Chapter 3: Training Section 1

2266 Kata
Sebuah hall yang sangat luas, itulah pemandangan yang dapat ku tangkap setelah melewati pintu itu. Ku lihat hall itu sudah dipenuhi oleh anak-anak. Mereka adalah anak-anak dari jenisku. Anak-anak spesial yang seharusnya tidak pernah terlahir namun dipaksa tercipta di bumi yang sudah tak ada harapan kehidupan lagi. Mereka berdiri membentuk barisan yang rapi. Tidak ada yang bergerak sedikitpun. Tatapan mata mereka kosong. Aku ingat kalau aku tidak sendirian karena mereka diciptakan bersama dengan penciptaanku. Tapi, aku tidak ingat kalau mereka, anak-anak itu bisa diam dan patuh seperti 100 % terbuat dari mesin komputer yang hanya berjalan sesuai dengan program yang telah diatur. Minami berjalan di belakangku. Hanya aku yang memakai armor mencolok dan helm. Sementara mereka memakai seragam berwarna hitam yang berkilat, terdapat baja yang melindungi bagian vital mereka. Namun, sangat jelas kalau ada perbedaan yang menonjol untuk kualitas seragam yang sedang mereka pakai dengan armor yang ku pakai. Aku bisa melihat tatapan kosong mata mereka, bahkan raut wajah mereka tanpa ekspresi. Aku sampai ragu, apakah mereka masih hidup atau sudah tidak beroperasi? “Kau lihat, aku bisa melakukan segalanya,” ucap Minami, “Menjinakkan anak-anak pembangkang yang bandel bukanlah hal sulit bagiku,” tambahnya sambil terkekeh. Hatiku mencelos. Aku merasa kalau teman-teman, tidak-, saudara-saudaraku saat ini sedang dikendalikan oleh Minami dengan menggunakan teknologi gila yang ia miliki. Mereka tidak memiliki kebebasan, tidak sepertiku sekarang. Meskipun kebebasanku sendiri hanya tersisa 50 %. “Kau bisa menunjukkan wajahmu sekarang, Verlez,” ucapan Minami adalah sebuah perintah. Aku tidak sadar ketika tanganku bergerak dan melepaskan helm yang menutupi wajahku. Rambutku yang sudah dipangkas rapi pun menjadi sedikit berantakan. “Apa kau siap?” tanya wanita itu tanpa berharap mendapatkan jawaban. Kali ini ia berjalan maju dan membelakangiku. Sementara aku hanya berdiri di tempat dengan posisi siap. “Buka mata kalian, Pasukan INFINITY-ku yang berharga!” suara Minami tiba-tiba bergema di hall itu, suaranya terdengar sangat keras seakan-akan ia memiliki speaker yang tertelan di dalam tenggorokannya. Tepat ketika Minami mengucapkan kalimat itu, aku bisa menangkap bayangan kilatan cahaya dari berpasang-pasang mata dari anak-anak yang sedang berdiri di hadapanku. Kali ini tatapan mereka tidak kosong, tapi semuanya lurus menatap ke arahku. Aku merasa tertusuk karena tatapan tajam mereka sekaligus. Sementara itu, wajah mereka mulai melunak dan yang awalnya pucat pun kini kemerahan. Aku bersyukur mereka masih hidup dan ada di sana untuk menemaniku, aku tidak mau sendirian. Meskipun sudah terlihat lebih hidup daripada sebelumnya, tidak ada dari mereka yang bersuara. Bahkan bergerak sedikit saja pun tidak. Sama halnya seperti robot yang sedang non-aktif dan mendapatkan charging energi. Begitulah gambaran mereka saat itu. “Kalian akan mendapatkan pelatihan intensif sebelum dikirim untuk bertempur mengusir alien di atas permukaan sana,” jelas Minami dengan suara yang lantang namun mantap. Jari telunjuknya menunjuk ke bagian langit-langit hall yang tertutup rapat. Alien? Aku baru pertama kali ini mendengar kata itu. Apa maksudnya? Makhluk seperti apa yang ia maksud untuk kami usir? “Kalian pasti bertanya-tanya alasan kenapa kalian diciptakan. Benar sekali, kalian diciptakan sebagai senjata perang,” jelas Minami, percakapan yang terjadi hanyalah satu arah. Tidak ada dari mereka yang diberikan kesempatan untuk menolak. “Kalian diciptakan dengan kekuatan super, karena lawan kalian bukanlah manusia,” tambahnya. Bukan manusia? Lalu apa? Selain manusia yang hidup di bumi, hanya ada hewan maupun tumbuhan yang pernah ku dengar. Tunggu- dengar darimana? “Tidak Verlez, bukan hewan dan tumbuhan seperti yang kau bayangkan,” seakan-akan bisa membaca pikiranku, wanita misterius itu berhasil mematahkan teoriku. “Kalau hewan dan tumbuhan, manusia biasa saja sudah cukup untuk menakhlukannya.” Benar, kali ini aku setuju. Hewan dan tumbuhan, mereka adalah makhluk hidup. Sama seperti halnya dengan manusia. Namun, nasib mereka jauh lebih miris dibandingkan manusia. Mereka bahkan harus lebih dulu meninggalkan kehidupan di bumi, punah. Hanya saja, manusia yang terlalu cerdas itu bercita-cita menyaingi Tuhan dan berhasil menciptakan klon kehidupan baru untuk hewan dan tumbuhan buatan. Yang tentu saja mereka gunakan untuk memenuhi kehidupan manusia itu sendiri. Tunggu- darimana aku tahu informasi detail seperti itu? “Berhenti menyanggahku dengan sudut pandangmu, Verlez!” desis Minami, ia kesal. Karenaku. Salah sendiri membaca pikiranku. Aku pun terdiam. Bukan karena keinginanku, tapi keinginan Minami. Ia memaksa sistem yang bekerja di dalam tubuhku untuk diam dan sekali lagi menuruti perintahnya tanpa perlawanan. “Kalian akan mengenal alien seperti apa di permukaan sana selama latihan,” ucap Minami pada akhirnya. “Berlatihlah dengan sungguh-sungguh dan jangan kecewakan para penciptamu!” Itu adalah closing statement yang Minami berikan sebelum lampu terang dari atas ruangan menjeblak nyala. Mengagetkanku dan anak-anak sejenisku. Namun, seakan-akan cahaya dari lampu itu adalah sinyal khusus, anak-anak yang lainnya tampak berhasil mendapatkan kembali kesadaran mereka. Di antara mereka, kebanyakan tampak bertingkah aneh karena panik. Beberapa tampak kebingungan, dan beberapa tampak tenang namun melempar tatapan penuh kebencian kepada Minami. “Aku hampir lupa,” ucap Minami dengan suara lantang, membuat kegaduhan yang berlangsung selama beberapa detik di hall itu pun lenyap seketika. “Kalian adalah pasukan khusus, INFINITY. Pasukan tanpa batas, dan ijinkan aku memperkenalkan pada kalian, pemimpin kalian yang tak terkalahkan,” jelas Minami. Sekali lagi kakiku berjalan dengan sendirinya, berjalan maju dan berhenti tepat di sisi Minami. Wanita itu ternyata tidak begitu tinggi, ujung kepalanya hanya mencapai sikuku. “Verlez, mulai hari ini, dialah yang memimpin,” putus Minami. Ku lihat yang lain tampak saling pandang bingung, beberapa tampak saling berbisik. Namun, meskipun telingaku sangat tajam, aku tidak bisa menangkap bisikan mereka yang saling beradu satu sama lain. “Benar, kalian mungkin sudah mengenalnya dengan nama yang lain. Tapi ingat satu hal, nama itu sudah tidak berlaku, aku sudah memasukkan sensor pelanggaran berat di sistem kalian, apabila kalian menggunakan nama itu lagi, kalian akan mendapatkan siksaan yang lebih menyakitkan daripada kematian itu sendiri,” Minami berbalik dan berjalan meninggalkan ruangan melalui pintu menuju lorong yang tadi ku lewati bersamanya. Aku tidak mengerti dengan kalimat terakhir yang Minami katakan, tapi, aku tahu yang lainnya sangat paham dengan kalimat itu dari ekspresi ketakutan di wajah mereka. Setelah bunyi debum dan pintu itu tertutup rapat sekaligus terkunci dari luar, ku perhatikan seseorang, laki-laki, berkulit sawo matang, berbadan besar dan atletis datang menghampiriku. “Ku kira aku kehilanganmu, Kawan,” ucapnya sambil menarik bibir tebalnya dari ujung ke ujung. Membentuk senyuman. Aku tidak mengerti, apa aku mengenalnya? Ia tampak terlihat santai berada di dekatku. Tapi aku tidak mengingatnya sedikitpun. Aku pun mengabaikan ucapannya dan segera beralih menatap keramaian. Menunggu. Sepertinya sesuatu akan terjadi di dalam hall itu. Bagaimanapun juga, Minami tidak memerintahkan apapun sebelum meninggalkan hall. Yang aku tahu, ia telah mengunci kami dari luar. Dan, aku baru sadar kalau saja pintu dari lorong itu adalah satu-satunya pintu keluar dari hall itu. Aku pun bersiap. Entah apa yang sedang Minami rencanakan, aku yakin bukanlah sebuah rencana yang biasa saja. Wanita itu, aku tidak bisa mengimbangi otaknya. “Kau, sebaiknya kau siap-siap,” ujarku pada laki-laki yang mengajakku bicara paling awal. “Siap-siap untuk apa?” tanyanya bingung. Tak selang lama, seseorang bergabung dalam percakapan tidak penting ini. Seorang gadis. Ia memiliki rambut pendek berwarna hitam yang mengingatkanku akan wanita pertama yang memelukku di saat aku bangun, wanita bernama Monica itu. Entah bagaimana kabarnya sekarang. Gadis itu tampak sangat percaya diri, dagunya terangkat, kedua tangannya terlipat di depan d**a. Saat mendekat, ia cukup tinggi, puncak kepalanya nyaris membentur ujung hidungku. “Aku tidak percaya mereka berhasil memanipulasimu,” gerutunya dengan tatapan mata penuh rasa kecewa yang ia tujukan padaku. “Apa maksudmu?” “Toni, sebaiknya kita tidak bicara padanya sekarang,” tambahnya, kali ini ia berbicara pada laki-laki di hadapanku. Toni. Aku akan mencatat nama laki-laki itu. Sepertinya laki-laki itu setuju, mereka berdua pun saling mengangguk dan berjalan menjauhiku. Baguslah, pikirku. Aku tidak ingin membuang-buang waktu berhargaku untuk bicara pada siapapun. Ku gunakan mode bird eye ku untuk memeriksa seluruh hall itu. Seluruh bagian hall dan detailnya, tanpa perlu berpindah tempat karena aku hanya tinggal mengatur jarak fokusku. Hall itu terlihat mencurigakan. Sangat luas namun juga kosong. Aku tidak bisa menemukan kotak senjata atau apapun di dalam sana. Beep.. Sebuah layar mini muncul dari mata sebelah kiri ku. Sedikit membuatku terkejut. Training Section 1 … … … START   Zinggg…. Zingggg…. Zinggg… Suara alarm yang membuat telingaku sakit kembali terdengar. Tidak, kali ini tidak berasal dari lubang telingaku. Suara alarm itu memenuhi hall diikuti dengan cahaya berwarna merah yang seperti sedang berputar. Mengganggu sistem kerja mata. Hampir semuanya terlihat panik, tak terkecuali aku. Aku tidak mengerti, Training section 1? Apa maksudnya? Wanita gila itu tidak memberikan petunjuk apapun. Zushhhhhhhh… Zusshhhhhhhh… Entah darimana munculnya, tiba-tiba asap tebal keluar dari mesin menyerupai corong dari sudut-sudut langit-langit hall. Tak perlu waktu lama bagi asap itu untuk memenuhi hall dan membuat suasana terang di hall itu seketika berubah menjadi gelap. Aku tidak bisa melihat apapun. Mataku terasa pedih saat ku paksa untuk membukanya. Ah helm. Aku yang baru ingat kalau daritadi tanganku sedang menenteng sebuah helmpun segera menjejalkan kepalaku ke dalam helm itu, dengan begitu aku bisa melihat sekitar dengan normal dan tanpa merasa pedih. Beep.. Kaca helm menunjukkan layar mini yang biasa ku lihat dari mata sebelah kiriku. Kali ini muncul sebuah pertanyaan yang sepertinya harus aku jawab. Activate INFINITY Head protection? Yes    No   “YES!” Teriakku, aku tidak tahu cara menjawab pertanyaan di dalam layar itu selain berteriak dengan suara lantang. Dan berhasil. Beep.. Beep.. Beep.. Kali ini bunyi beep yang sangat familiar itu tidak berasal dari tubuhku. Suara beep itu seperti beriringan dan bersahut-sahutan dari balik asap. Aku tidak tahu apa yang terjadi di dalam asap tebal itu. Sampai akhirnya aku mendapatkan ide untuk menggunakan visi inframerah dan menggunakan kemampuan deteksi mesin dan panas yang kumiliki. Saat ku buka ulang kedua mataku dengan sistem yang berbeda, aku bisa melihat mereka. Anak-anak itu masih di sana. Mereka sudah tidak terbatuk, hanya panik karena tidak bisa melihat satu sama lain. Aku bisa melihat mereka menggunakan helm yang sama denganku. Entah darimana mereka mendapatkannya, seingatku tadi, mereka tidak memilikinya. Meskipun begitu, aku senang karena mereka juga memilikinya saat itu. “Gunakan visi nokturnal kalian!” Seruku, aku yakin helm itu tidak kedap suara dan orang masih bisa mendengar suaraku. Aku ingat saat Minami memergokiku sedang terkekeh di dalam helm karena melihat detail penyakit yang ia miliki. Seakan-akan mendengar suaraku, mereka menoleh ke arah tempatku saat ini berdiri. Dan sekali lagi. Beep.. Beep.. Beep.. Suara itu bersahut-sahutan dan detik berikutnya mereka berhamburan mendekat ke arahku. Meskipun wajah mereka tidak terlihat karena kaca helm yang gelap, helm yang canggih ini bisa mendeteksi siapa yang berada di balik helm yang sedang digunakan oleh orang-orang di sekitar. Aku menatap mereka satu per satu seperti sedang melakukan scanning. Nama: Toni Gender: Laki-laki Kondisi: Stabil Kelebihan: Stamina dan Kekuatan Kelemahan: Air Ah, Toni, laki-laki yang berbicara padaku tadi. Aku iri dengan detail kelebihan yang ia miliki, namun cukup terkejut dengan kelemahannya. Air? Yang benar saja.   Nama: Amelia Gender: Perempuan Kondisi: Stabil Kelebihan: IQ tinggi dan Kelincahan Kelemahan: Radioaktif Amelia, nama itu terdengar tak asing. Namun ketika ku lihat profil tubuhnya, aku bisa melihat gadis yang tadi berbicara tidak sopan kepadaku. Setidaknya ia memiliki kelemahan yang lebih keren dibandingkan Toni. Di sisi yang lain,   Nama: Tata Gender: Perempuan Kondisi: Stabil Kelebihan: Poison-resistant Kelemahan: Panas Wow, aku terkejut mendapati seseorang dengan kemampuan resisten terhadap racun. Bukankah itu sangat keren?   Zinggg… Zingggg…   Sekali lagi, layar kecil muncul di dalam kaca helmku. Jenis Monster: Tarantula Breed: Alien Tingkat Kesulitan: Kelas E Zingggg… Bersamaan dengan bunyi yang sangat mengganggu itu, langit-langit hall yang tinggi perlahan terbuka, ternganga lebar namun tak dapat ku lihat dengan jelas menuju kemana. Sebuah box baja berukuran raksasa perlahan diturunkan dari langit-langit. Memberikan waktu yang cukup untuk anak-anak yang ada di bawahnya untuk menyediakan tempat. Perasaanku tidak enak. Box itu berukuran lebih besar dari Mammoth buatan yang ada di salah satu laboratorium yang pernah ku kunjungi dalam ingatanku. Setelah menyentuh lantai, dinding-dinding dari box itu mulai bergeser terangkat dengan perlahan. Aku bisa mencium aroma amis yang menyengat dari dalam box itu. Sesuatu yang berlendir terdengar menetes di dalam sana. “Kalian! Siaga! Kita akan menghadapi alien!” seruku mengingatkan. Mendengar seruanku. Banyak di antara mereka yang panik dan teriak. Membuatku semakin kesulitan untuk fokus. Asap yang menghalangi pandangan tidak juga menipis. Ku beranikan diri untuk melangkah maju dan mendekati box itu dengan siaga. Ku kepalkan tinju kosongku ke arah box itu, masih belum paham bagaimana cara menggunakan special weapon yang Minami buatkan untukku. Saat dinding itu sepenuhnya terbuka, sebuah kaki panjang bergerigi dengan tinggi kurang lebih enam meter menyembul keluar. Memaksaku untuk mundur. Suara decitan dan gesekan aneh yang memekakan telinga semakin terdengar dengan jelas. Dan makhluk itupun keluar. Aku tidak tahu alien itu seperti apa. Yang jelas, makhluk yang mereka sebut alien itu benar-benar tidak pernah bisa ku bayangkan sebelumnya. Laba-laba? Aku lebih setuju menyebutnya sebagai monster alih-alih sebuah alien. Kakinya yang besar dan beruas-ruas serta tubuhnya yang berbentuk oval mengerikan itu tampak padat, berukuran sebesar spesies mamalia darat yang manusia sebut sebagai gajah. Yang membuatnya lebih mengerikan adalah empat pasang mata yang ia miliki tanpa kelopak seperti menempel di atas kepalanya. Mulutnya berbentuk aneh menyerupai capit. “ASTAGA!” seru Toni, ia sudah berdiri di belakangku dan memutuskan untuk mundur beberapa langkah ketika melihat apa yang harus ia hadapi. Sial. Suara Toni memacu aktivasi dari monster itu. Monster itu pun bergerak dan berdecit aneh. Suara gesekan kakinya di atas lantai benar-benar membuat telingaku sakit. Monster itu tampak sedang mengamati isi hall dan seketika matanya tertuju ke arahku. Iya, seluruh matanya tertuju ke arahku. Aku menelan ludah, gelisah. Tanganku sampai basah dibuatnya. Lututku terasa ingin terkulai lemas dan pasrah. Beep. Autopilot Mode: ON
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN