Lelah berdiri tak diberi pengampunan dari pemilik kamar. Mengeluh sedari tadi juga percuma. Matanya asik memandang setiap tingkah Zaro. Mulai dari melepas atribut hitamnya, pedang dan memanggil pelayan untuk menyiapkan air panas untuknya mandi. 'Ck, dasar tukang perintah! Aku ingin lihat dia jadi guru dadakanku lagi dari pada Pangeran seperti ini. Sialnya lagi dia tampan,' batin Rien. Menunggu Zaro selesai mandi, tak kunjung muncul sejak setengah jam yang lalu. "Apa yang dia lakukan? Mencuci baju apa menguras kamar mandi? Lama sekali!" gerutu Rien. Kemudian Zaro muncul dengan pakaian yang berbeda. Tak nampak lebih baik dari sebelumnya, hanya saja sedikit segar bila dipandang. Zaro mendekati Rien membuat Rien melengos acuh. Namun, di tengah perjalanan justru Zaro duduk dan membuka pedan

