18. Serangan Pernikahan

2078 Kata
 Pandainya menyebarkan undangan secara lisan sampai tiba di kerajaan tetangga. Kabar pernikahan mendadak sang Pangeran dari kerjaan Rurua terdengar di setiap orang dari kerajaan Aru termasuk seisi istana. Pangeran Rezain bersiasat akan menggunakan kesempatan itu untuk membalas dendam terhadap Nisawa. Sasarannya adalah Rien.  Penjara yang dingin nan kotor penuh jerami dan tikus berkeliaran. Seorang Raja diperlakukan tak wajar di sana. Raja Karfa, ayah dari Zaro juga mendengar berita bahagia tersebut. Dia tidak tahu harus seperti apa mengungkapkan perasaannya, tetapi memikirkan itu kerutan di dahinya semakin bertambah.  Putranya menikah tanpa bicara dulu padanya. Bukan hanya itu, Zaro memilih menikah pasti ada alasannya. Raja Karfa tak mau bertanya pada penjaga. Dia cukup mendengar jika gadis yang akan dinikahi putranya adalah pelukis legendaris. Seketika dia terduduk lemas. Sedikit senyum terbit tanpa menghilangkan kerutan di dahi.  "Anak itu...," gumam Raja Karfa.  Berbeda dengan Raja Tala yang telinganya seakan terbakar mendengar desas-desus pernikahan Zaro. Lantaran pelukis legendaris berhasil ditemukan dia menjadi tak tenang. Di aula istana dia memarahi semua pelayan dan prajurit yang membicarakan hal itu. Rezain sudah enggan ada di istana. Dia membawa Nisawa ke markas perbatasan secara diam-diam. Nisawa juga sudah pulih walau belum sempurna.  "Kurang ajar! Ini tidak boleh terjadi! Jika pernikahan itu dilangsungkan maka kekalahanku di depan mata!"  Semua barang-barang berharga di aula dilempar Raja Tala. Semua orang hanya diam. Amarah yang meledak-ledak sang Raja tak lagi dipertanyakan. Dia mengatur napasnya yang terengah.  "Kalau hanya menjadi pelukis legendaris tidak masalah. Dia masih bisa dihasut karena dia gadis lugu, akan tetapi menikah dengan Pangeran Zaro? Ck, dia bisa bertindak atas dasar apa saja. Tintanya berbahaya. Otaknya juga berbahaya."  Raja Tala mondar-mandir untuk menemukan cara agar pernikahan itu digagalkan. Berbeda dengan istana sejuk di kerajaan Rurua. Semua pelayan sibuk menghias dan mempersiapkan pernikahan yang akan berjalan beberapa jam lagi.  "Cepat-cepat, letakkan di sana!"  "Hei, jangan di situ! Nanti merusak pemandangan!"  "Kita kehabisan buah!"  Masih banyak kesibukan lainnya. Semuanya bertemakan warna putih padahal gaun pengantin berwarna merah. Pangeran Zaro sendiri yang meminta warna putih karena adanya pernikahan itu disebabkan oleh tinta putih. Zaro kini berada di kamarnya. Kamar yang cukup jauh dari tempat Rien. Dia meneliti tinta itu bingung. Pakaian indah sudah melekat di tubuhnya, tak lupa pedang yang masih setia di sampingnya.  "Kenapa aku bisa menyentuhnya? Sebelumnya tidak pernah, padahal sudah lama ada di ruang senjata istana," gumamnya seraya memutar-mutar tinta itu.  Kemudian, dia memanggil penjaga dan seorang pengawal masuk memberi salam.  "Coba kau sentuh ini." Zaro mendekatkan tinta itu.  Sang pengawal pun ragu-ragu. "Maaf, Pangeran. Tinta itu...," ucapannya dipotong Zaro, "Aku bilang sentuh."  Pengawal itu perlahan menyentuh tinta putih, namun baru berjarak sejengkal tinta putih sudah mendorongnya hingga terpental. Zaro juga kaget.  "Kau tidak apa-apa?"  "Tidak, Pangeran. Tinta itu tidak bisa disentuh siapapun. Kecuali..." ucapnya takut karena menunduk.  "Hmm, pergilah!" kata Zaro pelan.  Pengawal itu bergegas pergi dan menutup pintu kamar Zaro terburu-buru. Mungkin masih ketakutan. Zaro kembali bermain dengan tinta itu.  "Masih tidak bisa disentuh orang lain, ya? Lalu, kenapa aku?" gumamnya.  Tidak sadar jika di kamar lain sedang ada aksi melarikan diri dari Rien. Hunara membantunya untuk mengalihkan perhatian para pengawal dan pelayan hingga Rien berhasil keluar kamar dan menuju belakang. Namun, aksinya tertangkap oleh beberapa pelayan yang baru saja keluar dari dapur. Rien menganga terkejut. Segera lari tak tahu arah dan dikejar para pelayan itu.  Hunara menepuk dahinya karena Rien bersikap bodoh. Dia justru ikut mengejar Rien, tetapi untuk menyelamatkan Rien.  "Aaaaa, jangan kejar aku! Jangan kejar aku atau aku teriak!" ancam Rien sambil berlari.  "Nona, teriak untuk apa?" kata salah satu pelayan.  Rien berhenti sebentar sadar, "Oh, iya! Ini di istana, mereka semua mendukung Pangeran itu!" menekuk dahinya lalu kembali berlari.  "Eeee, Maksudku aku akan bunuh diri!" seru Rien lagi.  Mereka terkejut dan berhenti. Rien masih sibuk lari dan dikejar Hunara.  "Mau bunuh diri pakai apa, Nona?" Pasrah mereka bersamaan.  Langsung Rien berhenti dan melongo. Menepuk dahinya lagi merasa bodoh. "Astaga! Apa tidak terpikirkan cara lain?"  Hunara menangkapnya. "Nah! Akhirnya tertangkap juga! Diam dulu, kita pikirkan sesuatu lagi," mengeratkan pelukannya agar Rien tidak bisa lari.  Rien meronta hebat dan para pelayan itu membawanya kembali ke kamar beserta Hunara.  "Huaaa, aku tidak mau menikah! Cinta sejatiku pasti masih menunggu di dunia nyata! Kalian kejam sekali! Lepaskan aku!"  Mereka kualahan menangani Rien. Di dalam kamar Rien duduk di depan meja rias dengan kaki dan tangannya terikat. Tatanan rambut cantik. Gaun merah sudah terpakai rapi. Hiasan di kepala mulai dikenakan. Pewarna bibir terlalu merah seperti darah ayam. Rien menatap dirinya jijik dari cermin.  "Eh, kalian tidak paham estetika berdandan, ya? Ini sangat buruk dan menor! Lepaskan ikatanku biar aku berdandan sendiri!" Rien menarik-narik tangannya agar ikatannya terlepas.  "Menor? Apa itu?" tanya Hunara meneleng mewakili para pelayan yang juga tidak mengerti.  Rien mendesah panjang, "Menor itu riasan wajah yang terlalu tebal dan mencolok. Bukannya cantik justru jadi aneh. Biarkan aku membersihkan wajahku!" pinta Rien merengek.  "Eits, tidak bisa dihapus. Itu sudah bagus sebagus-bagusnya. Kau cantik sekali, Rien!" Hunara memeluk Rien.  Rien meringis malas melihat wajahnya di cermin, "Kenapa kau jadi membela pangeranmu? Kau bukan temanku lagi?" desis Rien.  Hunara melepaskan pelukannya dan tali yang mengikat Rien, "Kata siapa aku tidak membelamu? Rien, kalau kau menikah dengan Pangeran Zaro keamananmu lebih terjamin. Terlebih lagi tintanya ada di tangannya sekarang. Bagaimana caramu merebut tinta itu kalau tidak selalu berada di dekatnya?" menaik-turunkan alisnya.  Rien berpikir, "Hmm, benar juga. Tapi aku tidak mau menikah! Itu merusak masa depanku!"  "Menurutku tidak juga. Kau beruntung bisa menikahi Pangeran!" pekik Hunara.  Rien berdecak memutar bola matanya. "Kau ini... Coba pikirkan cara bagaimana aku bisa keluar dari sini?"  "Emm, gini aja. Nanti ketika keluar untuk menemui Pangeran, kau harus membuat kekacauan dan bersikap gila. Memporak-porandakan semuanya sampai...," Hunara mengoceh panjang. Namun, tidak dihiraukan Rien.  Rien mendadak mengingat sebuah kalimat yang hampir berhasil dia pecahkan. Kalimat ketika dia melukis kerajaan Rurua tanpa sadar. Rien tidak memperdulikan Hunara yang sedang menjelaskan rencananya mencuri tinta putih dan lari dari pernikahan.  'Aku rasa... Menikah sama guru dadakan bisa jadi jalan buat nemuin arti kalimat itu. Iya, lumayan boleh dicoba. Lagi pula guru ganteng banget! Selain itu bener kata Hunara. Harus selalu dekat dengannya kalau mau merebut tinta putih kembali,' batinnya.  "Baiklah!" seru Rien tiba-tiba.  Hunara terjingkat dan berhenti mengoceh. "Apa yang baiklah?"  Rien tersenyum manis pada Hunara, "Aku mau menikah dengannya!"  "Apa?!" Hunara terbelalak.  Rien menunjukkan deretan giginya, "Siap sedia, pendamping wanitaku! Ayo kita ke aula sekarang!!!" berdiri siap menjunjung tangannya sebentar lalu menarik Hunara keluar kamar.  "Ehh, tunggu dulu! Secepat itu kau berubah?!" Hunara memekik sambil mengimbangi langkah Rien yang terlalu cepat sampai gaun merahnya dijinjing.  "Iya, Hunara. Tinta putih harus kembali ke tanganku! Itu kunci dari semua pertanyaanku. Enak saja dia merebutnya. Aku heran, ya. Kenapa dia bisa memegang tintanya? Aku yang dapat gelar, semua orang juga tau bagaimana aku mendapatkannya, tapi dia... Ck, aku tidak bisa terima!" ucapnya panjang dengan sekali tarikan napas.  "Wah, aku benar-benar tidak bisa mengerti pemikiranmu. Semoga pilihanmu tepat, Rien. Semangat!" Hunara menggeleng lalu mengepalkan tangan.  Rien mengangguk mantap. Hingga dia sampai ke aula yang penuh dengan hiasan, Rien melambatkan langkahnya. Dia terpesona sampai mulutnya ternganga.  "Wooaahh, cantik sekali! Semuanya putih! Warnanya sama rata seperti tinta putih!" Rien tak ragu-ragu untuk mengungkapkan apa yang dia rasakan dengan suara keras.  Hunara menarik-narik gaunnya, "Pangeran Zaro sudah datang, Rien. Lihat ke depan!" desisnya.  "Hah? Apa?" dengan bodohnya menatap Hunara sambil bertanya.  Zaro datang dan berjalan ke arahnya. Rien diam terpaku tak bis berkutik juga tidak bisa berkedip. Hunara menyenggolnya sekali lagi sambil tersenyum tipis. Kemudian menunduk pamit undur diri pada Zaro. Seluruh anggota kerajaan datang. Para seniman dan ahli strategi berjajar di sisi lain. Disaksikan begitu banyak orang dan Rien baru menyadarinya.  'Apa itu guru? Dia terlihat seperti pangeran sejati! Dalam film juga penampilannya begitu! Ah, tunggu! Kenapa dia bawa pedang?' batin Rien.  Zaro tidak tersenyum sama sekali. Rien tidak memperdulikannya, tetapi semua orang beranggapan jika pangerannya tidak suka. Lantas kenapa dia memutuskan menikah?  Sringgg!!!  Pedang dicabut. Zaro melintasi Rien seolah ingin menusuk Rien, tapi ternyata pedang itu berbelok memutari kepala Rien dan menusuk tepat di depan kaki Rien.  "Aaaaa!!!" Rien sangat ketakutan.  Zaro berkerut dahi melihat bayangan itu berhasil menghindari serangannya. Zaro langsung mengejar membuat kericuhan semua orang yang ada di sana. Hunara dan semua penjaga turun tangan.  "Rien, kau tenanglah di sini. Pak tua, jaga dia!" kata Hunara sebelum menyusul Zaro.  Darmuroi langsung membawa Rien ke tempat yang aman. Sayangnya, kaki Rien tidak bisa bergerak. Mereka terkejut. Rien menatap kakinya yang ternyata digenggam sesosok bayangan dengan sangat kuat. Dia meronta, Darmuroi juga berusaha membebaskannya.  "Tuan Darmuroi! Kakiku kenapa?! Bayangannya menahanku! Tolong aku!" Rien panik.  "Ternyata ada bayangan lain. Tidak salah lagi dia bayangan ini adalah Pangeran Rezain dan Nisawa! Rien, tarik kakimu yang kuat!" Darmuroi masih mencoba menarik kaki Rien. Namun, bayangan itu jauh lebih kuat sampai Rien sesekali terhuyung ke belakang.  "Apa?! Nisawa lagi? Si-siapa yang jadi Nisawa? Apa yang mengejar guru atau yang di kakiku?!" Rien justru celingukan mencari bayangan lain yang sudah dikejar Zaro.  "Kalian semua, cepat bantu pelukis legendaris!" seru Darmuroi pada semua orang di sana.  Mereka langsung hendak membantu Rien, akan tetapi mendadak kaki Rien ditarik begitu cepat dan dia melayang bersama bayangan itu.  "Aaaa, lepaskan aku! Aku takut ketinggiaaann! Aku belum melakukan resepsi pernikahannya! Tuan Darmuroi, selamatkan akuuuu!!!" Rien tidak bisa bergerak seolah tubuhnya dililit bayangan tersebut di udara. Kemudian dia menghilang meninggalkan istana.  "Rieennn!!!" Darmuroi ingin menggapai Rien, tetapi sudah terlambat. Dia berdecak frustasi. Dia langsung sadar jika ini penculikan Rien dan mengecohkan Zaro. Dia segera mencari tinta putih yang tidak tahu di mana Zaro menyembunyikannya.  Sebagian dari prajurit kerajaan Rurua sudah mencoba menyerang diam-diam perbatasan kerajaan Aru. Hunara dan prajurit lainnya sedang bersama Zaro yang masih mengejar bayangan lain. Rien, tanpa disadari sudah berada di sebuah markas. Rien tahu dia sudah melewati perbatasan kerajaan. Jadi, dia berpikir jika berada di luar kerajaan. Bayangan itu menghilang setelah membuat Rien terkunci di markas tersebut.  "Hei-hei, apa ini? Menculik pengantin itu tidak baik! Aku bahkan belum puas memandang wajah guru dadakanku!" Rien memukul-mukul pintu.  Dia menendangnya sambil berteriak kesal. Napasnya terengah, wajahnya cemberut. Lalu, mencoba berpikir jernih dan tenang.  "Penculikan konyol! Kalau benar Nisawa dan Pangeran Rezain pelakunya pasti tidak akan kabur setelah membawaku kemari, 'kan? Merek orang penting, tujuannya hanya satu yaitu tinta putih. Pasti menyulikku karena aku mendapat gelar pelukis legendaris. Hahah, mereka mau balas dendam atau bagaimana? Nisawa, 'kan sudah kukalahkan. Tentu saja Pangeran Rezain tidak terima." berkacak pinggang, tertawa, dan mengelilingi ruang markas itu.  "Ck! Sshh, jika guru berhasil menangkap salah satu bayangan itu maka...," Rien terus berjalan sambil berpikir. "Dia akan menghentikan pernikahannya! Tidak-tidak, itu tidak boleh terjadi! Aku harus merebut tintaku darinya!" memekik seraya berhenti melangkah.  Seseorang memukul pintu keras dari luar. Rien sedikit terjingkat kaget.  "Siapa?!" teriak Rien.  Orang itu memukul pintu lagi membuat Rien geram.  "Tidak bisa mengetuk pintu baik-baik, ya? Kalau kau pukul kenapa tidak didobrak sekalian?! Kau orang baik atau bukan?!" Rien mendekati pintu dan menguping.  "Gadis bodoh!"  Rien terbelalak dan menjauhkan telinganya dari pintu. Desisan orang itu bisa Rien dengar cukup jelas.  "Guru dadakan? Sudah kuduga kau akan datang! Eh, bagaimana kau bisa datang? Tadi bukannya mengejar bayangan, 'kan?" Rien berkedip bingung. Bisa dia dengar jika Zaro berdecak kesal.  "Mundur!" titah Zaro.  "Ha? Oh, iya-iya!" Rien sedikit linglung kemudian mundur. Dalam sekali tendangan pintu berhasil terbuka. Rien terkejut, lalu senang ketika Zaro masuk menghampirinya.  "Kau baik-baik saja?" tanya Zaro dengan wajah cemas. Pedangnya masih terbuka di tangan kanan.  Rien menggeleng cepat, "Tidak apa-apa. Guru, kenapa memukul pintu kalau bisa kau dobrak?" Karena Rien sedikit semangat sampai riasan emas di kepalanya hampir terlepas. Dia terlihat bodoh di depan Zaro membuatnya meringis seraya membenarkan hiasan itu.  "Hanya ingin memastikan kau ada di dalam atau tidak. Jika prajurit kerajaan Aru yang di dalam maka aku akan menyerangnya! Penjelasannya nanti saja. Sekarang ayo kembali istana!" Zaro tidak memberi kesempatan Rien untuk bicara. Menarik pinggang Rien dan dibawa lari secepat mungkin.  Benar-benar tidak ada orang yang melihat mereka melarikan diri. Zaro semakin curiga jika ada rencana selanjutnya. Dia sudah berhasil menangkap bayangan yang dia kejar dan itu adalah Nisawa. Artinya bayangan yang menculik Rien adalah Pangeran Rezain. Kenapa tidak ada prajurit yang menjaga perbatasan kerajaan Aru itu pasti juga rencana dari Pangeran Rezain. Ketika Zaro dan Rien berhasil memasuki kerajaan Rurua kembali, Rezain menampakkan dirinya di depan markas itu. Dia tersenyum tipis sembari memeriksa ulang ruangan itu. Dia mencium aroma Rien yang tertinggal. Merasa sudah berhasil mendapatkan apa yang dia incar, yaitu dia berhasil memasuki bayangan Rien sehingga bisa mengontrol Rien kapan saja sesuai kemauannya dari jarak jauh. Sayangnya Nisawa kembali menjadi umpan. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN