16. Pengobatan Dua Sisi

2138 Kata
 Selesai sudah perlombaan spektakuler di kerajaan Rurua. Badan bersimpuh darah masih bisa tersenyum senang. Bukan senang karena memenangkan kompetisi, melainkan berhasil menjaga tinta putih agar tidak jatuh ke tangan yang salah. Pemenang yang nyata memang Rien, tetapi belum tentu dia pelukis legendaris yang bisa mengendalikan tinta putih. Setidaknya itu terlintas di benak semua orang. Apakah memang benar Rien seorang pelukis legendaris yang dicari-cari?  Hunara nekat ke panggung dan memegang Rien agar kuat berdiri. Rien tidak mau duduk. Katanya tidak keren menerima penghargaan sambil duduk. Darmuroi, para panitia, juri, dan ahli strategi berkumpul di depannya dengan tinta putih di meja panjang. Rien terpaku melihatnya. Tidak bisa berkutik hanya memasang senyum tipis.  "Mezira Rien, perjuanganmu tidak akan sia-sia. Suatu hari nanti kami pasti berhutang budi padamu," kata salah satu ahli strategi dengan serius.  Alis Rien bertaut, "Eee, kenapa kalian harus berhutang budi? Aku tidak mengerti." deretan gigi yang berdarah. Semua orang di depannya berdeham dan memalingkan wajah, lalu Rien sadar penampilannya sangat buruk. "Oh, maaf. Aku lupa kalau sakit, hehe," sambungnya. Mereka tersenyum.  "Tidak masalah. Aku akan membuatmu sembuh dalam satu hari penuh!" tabib paling hebat di kerajaan Rurua berseru lantang. Rien jadi tertawa. Meringis merasa sakit saat otot pipinya tertarik.  "Ck, jangan tertawa terus kalau tidak mau mati!" desis Hunara.  "Tega sekali." Rien cemberut menunduk lemas.  Para panitia menyerahkan pembawa acara untuk mengungkapkan siapa pemenangnya. Jantung Rien berdebar kencang. Matanya ingin terpejam, tetapi Hunara melarangnya tidur. Dia takut Rien tidak bangun setelahnya. Berkali-kali Rien mengeluh kalau dirinya tidak kuat, Hunara diam-diam menyalurkan tenaga dalam dari punggung Rien sehingga bisa menompang Rien untuk sementara waktu.  Sayangnya sudah terlambat. Baru saja pembawa acara dengan gembira akan bicara, baru sebentar Hunara menyalurkan energinya, Rien sudah pingsan. Huru-hara terjadi. Nisawa mendadak hilang bersamaan penolongan cepat pada Rien. Sang pangeran yang menyamar tidak melewatkan sedetik pun kejadian hari ini. Dia sempat bingung akan mengamati Rien dalam pengobatannya atau mengikuti Nisawa yang sengaja dibawa lari oleh bayangan. Lalu, dia memilih mengikuti musuh liciknya.  Rien aman bersama orang-orang yang mendukungnya. Tabib paling hebat telah menutup semua luka Rien, tidak membiarkan siapapun masuk ke ruangan tersebut. Tinta putih disembunyikan Darmuroi. Hunara panik menanti kabar dari tabib. Para seniman dan ahli strategi berkumpul membicarakan kelanjutan perihal Rien.  "Apa gadis itu memang ditakdirkan untuk kita?"  "Setiap perbatasan di kerjaan Rurua sudah dijaga ketat bahkan pangeran sendiri yang mengawasinya. Namun, tetap saja musuh bisa menyerang diam-diam. Pertahanan kita melemah, itu tidak baik. Jika gadis itu memang dianugerahi kuasa dari tinta putih, maka kita bisa bergantung padanya."  "Hahhh, dia masih gadis kecil. Tidak baik membebankan masalah sebesar ini. Berkelahi saja tidak bisa. Tubuhnya sampai berlumuran darah. Tapi kuakui dia kuat. Sangat kuat untuk seorang gadis."  "Sekarang beberapa pasar terbuka. Banyak pelancong yang datang dan belanja besar. Para seniman kita untung besar. Hal seperti ini tidak boleh dirugikan oleh masalah politik. Secepat mungkin dan serapi mungkin kita harus menyelesaikannya. Kuncinya ada di mezira Rien."  "Bukan Mezira Rien, tetapi pelukis legendaris."  "Dia belum dipastikan."  "Tapi dia satu-satunya harapan yang ada."  "Diam!!! Dimana tuan Darmuroi?"  Diskusi di suatu ruang penginapan yang ramai. Semua diam ketika pelukis nomor satu itu bicara. Rambut putih berjanggut panjang dan memakai pakaian sutra. Kuas tak bisa jauh dari tangannya.  "Tuan Darmuroi pasti tau sesuatu tentang gadis itu. Sementara ini... Kita lakukan tugas masing-masing. Biarkan tuan Darmuroi Rien. Setelah gadis itu sadar, maka akan jelas semuanya. Suka atau tidak suka, kita terima jawabannya nanti," kata pelukis itu.  Mereka semua saling pandang dan setuju. Sangat menghormati pelukis nomor satu.  "Kami harus melapor pada Pangeran. Kami permisi dulu!"  Para ahli strategi meminta izin pada pelukis nomor satu. Kemudian, disusul dari perwakilan yang bersangkutan untuk undur diri. Penginapan itu menjadi ramai karena didatangi orang-orang penting. Lain dengan sang Pangeran yang hanya bisa mencari Nisawa sampai perbatasan kerajaan. Bayangan itu sangat cepat seperti hilang tertiup angin. Zaro membuka cadarnya. Sorotan mata tajam memandang luas ke hadapan. Beberapa prajurit datang tertunduk di belakangnya.  "Salam, Pangeran! Sejauh ini semuanya aman," lapor salah satu dari mereka.  "Lanjutkan selama aku tidak ada," jawab Zaro tanpa menoleh.  "Baik!" seru mereka kompak.  Zaro mengernyit sebentar lalu memakai cadarnya kembali. Tidak ada yang bisa dia lakukan pada Nisawa. Seharusnya dia segera menahan Nisawa saat terluka. Sangat disayangkan dan Zaro menyalahkan kebodohannya. Berbalik mengambil salah satu kuda milik prajurit untuk membawanya pulang. Istana tidak boleh kosong tanpa pemimpin sementara.  ~~~  Keluhan demi keluhan terpancar dari raut wajah setiap orang. Sepanjang jalanan, setiap pasar, dan setiap teman menunggu sadarnya Rien. Malam sudah tiba, suhu pun berubah dan Rien tak kunjung sadar. Hunara dan Darmuroi setia menunggu. Tabib mengatakan jika Rien terluka parah terlebih lagi hantaman tenaga dalam dari Nisawa sulit disembuhkan. Jika Rien tidak sadar esok hari, maka bisa dipastikan untuknya sembuh akan sangat lama.  "Kau bilang hanya dengan sehari semalam dia bisa sembuh, kenapa sekarang berbeda?!" marah Hunara menodongkan serulingnya ke leher sang tabib.  Tabib itu tentu ketakutan, "Haishh, kupikir dia sehebat ambisinya untuk menang, ternyata memang tidak punya kekuatan apa-apa. Gadis biasa mana sanggup menahan serangan begitu dahsyat? Masih untung Rien bisa bertahan karena keinginannya kuat, kalau orang lain pasti sudah mati."  Hunara melengos berpikir demikian, "Apa yang bisa membuat Rien bangun besok pagi?" tanyanya kembali marah.  "Hunara, jangan berlebihan," tutur Darmuroi tenang.  Hunara menatap tajam Darmuroi. "Kau bertanggungjawab atas lemahnya Rien, Pak tua! Aku tidak akan segan lagi kalau Rien tidak sadar segera," desisnya.  Darmuroi hanya diam membalas tatapan tajam Hunara. Tabib hebat itu melerai mereka. "Tenanglah, Nona dan Tuan. Rien fisiknya lemah, tapi keyakinannya kuat. Mungkin... Hanya dorongan dari alam bawah sadar yang mengharuskan dia untuk sadar," ujarnya.  Hunara dan Darmuroi menoleh, "Maksudnya?" kompak mereka.  "Sesuatu yang tidak bisa dia tinggalkan dengan mudah saat ini, kemungkinan akan mendorongnya untuk pulih dengan cepat," jawab sang tabib.  Hunara berpikir keras, "Itu artinya Rien memang bisa sadar sekarang kalau dia mau."  "Benar," kata tabib itu.  'Apa mungkin keinginan Rien untuk kembali ke zamannya? Jika itu memang benar maka... Tidak-tidak. Rien tidak boleh pergi secepat ini,' kata Darmuroi dalam hati.  Alunan nada merdu keluar dari lubang-lubang kecil seruling bambu. Nada yang Rien suka setiap malam saat Hunara memainkannya. Satu rumah yang digunakan Rien itu bercahaya paling terang lantaran penuh pelita. Sementara Darmuroi mengurus tinta putih dengan susah payah karena tidak bisa disentuhnya, Hunara harus menjaga Rien sendirian di luar. Tabib tertidur mendengar nada seruling Hunara. Cukup senggang untuk sang bayangan hitam masuk dengan sangat cepat.  Kain penutup ranjang itu dibuka. Dia terkejut melihat kondisi Rien yang penuh perban. Pedangnya diletakkan perlahan. Tanpa membuka cadar, orang itu mendudukkan Rien dan menyangganya. Bibir pucat, hampir seluruh tubuh terperban walau tersembunyi di balik pakaian putih bertali khas pasien. Rambutnya terurai dan tidak ada satu pun keringat karena angin dingin mengusirnya. Orang itu menyentuh dahi Rien.  "Dingin," gumamnya.  Pemilik sorot mata yang sayu itu tanpa pikir panjang langsung memberikan pengobatan instan dari penyaluran tenaga.  'Satu-satunya murid terpayah yang pernah ada. Tidak sia-sia aku mengajarimu sedikit ilmu pedang. Waktunya singkat, jadi cepat bangunlah!' kata orang itu dalam hati.  Berusaha keras sampai suhu tubuh Rien berubah menghangat. Dia mulai mengeluarkan keringat. Napas orang itu pun mulai memburu. Jauh di lubuk hati Rien dia ingin bangun, tetapi sesuatu yang sangat berat seakan menindihnya. Dia tidak bisa, tatkala takut ikut menggerayangi otaknya.  'Bagaimana ini? Aku tidak bisa bangun. Kalau akau tidak bangun selamanya bagaimana? Kuliahmu masih semester tiga. Aku belum jadi pelukis hebat. Tuan Darmuroi! Hunara! Guru dadakan! Tolong aku!!!' pekik hati Rien.  Tiga orang yang dia kenal sangat baik padanya pun tidak bisa menolong. Lalu, ingat jika sebuah tinta menunggu untuk berada ditangannya.  'Tinta putih? Tinta ajaib itu... Aku harus bisa bangun bagaimanapun caranya!'  Semangat kembali datang mengusir rasa takut. Dibantu oleh orang misterius dari alam sadar agar kesehatannya cepat pulih, Rien menjadi kuat kembali demi sebuah tinta putih. Orang itu membuka matanya ketika merasa Rien sudah akan sadar. Segera menidurkan Rien kembali lalu melepas penyaluran energinya.  'Apapun keinginanmu, cepatlah sadar,' kata orang itu dalam hati lalu pergi.  "Guru mendadak!!!" Rien terjingkat duduk.  Tabib dan Hunara langsung terkejut dan melihat Rien. Napas Rien terengah. Memegang kepalanya yang pusing berat.  'Dimana dia? Tadi aku lihat samar-samar seperti guru dadakan ada di sini. Dia pergi,' batin Rien sambil menatap pintu.  Namun, yang muncul justru tabib dan Hunara. Mereka cemas sekaligus senang. Rien bingung menatap mereka.  "Rien, kau sadar?! Akhirnya kau sadar juga! Aku takut kau tidak bangun sampai fajar. Ternyata kau bisa bangun setelah tengah malam." Hunara memeluk Rien erat.  Rien terbatuk dan menepuk pundak Hunara lemah untuk melepaskannya. "Aku... Sesak," katanya tertatih.  Hunara segera melepaskan pelukannya. "Haha, aku sangat senang kau selamat! Bagaimana keadaanmu?!"  Rien hanya tersenyum karena Hunara begitu bersemangat.  "Biar kuperiksa." Tabib memeriksa denyut nadi di lengan Rien. "Ini keajaiban. Kenapa kau bisa bangun secepat ini? Apa tidak merasa sakit?" heran sang tabib.  Dahi Rien berkerut, "Hanya sedikit. Sakit bagian dalam juga... Lumayan berkurang. Aku sudah sembuh, ya?" dengan polosnya bertanya.  Hunara dan tabib saling pandang.  "Seperti yang kubilang, keinginannya kuat. Hanya saja ada yang membantu memulihkan kondisinya dari luar. Apa ada yang masuk?" heran tabib.  "Aku di depan pintu dari tadi, tidak melihat siapapun bahkan si tua Darmuroi belum datang. Rien, apa ada yang menjengukmu?" tanya Hunara setelah menggeleng.  Insting Rien tergerak, 'Jadi benar tadi itu guru dadakan. Dia membantuku sekali lagi,' batinnya.  "Tidak ada." Rien menggeleng polos.   'Aku tidak akan bilang pada Hunara. Kalau itu memang kau, aku harap bisa bertemu lagi, Guru dadakan,' sambungnya dalam hati.  Hunara menepuk dahinya, "Payah! Mana mungkin kau tau? Kau masih tidur." meringis bodoh.  Rien ikut tertawa lalu membiarkan tabib memberikan obat padanya. Setelah itu Darmuroi datang, dia pun terkejut. Rien menceritakan semua yang dia ingat pada Darmuroi saat Hunara dan sang tabib beristirahat.  "Aku ingin memenuhi janjiku padamu. Tinta putih itu... Juga jalan pulangku. Saat ingat dua tujuanku itu aku jadi tambah kuat dan akhirnya bangun. Anehnya tabib bilang kondisiku pulih lebih cepat karena bantuan seseorang. Sebelum aku sadar sepenuhnya aku melihat guru dadakan datang, tapi dia pergi memunggungiku. Kurasa dia yang membantuku. Wah, tenaganya hebat sekali!"  Rien berkerling manis. Hilang sudah rasa sakit kalau begitu semangat.  "Kau senang karena gurumu itu tampan, iya, 'kan?" goda Darmuroi.  "Hahaha, dia tampan sekali!!! Kapan aku bisa bertemu dengannya? Aku belum mengucapkan terima kasih!" lebih semangat lagi.  Darmuroi terkekeh, "Dasar anak muda. Syukurlah kalau sudah membaik."  Rien tertawa dan asik berceloteh. Semua dia kerahkan pada Darmuroi. Tentang bagaimana perasaannya di arena sampai bisa menang. Tanpa henti Rien cerewet sambil menunggu pagi.  'Pangeran datang diam-diam. Kenapa dia begitu peduli pada Rien?' batin Darmuroi.  Dari atap rumah warga dia yang menolong Rien masih berdiri. Sempat mendengar celotehan Rien dengan Darmuroi, kemudian terjun dan menghilang. Jauh dari kerajaan penuh seniman, musuh bebuyutan yang gila harta sedang marah pada sang pangeran.  Plakk!!!  Tamparan keras pada si tampan berwajah dingin berkulit putih yang duduk lemas dalam posisi melapor. Dia bersikeras menyembunyikan keberadaan pelayan setianya yang masih dalam masa pemulihan. Dia rela menerima tamparan dan hinaan dari sang penguasa.  "Dimana pelayanmu, Pangeran Rezain?!" bentakan sekali lagi dari Raja Tala. Raja dari kerajaan Aru sekaligus ayah dari Rezain.  Tanpa berani mendongak, Rezain tertunduk diam.  "Jawab!!!"  Tamparan kembali dilayangkan. Sang Ratu tak kuasa melihat anaknya disiksa, dia ingin menghalangi, akan tetapi Raja Tala marah besar.  "Setetes tinta putih saja tidak bisa kau dapatkan. Perlombaan anak kecil pun gagal. Masih ingin melindungi perempuan hina seperti Nisawa?!"  "Dia tidak hina!!!" Rezain mendongak penuh amarah. Raja Tala dan sang Ratu terkejut. "Dia tangan kanan yang setia. Aku yang tau dia hina atau tidak, Yang Mulia!" sambung Rezain tanpa takut.  Raja Tala semakin tersulut, "Demi gadis itu kau berani melawanku. Siapa dia sampai lebih penting dari ayahmu sendiri?! Pelayan rendah tidak layak kau hargai, Pangeran Rezain! Sejauh kau diam berani bicara saat menyangkut pelayan itu!"  Rezain kembali tertunduk. Mengepalkan tangannya tidak bisa berkutik.  Raja Tala meraup wajahnya pusing. "Terserah apa yang akan kau lakukan asalkan gagalkan kerajaan Rurua memperkuat pertahanan!" titahnya kembali muncul berusaha sabar.  Rezain menangkupkan tangan, "Baik, Yang Mulia!"  Dia pergi menemui Nisawa yang dirawat dikamarnya. Saat tabib memberi salam, Rezain melewatkannya begitu saja. Sikap Rezain yang begitu peduli serta tegas pada Nisawa sudah tidak diherankan lagi. Seluruh penduduk istana tahu kalau Nisawa seperti boneka pedang serta bunga bagai Pangeran mereka.  "Dimana obatnya?" tanya Rezain setelah duduk di tepi ranjang.  Nisawa terbaring, bukan pingsan melainkan tidur. Rezain sudah mengobatinya sejak membawa Nisawa pergi dari arena lomba. Hanya dia yang bisa mengobati Nisawa. Bayangan yang terluka parah berakibat sama pada tubuh pemiliknya. Jantung Nisawa terluka parah walau tak berdarah dan tak terbelah.  Tabib memberikan sup obat pada Rezain, "Ini, Pangeran."  Rezain mengambilnya lalu menyuruh semua orang di ruangan itu pergi. Pintu tertutup rapat. Rezain kembali mengepalkan tangan sampai mangkuk sup obat itu hancur. Tangannya terluka mengeluarkan darah.  "Nisawa, akan kubalas penghinaanmu dari Rien. Siapapun yang ada di balik Rien, akan kuhabisi tanpa sisa," desisnya seraya memandang mata Nisawa yang tertutup.  Tangannya tergerak mengusap rambut Nisawa dengan penuh perhatian. 'Pelayan sepertimu tidak pantas ditindas. Hanya aku yang boleh menyakitimu, bukan orang lain,' sambungnya dalam hati.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN