Chapter 10: FEAR

2230 Kata
            Tapp..             Tapp..             Tapp..             Aku berlari menyusuri lorong itu dengan kaki telanjang. Bagian dasar lorong itu sepenuhnya basah dan terendam oleh air yang tingginya berhasil mencapai mata kakiku. Aku berlari mengikuti arah hembusan angin yang terhitung muncul setiap tiga detik sekali. Sudah lima puluh kalinya angin itu datang dari arah punggungku. Aku merasa ada sesuatu di belakang sana yang membuka jalan dan membuat angin itu bisa masuk ke lorong itu.             Tidak. Aku yakin arah dari datangnya angin itu bukanlah sebuah pintu keluar yang harus ku cari saat ini. Tunggu- aku bahkan tidak pernah mendapatkan perintah ataupun aba-aba untuk mencari sebuah pintu keluar meninggalkan lorong tanpa ujung itu. Udaranya semakin dingin dan kakiku terasa menggigil. Aneh sekali, biasanya aku bisa tahan di suhu yang ekstrim dingin, namun kali ini aku tidak bisa melakukannya. Ada yang aneh dari tubuhku. Apa itu karena ulah Rayhan yang merobek wajahku beberapa menit yang lalu? Tunggu-             Aku tidak ingat sudah berapa lama berada di dalam lorong itu, yang ku lakukan hanyalah berlari tanpa menengok ke arah belakang. Perasaanku semakin tidak enak. Sesuatu sedang mengejarku dan entah kenapa, aku bisa merasakan keberadaannya semakin mendekat. Ku percepat langkah kakiku namun justru suara gemericik air yang bersentuhan dengannya membuat suasana dalam lorong itu semakin mencekam.             Tidak ada seberkas pun cahaya di depan sana, tidak ada apapun. Aku terus berlari meskipun tubuhku telah dibasahi oleh keringat yang berbaur dengan percikan air kubangan itu.             Sial-             Apa yang sebenarnya harus ku lakukan di sini?             Tak mungkin bagiku untuk lari selamanya. Apa aku harus menghadapi sesuatu di belakangku untuk bisa keluar dari sini? Tapi- apa kiranya itu? Apa aku bisa mengalahkannya?             Sambil terus berlari, ku perhatikan kedua telapak tanganku, tidak ada apapun di sana. Garis-garis tangan yang seringkali ku lihat pun masih diam di sana. Sebenarnya, aku sangat berharap special weapon ku muncul saat ini. Tapi sekali lagi, aku masih belum tahu cara mengeluarkannya.             Sial-             Harusnya ku tanyakan caranya pada gadis itu sebelum ia memperlakukanku seperti ini.             Tak cukup sekali aku mengutuk gadis berambut pendek dengan mata dan tubuh yang indah itu. Tunggu- kenapa aku justru memujinya sekarang?             Ku pukul kepalaku sendiri menggunakan pergelangan tangan kananku, kakiku masih berlari. Aku tidak merasa akan terjatuh atau terpeleset karena melakukan aksi itu secara bersamaan. Bagaimanapun juga, level keseimbangan yang ku miliki itu cukup tinggi. Mungkin aku bahkan bisa berlari di atas seutas tali yang dipasang di tempat tinggi tanpa khawatir akan terjatuh, seperti itulah keseimbangan yang ku miliki.             Saat mencoba menajamkan telingaku untuk mendengar sesuatu yang pastinya tak bisa didengar oleh manusia biasa termasuk humanbot lainnya, aku harus menutup kedua mataku. Aku tahu ini sangat aneh, berlari dengan kecepatan penuh sementara mataku tertutup. Tapi, tidak aneh untukku, justru itu sudah menjadi kebiasaan yang sering ku lakukan. Aku memiliki sistem radar yang bisa mendeteksi apakah aku sudah berlari ke arah yang benar ataukah di hadapanku ada sesuatu yang bisa menghalangi jalanku. Membuatku tak perlu takut untuk menabrak sesuatu ataupun tersandung dan berujung terjungkal di lantai yang basah itu.             Sssshhhhhhhh…             Sekali lagi angin itu muncul. Berhembus begitu saja, meskipun terasa kuat, aku tidak bisa menemukan aroma aneh apapun dari hembusan angin itu. Apakah sebenarnya tidak ada apa-apa di belakangku? Apa aku hanya berhalusinasi?             Sial- meskipun aku berusaha menanamkan pikiran seperti itu, kakiku seakan-akan tidak setuju. Keduanya terus berlari tanpa henti.             Sampai sayup-sayup ku dengar suara itu.             “Cobalah lari dariku, apa kau yakin bisa?”             Seketika langkahku terhenti. Aku yakin mendengar suara itu dengan sangat jelas. Seperti sedang berbicara padaku secara langsung. Sayangnya, aku tidak bisa mendeteksi dengan pasti darimana asal suara itu. Suaranya terpantul dari lorong yang sempit itu. Suara itu, apa aku mengenalnya?             “Bagus, kalau kau berhenti, aku bisa semakin cepat meraihmu,”             Sekali lagi. Suara yang sama. Bulu di tengkukku terasa berdiri aneh. Aku bisa merasakan hal yang sama di bagian punggung tanganku. Suara itu, sangat sering ku dengar tapi aku tidak tahu siapa.             "Arghh..."             Saat aku berusaha mengingatnya, sengatan listrik di otakku itu kembali muncul. Seketika niatku untuk mengingat siapa pemilik suara itu pun padam. Aku harus menghadapi sesuatu sekarang, aku tidak ingin pingsan saat ini cuma gara-gara kejutan listrik bertegangan tinggi di otakku yang menyebalkan itu. Kalau gadis itu sekarang sedang sibuk menontonku, aku hanya akan mempermalukan diriku sendiri di hadapannya. Tunggu- apa itu penting untuk dipikirkan? Segera ku tepis bayangan menyerupai gadis itu yang sedang tersenyum, lebih tepatnya menyeringai seram.             “Apa kau sedang menungguku?”             Meskipun suaranya terus terpantul oleh dinding lorong dan kubangan air itu, aku bisa merasakan posisi sumber suara itu semakin mendekat. Aku akan mempersiapkan diriku, aku benar-benar tidak bisa lari terus. Setidaknya makhluk itu bisa berbicara, mungkin bentuknya masih berwujud manusia. Tidak se-mengerikan monster tarantula ataupun Nagini, bukan?             Aku menunggu dengan mengepalkan kedua tinjuku. Sesekali ku lirik buku-buku jariku, kali saja sensor sarung tangan itu menampakkan diri dan bisa memberikan sesuatu yang bisa ku andalkan sebagai pegangan.             “Hahaha….hahahaha….hahahaha.”             Dasar orang aneh, apanya yang lucu? Suara tawanya yang renyah menggema di lorong itu. Benar-benar terdengar menyeramkan. Aku benar-benar tidak nyaman dengan perbuatannya.             “Siapa, Kau? Keluarlah!”             Teriakku pada udara kosong, suaraku pun ikut terpantul, menyatu dengan suara tawanya yang tidak kunjung berhenti.             Apa ia benar-benar manusia?             “Hei, apa yang sedang kau cari di sana?”             Aku terkejut, nafasku terhenti selama beberapa detik. Alih-alih muncul dari arah datangnya hembusan angin, suara itu mulai terdengar normal dan orang yang memiliki suara itu kini sedang berdiri di belakangku.             Aku segera memutar leherku lebih dulu dan tubuhku mengikutinya.             “Hah?”             Aku tidak mengerti.             Makhluk apa yang sebenarnya sedang kuhadapi?             Aku melihat seorang bocah yang tingginya tidak lebih dari pinggangku sedang berdiri di sana. Bocah itu memakai baju yang lusuh dan tampak terkoyak seakan-akan ada binatang buas yang menyerangnya secara brutal. Kulit putihnya tampak pucat dan membiru saat aku menggunakan visi mata normalku karena tiba-tiba ada sebuah cahaya yang cukup untuk bisa ku manfaatkan dari tempat itu.             Masih tidak percaya dengan pemandangan yang sedang ku lihat. Bocah itu tidak memiliki rambut sehelai pun, beberapa bagian pada kulit kepalanya tampak mengkerut dan keriput. Bahkan ada bekas jahitan yang masih lengkap dengan benangnya di atas ubun-ubunnya, jahitan seukuran jari telunjukku. Mata hitamnya yang sayu itu menatap ke arahku dengan tatapan yang tak bisa ku artikan. Bibirnya mengering dan pecah-pecah. Bocah di hadapanku itu adalah..             Aku?             “Siapa, Kau?” suaraku gemetar saat mengucapkannya. Aku tidak percaya dengan apa yang ku lihat. Bocah dengan penampilan yang mengenaskan itu adalah aku, aku yakin. Entah kenapa aku bisa merasakan tubuhku mulai terguncang dan bergetar hebat.             “Aku? Aku adalah, Kau,” bocah itu menjawab dengan wajah tanpa ekspresi. Ia sedikit membuka matanya lebih lebar dan sebuah gerakan yang terlihat ganjil pun berhasil ku lihat di sana.             Aku bisa melihat dengan jelas robekan aneh di ujung matanya yang membuat mata milik bocah itu nyaris keluar dari otot yang menahannya. Sebuah jahitan yang panjang tampak sedikit tersamarkan di atas kelopak matanya, menjalar hingga melewati bagian yang seharusnya tempat alis bocah itu tumbuh.             “Apa kau sudah melupakanku?” tanyanya, suaranya terdengar merana.             Aku mengabaikan pertanyaannya. Aku yakin bocah itu adalah aku. Benar-benar aku, meskipun aku tidak ingat aku pernah memiliki penampilan fisik yang se-mengerikan itu. Aku tahu dan yakin dengan perasaanku kalau dia adalah aku.             Saat ku telusuri kengerian lain yang ada di bagian wajahnya, aku berhasil menemukan bagian yang janggal pada batang hidung mungil itu, seperti patah dan dibiarkan begitu saja. Membuat bagian yang patah tampak membiru dan membusuk dari dalam. Tidak cukup sampai di situ, meskipun tadi aku hanya bisa melihat bibir kering dan pecah-pecah, pemandangan lain yang tak biasa pun ku saksikan dengan kedua mata kepalaku sendiri. Air liur bocah itu terus menetes, membuat bagian atas baju lusuh itu basah karenanya.             “Tolong aku,” ia melirih sendu.             Dadaku tiba-tiba terasa sesak dan tenggorokanku terasa mengering saat mendapati darah segar mengalir dari lubang telinga bocah itu. Beberapa justru sudah mengering di sana membentuk garis vertikal aneh.             “Tolong aku,” ia berjalan menghampiriku, mengulurkan tangan kanannya yang mungil seakan-akan ingin menggapaiku.             Alih-alih menolongnya, tubuhku seakan-akan melawan dan justru berjalan mundur.             Bocah itu tidak berhenti dan terus mengangkat kakinya menghampiriku dengan ekspresi yang sama.             “Hei Aku, ku mohon tolong aku,” ia terus melirih.             Suara lirihannya itu terasa seperti menusuk telingaku dan mengoyak isinya. Aku pun menutup kedua lubang telingaku menggunakan kedua tanganku untuk meredam suaranya. Namun, itu tidak membantu sedikitpun, karena bagaimanapun juga, aku memiliki indra pendengaran yang terlalu tajam.             “Sakit sekali,”             Kali ini tubuh mungil itu terguncang, meskipun terlihat sedang menangis dan terisak, aku tidak bisa menemukan sebutir pun air mata yang keluar dari mata anehnya yang lebar itu, tidak juga ku dengar sesuatu yang mengalir dari lubang hidungnya yang bengkok itu.             “Aku tahu kalau kau tahu bagaimana sakitnya,”             “Tolong aku,”             Sementara ia semakin mendekatiku, aku tidak sengaja menginjak sesuatu yang tak terdeteksi oleh radarku dan membuatku terjatuh ke belakang. Kali ini posisiku tidak bisa mendukungku untuk menghindar ataupun merayap mundur, karena jika aku melakukannya, ujung kakiku akan bersentuhan dengan kaki bocah itu.             Ia sudah berhasil melewati bagian ujung kakiku dan berjalan dengan langkah terseret hingga mencapai lututku. Aku merasakan tubuhku semakin gemetar hebat tapi aku tak bisa melakukan apapun.             Kedua tanganku masih di sana, menutup kedua telingaku tanpa hasil.             Bocah bertubuh mengerikan itu tiba-tiba terhuyung dan jatuh menimpaku. Kepalanya membentur dadaku dengan keras.             "Arggghh.."             Kepalanya sangat keras seperti baja, membuat dadaku terasa sangat sakit.             Bocah itu sudah menempel di atas tubuhku. Saat ia mengangkat wajahnya,             Jarak yang terlalu dekat itu membuatku gila. Wajahnya sungguh menyeramkan, bahkan monster tarantula dan nagini tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan wajah bocah itu. Apa? kenapa wajahnya bisa hancur seperti itu? Refleks, aku mendorong tubuh lemah itu dengan kedua tanganku.  Dan tidak cukup sampai di situ saja,             Meskipun tubuh mungil itu berhasil ku singkirkan, aku mendapati tanganku berlumuran darah. Darah yang sangat banyak, sampai-sampai sekarang aku bisa mencium aroma amis yang memuakkan. Tapi darimana? Darah siapa?             Saat ku tatap kembali tubuh bocah itu, betapa terkejutnya aku karena darah yang ada padanya hanyalah darah yang keluar dari lubang telinganya saja. Tidak ada yang berubah, meskipun aku sudah mendorongnya menggunakan kedua tanganku yang sudah berlumur darah.             Darimana?             Tes..             Tes..             Tes..             Seketika bulu halus di sekujur tubuhku berdiri. Aku bisa merasakan sensasi desiran aneh di bagian belakang leherku. Aku pun memastikannya dengan mencuci darah itu menggunakan kubangan air yang sudah menenggelamkan sebagian tubuhku. Saat sudah bersih-             Sekali lagi kugunakan kedua tanganku untuk menutup kedua telingaku, namun kini bukan ku lakukan untuk meredam suara bocah itu.             Darah itu kembali melumuri tanganku. Darah yang masih terasa hangat dan baunya sangat amis itu kembali berada di sana. Aku bergidik dan merasakan tubuhku terguncang hebat. Darah itu keluar dari kedua lubang telingaku, sama seperti apa yang terjadi pada bocah di hadapanku itu.             “Bukankah sudah ku bilang? Aku tahu kalau kau tahu bagaimana sakitnya,”             Ku tatap mata kosong bocah yang sudah berhasil kembali berdiri itu, kali ini, ia sudah berdiri di hadapanku. Tidak lagi aku mendorongnya, ia menarik bibir anehnya untuk berusaha tersenyum. Namun, yang ku lihat hanyalah sebuah seringaian yang mengerikan.             “Tolong hentikan ini,” lirihku.             Aku merasa sudah tidak sanggup dengan apa yang sedang ku saksikan di hadapanku. Apa maksudnya ini? Kenapa aku bertemu dengan diriku di masa kecil yang penampilannya hancur? Apakah ini sebuah ramalan masa depan? Tidak- aku tidak mungkin kembali berubah menjadi seorang bocah di masa depan, bukan? Lalu apa kalau begitu? Mimpi buruk?             Tes..             Tes..             Tes..             Aku bisa merasakan sesuatu mengalir dengan deras dari lubang telingaku. Aku tahu apa yang sedang berebut keluar dari sana. Meski begitu, tanganku terlalu gemetar untuk bisa menutupnya. Aku tidak bisa lagi.             “Jadi, apa kau akan menolongku?”             Tangan kotor bocah itu menyentuh kedua pipiku. Tangannya sangat kurus hingga aku bisa merasakan struktur tulang yang menyusunnya. Sekali lagi, tubuhku terlalu terguncang untuk bisa menepisnya kali ini. Aku hanya membiarkannya melakukan apapun yang ingin ia lakukan.             “Aku tahu kalau kau orang baik, kau pasti mau menolongku,”             Aku sendiri tidak tahu apa maksud dari menolongnya, menolong dari apa? Siapa yang menyakitinya dan membuatnya menjadi seperti itu? Apa yang bisa ku lakukan untuk menolongnya?             Tanpa sadar aku pun terisak hebat. Namun berbeda dari bocah itu, aku bisa merasakan sesuatu mengalir keluar dari kedua mataku dan bahkan sesuatu yang cair terasa mengalir dari lubang hidungku.             “Tolong aku,”             Seketika aku tak sengaja menarik cairan dalam hidungku itu masuk kembali dalam isakanku yang hebat. Cairan itu masuk ke dalam kerongkonganku dan membuatku tersedak. Aku pun terhuyung dan terbatuk. Bocah itu melepaskanku.             Refleks kugunakan punggung tanganku untuk menutupi mulutku dan-             Alih-alih percikan cairan jernih yang keluar dari sana. Sekali lagi, itu adalah darah. Dan saat aku mengusap air mata sekaligus ingusku.             "AAARGHHHHHH!!!"             Seakan-akan senang melihatku frustasi, bocah itu tiba-tiba terbahak. Suara tawanya membuat telingaku semakin sakit dan darah semakin mengucur deras. Sampai aku pun tidak tahan lagi dan mengucapkannya.             “Tolong aku,” suaraku terdengar sama persis dengan bocah itu. Dan bayangan terakhir yang terlihat oleh kedua mataku adalah senyumnya yang menyerupai sebuah seringaian. Lalu semuanya mendadak gelap.             .             .             “Apa yang kau lakukan?”             “Aku hanya memberinya hukuman.”             “Kau tahu cara kerja mesin ini dan kau masih menggunakannya untuk menghukum pemimpinmu?”             “Aku hanya berbuat adil.”             “Adil, katamu? Kau bisa saja membunuhnya. Aku harap kau bisa merahasiakan kejadian ini pada siapapun. Ini perintah!” Aku bisa mendengar suara dari dua orang yang berbeda...aku tahu kalau mereka sedang membicarakanku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN