LET'S BEGIN

1463 Kata
Hari ini Fariza pulang bersama Ridwan, seperti biasa suaminya itu sibuk rapat dengan beberapa kolega yang bekerja sama dengan perusahaan. Sebuah perusahaan property yang memiliki kualitas produk yang mampu bersaing dengan perusahaan dunia luar. “Kak Ridwan, boleh mampir di kedai soto itu.” Ucap Fariza mengajak Ridwan untuk membeli soto yang juag langganannya dengan Dini selama kuliah. “Oh, oke.” Jawab Ridwan yang langsung menepi tepat di tempat yang ditunjuk oleh Fariza. Fariza segera turun dan memesan dua porsi  untuknya. Ridwan ikut turun dan menemani Fariza menunggu pesanan yang ternyaat antri banyak meski hanya kedai kecil. Ridwan terdiam, laki-laki itu masih canggung untuk memulai percakapan dengan Fariza, istri Akbar sahabatnya. Meski Fariza adalah orang yang kini sering ia temui. “Lo sering beliin Akbar makan Za?” Tanya Ridwan membuka percakapan agar tak dihinggapi kecanggungan yang sudah memuakkan ini. “Iya, memang kenapa Kak? Bukankah itu hal wajar?” Tanya balik Fariza menatap Ridwan yang langsung menggeleng cepat. Mungkin menurut pandangan Fariza hal itu sudah wajar dan tidak ada maksud lain. Tapi tidak untuk Akbar. “Akbar itu waktu makannya sungguh berantakan Za. Semasa kuliah dulu bolak-balik ke rumah sakit karena asam lambungnya yang terus kambuh. Ditambah Akbar perokok dan penikmat kopi tingkat dewa.” Ucap Ridwan memulai bercerita panjang lebarnya sambil bernostalgia masa kuliah mengantar Akbar ke rumah sakit, lelaki itu selalu melarang Ridwan untuk mengatakan yang sebenarnya. “Gue baru tahu orang punya riwayat sakit asam lambung.” Gumam Fariza, nampaknya ia memang belum mengenal Akbar sepenuhnya. “Akbar sering protes nggak kalau kamu ajak makan pinggiran?” Tanya Ridwan pelan sambil memandang kedai lain disebelah kedai soto ini. “Enggak, jangan bilang dia nggak pernah makan di jalanan.” Tebak Fariza membaca pikiran Ridwan yang langsung dibalas anggukan Ridwan membuat Fariza semakin tercengang mengetahui fakta yang sebenarnya. “Bukan gengsi, tapi lebih tepat karena menuruti selera makan Maya yang selalu mengajak ke restoran. Maya juga bisa makan di pinggiran, hanya saja saat dengan Akbar ia akan mengajaknya ke restoran atau café.” Jelas Ridwan, matanya menatap penjual yang kini menghampiri keduanya. “Berapa bu?” Tanya Fariza singgap mengetahui pesanannya sudah siap. “Tiga puluh ribu saja neng.” Ucap ibu penjual soto yang sudah mulai ditumbuhi uban di kepalanya. Setelah membayar Fariza segera masuk mobil menyusul Ridwan yang ternyata sudah masuk ke mobil terlebih dahulu. Fariza segera memasang sabuk pengaman dan Ridwan segera menancap gas takut kemalaman mengantar Fariza pulang, bisa dipenggal kepalanya jika Akbar tahu. “Kak Ridwan kayaknya elo kenal banget sama pacar Akbar itu.” Canda Fariza dengan tawa yang pertama kali Ridwan lihat. ‘ “Kenal dong, dia dulu tuh temen sekampus sama gue, Akbar juga.” Jawab Ridwan. Mendengar jawaban Ridwan, Fariza hanya ber-oh ria. Ia baru tahu jika Maya satu angkatan kampus dengan Akbar. Setelah menelusuri jalan raya akhirnya mobil Ridwan masuk perkarangan rumah Akbar yang dibeli dengan uang yang ia kumpulkan dari gajinya dulu sebelum menjadi sekarang, diposisinya sebagai CEO. “Pokoknya elo bakal tahu sikap Akbar yang sebenarnya. Sikap selama ini yang ditunjukin ke elo itu sikap asli dia Za.” Ucap Ridwan melihat Fariza melepas sabuk pengaman dan keluar mobilnya. Ridwan pun membuka kaca mobilnya, memastikan istri sahabatnya masuk ke rumah dulu. “Ini buat Kak Ridwan, kasian nggak ada yang nyiapin soto sepulang kerja.” Cibir Fariza sambil menyerahkan seporsi soto yang ia beli tadi. “Kampret, suka bener elo. Za.” Ucap Ridwan tertawa renyah ternyata pribadi Fariza cukup menyenangkan. Ridwan pun menerima pemberian Fariza, dan berpamitan untuk pulang. Fariza pun segera masuk rumah ingin segera mandi. Tak tahan merasakan tubuhnya yang sudah lengket itu. Begitu masuk rumah Fariza segera menuangkan soto di panci, memanasinya lagi agar ketika Akbar pulang soto itu bisa dinikmati dalam keadaan hangat. Dia mengecek ponselnya, tidak ada pesan dari Akbar yang biasanya pulang akan mengabari Fariza untuk titip sesuatu atau tidak. Ting… Akbar : Mau titip apa? Dan benar ponsel yang baru diletakkan itu menyala, menampilkan layar pop up pesan dari Akbar yang menanyakan Fariza ingin dibelikan apa. bukan bergegas segera membalas namun justru Fariza tampak berfikir, ia melihat jam dinding yang masih menunjukkan pukul setengah delapan tak biasanya Akbar pulang lebih awal hampir bersamaan dengan jam pulang Fariza. Fariza: nggak ada. Kok udah pulang? Fariza bergegas ke kamar mandi membersihkan seluruh badannya yang lengket karena keringat meski ruangannya menfasilitasi AC. Mandi di malam hari memang serba salah, bagaimana tidak jika mandi mengakibatkan sakit tulang jika terlalu sering entah itu fakta atau mitos. Jika tidak mandi, mana betah tidur dengan badan yang lengket. Setelah melakukan ritual mandinya, Fariza keluar kamar untuk menyeduhkan kopi sebagai ritual wajib suaminya sepulang dari kerjanya. Fariza mendengar suara pintu dibuka, perempuan itu menoleh melihat suaminya yang sudah duduk di meja makan dengan tampilan begitu segar dan rapi. “Kamu sudah mandi?” Tanya Fariza memastikan melihat keadaan Akbar yang tampak segar dengan rambut basah. “Iya, aku mampir ke rumah Mama tadi. Ada berkas yang harus ditandatangani papa.” Jawab Akbar kemudian meniup kopi di cangkir yang masih mengepulkan asap karena baru saja selesai Fariza buat. Fariza segera mengambilkan dua mangkuk nasi untuknya dan suaminya. Dan juga soto yang ia beli dengan Ridwan. “Kamu beli soto?” Tanya Akbar begitu mencium bau soto begitu Fariza membuka panci yang tertutup itu. “Iya, tadi suruh kak Ridwan mampir sekalian. Enak loh ini langganan aku kedua setelah ketoprak semasa kuliah dulu.” Cerita Fariza begitu semangat membuat Akbar mengedikkan bahunnya, seberapa enak soto ini sampai membuat istrinya ketagihan. Akbar menyentuh pipi Fariza yang masih membekas sebuah luka memar di sudut bibirnya. Membuat Fariza kaku begitu Akbar menyentuh lukanya, ia benar-benar tak berdaya di depan suaminya meski ia menampilkan dirinya yang seolah tidak peduli hal itu. “Masih sakit?” Tanya Akbar mengamati dengan benar luka lecet sedikit yang darahnya mulai mengering. “Ini tuh biar kita kembaran.” Canda Fariza mencoba mencairkan suasana karena tampaknya Akbar menjadi menahan emosi begitu menyentuh luka lebam di pipi kanan Fariza. *** “Nanti kalau sudah mau pulang telepon.” Ucap Akbar begitu Fariza turun dari mobil dan mengantar kepergian Akbar yang berangkat kerja. Hari ini libur tapi Akbar tetap berangkat kerja. Begitu Fariza datang semua menyambut kedatangannya, Mona dan Sarah tak berhenti menatap kedatangan adik tirinya. Resti memeluk Fariza, sambil mencium pipi kanan dan kiri anak tirinya yang sudah tidak bisa ia bedakan dengan anak kandungnya. Fariza menghela nafas duduk di depan kedua kakak tirinya yang sejak tadi memperhatikan gerak-gerik Fariza. Fariza menyadari sejak tadi, tapi ia memilih mengabaikannya bukannya sudah bias ajika ia selalu menjadi pusat pengintaian kedua kakak tirinya. Mencoba mencari kekurangan Fariza dan menjadikannya ancaman. “Ayah dengar kamu ditampar orang kemarin?” Tanya Adi kemudian duduk tepat di samping anaknya. Fariza diam ia tidak berani berterus terang apalagi dalam masa seperti ini. Mona dan Sarah menunggu jawaban adiknya secara langsung meski keduanya menyadari ada yang berbeda dari wajah Fariza dibagian pipinya yang samar-samar masih terlihat membiru. “Iya kemarin.” Jawab singkat Fariza menunduk mencoba menyembunyikan rasa malunya. Meski bukan kesalahannya namun dipermalukan dengan cara ditampar di tempat umum merupakan hal yang paling memalukan yang pernah Fariza alami. Terlebih ini semua hanya karena kesalahan yang tak sengaja Fariza lakukan secara langsung. Siapa yang tahu jika ia menikahi seorang yang punya kekasih? Bukannya pepatah mengatakan jika sebelum janur kuning melengkung maka berhak menikah dengan siapa bukan? “Kenapa dia menamparmu?” Tanya Sarah membuat seisi ruangan memandang Sarah, ini pertama kalinya dia peduli dengan urusan adik tirinya itu. Resti tercengang dengan apa yang baru saja dikatakan anaknya pada adik tirinya. Sepertinya hanya Mona yang tidak terkejut dengan ucapan Sarah. “Kesalahpahaman saja.” Jawab Fariza singkat mengingatnya adalah mimpi buruk baginya. Tidak menyangka resiko menikahi seorang CEO perusahaan akan serumit ini. Orang tuanya, ah tidak saudara tirinya saja tidak pernah melukainya secara fisik. Dipikir yang dilakukan ibu Maya merupakan hal keterlaluan tak seharusnya ibunya terlalu ikut campur dan mendukung perilaku anaknya yang jelas salah. “Kamu ditampar dua kali?” Tanya Sarah membuat seisi ruangan terkejut bukan kepalang kembali. Mona beranjak pergi tak ingin duduk di ruang makan lama-lama membuat tanda tanya besar bagi Resti. Mona menjadi pendiam tak seperti biasanya, padahal setiap kedatangan Fariza ke rumah ini dia adalah yang pertama mengeluarkan kata-kata pedas untuk menyambut kedatangan adiknya. Berusaha membuatnya tak nyaman di rumah dan segera pulang. “Kamu tahu darimana Sarah?” Tanya Adi penasaran anaknya begitu mengetahui segala masalah Fariza. “Mona yang bercerita.” Celetuk Sarah sepertinya mengatakan suatu hal yang harusnya tak ia katakana. “Apa mungkini ini ulah Mona?” Tanya Resti samar-samar hampir tak terdengar. “Tidak mungkin, Kak Mona!” Sahut Fariza tak mungkin jika Mona yang melakukannya, ia yakin jika semua ini murni ulah pihak Maya yang tidak terima Akbar memutuskan hubungannya dengan Maya. To Be Continue---
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN