17. Gelar dan Lamaran

2262 Kata
 Padatnya jalanan penuh dengan orang-orang yang menantikan kabar gembira. Tiang dan pilar panggung telah disingkirkan. Ekspresi yang berbeda-beda dari semua orang yang berkumpul di lapangan lomba. Tinta putih dimunculkan kembali di tengah-tengah mereka tanpa takut musuh menyerang.  Rien berjalan tertatih bersama Hunara ke panggung rusak. Desas-desus masih terdengar. Mereka semua bertanya segala hal. Segala macam ketentuan menyangkut jalannya pertandingan sudah resmi dihilangkan. Kini hanya ada satu tujuan yaitu membuktikan sang pemenang menjadi pemilik bagi tinta ajaib di tanah mereka.  Mulai dari awal hingga babak terakhir semua peserta datang di barisan terdepan. Rien memandang mereka satu per-satu.  'Aku tidak tau harus bagaimana. Ini terasa sangat... Aku tidak bisa mengatakannya,' batin Rien.  Dia gundah bercampur bingung. Menatap Hunara yang langsung bisa menangkap sinyal perasaan Rien.  "Tenanglah, apa yang perlu ditakutkan?" bisik Hunara.  "Bagaimana kalau aku menghancurkan harapan mereka? Mereka pasti sedih. Bukankah aku menjadi pusatnya saat ini?" menyuruh Hunara memandang semua orang yang tengah memandangnya juga.  Hunara tersenyum, "Ayolah, Rien. Mana semangat membaramu seperti kemarin?"  "Aku gugup, Hunara. Aku tidak mengerti. Rasanya di atas kepalaku ada sesuatu yang besar yang akan menindihku dan harus aku tompang," Rien menggeleng lemas.  "Tidak semudah itu untuk patah semangat, Anak muda!"  Seruan pelukis nomor satu yang sangat dihargai itu. Rien dan Hunara menunduk memberi salam.  "Jika tidak tinta itu tidak akan berjalan sendiri ke arahmu." menunjuk tinta putih yang melayang dari tempatnya.  'Menghampiriku?' batin Rien.  Rien mengerutkan dahi. Dia melihat orang-orang menepi memberikan jalan. Mata Rien terbuka lebar. Tinta itu sungguhan terbang dan bercahaya.  "Astaga! I-itu apa? Kenapa bisa terbang? Kenapa mengarah kemari?" panik Rien menunjuk tinta putih yang perlahan mengarah padanya.  Hunara menutup mulutnya. Pelukis nomor satu itu tersenyum sambil mengelus dagunya. Semua orang bertanya-tanya sama seperti Rien. Rien celingukan mencari Darmuroi.  "Mana Tuan Darmuroi? Seharusnya dia di sini bersamaku. Tinta buatannya kenapa jadi begitu?"  Tidak ada yang bisa menghentikan tinta itu. Mereka otomatis menepi melihat ketakjuban yang alami. Beberapa orang mengira jika tinta itu akan datang pada pemiliknya. Dalam hati Rien bertanya-tanya kenapa tidak dari dulu saja sebelum lomba? Apa ada semacam pagar perisai yang menahan tinta itu untuk memilih tuannya?  "Benar, Rien." Darmuroi datang mengagetkan Rien.  "Tu-Tuan, tintanya!" Rien menunjuk tinta itu menatap Darmuroi.  Darmuroi tersenyum, "Apa yang kau pikirkan itu benar. Aku memasang pelindung agar tinta itu tak bergerak lebih awal sebelum aku memastikan kualitasmu benar-benar layak. Sekarang aku tak ragu lagi." berbisik pada Rien.  Rien menaikkan kedua alisnya. Saling pandang dengan Darmuroi dan tinta itu semakin dekat membuat perhatiannya tersita. Tak sengaja tangannya ikut terulur. Semakin dekat dan tinta putih itu benar-benar berhenti di telapak tangannya dengan pasti. Memancarkan sinar begitu terang hingga semua orang tak dapat melihatnya.  "Argh, silau!" pekik Hunara.  Rien mencoba melihat tinta putih sebisa mungkin. Perlahan menggenggam tinta itu dan saat ke-lima jarinya berhasil menyentuhnya, tinta itu berhenti bersinar. Rien mengerjap-ngerjap bodoh.  "Hah? Sudah selesai, ya?" gumamnya sembari menarik tangannya.  Dilihatnya tinta itu teliti, memang sama persis seperti sebelumnya. Dia kaget lantaran semua orang bersorak sangat gembira. Mendadak rangkaian mahkota bunga dipasangkan di kepalanya dan sebuah kuas putih tanpa ternoda sedikitpun diberikan oleh Darmuroi padanya. Rien menerima semua itu dengan kaku. Dia tak percaya dirinya memang yang mereka harapkan.  "Yeeyyy! Pelukis legendaris telah ditemukan! Dia memanglah orangnya!"  "Beri salam pada penakhluk tinta putih yang ajaib! Salam, Pelukis legendaris!"  "Salam!!!"  Mereka berseru mendahului panitia untuk mengumumkan julukan baru Rien. Pandangan Rien tidak bisa diartikan. Mematung memegang kuas dan tinta putih. Suasana menjadi menghangat dan dingin seiring detak jantungnya berpacu dengan cepat. Dia menoleh kala pelukis nomor satu memanggilnya.  "Mezira Rien, ternyata kau lah orang yang kami cari-cari. Selamat datang, Pelukis legendaris!" membungkuk memberi salam.  Rien mengibaskan tangannya tak mau pelukis tua itu memberi hormat padanya. "Tidak perlu, Tuan. Aku... Aku sendiri bingung dengan semua ini. Apa benar tinta ini memilihku? A-aku hanya gadis biasa," ucapnya terbata-bata.  Hurana menepuk pundak Rien keras sampai Rien hampir tersungkur. Sorakan semua orang masih terdengar jelas. "Kau hebat, Rien! Sudah kuduga ini terjadi! Haha, aku sangat bersemangat!"  Rien hanya meringis pada Hunara. Lalu, Darmuroi menggandeng lengannya dan mengangkatnya tinggi-tinggi.  "Pelukis legendaris, Mezira Rien!!!"  Rien tersentak ketika Darmuroi menyatakan gelarnya secara resmi. Semua orang bersorak lebih lantang. Rien melongo menatap mereka semua.  'Bahkan kenaikan pangkat anggota kerajaan mungkin tidak seramai ini. Aku... Aku jadi pelukis legendaris? Aku?' tanya hati Rien.  "Rien, biar kujelaskan sesuatu," Darmuroi sekali lagi menyita perhatian Rien. "Tinta ini hanya bisa dilukis di udara. Apapun yang kau lukis akan menjadi nyata. Hanya kau yang bisa menggunakannya. Cobalah!"  "Benarkah? Di udara? Mana mungkin? Tidak ada alas untuk melukis, haha. Ada-ada saja," Rien tertawa kikuk.  Darmuroi mempersilahkan Rien mencoba tanpa menjawab. Dia jadi penasaran dan membuka tutup tinta itu. Kuas baru perlahan mulai dimasukkan hanya seujung kuas tinta itu sudah meresap sempurna. Sampai tidak terlihat karena warnanya sama-sama putih.  Sedikit ragu ketika mencobanya. Rien mulai melukis sebuah burung berekor panjang melebihi selendang. Mereka sampai menelengkan kepala melihat apa cara Rien melukis. Tidak ada apapun yang terjadi di udara. Rien seperti berkhayal sedang melukis. Namun, saat lukisannya selesai, seketika burung itu muncul bersinar dan mengepakkan sayapnya. Rien kaget sampai mundur beberapa langkah dan ditangkap hunara. Semua orang tersenyum menunjuk burung yang terbang mengitari panggung itu. Dia menyerupai burung Phoenix yang terkenal dan disebut oleh beberapa orang.  "Nyata? Sihir apa ini? Burung Phoenix?" Rien mencoba mengarahkan tangannya. Bukannya menyentuh burung itu, justru sang burung hinggap di tangannya.  "Astaga! Sungguh keajaiban! Dia bahkan bisa berkedip dan bersuara!" pekik Rien takjub.  "Dia juga hanya menurutimu. Meskipun kau melukis benda, benda itu akan jadi nyata dan berfungsi sebagaimana mestinya. Kau seperti Dewi para lukisan," ucap Darmuroi.  Sorakan bahagia itu kembali dilayangkan. Rien tersenyum lebar dan mempercayai semuanya. Kemudian, dia membuat burung itu terbang lagi dan terbang sebebas mungkin sampai tak terlihat lagi dari.  Seseorang jauh di kerumunan orang-orang membuka cadar dan jubah hitamnya. Dia terbang melintasi semua orang dan langsung merebut tinta putih dan berhenti tepat di depan Rien. Gerakannya secepat kilat, mengelabuhi semua orang dan menampakkan diri secara terbuka. Menunjukkan tinta putih yang berhasil direbutnya pada Rien. Rien terbelalak begitu juga dengan semua orang.  'Guru?!' batin Rien kaget.  "Pangeran? Dia Pangeran kita!"  "Aaaa, Pangeran Zaro... Aku penggemarmu!"  Masih banyak lagi teriakan histeris dan bisik-bisik yang mengarah pada orang itu. Rien mengerutkan dahinya.  "Pangeran? A-aku yang bodoh atau bagaimana? Guru, kenapa kau ada di sini? Kenapa pakaianmu sangat mencolok? Kenapa mereka sangat hormat dan kagum padamu?" Rien menatap orang itu bingung.  "Pangeran? Kau datang?" ujar Darmuroi dan Hunara bersamaan. Rien menatap mereka berdua seraya melebarkan matanya.  "Apa?"  Belum selesai dia terkejut, kembali dikejutkan oleh semua seniman dan para peserta lomba untuk menunduk hormat pada orang itu. Diikuti oleh warga yang juga memberi hormat. Beberapa dari mereka menahan pekikan kagum karena orang itu memang sangat menawan.  Rien menutup mulutnya yang ternganga. "Jadi... Kau, kau memang... Astaga, kebenaran apa lagi sekarang? Baru saja gelar mengejutkan kudapat, ditambah guru dadakanku seorang... Pangeran?" Rien tidak bisa berpikir jernih.  Dia adalah Zaliar Ivaro sang Pangeran dari kerjaan Rurua yang sudah berani menampakkan diri aslinya pada Rien. Bahkan memakai pakaian yang indah nan gagah. Sedikit menyunggingkan senyum dan tidak berpaling dari Rien. Mereka saling pandang tanpa berkedip sekalipun.  "Menikahlah denganku!"  "HAH?!"  Zaro membuat gempar semua rakyatnya. Mata Rien hampir saja terlepas kalau tidak segera dia tutupi wajahnya. Hunara dan Darmuroi saling pandang, tidak mengerti apa yang Zaro rencanakan. Saat Zaro hendak menarik Rien, Rien segera bersembunyi di balik Hunara.  "Eh-eh!" Hunara memekik.  "Kau... Kau bukan guruku! Guruku itu sedikit bicara tapi menjengkelkan. Kalau kau sekali bicara membuatku jantungan. Siapa kau? Kenapa bisa memegang tintanya?" tanya Rien terbata-bata menunjuk tinta di tangan Zaro.  Hunara meringis saat menjadi tamengnya. "Pangeran, apa maksudmu?" desisnya.  "Aku juga heran kenapa Pangeran Zaro bisa memegang tinta itu," gumam Darmuroi sangat tenang.  Rien melototi Darmuroi, "Apa? Kau bilang hanya aku yang bisa menyentuhnya bahkan kau sendiri tidak bisa. Lalu, kenapa orang itu bisa? Apa dia punya trik seperti Nisawa? Dia orang jahat, bukan Pangeran, 'kan? Bukan guruku juga, 'kan?" bisiknya di akhir ucapannya setelah panik.  Zaro menghembuskan napas panjang. Menarik Rien paksa sampai tangan Rien sedikit sakit.  "Aaa, lepaskan aku! Pencuri tinta! Atau jangan-jangan kau pelukis legendaris gadungan?" Rien meronta.  "Tuan Darmuroi, segera cari tau kenapa aku bisa menyentuh tinta ini." titah Zaro kemudian langsung membawa Rien pergi.  "Aaa, tunggu-tunggu! Aku takut terbang dan lompat tinggi! Seseorang, tolong akuuu!!!" teriak Rien seraya mengeratkan genggamannya pada Zaro.  'Aku takut sekali! Bagaimana kalau jatuh? Tidak, lebih tepatnya aku takut orang ini. Tapi aromanya benar seperti guru. Postur tubuh dan wajahnya pun sama persis. Apa memang identitasnya yang sebenarnya adalah seorang Pangeran?' batin Rien.  Menatap Zaro harap cemas sampai dia tiba di istana.  ~~~  Bangunan megah melebihi apapun yang ada di kerajaan Rurua. Sempat terlintas di benak Rien jika miniatur istana tersebut pernah dia lihat di salah satu buku sejarah kota-nya. Sejak kakinya menginjak tanah di istana, angin sejuk selalu menerpa. Kuasnya dia genggam erat. Terpesona seiring melangkah masuk bersama Zaro.  "Semua pohon di sini membuat angin bertiup seperti seruling tanpa henti. Walaupun tidak ada angin, mereka bisa membuat kesejukan sendiri," jelas Zaro mengerti isi pikiran Rien.  Rien memicing padanya. 'Bagaimana penipu ini tau yang aku pikirkan?' batinnya.  Setibanya di aula, beberapa pelayan datang dan membawa nampan yang berbeda-beda isi. Rien terkejut karena semua itu pakaian serta perhiasan untuk pernikahan. Barulah Zaro menatap Rien.  "Tidak sia-sia aku membantumu," ujarnya membuat Rien terperangah.  Rien mengerjap berkali-kali, "Apa maksudmu? Jadi, kau membantuku sadar semalam? Mataku tidak salah lihat?" menggeleng membelalakkan matanya.  Zaro memundurkan kepalanya, "Gadis bodoh."  Rien cemberut, "Kenapa kau bicara sehalus itu? Kenapa juga kau harus menyembunyikan identitasmu padaku? Tuan Darmuroi, Hunara, dan semua orang tahu siapa kau, tapi aku? Aku hanya tau kau guru mendadak yang selalu menolongku."  Mamalingkan wajah, memilin kuas barunya dan teringat tinta putih yang masih ada di tangan Zaro. Rien segera merebutnya, tetapi gagal.  "Berikan padaku! Itu milikku!" Rien masih berusaha merebut tintanya.  Zaro mengangkat tangannya tinggi sampai Rien tidak bisa menggapainya, "Tidak peduli seberapa besar kekuatan yang kau miliki sampai tinta ini luluh padamu, tetap saja kau harus berada di bawah perintahku. Aku ingin kita menikah hari ini juga. Cepat ganti pakaian!" mendorong dahi Rien dan melenggang pergi.  Beberapa pelayan itu menahan Rien yang ingin mengejar Zaro. "Hei, keterlaluan! Guru, kau sudah menipu! Kau tidak sedang bercanda, 'kan?! Tidak baik mengajak gadis menikah seperti iniii! Lepaskan aku!"  Mereka membawa Rien secara paksa ke sebuah kamar yang terlihat sangat aneh. Rien masih saja terkejut melihat hal yang berbeda dari zamannya.  'Kamar ini seperti kamar tamu zaman dulu. Bagaimana ini? Kenapa aku jadi pengantin mendadak? Aku masih kecil, tidak mau menikah dulu!!! Kuliahku masih belum selesaaiii!' teriaknya dalam hati.  Mereka mendekat ingin membantu Rien memakai gaun pengantin.  "Hei, hei, kalian jangan mendekat! Kalau mendekat aku panggilkan prajurit biar kalian diusir! Aku tidak mau menikah dengan Pangeran kalian! Dia cuma guru mendadak bagiku. Aku sendiri terkejut kalau dia seorang Pangeran!" Rien mundur sambil menyilangkan tangannya sampai menabrak ranjang dan membuat ya terduduk di ranjang.  Para pelayan itu kompak menunduk.  "Maaf, Nona pelukis legendaris. Kami tau posisi dan gelar barumu, tapi kami juga tidak bisa menolak perintah Pangeran Zaro," kata salah satu dari mereka. Langsung memegangi Rien agar tidak bisa melawan dan mulai mengganti pakaiannya.  "Apa? Tidak-tidak! Setidaknya kalian bisa membantuku kabur bukannya mengganti pakaian! Aku tidak mau memakai gaun merah sebesar ituuuu!!!" rengek Rien berteriak sampai bisa didengar dari luar kamar.  Lamaran mendadak itu menyebar luar hingga pelosok kerajaan Rurua. Semua yang ada di tempat lomba pun jadi heboh. Mereka langsung mencari tahu kebenarannya lewat para prajurit istana. Darmuroi serta seniman lainnya bingung termasuk para ahli strategi. Sedangkan Hunara langsung lari ke istana dan mengganti pakaiannya. Dia ingin tahu keadaan Rien.  "Haishhh, bagaimana ini? Apa maksud Pangeran Zaro?" Darmuroi mondar-mandir di panggung runtuh itu.  "Kau tidak tau? Kenapa Pangeran ingin menikahi Rien? Ini... Terlalu mendadak. Bukannya dia tidak tahu tentang Rien?" sahut salah satu seniman.  'Dia sudah tau sejak awal, hanya menyembunyikannya dari kalian,' batin Darmuroi.  "Lebih anehnya lagi tinta putih bisa dipegang Pangeran. Tuan Darmuroi, bisa kau jelaskan?" tuntut pelukis nomor satu.  Kini Darmuroi pun terdesak. Dia berpikir keras mencari jawaban.  "Jujur saja, aku kurang pasti menjawabnya. Sebaiknya kita temui Pangeran dulu," ajak Darmuroi.  Mereka setuju dan bersama-sama bergegas menuju Zaro. Sedangkan Hunara berhasil membuka pintu kamar tempat Rien dipaksa. Para pelayan itu menghentikan aksinya dan Rien memakai pakaian tidak beraturan. Tangannya sampai terjepit di sela-sela bajunya yang hendak dilepas.  "Hunara! Hunara, kau datang! Hahhh, syukurlah masih ada orang yang peduli padaku. Tolong aku, Hunara! Mereka mau membunuh masa depanku!" seru Rien membuat semua pelayan itu menyingkir.  "Kalian pergilah!" Hunara segera masuk dan duduk di sebelah Rien. Rien menjulurkan lidah mengejek semua pelayan itu.  "Maaf, tapi kami tidak bisa," kata salah satu pelayan itu.  "Ada aku jadi pergi!" titah Hunara sekali lagi.  "Baik!" mereka kompak menunduk dan mundur kemudian menutup pintu.  Rien menganga, "Wahhh, kau bisa mengendalikan mereka. Hebat!" pekiknya menghadap Hunara setelah menyaksikan kepergian para pelayan. Senyumnya langsung luntur.  "Kau... Kenapa sedikit berbeda? Bukan sedikit, tapi jauh berbeda. Ada apa dengan penampilanmu?" mengernyit heran.  Hunara menyuruh Rien memakai pakaiannya dengan sempurna. "Ck, bukannya kau sudah tau aku pelayan dan temannya Pangeran Zaro? Aku tangan kanannya yang terpercaya. Rien, ada apa ini? Kenapa kau bisa begini?" dia ikut bingung membantu menyisir rambut Rien yang berantakan akibat meronta.  "Oh, iya. Kau orangnya si Pangeran itu yang ternyata juga guru mendadakku. Hahh, aku harus bagaimana, Hunara? Aku terjebak! Pangeran sialanmu itu tidak bisa memperlakukan gadis dengan baik! Dia menyuruh pelayannya menyeret dan memaksaku masuk! Tidak tau cara melamar seorang gadis juga. Pangeran macan apa itu? Tidak seimbang dengan paras dan pedangnya!" ejek Rien menuju pintu dengan dagu.  "Hei, sudah-sudah. Jangan marah dulu. Biarkan aku memikirkan sesuatu." Hunara tampak serius.  "Huh! Memang seharusnya begitu!" Rien melengos. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN