TEMAN HIDUP

1012 Kata
Fariza begitu menikmati harinya setelah keluar kerja, ia benar-benar menggunakannya untuk menikmati hari-harinya. Hari ini, ia kembali memerankan dirinya menjadi istri seorang presdir di perusahaan ternama. Fariza menyeduhkan kopi terlebih dahulu untuk suaminya yang mungkin sedang siap-siap untuk bekerja. Ini semua Fariza lakukan demi sesuatu yang ia harapkan agar dirinya menjadi lebih baik. Mengingat bagaimana Akbar menjabarkan perbandingan dirinya dengan Maya masih teringat jelas dalam memori otaknya, semalam Akbar pun tetap biasa saja tanpa berniat meminta maaf atau apalah itua. Fariza bukan wanita yang berlapang d**a, memaafkan setiap orang yang menggoreskan luka dalam hatinya. Fariza bukan sosok seperti itu, ia hanya sosok penahan luka yang pada akhirnya akan meledak suatu saat. Ddrrttt..drrttt. Dini: nanti kamu datang ke undangan kan? Fariza: pasti, nanti kita ketemu disana. “Kopiku mana?” Tanya Akbar memandang meja makan yang belum tersedia kopi hitam rutinitas pagi dan malamnya yang tidak akan lengkap rasanya jika belum meneguknya. “Kenapa? Kamu minta? Kamu bilang tidak mau memakan segala buatan dari tanganku.” Tandas Fariza ia meluapkan segalanya akhirnya. Siapa yang tidak sakit hati, ia kembali mengingat bagaimana ia tetap berusaha menjalin hubungan baik dengan Akbar. Ia bahkan mengakhiri hubungannya dengan Wisnu yang sudah lama. Ini tidak adil bagi Fariza. “Kamu mendengar obrolan aku sama Ridwan kan?” tuduh Akbar marah menatap Fariza, bahkan ia mengurungkan niatnya untuk meminum kopi buatan Fariza. “ Kamu perlu kaca? Harusnya aku yang marah Akbar bukan kamu!” ucap Fariza tidak terima, bagaimana justru Akbar yang marah besar seolah ketidaksengajaannya mendengar obrolan di ruangan Akbar adalah kesalahannya. “…” “Aku cuman mau kamu bertindak sesuai ucapanmu.” Tandas Fariza ia semakin yakin Akbar melakukan hal lebih dari yang ia tahu. Entah mengapa bentakan Akbar yang hanya sekali membuat luka yang tertanam cukup lama ia tahan membuat matanya memanas dan lidahnya kelu. “ …” “Kalaupun aku bisa milih, aku juga tidak ingin dipertemukan lelaki kayak kamu!” tandas Fariza air matanya luruh menyisakan isakan kecil yang mulai terdengar. “…” Akbar mematung menatap Fariza yang masuk kamarnya, dengan sangat jelas Akbar menyaksikan bagaimana mata itu perlahan dipenuhi dengan air mata yang sengaja perempuan itu tahan. Ada gejolak asing dalam d**a Akbar, yang Akbar sendiri tak paham apa arti reaksi tubuhnya melihat Fariza menangis dengan emosi yang menggebu. *** Resepsi pernikahan salah satu teman SMA Akbar, cukup sederhana namun cukup ramai. Mata Akbar melihat beberapa tamu undangan dan tersenyum. Maya yang sejak tadi melingkarkan tangannya di lengan Akbar tampak bahagia memandang tamu udangan yang juga menghadiri pernikahan karyawan Akbar. Ridwan menepuk pundak Akbar begitu matanya menangkap kedatangan sahabatnya itu, ya begitulah mereka berdua jika berantem tidak akan lama nanti akan kembali. Senyum Ridwan memudar begitu matanya menangkap siapa perempuan yang melingkarkan tanganya pada Akbar. “Fariza datang.” Bisik Ridwan takut Maya mendengarnya. Akbar terkejut mendengar, bagaimana bisa Fariza datang bukankah ini acara pernikahan karyawannya. Apa ia datang menjadi pasangan Wisnu, mata Akbar menatap sekeliling mencoba menemukan sosok istrinya disini. “May, aku ke toilet dulu ya!” Ucap Akbar berlalu begitu saja tanpa menunggu persetujuan dari Maya yang tercengan melihat respon Akbar. Perempuan itu mendengar apa yang dikatakan Ridwan pada Akbar. “Kamu sengaja?” Tuduh Maya menatap kesal pada Ridwan yang justru mencebikkan lalu berlalu saja tanpa berniat menjawab pertanyaan kekasih sahabatnya itu. Di sisi lain, Akbar berbohong ia tidak ke toilet justru berkeliling mencari istrinya. Sampai langkahnya terhenti pada seseorang yang sedang bersenda gurau dengan teman-temannya. Tampak cantik dengan gaun biru muda yang terlihat serasi dengan tubuh mungilnya, mata Akbar memandang sekeliling berharap menemukan Wisnu di sekitar Fariza. Akbar tanpa pikir panjang langsung menarik tangan Fariza ketika perempuan itu melintas di depannya dan Fariza belum menyadari keberadaan suaminya yang ternyata juga hadir di acara pernikahan. “Kamu ngapain disini?” Pekik Fariza menyadari seseorang yang menarik tangannya adalah suaminya. “Aku jadi tamu undangan. Kamu kesini pasti sama Wisnu kan?” Tuduh Akbar menarik Fariza menjauh dari keramaian duduk di sebuah taman kecil yang ada di perkarangan rumah. “Jangan memancing Akbar! Itu pasanganmu mencari kamu.” Tunjuk Fariza menatap lurus wanita yang celingak-celinguk mencari Akbar yang tak lain adalah Maya. Baru saja Fariza akan beranjak dan bergabung dengan teman-temannya, Akbar menariknya untuk duduk kembali membuat Fariza terkejut dengan kelakuan Akbar yang tidak bisa dibayangkan sungguh kekanak-kanakan. “Kamu itu kenapa sih? Bersikap seperti kita tidak saling kenal.” Tegas Fariza dan mencoba melepaskan genggaman tangan Akbar pada tangannya. “Tidak kenal?” Ulang Akbar seolah tidak terima dengan permintaan Fariza yang tidak masuk akal menurutmu. “Kenapa kamu tidak terima? Kamu mau mengatakan jika kita suami istri?” Tantang Fariza, ia tidak menyangka lelaki di hadapannya hanya bisa membuat Fariza berpikir keras dan beberapa kali meneteskan air mata karena kekerasan Akbar. “Sejak kapan kamu mendalami peranmu?” Tanya Fariza mulai lancing. Akbar mengangkat tangannya hampir saja ia terbawa suasana, Fariza yang melihat Akbar menganyunkan tangannya spontan memejamkan matanya kuat. Nafasnya tercekat, ia benar-benar takut jika Akbar marah. Akbar terdiam, memandang bahu Fariza yang bergemetar. Tak kuasa ia menarik istrinya dalam dekapannya persetan jika ada tamu yang melihatnya. Ia sama sekali atk berniat membuat istrinya menjadi penakut. “ Maaf!” bisik Akbar pada Fariza yang spontan membuka matanya merasakan sesuatu yang hangat mendekapnya erat. “Akbar lepasin! Malu dilihat orang.” Desak Fariza mencoba mendorong tubuh Akbar yang justru semakin mengeratkan pelukannya yang membuat Fariza tak bisa berkutik. “Akbar aku mohon. Nggak enak kamu datang kesini sama Maya apa kata orang-orang.” Bisik Fariza menepuk pundak Akbar agar tersandar apa yang tengah lelaki itu perbuat. Fariza tidak menyangka jika ini terjadi di sini, terlebih ia melihat kilatan kebencian dari sorot mata Maya, mantan atasan di kantor dulu. Fariza tidak menanggapinya dan memilih kembali menyusul Dini dan rekan-rekan kerjanya dulu. “Za, gue tadi nggak sengaja lihat suami elo!” bisik Dini agar teman-teman yang lainnya tidak mendengar perkataan Dini. Mereka semua tahu jika Fariza sudah menikah, tapi mereka masih kurang jelas atau samar dengan wajah suami Fariza. Mereka hanya tahu jika perempuan itu menikah bukan dengan Wisnu, laki-laki yang sering mengantar pulang Fariza kerja dulu. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN