PROLOG
Malam ini hujan kembali mengguyur kota Jakarta. Padahal tadi siang panasnya terik matahari membakar kulit ditambah malamnya dingin justru menusuk kulit. Cuaca cepat berubah, meski sudah di prediksi tetap saja tidak bisa sesuai dugaan.
Begitu juga dengan hidup laki-laki yang kini duduk termenung di kantornya. Ia memejamkan mata, menyandarkan tengkuknya di kursi kerjanya. Para karyawan yang berlalu lalang melewati ruangannya berfikir jika atasannya itu mungkin sedang tidur karena jadwal yang padat bertemu dengan kolega-kolega asing yang akan bekerja sama dengan perusahaan.
Tiada yang tahu, laki-laki yang bertuliskan CEO Akbar Aninbagaskara di meja kerjanya itu ternyata masih terjaga. Otaknya memutar ucapan papanya yang menyuruhnya untuk datang di acara perjodohan yang menurutnya kolot untuk zaman modern ini.
Padahal rencananya ia akan meminang kekasihnya yang sudah menjalin hubungan tiga tahun lamanya dengannya. Dia benar-benar bimbang antara mengikuti arahan orang tuanya atau mengikuti kata hatinya.
***
Akbar tengah mengunjungi rumah orang tuanya, paling tidak laki-laki itu datang tiga kali seminggu setelah pulang kerja. Untuk hari ini, ia datang karena papanya menyuruhnya untuk meluangkan waktu agar Akbar datang ada hal yang ingin papanya bicarakan katanya.
Sambil menyesap putung rokok ia mengamati ruang kerja papanya yang lampunya masih menyala menandakan seseorang sedang di dalam sana. Sisa kopi yang dibuatkan mamanya ia teguk habis dan segera menaiki tangga menuju ruang kerja papanya.
Begitu memasuki ruang kerja papanya, ia di suguhkan pemandangan papanya yang sedang berdiri menatap keluar jendela. Pintu terbuka, pria paruhbaya itu segera duduk dan meneguk the yang mulai dingin itu.
“Akbar, papa ingin besok kamu datang ke pertemuan papa dengan teman papa. Papa ingin mengenalkan kamu dengan salah satu anaknya.” Ujar Adam dengan santai berbicara pelan pada Akbar yang sepertinya terkejut medengar ucapannya.
“Maksud papa, aku akan dijodohkan dengan anak teman papa?” tanya Akbar tanpa basa-basi.
Kata pepatah buah jatuh tidak jauh dari pohonnya, begitulah yang Adam dan Akbar. Hubungan ayah dan anak itu sepertinya benar-benar mengalir karena sifat mereka benar-benar mirip sampai mamanya kerap mengeluarkan kata “ Akbar kamu persis seperti papamu itu!”.
“Iya, kamu juga sudah berumur tiga puluh dua tahun. Papa kira itu usia sudah siap menikah.” Jawab Adam dengan santai sambil tersenyum ramah pada Akbar yang tampak berfikir keras.
“Tapi pa, Aku sudah punya kekasih.” Bantah Akbar mengingat kembali Mayadilla, kekasihnya.
“Kenapa tidak segera kamu bawa pulang?” tanya Adam dengan santai menanggapi alasan putranya menolak perjodohan.
“eughhh…”
Akbar terdiam entah mengapa, ia juga tidak menemukan kenapa ia tidak terbesit untuk membawa Maya pulang dan mengenalkan kekasihnya itu pada orang tuanya.
***
Jam dinding dan arloji di tangan perempuan yang sedang duduk itu serempak menujukkan jarum jam yang sama. Dia tengah merenggangkan ototnya karena ia hari ini harus lembur karena pekerjaan project yang sudah deadline segera dikirim kepada buyer.
“Za, gue pulang duluan ya!” pamit rekan kerja lemburnya seraya melambaikan tangan. Perempuan itu hanya membalas dengan senyuman seraya melambaikan tangannya juga.
Drrtt.. drrtt..
Wisnu : aku udah di depan.
Getaran ponsel yang ia letakkan di atas meja menyala, menampilkan sebuah pesan pop up dari kekasihnya yang bekerja berbeda perusahaan hanya berseberangan saja. Perempuan memakai name tag bertuliskan FARIZA ADINDA itu segera mengambil tasnya dan mematikan lampu meja kerjanya.
Fariza segera masuk ke dalam mobil Farid memakai sabuk pengaman sebelum mobil itu melesat pergi melintasi jalanan malam yang dipenuhi dengan gemerlap lampu di berbagai sudutnya. Di sepanjang jalan Fariza diam, entah mengapa hari ini suasana hatinya tak terlalu baik.
“Kerjaan banyak?” tanya Wisnu memecah keheningan.
Fariza hanya mengangguk, tak berniat untuk menjawab ucapan Wisnu. Melihat respon Fariza yang sepertinya enggan untuk diganggu, Wisnu mengurungkan niatnya untuk mengajak Fariza untuk singgah sebentar sekedar makan malam.
Tak memerlukan waktu lama, mobil Wisnu sudah sampai di rumah berpagar besi hitam. Fariza segera turun dan sedikit membungkukkan badannya menatap Wisnu yang menatapnya juga dari dalam. Fariza hanya tersenyum kemudian melambaikan tangannya, perempuan itu menghilang dibalik pintu rumahnya yang tertutup rapat kembali itu.
Fariza selalu pulang disambut dengan tatapan menusuk kedua kakak tirinya yang kini sedang menyantap makanan. Fariza tidak peduli, ia menganggap seolah kakak tirinya hanyalah angina berlalu yang harus ia abaikan. Ia mengambil segelas air es dan membawanya masuk ke kamar.
Tok..tok..
Baru saja ia akan mengganti bajunya. Ketukan pintu mengurungkan niatnya dan memilih untuk membuka pintu kamarnya. Senyuman canggung ibu tirinya membuat Fariza mundur satu langkah untuk mempersilahkan wanita paruh baya itu untuk masuk.
“Fariza, besok bisa pulang lebih awal. Temen ayah mau kesini, mau mengenalkan anaknya sama salah satu kakak kamu.” Ucap Resti mengutarakan maksud kedatangannya di kamar anak tirinya.
“ Acaranya jam berapa bunda?” tanya Fariza kemudian tersenyum.
“Mungkin jam tujuh malam.” Jawab Resti kemudian mengusap rambut anaknya dan memilih segera keluar dari kamar Fariza. Ia yakin anak-anaknya sudah menunggunya dengan tatapan tajam setiap ia masuk ke kamar Fariza.
Fariza terdiam sampai kapan sandiwara ini berakhir, melihat wajah ibu tirinya yang tidak sesuai dengan apa yang Fariza lihat dalam matanya. Wajahnya seolah bahagia sedangkan matanya terlihat sayu setiap harinya.
Jadi salah satu kakak tirinya akan menikah, ya baguslah setidaknya berkurang saingan Fariza merebutkan Wisnu. Hidupnya begitu rumit kekasihnya dicintai oleh kedua kakak tirinya, miris. Entah karena mereka jatuh cinta karena Wisnu atau kekayaan yang mengelilingi laki-laki berumur tiga puluh tahun itu.
To Be Continue -----