar berukuran mini pun keluar dari mata sebelah kiriku. Layar itu tidak mengalami kerusakan sedikitpun. Bahkan retak pun tidak.   System Check… .. .. Total Fatal Damage: Zero System Stability: Normal               Alih-alih memberiku jawaban atas segala pertanyaanku, layar itu kembali menyusut dan hilang setelah menganalisis kondisi tubuhku. Aku tidak akan mengharapkannya lagi.             Meskipun terasa sangat sakit, aku tetap memaksakan diriku untuk bangkit berdiri. Melihat sekitar untuk tahu apa yang sebenarnya telah terjadi. Dan saat aku berhasil bangkit, pemandangan di depanku sungguh mengerikan.             Bangkai? Bangkai monster itu tampak menjulang tinggi di depanku. Tubuhnya yang besar sudah terbelah menjadi dua dan membuat isi tubuhnya itu berhambur keluar mengotori lantai. Empat pasang mata yang beberapa waktu lalu membuat lututku terkulai lemas itu tampak terbuka lebar namun tatapannya kosong. Seseorang pasti sudah berhasil mengalahkannya.             Membayangkan ada orang lain dari jenisku yang sekuat itu membuatku merasa sangat tidak berguna. Bagaimana bisa, manusia-manusia itu mengandalkanku sebagai subjek 888 yang sangat diagungkan. Tapi, entah apa yang terjadi, subjek 888 itu sudah terkapar di lantai dan tidak sempat menyaksikan seseorang yang berhasil membantai monster itu seakan-akan bukan apa-apa. Aku merasa tidak berguna. Kenapa aku harus pingsan di saat pertama kalinya melihat monster yang mengerikan itu?             “Siapa yang melakukannya?” tanyaku pada entah siapapun orang yang sedang berada di sana dan bersedia menjawab.             “Kau!”             Gadis itu berdiri di hadapanku, muncul dengan kedua tangan terlipat di depan d**a, pose favoritnya.             “Jangan bercanda!”             “Apa aku terlihat seperti sedang bercanda?” ia menekankan dua kata terakhir dalam kalimatnya. Berjalan maju selangkah lebih dekat denganku, ia mendongakkan kepalanya seakan-akan sedang menantangku.             “Apa yang terjadi?” aku masih tidak bisa mengerti.             “Kau mengalahkannya, iya kau, si tukang pamer!” seseorang dengan suara berat tiba-tiba berjalan menyeruak dari barisan anak-anak yang lain, mendatangiku. Seorang laki-laki bertubuh tinggi itu datang menghampiriku, aku bisa melihat sekilas kobaran api di bola matanya, entah apa yang membuatnya se-marah itu.             “Apa maksudmu?”             “Kau, wanita itu pasti melakukan seesuatu padamu. Yang benar saja, bagaimana bisa kau mengalahkan monster itu seorang diri, hah?”             Aku terhuyung ke belakang saat tangan besarnya mendorong tubuhku. Aku masih tidak mengerti kenapa aku harus menerima itu.             “Dan lagi, senjata itu. Darimana kau mendapatkan semuanya?”             Ia terus mencecarku dengan pertanyaan-pertanyaan yang benar-benar tidak bisa ku jawab karena aku sendiri tidak tahu.             Tunggu-             Dia mengatakan sesuatu tentang senjata, tapi, mendapatkan semuanya? Ia menggunakan sesuatu yang bersifat jamak.             “Senjata apa?” tanyaku pada akhirnya.             Pertanyaanku membuatnya terbahak. Suara tawanya sangat lantang. Seakan-akan ada magnet dalam suara tawa itu, orang-orang di sekitarku yang daritadi menampakkan wajah ketakutan, gelisah, bingung pun ikut tertawa mencemooh.             “Apa salahku?” tanyaku kebingungan.             “Ray, berhenti memojokkan Verlez!” Toni menyeruak di antara aku dan laki-laki yang menertawaiku itu. Ray? Apa aku mengenalnya sebelumnya?             “Kau lihat sendiri tadi! Kita semua cuma penonton di sini! Tontonan yang sangat membosankan, ada humanbot kesayangan Para Pencipta sedang berduel melawan alien tarantula!” Laki-laki yang dipanggil Ray itu masih berusaha menjatuhkanku, ia menghinaku dengan suara yang lantang dan bermaksud untuk mendapatkan dukungan dari orang-orang yang lain.             “Kau tidak tahu hal mengerikan apa yang mereka lakukan pada Verlez! Tutup mulutmu sekarang juga!” Toni yang badannya lebih besar, ia menggunakan nada mengancam pada Ray.             “Ooohh. Kau, Toni, kau masih menganggap humanbot satu ini sebagai temanmu? Lihat saja, dia bahkan tidak ingat siapa kau! Berhenti membelanya!”             “CUKUP, RAYHAN!”             Ah- Rayhan             Gadis berambut pendek dengan profil bernama Amelia itu dengan berani mendorong tubuh jangkung Rayhan hingga laki-laki itu pun terhuyung ke belakang. Ia tampak terkejut dengan aksi Amelia namun tatapan matanya melunak saat melihat gadis itu.             “Amel.”             “A—aku benar-benar tidak tahu apa-apa. Kau bilang, aku orang yang mengalahkan monster itu? Apa kau yakin?” Aku sudah tidak tahan lagi dengan tuduhan tidak masuk akal itu.             “K—”             Amel, gadis itu, aku tidak menduga kalau ia ternyata sangat berani. Tangannya membungkam mulut laki-laki bernama Rayhan itu sebelum ia berhasil mencemoohku lagi atau mungkin memakiku dengan suara beratnya.             “Kau, kau tidak ingat sesuatu?” Amel menatap kedua mataku lekat-lekat. Ku rasa ia ingin memastikan apakah aku sedang berbohong atau tidak. Aku menggeleng.             “Apa ingatan terakhir yang kau ingat?”             Aku terperangah mendengar pertanyaan gadis itu. Sepertinya kelebihan IQ tinggi benar-benar ia miliki. Di saat yang lain hanya bisa menuduhku dengan tuduhan yang tidak ku mengerti, gadis itu mencoba mencaritahu apa yang sebenarnya terjadi padaku, tanpa perlu menyudutkanku.             Aku pun menceritakan detail ingatan terakhirku sebelum aku membuka mataku dan tubuhku sudah dilumuri dengan cairan lendir yang berasal dari monster itu. Ingatan terakhirku adalah membalas tatapan mengerikan empat pasang mata hitam yang membuat lututku terasa lemas.             “Ah-tunggu” ujarku setelah mengingat sesuatu.             “Aku melihatnya, di layar. Apa kau juga menerimanya?” tanyaku             Humanbot, anak-anak yang diciptakan dengan cara yang sama dengan penciptaanku. Bola mata sebelah kiri kami semua sudah disisipkan sistem robot yang multifungsi dan otomatis terutama untuk menerima pesan dari Para Pencipta atau pemberitahuan apabila kondisi tubuh mengalami masalah. Iya, benar- layar berukuran mini itu yang aku maksud.             Amel, ia menggeleng. Saat ku lihat ke arah Toni, ia pun menggeleng sembari mengangkat bahu yang artinya ia pun tidak menerimanya.             “Apa isinya?” Amel memicingkan matanya yang bulat untuk menyelidiku.             “Autopilot mode: On,” jawabku jujur.             Amel melepaskan tangannya yang daritadi ia gunakan untuk mengunci mulut Rayhan dan tampak berpikir dalam-dalam. Ia sedikit menundukkan wajahnya selama bergulat dalam pikirannya. Aku menunggunya, berharap ia berhasil memecahkan sesuatu.             “Kau, apa wanita yang membawamu kesini itu melakukan sesuatu padamu?”             Aku mengangguk, “Ia melakukan upgrade pada tubuhku.”             “Tuh dengar, dia memang kesayangan Para Pencipta. Seharusnya kita tidak percaya padanya!” Rayhan dengan cepat mengambil kesimpulan akan sesuatu. Ingin sekali ku lakukan hal sama dengan yang dilakukan oleh Amel padanya, menyumpal mulutnya yang tidak berguna itu dengan menggunakan sepatu boots ku.             “Diam! Kau mengganggu fokusku!” Amel membentak Rayhan dan laki-laki itu tampak sangat patuh terhadapnya. Apa ia semacam tamer atau apa?             Aku masih sabar menunggu, memberi waktu pada Amel untuk bisa memecahkan sesuatu.             Suasana di hall itu berubah menjadi mencekam.             “Autopilot, aku pernah membacanya,” gadis itu bergumam sambil menggaruk ujung dagunya yang runcing, “Kalau tidak salah, itu artinya sebuah mesin beroperasi secara otomatis.”             “Benar, ia bilang telah menambahkan sistem A.I. otomatis dalam tubuhku,” jelasku menambahkan.             Amel menjetikkan jarinya, seakan-akan barusaja berhasil mendapatkan kesimpulan dari otaknya.             “Kalian semua dengar baik-baik. Wanita itu menanamkan sistem A.I otomatis dalam tubuh Verlez, sistem itu mengambil alih tubuhnya dan membuatnya tidak ingat sedikitpun tentang aksinya mengalahkan alien itu. Aku yakin itu yang sebenarnya terjadi,” jelas Amel dengan penuh antusias.             Ku dengar suara orang-orang membulatkan bibirnya secara bersamaan.             “Lalu kenapa? Dia curang, Para Pencipta hanya memberikannya padanya. Tidak pada kita!” Rayhan, laki-laki itu lagi, hatinya dipenuhi dengan rasa iri dengki.             Aku hanya mendengus kesal. Tidak bermaksud menanggapi ocehannya yang ternyata berhasil mendapatkan dukungan dari mayoritas orang yang ada di ruangan itu.             “Apa kau gila?” Amel, sekali lagi memaki Rayhan.             “Gunakan otakmu, Dasar Bodoh!”             “Mode otomatis yang disebut autopilot itu memang kedengarannya bagus, tapi untuk apa kita latihan kalau terus menggunakannya?  Kau kira autopilot akan lebih cerdas dari otakmu yang sebenarnya? Tidak, autopilot hanya robot. SEPENUHNYA ROBOT. Kau tau apa yang terjadi kalau kita terlalu menggunakan sisi robot kita?”             “Iya, benar. Kita akan hancur. Robot hanya bekerja sesuai dengan apa yang sudah diprogramkan untuknya, tidak bisa berpikir. HANYA BEKERJA! Itulah kenapa kita diciptakan, manusia dengan kemampuan berpikirnya dan robot dengan kemampuan fungsionalnya!” Amel meledak-ledak. Penjelasannya sangat masuk akal. Hanya dalam waktu yang singkat ia sudah bisa menjelaskan se-detail itu. Aku tidak tahu darimana ia mendapatkan informasi sebanyak itu. Aku hanya terperangah melihat aksinya.             Rayhan, ku lihat ia pun sama denganku. Terperangah, tampangnya yang seperti itu terlihat sangat konyol.             “Kalian tahu apa yang lebih penting?”             Semuanya kompak menggeleng dan menundukkan wajah.             “Kalau kalian mengandalkan mode autopilot itu, belum tentu kalian selamat dari pertempuran. Robot hanya disetting untuk menyerang dan menghindar, tidak disetting untuk melarikan diri ataupun menggunakan strategi. Jadi, kalau kalian iri dengan autopilot yang dimiliki oleh Verlez, kalian benar-benar bodoh. Tidak pantas mendapat sebutan manusia super sama sekali.”             Amel mengatur kembali nafasnya yang ngos-ngosan karena berteriak tiada henti. Suaranya yang tegas berhasil membuat orang-orang di ruangan itu mulai sadar. Termasuk Rayhan. Ku lihat laki-laki itu sudah berjalan kembali menyelinap ke dalam barisan anak-anak yang masih berseragam rapi. Tidak tergores sedikitpun, tidak sepertiku.             Amel menatapku dengan tatapan yang tak dapat ku artikan. Sepertinya ia merasa iba denganku, mungkin ia begitu karena aku mendapatkan autopilot itu.             “Dan, Kau!” ia berjalan menghampiriku dan menyentuh ujung hidungku dengan jari telunjuknya yang panjang.             “A-apa?”             “Kau harus latihan mengendalikan mode autopilotmu itu, jangan biarkan ia muncul tiba-tiba seperti tadi. Kau bisa membuat dirimu sendiri terbunuh dan mati konyol!”             Aku menelan ludah. Bagaimanapun juga penjelasan yang diucapkan oleh Amel itu benar. Lihat saja sekarang, hasil dari penggunaan autopilot pertamaku. Tubuhku terasa sakit semua. Kalau saja aku tidak perlu menggunakan mode itu dan menghadapi monster itu bersama-sama dengan yang lainnya, mungkin luka yang ku terima tidak akan se-parah sekarang.             “Kau tidak perlu melawan alien itu sendirian, kita semua memiliki tugas yang sama,” Amel berbisik di telingaku. Aku yakin hanya aku yang bisa mendengarnya saat itu. Suaranya mendadak berubah menjadi lembut namun di sisi lain, nafasnya yang panjang menunjukkan kalau sebenarnya ia sendiri sudah cukup lelah.             ZINGGGG….             ZINGGGG….             ZINGGGG….             Apa lagi kali ini?             Sebuah box berukuran raksasa yang lebih kecil dari box pertama tampak diturunkan dari langit-langit hall. Tidak ada hiasan asap kali ini. Box itu turun dan menimbulkan suara debum yang nyaring ketika bersentuhan dengan lantai. Saat bagian tepi dari dinding box itu mulai bergerak secara horizontal, bau busuk yang sangat menyengat mulai tercium di hidung tajam para humanbot. Bau busuk itu berhasil membuat beberapa humanbot tergeletak jatuh di atas lantai secara mendadak.             Bagi humanbot yang cukup cerdas, mereka berhasil menonaktifkan fungsi indra penciumannya sebelum paru-paru mereka terinfeksi oleh bau busuk yang beracun itu. Meskipun begitu, hanya sebagian kecil humanbot yang bisa melakukannya, sementara Sebagian besar telah tumbang dan membutuhkan pertolongan. Segera.             Beep.. !! Deadly Poison Gas !! ….77…88…%
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN