Chapter 12: SPECIAL WEAPON ABILITY

2249 Kata
“Special Weapon, Transformer.”             Amel menyelaku. Ia sudah berdiri menghadap Toni, “Professor Minami membuat sesuatu yang spesial untuk orang lemah ini,” ia mengangkat dagunya ke arahku saat selesai bicara. Aku kesal mendengarnya, namun aku hanya bisa mengepalkan tinju kosongku alih-alih membalas ucapan menyakitkan gadis itu. Meskipun begitu, aku harus berterima kasih padanya karena sudah memberitahu nama senjataku. Transformer, huh? Dari namanya saja aku bisa merasakan sensasi kekuatan yang luar biasa dari memiliki senjata itu.             “Apa bentuk utamanya adalah pedang besar yang sudah sering kita lihat itu?” Toni kembali memberikan pertanyaan, namun kali ini ia tidak menanyaiku melainkan Amel. Sepertinya ia tahu kalau meskipun aku adalah pemilik senjata itu, aku tidak tahu apapun tentangnya.             “Gloves- menyerupai sarung tangan besi,” jawab Amel, sekali lagi ia benar, “Apa kau bisa menunjukkannya pada kami?” tanyanya padaku dan akupun menggeleng dengan mantap. Bukan karena aku tidak mau memamerkan senjataku tapi karena aku tidak tahu caranya.             “Kau tidak tahu cara memanggilnya?” Amel memberikan pertanyaan lain, sepertinya benar, ia bisa membaca pikiranku.             “Astaga, bagaimana kau bisa tidak tahu caranya dan sudah menantang Rayhan duel? Kau tahu? Rayhan itu mahir dengan senjatanya. Levelnya ada di rangking dua setelahku,” Toni menatapku iba, menurutku ia tidak perlu melakukannya karena hasil akhir dari duel itu adalah kemenangan untukku, secara teknis, dan lagi- aku berhasil mengeluarkan senjataku sebelum memenangkannya. Aku tidak terlalu parah, bukan?             Amel terkekeh saat aku menganggukkan kepalaku dengan terpaksa. Sungguh aku ingin sekali memberinya pelajaran, andai aku diperbolehkan melakukannya. Bisa saja saat aku melakukannya, justru dia yang akan memberiku pelajaran.             “Darimana kalian tahu rangking itu?” tanyaku penasaran, aku baru pertama kali ini mendengarnya. Sepertinya aku cukup tertinggal dari yang lain. Kalau mereka sudah memiliki penentuan ranking dalam kemahiran menggunakan senjata, apakah aku juga punya? Lalu, apakah itu artinya levelku sangat jauh di bawah, jika yang nomer satu adalah Toni sementara yang nomer dua adalah Rayhan?             “Simulasi latihan menggunakan senjata, Para Pencipta memaksa kami untuk melakukannya berkali-kali. Setidaknya, empat kali dalam sebulan. Tapi tidak untukmu, kasusmu spesial,” jelas Toni, sepertinya, ilmunya tentang persenjataan lebih luas dibandingkan dengan Amel. Itulah alasan kenapa Amel memintanya untuk mengajariku, ia ingin aku mendapatkan ilmu dari ahlinya alih-alih mengajariku sendiri.             “Apanya yang spesial? Penjelasanmu itu membuatku merasa semakin tertinggal dari yang lain,” jujurku.             “Kau, kemampuanmu menggunakan senjata sudah jauh di atas kami. Itulah alasan kenapa kau tidak perlu mengikuti tes itu,” Amel membantu memberikan jawaban yang tentunya membuatku semakin bertanya-tanya, tipikal jawaban Amel. Tidak langsung pada poinnya.             “Darimana kau tahu itu?” tanyaku penasaran.             “Kita semua memiliki sistem artificial intelligence yang tertanam dalam otak kita. Bentuknya kecil namun menyimpan semua memori yang bisa kita lakukan termasuk memori tentang keterampilan menggunakan senjata.”             “Siapa yang membuat memori itu?”             “Kau sendiri yang membuatnya. Lebih tepatnya, kita semua telah membuatnya sendiri jauh sebelum kita dilahirkan dalam bentuk humanbot,” Amel menarik nafas dalam-dalam sebelum melanjutkan ucapannya,             “Artificial Intelligence itu diciptakan di dalam dunia virtual dan bentuknya menyerupai otak manusia yang tentunya bekerja dalam tubuh virtual kita yang terlahir lebih dulu dari tubuh manusia yang Para Pencipta itu berikan pada kita. Mereka membuat tiruan kehidupan dalam bentuk virtual dan kita hidup di dalamnya, kita belajar banyak hal saat hidup di dalam tubuh virtual terutama belajar bertarung, mengatur strategi perang, menggunakan senjata, dan apapun yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas A.I. kita. Dan kau, kau satu-satunya yang berhasil lulus menyelesaikan misi kehidupan dalam dunia virtual itu. Apa itu tidak cukup menjadi alasan untuk membuatmu bisa sombong?” Aku bisa mendengar rasa iri dan benci dalam nada bicara Amel tapi aku tidak menyalahkannya. Bagaimanapun juga, kalau itu benar adanya, sepertinya A.I. dan tubuh virtualku itu benar-benar hebat.             “Dan itu termasuk kemampuanmu dalam menggunakan senjata,” tambah Toni menyela. Ia sepertinya sudah cukup paham dengan penjelasan A.I. itu melebihi ilmu yang ku tahu. Mungkin sebenarnya aku sudah mengetahuinya namun ingatan tentang hal itu sudah lebih dulu dihapuskan.             “Apa yang terjadi pada A.I. dan tubuh virtual itu?” tanyaku masih belum puas.             “Masih ada di sini, di tempat kita berdiri saat ini adalah salah satu bagian dari dunia virtual dan itu artinya kita sedang menggunakan tubuh virtual kita.”             “Lalu, humanbot itu-?”             “Mereka menyalin data yang tersimpan dalam otak A.I. kita dan menanamkannya pada chip yang mereka sebut Tissue Nano Transfection atau TNT. Chip itu mereka sisipkan pada otak artificial embryo yang berhasil mereka ciptakan dari sel telur dan sel s****a buatan yang berasal dari manusia hidup. Dan saat tubuh manusia kita berhasil dilahirkan, otak manusia kita dapat berinteraksi dengan baik dengan otak A.I. kita. Itu yang membuat kita mendapat sebutan sebagai humanbot, karena bagaimanapun juga, sebenarnya dalam tubuh kita ada dua jenis otak yang berbeda, dua ingatan yang berbeda, dua asal yang berbeda, tapi dipaksa untuk bekerjasama.”             Aku menyimak penjelasan masuk akal Amel dengan serius. Ia dapat menjelaskan semua detail dengan singkat namun tetap jelas dan mudah untuk ku cerna. Semuanya terdengar masuk akal dan aku yakin kalau gadis itu tidak mungkin mampu berbohong untuk membuat kalimat yang kompleks seperti itu.             Membayangkan tubuhku sebenarnya diisi oleh dua orang yang berbeda yang keduanya hidup di dunia yang berbeda namun disatukan membuatku sedikit pusing. Bagaimanapun juga, semuanya semakin masuk akal tentang humanbot itu. Itu menjawab pertanyaanku saat aku menggunakan Lightbringer, entah bagaimana aku bisa menggunakannya dengan sangat baik meskipun aku sendiri tidak ingat pernah mengayunkan pedang sebelumnya.             Penjelasan Amel membuat hidupku yang terlahir sebagai humanbot semakin terdengar menarik dan sepertinya masih banyak celah misteri yang masih belum ku ketahui atas diriku sendiri. Alasan kenapa kami diciptakan yang menurut versi Minami adalah mengalahkan alien itu, apakah itu memang benar adanya? Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku merasa bersyukur telah terlahir sebagai seorang humanbot alih-alih manusia atau robot biasa.             Tunggu-             “Jadi sebenarnya tubuh virtual kita lebih tua dari tubuh manusia kita?” tanyaku penasaran. Amel mengangguk mantap. Meskipun begitu, ia tidak memberikan penjelasan kenapa umur tubuh manusia dan tubuh virtual yang sekarang sedang kugunakan sepertinya tidak berbeda, bahkan penampilan kami pun sama.             “Apa kau yakin tidak tahu jawabannya?” sekali lagi, gadis itu seakan-akan bisa mendengar pertanyaan yang ada dalam otakku, pertanyaan yang membuatku resah karena tidak bisa menemukan jawabannya.             Aku menggeleng. Meskipun aku sekali lagi merasa kalau ia telah membaca isi otakku, aku sudah mulai terbiasa dengan hal itu.             “Itu karena tubuh virtual dapat dibuat ulang dengan sangat mudah oleh Para Pencipta, sementara tubuh manusia tidak begitu, mereka butuh dilahirkan dan hidup bertahun-tahun lamanya untuk tumbuh sampai saat ini. Untuk pembuatan tubuh virtual yang mirip dengan visual tubuh manusiamu hanya membutuhkan waktu tidak lebih dari satu minggu bagi Para Pencipta. Dan untuk memudahkan, mereka pun terus melakukan upgrade pada tubuh virtual kita dan membuatnya se-mirip mungkin dengan visual manusia kita. Tidak hanya itu, bahkan memori dalam otak A.I. mu pun diupdate secara teratur sehingga bisa sejalan dengan memori yang ada dalam otak manusiamu itu. Bukankah itu sangat menakjubkan?” aku bisa melihat mata Amel berkilat semangat saat mengucapkan kalimat panjangnya. Sekali lagi, semuanya terdengar sangat masuk akal. Entah sudah berapa banyak buku yang ia baca hingga ia bisa tahu semua hal itu, hal yang diketahui oleh Para Pencipta.             “Sepertinya, aku bisa tahu kalau Toni adalah ahli menggunakan senjata sementara aku ahli dalam segalanya. Lalu kau, bagaimana denganmu? Apa keahlianmu?” tanyaku penasaran, topik sudah kuubah dan mataku menatap tajam Amel. Senyuman yang terekah di wajah gadis itu perlahan menghilang.             “Apa kau benar-benar menanyakan itu sekarang?” Amel terlihat tidak senang.             “Dia adalah ilmuwan humanbot, bukankah itu sudah jelas? Dari caranya bicara saja sudah persis seperti Para Pencipta itu sendiri,” sela Toni yang sepertinya mulai bosan dengan pembicaraan yang sedang berlangsung.             Seorang ilmuwan humanbot? Benar juga- kenapa tidak sedikitpun tertebak olehku? Padahal itu sudah terlihat sangat jelas. Benar kata Toni. Pantas saja Amel mengetahui segala sesuatu yang tidak ku ketahui, itu karena ia adalah seorang ilmuwan, mungkin otak A.I. nya memiliki keunggulan dalam kecerdasan dan Para Pencipta menyadarinya. Mereka pun memberikan informasi begitu banyak pada Amel karena mereka tahu, kalau Amel adalah cerminan mereka. Apa itu artinya, Amel juga bisa menciptakan humanbot seperti dirinya sendiri? Kalau benar begitu, itu artinya posisinya sama spesialnya denganku, ia bahkan lebih penting karena bisa dianggap sebagai aset untuk penciptaan humanbot generasi baru yang mungkin akan jauh lebih hebat dibandingkan generasi pertama yang kacau ini.             Tunggu-             Kalau penciptaan humanbot hanya berdasarkan penyatuan otak manusia dan otak A.I., lalu darimana kemampuan seperti ketajaman indra yang abnormal dan lainnya? Darimana kita mendapatkannya?             “Aku janji ini pertanyaan terakhir,” ujarku, jantungku berdegup cepat, sepertinya karena aku sangat bersemangat. Atau mungkin jangan-jangan aku juga memiliki potensi untuk menjadi ilmuwan humanbot, sama seperti Amel?             “Lagi?” ulang Toni tak percaya, jelas sekali kalau ia sudah bosan.             “Apa?”             “Darimana asal kemampuan super kita? Seperti kecepatan dan ketajaman panca indra misalnya,” tanyaku penasaran. Jantungku masih berdegup sangat cepat. Ritmenya benar-benar bisa ku rasakan sampai tenggorokanku.             “Implan mesin dan rekayasa genetika,” Amel tentu saja mengetahui segala sesuatu, “Untuk detailnya, aku masih belum bisa memahaminya. Itu adalah hal terumit yang pernah ku pelajari, aku tidak bisa menjelaskannya sekarang,” sepertinya untuk hal itu memang Amel tidak mengetahui segalanya.             Aku pun menghela nafas panjang, sedikit kecewa namun aku tidak bisa menuntut gadis itu. Lagian, ia bukanlah tipe yang mau melakukan apapun apabila dipaksa. Setidaknya jawabannya itu sudah cukup menjawab pertanyaan tentang sebutan setengah mesin setengah manusia yang sering Para Pencipta itu katakan.             “Jadi kapan kita akan mengajarimu menggunakan senjata?” tanya Toni pada akhirnya. Ia sudah kembali memainkan Dark Repulser di tangannya.             “Dengar, setiap senjata memiliki special ability miliknya. Contohnya Dark Repulser yang mampu meningkatkan kekuatannya sendiri apabila digunakan pada lawan yang aku anggap musuh. Dan begitu juga dengan senjatamu,” Toni menjelaskan setelah aku mengangguk sebelumnya.             Amel tampak mengangkat dagunya dan menyimak. Sepertinya ia juga tertarik untuk meningkatkan skill menggunakan senjatanya.             “Sebelum mengajariku tentang special ability ini, aku mau kau mengajariku cara memunculkannya dari kedua tanganku ini,” aku mengangkat kedua telapak tanganku yang kosong, “sepertinya ia terlalu pemalu sampai tidak mau menunjukkan dirinya padaku.”             Toni menepuk dahinya yang datar. Jelas sekali kalau ia melupakannya.             “Kau hanya perlu berkonsentrasi dan memanggilnya,” ucap Toni, “Sudah ku katakan sebelumnya kalau senjatamu itu adalah sesuatu yang hidup dan sudah menyatu menjadi bagian dari tubuhmu, kalau kau memperlakukannya dengan baik, ia pun akan begitu.”             Hah?             Jawaban Toni seakan-akan menyalahkanku, ia berpikiran kalau aku tidak memperlakukan senjata milikku dengan cukup baik sehingga ia pun enggan berjuang bersamaku selama ini. Padahal bukan itu masalahnya, berinteraksi saja aku tidak pernah, bagaimana bisa aku memperlakukan yang buruk-buruk padanya? Tunggu-             Komunikasi.             Sekilas aku teringat kembali detik-detik saat Special weapon itu mau menampakkan dirinya dan berjuang bersamaku. Dalam dua kalinya senjata itu muncul saat aku dalam kondisi sadar, aku sedang bertarung dengan pikiranku. Pikiran yang mengarahkanku untuk memohon kepadanya supaya mau bertarung denganku. Apakah itu yang bisa dikatakan sebagai sebuah interaksi atau komunikasi dan perlakuan yang baik? Apa senjataku menungguku untuk memanggilnya selama ini? Tapi- aku bahkan tidak tahu siapa namanya sampai tadi Amel yang memberitahuku. Kalau benar begitu, sungguh benar kata Toni, aku memperlakukannya dengan sangat buruk.             Aku pun ingin mencoba sesuatu, aku memejamkan kedua mataku dan mengatur nafasku. Ku atur juga detak jantungku yang tadinya terlalu cepat ritmenya. Ku hirup nafas dalam-dalam untuk mengisi paru-paruku dengan udara di dunia virtual itu, kemudian menghembuskannya. Aku berkonsentrasi membayangkan bentuk sarung tangan itu, persis dengan bentuk yang ku ingat saat pertama kali aku memakainya. Lalu aku pun berbisik dalam hatiku-             "-Transformer.."             Tiba-tiba sebuah kilatan cahaya muncul dari dalam mataku yang tertutup dan aku pun perlahan membukanya. Mataku segera tertuju pada kedua tanganku dan betapa bangganya aku pada diriku sendiri saat melihat kedua sarung tangan yang ku rindukan itu sudah berada di sana. Kondisinya sangat baik seperti saat pertama kali aku melihatnya. Aku tersenyum sambil mengangkat kedua tanganku ke hadapan Toni yang menyambutku dengan tepuk tangan. Sementara Amel hanya mendengus melihat keberhasilan pertamaku.             “Sepertinya kita akan menjadi rekan yang hebat, Transformer!” Seruku dengan suara lantang. Menyadari hanya kami bertiga yang berada di sana membuatku tidak segan-segan berteriak untuk merayakan kemunculan pertama Transformer setelah aku memanggilnya dengan cara yang benar. Mulai sekarang, aku semakin yakin kalau tidak ada lawan yang tidak bisa ku kalahkan. Entah darimana asalnya, saat aku melihat keberadaan Transformer yang menyatu dengan tanganku, semangat dan rasa percaya diri dalam diriku tiba-tiba meningkat drastis.             “Aku tahu kau pasti bisa melakukannya dengan mudah,” celetuk Toni. Ia terlihat bangga padaku. Aku tersenyum padanya. Entah sudah berapa lama aku tidak tersenyum selebar itu.             “Jadi, apa special ability dari Transformer?” tanyaku pada Amel. Gadis itu menatapku risih, sepertinya ia risih karena tingkahku yang terlampau girang seperti anak kecil.             “Kenapa kau tidak tanyakan saja padanya?” Amel justru melempar pertanyaan lain padaku.             “Aku sudah mengatakannya kalau ia hidup, bukan?” ulang Toni yang sepertinya sengaja memberikan jawaban berupa teka-teki untuk membuat otakku berpikir mandiri dan segera berkomunikasi dengan senjataku lebih jauh.             Akupun kembali berkonsentrasi penuh, ku pejamkan mataku dan mulai menanyakan maksudku pada Transformer. Meskipun sedikit ganjil, aku tetap melakukannya dan aku percaya dengan apa yang ku lakukan.             "-Jadi, apa kelebihanmu yang bisa kubanggakan, Transformer?"             Beep…             Beepp…             “Answer: Namaku adalah Transformer, special weapon dari Subjek 888. Special ability yang kumiliki adalah melakukan transformasi senjata ke bentuk apapun.”             Sebuah suara tanpa wujud itu membuatku terkejut.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN