Chapter 11: TRANSFORMER

2381 Kata
             Aku bisa merasakan tubuhku dalam kondisi lebih baik dari sebelumnya. Tidak ada rasa ngilu ataupun rasa yang tidak nyaman lainnya. Aku bisa mendengar nafasku yang teratur dan aliran darahku yang mengalir normal dalam pembuluh darah. Sepertinya aku dalam kondisi tidak sadar karena aku bisa merasakan kelopak mataku masih menutup dengan rapat. Samar tercium aroma yang sangat ku kenal di hidungku. Aroma menyegarkan yang membuat paru-paruku terus menghirup masuk udara sekitar.             Bau alkohol dingin benar-benar terasa seperti aromaterapi bagiku. Dari baunya, aku tahu sebenarnya sekarang berada dimana. Meskipun begitu, aku tidak bisa membuka kedua mataku meskipun aku memaksanya. Sayup-sayup bisa ku dengar suara ribut yang ada di sekitarku.             “Apa yang kau lakukan padanya?”             Aku bisa mengenali suara cemas itu sebagi milik Toni. Aku tidak tahu apa yang ia lakukan di sini, tapi sepertinya ia sedang berdebat dengan seseorang. Suaranya sangat rendah, seperti sebuah bisikan, meskipun begitu, aku bisa mendengarnya dengan jelas. Aku bisa menangkap kecemasan dalam suaranya.             “Aku hanya memberinya hukuman,” -Amel. Gadis itu suka mendesis saat sedang kesal. Kali ini suaranya sengaja ia tahan. Keduanya berbicara dengan cara berbisik, mungkin berharap tidak mengganggu tidurku di sini. Padahal, hanya mataku saja yang terpejam rapat, tidak untuk indra yang lainnya. Seseorang pasti sudah memberikan anestesi atau mungkin obat tidur dosis rendah padaku sehingga efek yang ku terima hanya ada di mata.             “Hukuman seperti apa? Kau terlalu menyiksanya!”             “Professor Minami sudah menjelaskan sistem kerja mesin hukuman itu padamu juga, bukan? Bahkan kau sudah mencobanya lebih dulu sebagai relawan.”             “Aku benci mesin itu,” suara gemetar Toni menunjukkan ada rasa trauma dalam ingatannya tentang mesin yang sedang mereka bicarakan saat ini.             -Ah aku ingat.             Aku mendapatkan hukuman tak layak dari Amel karena dianggap melanggar peraturan saat duel satu lawan satu melawan Rayhan. Aku bersyukur karena sepertinya masa hukumanku sudah berakhir. Tapi, sepertinya aku melupakan sesuatu lagi kali ini. Hukuman yang kudapat itu, apa aku sudah benar-benar menerimanya?             “Kita berdua membenci mesin itu,”-Amel memberikan tanggapan. Suaranya terdengar lebih tenang dari sebelumnya, seakan-akan ia sedang berusaha menghibur Toni dengan caranya.             “Aku hampir gila karenanya!”             “Sssstt...kecilkan suaramu!”             Aku tidak sepenuhnya memahami apa yang sedang mereka perdebatkan. Yang jelas, mereka tidak tahu kalau aku bisa mendengar obrolan mereka dengan jelas. Aku hanya menahan diri untuk tidak buru-buru membuka mataku yang perlahan sudah mampu ku kendalikan. Aku masih membiarkannya terpejam supaya bisa mendapatkan informasi lain yang lebih banyak dari kedua humanbot misterius itu. Keduanya bertingkah sangat mencurigakan bagiku.             Tapi-             Kalau mereka sedang membahas sesuatu tentang hukuman menggunakan mesin. Apakah aku juga menerima hukuman itu melalui mesin yang sedang mereka bicarakan? Apabila iya, sepertinya mesin itu lah yang berhasil membuatku terbaring dengan mata tertutup saat ini. Tapi, apa cara kerja mesin itu memang memberikan sebuah hukuman yang tidak bisa diingat oleh terdakwa setelah proses hukuman selesai? – Mungkin aku akan menanyakan pertanyaan itu pada mereka nanti setelah puas mendapatkan informasi yang cukup.             “Apa kau melihatnya?” Toni bertanya dengan suara penasaran.             “Apa maksudmu?”             “Ketakutan miliknya, aku yakin kau melihatnya dari layar imajinasi itu.”             Hening. Aku pun menunggu jawaban yang diberikan oleh Amel atas pertanyaan itu. Tunggu, apa hukuman itu seperti memvisualisasi bentuk ketakutan kita? Kalau benar iya dan Amel berhasil melihatnya dari layar yang mereka berinama layar imajinasi itu, berarti gadis itu tahu apa bentuk ketakutan yang kumiliki karena sejujurnya aku sendiri tidak ingat pernah memilikinya.             “Apa yang akan kau lakukan sekarang?”             Alih-alih memberikan jawaban yang ku tunggu-tunggu. Amel diam dan Toni mengganti pertanyaannya dengan tiba-tiba. Membuatku frustasi dan ingin segera menyela. Tapi, kalau aku melakukannya, aku tidak akan pernah bisa mendapatkan informasi rahasia lagi dari mereka di kemudian hari. Aku tidak mau mereka mengetahui kemampuan rahasiaku ini sebelum aku puas menggunakannya untuk tujuan pribadiku.             “Kita menunggunya sadar,” jelas Amel. Ia menghembuskan nafas panjang, sepertinya ia sudah lelah menungguku kembali sadar. Tunggu, sadar? Aku kira aku sedang tertidur.             Apa aku harus membuka mataku sekarang?             “Yang jelas, jangan gunakan mesin hukuman itu lagi padanya. Kau mengerti?” sangat jelas Toni mengancam gadis itu.             “Harusnya kau sebagai sahabatnya buat dia tidak pernah melanggar peraturan lagi, jadi aku tidak perlu repot-repot untuk menghukumnya!” Amel kembali mendesis. Gadis itu memang tidak punya rasa takut.             Sepertinya, daripada menunggu mereka ribut di kamarku dan menghancurkan barang-barang milikku, sebaiknya aku segera mengangkat kelopak mataku dan pura-pura terbatuk untuk meyakinkan mereka kalau aku baru saja sadar.             "Uhukkkk… hukkk… hukk..."             Aku pun melakukannya dengan profesional.             “Verlez, kau baik-baik saja?” Toni mencondongkan tubuh besarnya ke hadapanku yang sudah berhasil mengangkat setengah tubuhku saat berpura-pura batuk. Wajahnya terlihat cemas. Sementara dari sela jari-jariku, aku bisa melihat Amel sedang berdiri dengan menyenderkan pinggangnya di tepi meja tempatku menaruh beberapa barangku.             “Apa yang kalian lakukan di sini?” tanyaku pura-pura bingung. Meskipun sebenarnya aku memang bingung, bagaimana keduanya bisa membawaku masuk ke dalam bunker milikku sementara aku dalam kondisi tak sadar? Darimana mereka mendapat kode akses untuk membuka pintu utama bunker itu?             “Amel menghukummu terlalu keras lalu kau pingsan, kami membawamu ke bunker milikmu,” jawaban Toni seakan-akan sudah menjawab pertanyaan sederhanaku itu. Namun, melihat kecemasan di wajahnya membuatku tidak tega untuk protes dengan hal itu.             “Aku tidak melakukan apapun,” protes Amel yang sudah berjalan menghampiriku. Berdiri di depan tempat tidurku dengan kedua tangan terlipat di depan d**a, “Apa kau baik-baik saja?” pertanyaan yang keluar dari mulutnya itu sangat kontras dengan ekspresi wajah sangar yang sedang ia gunakan.             “Tentu saja, apa aku terlihat se-lemah itu?”             “Iya-"             “Tidak!”             Amel dan Toni menjawab dengan bersamaan dengan menggunakan jawaban yang berbeda. Tentu saja sudah bisa ditebak siapa yang menganggapku lemah, Amel. Gadis itu tidak merasakan adanya jiwa superior dalam diriku. Mungkin karena memang kecerdasan miliknya lebih superior dibandingkan milikku. Tapi, aku rasa aku bisa saja mengalahkannya kalau saja ingatanku tidak seperti puzzle rusak.             Aku melotot ke arah mereka satu per satu.             “Bagaimana kalian bisa tahu kode akses bunkerku?” tanyaku pada akhirnya. Tentu saja aku penasaran dengan hal ini.             “Aku tahu,” Amel menjawab, eskpresinya tidak berubah sedikitpun, “Aku tahu semua kode akses bunker humanbot,” tambahnya meyakinkan.             Hah?             “Hah? Apa kau semacam penguntit atau pencuri?” celetukku tidak percaya dengan jawaban Amel.             “Apa aku terlihat seperti keduanya?”             Aku mengangguk dan tidak terkejut saat Toni pun melakukan hal yang sama. Aku ingin terkekeh menertawakannya tapi aku malas kali ini.             “Kau akan terkejut kalau tahu apa saja yang aku tahu dan aku bisa!” gadis itu kesal karena jawaban yang ia terima dan ia pun kembali mendesis seperti ular.             “Hukuman apa yang ku terima? Aku tidak bisa mengingatnya sedikitpun, apa itu normal?” Akupun mengajukan pertanyaan selanjutnya dan kali ini mereka tidak segera menjawab, namun saling menatap satu sama lain dalam diam.             “Normal, kau akan melupakannya setelah masa hukumanmu selesai,” jawab Amel seketika saat Toni barusaja hendak membuka mulutnya.                    Meskipun kecewa, aku tidak bisa berkomentar apapun. Aku tidak mau bertanya dengan pertanyaan yang lebih mencurigakan karena itu bisa membuat mereka tahu kalau aku bisa mendengar percakapan mereka. Aku yakin kali ini, untuk pertama kalinya, Amel mengucapkan sesuatu yang tidak benar. Ia bohong. Dan apapun alasannya, untuk memberikan jawaban bohong seperti itu pastilah sebuah alasan yang cukup besar sehingga memaksa gadis yang jujur sepertinya untuk berbohong.             Hening.             Aku tidak memiliki pertanyaan lain tentang itu. Tidak mau mengambil tindakan yang terlalu beresiko saat ini. Melihat gerak-gerik Toni dan Amel yang aneh membuatku menaruh kecurigaan pada mereka berdua. Bagaimana bisa Toni menyebutku sebagai seorang sahabatnya tetapi justru menyimpan rahasia yang tidak ingin aku tahu?             “Apa yang akan kau lakukan sekarang?” tanya Toni memecah keheningan. Ia mengangkat kedua alis matanya saat menatapku dan aku menanggapinya dengan mengangkat kedua bahuku malas.             “Aku memanggilmu kesini untuk suatu hal, Toni, apa kau lupa menanyakannya padaku?” Amel menyela, gadis itu sepertinya hobi sekali untuk berbicara secara terbelit dan tidak mau langsung pada poin yang dimaksud. Apakah itu karena perbedaan gender di antara kami? Apakah seorang gadis memang suka sesuatu yang berbelit seperti itu saat mengucapkan sesuatu?             “Aku lupa,” Toni memukul dahinya dengan telapak tangan kanannya dan membiarkannya di atas sana selama beberapa detik sebelum menurunkan kembali tangannya itu. Aku hanya menyimak keduanya dalam diam, asal tidak ada keributan yang bisa memporak porandakan kamarku, aku tidak akan berkomentar apapun saat ini.             “Aku memintamu mengajarinya sesuatu,” jelas Amel. Masih menghasilkan sesuatu yang tidak bisa ditebak dan membuatku frustasi dalam hati.             Mengajariku? Toni? Apa yang ia bisa dan aku tak bisa sehingga ia harus mengajariku?             “Apa Professor Minami yang memintamu?” Toni mengangkat sebelah alisnya yang panjang.             “Ini spesial dari ideku,” Amel menggeleng kemudian beralih menatapku dengan tatapan mata tajamnya yang terasa menusuk, “Harusnya kau berterima kasih padaku,” ia menekan setiap kata yang ia tujukan padaku seakan-akan aku benar-benar harus berterima kasih padanya.             “Apa lagi kali ini?” Tanya Toni yang sudah mulai penasaran dan aku pun mendukung pertanyaannya itu.             Amel tersenyum miring seakan-akan siap memamerkan sesuatu yang dapat sekali lagi menjatuhkan martabatku sebagai humanbot paling unggul yang pernah diciptakan.             “Kau, apa kau terlalu bodoh untuk menggunakan senjatamu sendiri?” mata tajam gadis itu kali ini tertuju padaku. Mengataiku bodoh. Tapi- apakah memang karena itulah aku tidak bisa menggunakan senjataku? Karena aku bodoh?             Tunggu-             Bagaimana dia bisa tahu kalau aku tidak bisa menggunakan senjataku?             Sial- aku benar-benar malu. Pantas saja dia begitu percaya diri untuk merendahkanku.             “Apa maksudmu?” Toni masih belum memahami arah pembicaraan ini. Ia terlihat sangat lugu.             “Maksudku, Verlez tidak tahu cara menggunakan senjatanya dan aku memanggilmu kesini untuk mengajarinya,” jelas Amel. Kali ini sudah sangat jelas. Tapi alih-alih paham dengan posisinya, Toni tampak terkejut.             “Hah? Apa? Verlez tidak tahu?”             Aku tahu Toni tampak terkejut dan itu artinya ia masih berpikiran positif tentangku. Aku rasa ia terlalu mengagumiku, mungkin baginya, aku adalah humanbot yang paling dapat diandalkan dan patut ia jadikan panutan. Tapi Toni, maaf harus mengecewakanmu, aku benar-benar tidak tahu betul bagaimana cara menggunakan special weapon-ku dan aku ingin kau mengajariku sekarang juga. Aku muak dengan ketidakmampuanku satu itu.             “Kau bisa menanyakan sendiri padanya,” Amel mengangkat ujung dagunya ke arahku dan Toni pun kali ini menatapku dengan ekspresi yang tak bisa ku tebak.             “Apa itu benar?” tanya Toni tak percaya.             “Meskipun aku menyesal harus mengakuinya, sepertinya Amel tahu tentang itu. Aku tidak bisa mengelak lagi,” jawabku panjang. Aku sudah memasukkan inti dari ucapanku pada kalimat yang ku ucapkan, jadi, aku berbeda dengan Amel yang berbelit tak berarti.             Amel terkekeh.             Aku sudah menduganya, gadis itu memang dari awal bermaksud untuk menghinaku. Apa jangan-jangan ia kadang terlihat akrab dengan Rayhan karena keduanya memiliki tujuan yang sama padaku? Untuk menjatuhkanku? Aku tidak akan terkejut jika gadis itu melakukannya. Apa jangan-jangan ia justru dalang di balik sikap payah Rayhan padaku? Itu terdengar lebih masuk akal, karena dengan begitu, Rayhan hanyalah sebuah robot ketinggalan zaman yang hanya bergerak mematuhi perintah majikannya saja.             “Baik, aku akan mengajarimu,” putus Toni. Ia menatapku dengan serius, tidak menertawakanku sedikitpun. Tidak terpancing oleh Amel yang sudah terbahak sembari memegangi perutnya. Sepertinya Toni memanglah sahabatku.             Aku tidak mengerti, apa tidak tahu cara menggunakan senjata merupakan aib besar? Sampai-sampai Amel menertawakanku seperti itu?             Alih-alih menungguku bersiap-siap. Toni mengangkat tangan kirinya dan seketika ada kilatan cahaya muncul dari sana. Cahaya itu memaksaku untuk menutup mataku selama satu detik dan saat aku membukanya kembali-             Aku sudah berada di tempat yang masih ku ingat dengan jelas dimana aku berhasil menebas tubuh Rayhan dan memotongnya menjadi dua, namun berakhir dengan mendapatkan hukuman, sementara Rayhan masih hidup dan siap kapanpun akan kembali lagi menantangku untuk yang kedua atau ketiga kalinya di masa yang akan datang.             Aku sudah berdiri meskipun tanpa alas kaki. Bagian dasar arena itu kali ini diselimuti oleh rumput-rumputan setinggi mata kaki. Dan saat aku menengadah ke langit-langit. Pemandangan di atas sana akan selalu menjadi favoritku. Langit yang berwarna biru dan gumpalan yang terlihat lembut berwarna putih itu, aku tidak tahu apa namanya.             “Awan,” Saat ku lirik di sebelahku, Amel sedang berdiri dengan menatap langit berwarna biru itu dengan mata berbinar-binar, “Nama dari benda berwarna putih itu adalah awan.”             Aku terkejut. Bagaimana ia bisa tahu kalau aku sedang bertanya-tanya tentang nama benda itu? Apa ia sebenarnya bisa membaca pikiranku? Jadi itu alasannya, pantas saja dia bisa tahu kenyataan bahwa aku tidak bisa menggunakan senjataku.             “Apa bisa kita mulai?” tanya Toni yang berdiri di belakangku. Saat aku melihatnya, ia sudah siap dengan dua buah pedang di tangannya. Pedang itu memiliki warna yang berbeda dari terakhir kali aku melihatnya. Kali ini, warnanya adalah warna biru aqua pada bagian bilahnya dan hitam pada gagangnya. Warnanya membuatnya terlihat cantik.             “Sebelumnya, aku akan memperkenalkanmu pada special weapon-ku, Dark Repulser,” Toni mengayunkan kedua bilah pedang di tangannya dengan lincah saat mengucapkannya. Membuat gerakan seolah-olah sedang memamerkan senjata miliknya yang ia banggakan. Dark Repulser? Aku tidak tahu kalau senjata itu punya nama.             “Warna bilah pedang ini berubah jadi hitam saat aku menggunakannya pada musuh, dan saat berwarna hitam, kemampuan pedang ini jauh lebih kuat dari warna yang sekarang kau lihat,” jelas Toni dengan mantap. Jawabannya membuatku yakin kalau ia sangat mengenal senjatanya dengan sangat baik, tidak sepertiku.             Jadi, pedang yang ia gunakan untuk menebas Nagini itu adalah pedang yang sama dengan pedang yang sekarang sedang ia pamerkan padaku?             “Maksudmu pedang itu berwarna aqua karena kau tidak menganggapku lawan, bukan?” aku yakin pernyataanku kali ini benar karena aku memang sangat cepat dalam memahami sesuatu.             Toni mengangguk lalu tersenyum, “Special weapon itu sudah menjadi bagian dari dirimu, jadi ia tahu siapa lawan dan siapa kawan, persis seperti yang ada dalam hati kita,” laki-laki itu menjawab dengan jelas, ia terlihat sedikit bangga saat mengucapkannya.             “Nah, bagaimana denganmu? Apa nama senjata milikmu?” ia bertanya tiba-tiba.             Aku harus jawab apa? Aku tidak tahu jawabannya. Apa nama dari special weapon-ku? Minami terus menerus menyebutnya spesial tapi tidak pernah sekalipun menyebutkan namanya. Apa itu sebenarnya namanya? Spesial?             Ah sial- aku bahkan tidak tahu nama special weapon-ku. Pantas saja ia enggan muncul membantuku, mengenalnya saja aku tidak, apalagi ikut berjuang bersamaku.             “Special Weapon, Transformer.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN