Seorang lelaki sibuk mengotak-ngatik ponsel di tangannya, hati dan fikirannya tertuju pada satu nama yang kini benar-benar menjauhinya bahkan memutuskan hubungannya secara sepihak saja. Bahkan, pesan yang dikirim lelaki itu dan juga panggilan suara tidak ada yang ditanggapi oleh kekasihnya, ralat mungkin maksudnya adalah mantan kekasih.
“Selamat siang pak!”
“Pak Akbar!”
Begitu telinganya menangkap sebuah nama yang tidak asing membuatnya mengangkat kepalanya dan benar lelaki yang sekiranya seumuran dengannya yang menjabat sebagai presdir di tempatnya bekerja sedang melintas dengan seorang wanita. Bukan seorang yang ia fikir adalah kekasihnya namun ternyata bukan, melainkan atasan dimana kekasihnya bekerja.
Wisnu benar-benar ingin memberikan pelajaran pada Akbar tak peduli jika dia adalah atasannya di perusahaan. Melihat Akbar yang tanpa sungkan menggandeng tangan wanita yang diketahui bernama Maya itu membuat Wisnu ingin menghampirinya dan memberikan pukulan pada Akbar.
Tekadnya sudah bulat, ia tidak akan membiarkan kekasih yang memutuskannya dimiliki oleh lelaki b***t seperti Akbar, lelaki yang tak punya urat malu.
Wisnu: bisa bertemu sekarang?
Fariza : aku sudah makan siang dengan Dini.
Wisnu: aku janji ini yang terakhir kita bertemu, kamu tidak akan menyesal jika datang.
Cara Wisnu mengetik di ponselnya yang pipih itu penuh penekanan seakan hasratnya untuk bertemu dengan Fariza begitu memaksa. Pesannya sudah dibaca ditandai dengan sebuah dua centang biru yang semula hanya ceklis.
Fariza: kamu dimana?
Balasan Fariza membuatnya tersenyum sumringah seolah dengan ini caranya untuk membuat Fariza jatuh ke pelukannya kembali akan berhasil sekali gertakan saja. Wisnu bahkan mengabaikan Akbar yang sejak tadi memandangnya dengan kegelisahan. Entah apa yang ditakutkan Akbar, bukankah semua karyawannya tidak tahu pernikahan Akbar dan Fariza.
Wisnu: aku di kedai tempat kita makan terakhir kali.
Harus ingat, kantor Akbar dan Maya adalah sebelahan hanya beberapa meter jarak keduanya. Jadi, Wisnu sudah memastikan jika kurang lebih sepuluh menit lagi Fariza akan sampai disini. Dan benar, sebuah mobil masuk halaman parkir kedai itu.
Wisnu sengaja menatap Akbar yang terkejut dengan kedatangan Fariza ke kedai, terlihat jelas bagaimana respon Akbar yang tampak resah ditambah posisinya sekarang Maya sedang bergelayut manja di lengan kirinya.
“Jadi ini maksud kamu ngajak aku bertemu?” tanya Fariza tersenyum getir.
Baru satu langkah menginjakkan kaki di kedai itu matanya langsung bertemu dengan tatapan aneh Akbar. Tatapan yang tidak bisa diartikan, dan satu lagi tatapan Maya yang melihat Fariza bertemu dengan karyawan Akbar membuatnya tak menyangka dan muncul sebuah ide picik untuk melangkah maju membuat Akbar secepatnya menceraikannya.
“Za, aku benar-benar tidak rela melihat kamu menikah dengan laki-laki seperti itu.” Tandas Wisnu menatap Akbar yang kini menatapnya dengan tajam juga.
“Wisnu, aku tahu kamu benar-benar peduli sama aku. Tapi,…”
“Za, aku mohon sama kamu!” potong Wisnu memohon pada Fariza matanya benar-benar terbuka melihat apa yang dilakukan suaminya di depan.
Fariza melihat kea rah Akbar tanpa rasa sungkan menatap Maya yang masih bergelayut manja dengan suaminya. Akbar sedikit rishi, matanya tak bisa mengartikan maksud tatapan Fariza. Fariza kembali meneguk segelas Moccacino favoritnya.
“Aku mohon jangan ikut campur!” tegas Fariza bangkit dari duduknya berusaha terlihat tidak peduli dan risih pada sepasang yang kini memandangnya.
“Fariza!” panggil Maya pada Fariza membuat mau tak mau Fariza menghampiri atasannya itu untuk sekedar memberikan hormat padanya.
“Bu Maya! “ sapa Fariza beranjak pergi masuk mobil.
Wisnu memincingkan mata baru menyadari mobil yang dikendarai Fariza sangat familiar biasa digunakan oleh keluarga bagaskara ketika mengunjungi perusahaan ketika ada rapat besar. Apakah Akbar sudah membelikan mobil sesuai dengan permintaan Fariza? Jawabannya belum, dengan alasan jika Akbar belum ada waktu untuk mengajak Fariza membeli mobil, jika hanya Akbar saja yang pergi lelaki itu beralasan tak tahu selera mobil Fariza.
“Za!....”
“Fariza!”
Panggilan Wisnu dari luar saja tidak dihiraukan oleh Fariza yang masih di dalam mobil tapi belum juga menyalakan mobil. Matanya sibuk mengamati Akbar dan Maya yang tampak biasa dan risih meski Akbar sudah mengetahui Fariza.
Akhirnya, Fariza memilih meninggalkan kedai daripada membuat ia semakin marah pada diri sendiri dan belum tahu pasti apa yang terjadi pada otak dan hatinya yang tiba-tiba bertolak belakang.
“Kamu sengaja kan?” tanya Akbar dingin pada Maya yang menyandarkan kepalanya di pundak Akbar.
“Iya, kenapa?” tanya Maya dengan wajah yang tak bisa ditutupi jika ia sangat bahagia melihat situasi ketika Fariza menyapa di depan suaminya yang sedang didekap oleh Maya.
“Kamu gila?” tanya Akbar, tak bisa dipungkiri lelaki itu merasakan ada sebongkah batu kecil dalam hatinya yang membuatnya jengkel dan merasa sakit jika situasi seperti tadi terjadi kembali, situasi dimana mata Fariza begitu hitam pekat dan kosong menatap lurus Akbar.
“Kenapa? Aku ingin memberi tahunya jika dia hanya memiliki ragamu sedangkan hati dan fikiranmu hanya ada aku.” Ucapan Maya benar-benar picik membuat Akbar tercengang.
Akbar terdiam, memikirkan dan mencoba mengingat apakah ia benar-benar mengenal kekasih yang ia pacari selama bertahun-tahun lamanya itu. Ini pertama kalinya, Akbar melihat kekurangan Maya yang ternyata egois untuk dirinya sendiri.
“Kamu nggak suka? Kamu mulai ada rasa sama Fariza?” Desak Maya melihat respon Akbar yang terpaku mendengar penjelasan Maya atas apa yang dilakukannya tadi.
“Aku nggak bilang aku ada rasa sama Fariza.” Tandas Akbar mulai tersulut emosi, entah hatinya sakit ketika selalu saja pertikaian di akhir pertemuannya dengan Maya.
“Kamu saja sekarang marah, apalagi kalau bukan kamu ada rasa sama bawahanku itu.” Ucap Maya kesal karena baru kali ini melihat Akbar yang menggunakan nada tinggi ketika berbicara dengannya.
“ Maya!” Bentak Akbar kesal ketika Maya menyebut Fariza sebagai bawahan, rasanya kurang sopan saja bukankah Maya tahu dengan jelas siapa nama istri Akbar?
Mereka tidak menyadari Wisnu yang sudah pergi tak berselang lama dengan kepergian Fariza. Mungkin seandainya Wisnu masih di kedai dan mendengar dengan jelas pertikaian Maya dan Akbar, lelaki itu akan tahu apa yang terjadi pada Akbar sampai lelaki itu emosi.
Akbar pun mulai kesal, dan beranjak pergi menuju motornya. Berjalannya tampak tergesa-gesa sampai Maya tidak bisa mengejar karena memakai rok setelan kerjanya.
“Fariza, aku mulai benci sama kamu.” Gumam mengingat wajah Fariza yang mungkin nanti ia bertemu kembali di kantor.
***
Fariza terdiam di meja kerjanya, Dini yang sejak tadi mengamati perubahan sahabatnya yang cukup terlihat. Fariza menjadi murung sepulang dari istirahat makan siangnya. Dini bahkan tak berani menegurnya dan menunggu Fariza akan bercerita sendiri.
“Din!” panggil Fariza dengan tatapan kosong tertuju pada bingkai foto keluarganya.
“Iya, Za?” tanya Dini menjawab sapaan Fariza, meski ia sangat menanti Fariza membuka mulutnya untuk bercerita.
“Gue udah pernah cerita kalok suami gue tuh CEO di perusahaan seberang?” tanya Fariza ingin menceritakan segalanya pada sahabatnya itu.
Jangan salah, jangan mengira jika mereka tengah mengobrol di jam kerja. Mereka sudah pulang, jam kerja mereka sudah berakhir. Fariza tidak lembur begitu juga dengan Dini, perempuan itu hanya menemani sahabatnya yang tampaknya sudah memberikan kode ingin pulang larut.
“Apa? gila jadi gossip diluar benar? Istri Akbar Aninbagaskara itu lo?” tanya Dini heboh tak menyangka jika nasib sahabatnya begitu beruntung.
“Lo seneng banget Din, untuk apa sih punya suami yang masih menjalin hubungan dengan wanita lain diluaran sana.” Tawa hambar Fariza membuat Dini terdiam.
“Maksud lo? Ada orang ketiga di pernikahan elo?” tanya Dini semakin penasaran.
“Din, kita ke apartemen elo aja ya!” ajak Fariza rasanya tidak nyaman di kantor sendirian dengan sahabatnya saja ditambah hari semakin gelap.
Baru saja kaki Fariza melangkah keluar, sudah ada Wisnu didalam mobil menyambut kedatangannya. Dini yang melihat kedatangan mantan kekasih sahabatnya itu segera melarikan diri entah kenapa? Kini hanya tinggal Fariza mau tak mau menghampiri Wisnu.
“Sorry ya Za!” ucapan Wisnu membuat Fariza mendongak menatap wajah Wisnu.
Fariza merasa tak enak sendiri, dia yang meninggalkan lelaki itu tapi justru dia yang masih setia mendampingi kemanapun Fariza menghabiskan waktunya. Wisnu merasa tak enak hati, ia begitu hafal jika Fariza pulang larut pasti ada yang mengganggu pikiran kekasih dulunya itu. Tidak tentang dirinya saja tetapi lebih dominan masalah keluarganya yang tak pernah usai.
“Kamu nggak bawa mobil?” tanya Fariza celingak celinguk melihat mobil Wisnu yang tidak tertangkap penglihatannya.
“Nggak.” Ucap Wisnu pendek, ia tahu Fariza hanya berusaha mencairkan suasana dan mengubah topik pembicaraan.
“Mau sekalian bareng pulang?” tawar Fariza karena yakin maksud Wisnu menunggunya selarut ini khawatir dengan dirinya.
Fariza begitu mengenal sosok Wisnu di matanya yang selalu menunggunya sampai kapanpun sampai perempuan itu merasa aman. Wisnu pun tak jawab namun segera masuk mobil dan duduk di kursi penumpang.
“Sekarang mobil ini kamu yang pegang?” Tanya Wisnu mencoba memecahkan suasana yang cukup hening dari mobil mulai berjalan sampai hampir sampai di jalan raya menuju rumah Wisnu.
“Iya, Akbar mau beliin kalok weekend nanti.” Jawab Fariza membuat Wisnu terkatup rapat ternyata rencana yang ia pikir bisa membuat Fariza akan berpaling dan kembali ke pelukannya nyatanya kemesraan Akbar dan Maya tidak berpengaruh apa-apa.
Namun, Wisnu tidak akan menyerah untuk membuat Fariza kembali meneguhkan hatinya bahwa hanya dialah lelaki yang pantas berada di sampingnya. Sedangkan Fariza yang mengemudi sibuk focus pada jalanan kota yang sudah gelap, itu hanya tampak luarnya padahal dalamnya sama saja ia teringat bagaimana Akbar dan Maya menatapnya sungguh berbeda. Fariza tidak terlalu menghiraukan tatapan Maya padanya, Fariza sedikit terganggu dengan keingintahuannya tentang apa yang difikirkan Akbar saat itu?
“Aku nggak bisa antar kamu sampai rumah.” Ucap Fariza setelah melihat arloji yang melingkar di tangannya menunjukkan waktu yang cukup malam.
“Za, sekali lagi aku minta maaf. Aku siap jadi pelampiasan kamu nanti jika kamu berniat balas dendam sama pak Akbar.” Tawar Wisnu memandang Fariza yang justru menatap jalanan lurus tanpa berniat menoleh pada Fariza.
Wisnu pun turun tepat pada halte bus, bus terakhir beroperasi jam tujuh malam sedangkan ini jam berapa jadi Wisnu berniat menggunakan aplikasi online untuk mengantarkannya pulang. Wisnu memandang lekat mobil Fariza yang sudah melesat hilang tertelan jalanan raya yang dipenuhi dengan mobil dan cahaya gedung-gedung tinggi.
***
Pukul sepuluh malam, Fariza sampai di rumah Akbar. Ralat, lebih tepatnya ia sampai rumah. Fariza dengan wajah yang tidak bisa dibohongi jika tubuhnya benar-benar letih baik tenaga dan fikirannya terkuras habis karena masalah pribadi dan juga pekerjaan yang menumpuk.
Fariza masuk dan mendapati rutinitas Akbar yang masih berkutik dengan dokumennya. Benar kata Fariza, jika hidup Akbar benar-benar monoton yang ada hanya kerja dan kerja sebagai aktivitas utama.
“Dari mana kamu?” tanya Akbar tanpa mengalihkan pandangannya pada laptopnya.
“Lembur.” Jawab singkat Fariza yang membuat Akbar menghentikan gerakan mengetiknya dan menatap tajam
“Kamu pikir aku nggak tahu, kantor kamu tidak ada lembur hari ini?” Tantang Akbar tidak suka mendengar kebohongan Fariza yang yang jelas sekali ia tahu kebenarannya.
“Kenapa? Maya memberitahumu?” tanya Fariza dingin, entah mengapa Fariza tidak suka cara Akbar mencari informasi lewat orang lain bukan menanyakan langsung pada Fariza.
Akbar terkejut merasa tertohok begitu tebakan Fariza tepat sasaran memang benar, jika tadi ia menelepon Maya lebih dulu tidak seperti biasanya Maya yang menghubunginya terlebih dahulu. Fariza kesal jujur saja, ia segera menuju kamar mandi untuk membersihkan badannya yang sudah lengket seharian bersahabat dengan debu jalanan dan juga keringatnya sendiri.
Beberapa menit setelah membersihkan diri, baru saja melangkah keluar dari kamar mandi, sosok yang duduk di tempat tidurnya hampir membuat Fariza terjungkal ke belakag. Akbar ternyata masuk kamar dan menunggu sampai Fariza keluar padahal Fariza cukup lama mandi jika setelah pulang kerja.
“Apa lagi?” tanya Fariza ketus melihat Akbar yang menatapnya tanap berkedip begitu ia keluar dari kamar mandi.
“Jangan berbohong Za! Apapun itu katakana dengan jujur entah menyenangkan atau justru memancing kemarahan.” Ucap Akbar mengutarakan keinginannya dalam hubungannya dengan Fariza untuk saling terbuka.
“Apa kamu tidak sadar? Kamu juga tidak pernah mengatakan yang sebenarnya. “ tandas Fariza mulai kesal mengingat apa yang dilakukan Akbar dibelakangnya.
“Soal apa? oke aku menikahi kamu karena aku takut kepemilikan sahamku di perusahaan akan dicabut oleh papa.” Jawab Akbar panjang lebar sampai ia lepas kendali.
Fariza membeku, tak menyangka jika Akbar adalah orang begitu mementingkan karir daripada yang lainnya dan tak peduli dengan nasib orang-orang yang kena getahnya.
“Aku juga belum putus dengan Maya, aku hanya mengulur waktunya sampai syarat yang diajukan ibu Maya aku siap memberikan.” Tambah Akbar semakin membuat Fariza diam seribu Bahasa tak bisa mengatakan apa-apa.
“Oh, cukup tahu saja kamu begitu.” Ucapan pendek berganti membuat Akbar tercengang.
Bukan respon yang seperti ini yang ia harapkan, bukan. Akbar melangkahkan kakinya mendekat pada Fariza yang mengeringkan rambutnya. Ia menyadari jika Akbar terus berjalan menuju dirinya. Membuat Fariza mundur beberapa kali, mencoba menjaga jarak dengan suaminya itu.
“Mau apa kamu?” Tanya Fariza mulai panik.
“Akan aku pastikan, sikap dinginmu ini tidak akan bertahan lama.” Ucap Akbar menari pinggang Fariza untuk mendekat dengannya.
“Lepaskan!” pekik Fariza terlalu panic melihat tingkah laku Akbar kepadanya.
Akbar tersenyum melihat respon Fariza yang berusaha menutupi ketakutannya padahal tangan Akbar yang melingkar di pinggang Fariza bisa merasakan tubuh istrinya itu gugup. Fariza semakin begitu Akbar mendekatkan wajahnya pada Fariza.
“Akbar! Aku…” pekik Fariza mencoba memanfaatkan tangan Akbar yang mulai renggang untuk segera menjauhkan dari Akbar yang tidak disangka menyeramkan ketika mereka berada satu ruangan hanya berdua.
“Ternyata istriku ini sangat polos.” Bisik Akbar yang dibuat-buat membuat Fariza semakin bergidik ngeri.
***
Fariza baru sampai kantor dengan wajahnya yang lesu tidak seperti biasanya yang tampak segar. Hanya karena tangan kekar milik Akbar yang melingkar sebentar di pinggang rampingnya mampu membuat Fariza tidak bisa tidur.
Wajah Fariza semakin heran begitu menatap seisi ruangan kantor yang menatapnya dengan lekat dan hangat. Fariza memandang Dini yang langsung berlari menghambur pada Fariza dengan membawa sebuah kertas di tangan kirinya.
“Za!” sapa Dini kemudian menyodorkan sebuah dokumen yang terlipat rapi yang ia ambil dari meja kerja Fariza.
Ia yakin jika surat itu ditaruh pagi hari, karena penghuni kantor kemarin malam yang terakhir adalah dia dan Fariza. Fariza tampak santai membacanya, namun rautnya berubah ketika membaca hampir selesai.
“Dimana dia?” tanya Fariza tanpa basa basi pada Dini.
“Bu Maya?” tanya Dini hati-hati meski ia tahu siapa yang tanyakan oleh Fariza begitu melihat sepercik kebencian dalam mata Fariza sekilas.
“Di ruangannya mungkin, kamu mau apa Za?” tanya Dini mulai panik karena belum sampai ia menyelesaikan bicaranya Fariza sudah berjalan menuju ruangannya Maya dengan langkah kaki tergesa-gesa. Wajahnya begitu serius menahan emosinya, mencoba meminimalisir agar sampai di ruangan atasannya tidak akan mengamuk membabi buta.
“Ada perlu apa kamu kemari?” tanya Maya dingin seakan tak terjadi apa-apa dengan dirinya sejak bertemu dengan Fariza kemarin di kedai.
“Langsung saja, apa alasan saya sampai bu Maya memecat saya?” tanya Fariza masih terlihat tenang.
“Bukannya kamu tahu mengapa perusahaan memecat karyawannya?” tanya balik Maya dengan santai namun cukup menusuk.
“Saya rasa bukan karena kinerja saya yang buruk. Penjualan tim saya juga tampak baik-baik saja dapat memberikan profit yang terus naik dari tahun ke tahun.” Jelas Fariza panjang lebar, nafasnya menderu naik turun tampak tak teratur. Namun beruntung, emosinya terkendali dengan baik.
“Bukan karena itu, kamu dipecat kar…”
“Karena saya menikahi kekasih bu Maya.” Potong Fariza tak sabar dan jawabannya sukses membuat Maya tertohok.
“Jaga mulut kamu ya!” ucap Maya marah menunjuk wajah Fariza yang tak kalah sinis dengan wajahnya sendiri.
“Kenapa? Saya benar. Tapi setidaknya saya bersyukur dengan bu Maya memecat saya. Saya bisa habiskan banyak waktu dengan Akbar.” Ucap Fariza dengan ucapan sinisnya memandang remeh Maya yang menatap Fariza penuh dengan kemarahan.
“Jangan bermimpi!” tindas Maya dengan penekanan.
“Kenapa? Suami saya seorang presdir saya bisa meminta kerja di perusahaan Akbar. Oh, bukan maksud saya perusahaan milik suami saya sendiri.” Goda Fariza semakin bersemangat melihat Maya yang lepas kendali.
“KELUAR DARI RUANGAN SAYA!!!”
To Be Continue---