Suasana pernikahan yang runyam. Kedua mempelai telah sampai ke istana, tetapi penghuni istana masih sibuk mencari mereka. Rien juga tidak bisa pergi walaupun ingin karena Zaro menggandengnya sejak tadi. Di kamar Zaro yang begitu besar yang seharusnya dimasuki Rien setelah pernikahan, kini mereka ada di dalamnya. Zaro menariknya kesana-kemari mencari tinta putih. Membuat Rien kesulitan menyeimbangkan diri.
"Guru... Guru, tunggu! Aku pusing kalau kau tarik-tarik terus," kata Rien sambil selalu mengikuti Zaro.
"Ck! Pertama, aku bukan gurumu. Jangan panggil aku guru. Kedua, segera mungkin kita harus menikah, kalau tidak keamananmu terancam dan kerajaan Aru semakin meraja lela. Bekerjasamalah denganku." Zaro masih menarik Rien seraya membuka semua benda yang dia punya.
"Haishh, iya-iya. Tapi aku sudah terbiasa memanggilmu guru mendadak, guru dadakan, dan guruku. Bagaimana bisa langsung memanggilmu Pangeran? Haha, itu aneh!" masih bisa menyahut walau kepalanya sedikit goyah. Zaro meliriknya tajam. Rien langsung meringis. "Ehehe, santai aja, Pangeran. Anggap saja aku meracau, hehe. Sebenarnya apa yang kau cari? Aku sudah pusing!"
"Kau membawa kuasnya?" bukannya menjawab justru bertanya serius.
"Ha? Kuas? Oh, kuas putih yang diberikan bersama tinta putih itu? Tentu saja, ada di balik bajuku. Aku akan membawanya terus agar tidak diambil olehmu!" Rien mencebikkan bibirnya.
"Apa kuas itu juga ajaib? Panggil tinta putih kemari!" Pinta Zaro.
Rien berkedip satu kali. "Pangeran, jangan bilang tintanya hilang?" sedikit mendesak walau keningnya berkerut heran. Zaro diam.
'Tidak mungkin hilang. Hanya aku dan guru tampanku ini yang bisa memegangnya. Lalu, kenapa dia mencari dari tadi tak kunjung ketemu?' batin Rien.
Rien mengibaskan tangannya, "Ah, tidak mungkin! Tuan Darmuroi tidak pernah mengatakan apapun tentang kuasnya. Aku rasa ini kuas istimewa bukan berarti ajaib seperti tinta putih." mengambil kuas itu dengan tangan kiri karena tangan kanannya dipegang Zaro.
Zaro langsung berpaling karena Rien mencoba memasukkan tangannya ke kerah bajunya. "Kau gila?"
Rien menatap Zaro polos, "Siapa yang gila? Aku mau mengambil kuasnya." setelah berhasil mendapatkan kuas itu dia menunjukkannya pada Zaro.
Zaro kembali menatap Rien masih mempertahankan dahinya yang berkerut. Dia mengambil kuas itu. "Diperhatikan dari segi manapun memang kuas biasa," gumamnya.
Rien mengetuk-ngetuk dagunya, "Aku masih bingung kenapa pangeran Rezain menculikku dan membuat onar di pernikahan. Padahal aku baik-baik saja ditolong olehmu. Pasti ada sesuatu yang tidak beres."
"Rien, kalau kau memang pelukis legendaris, panggil tinta putih datang kemari." Zaro menyerahkan kuas itu dan memandang Rien serius.
"Apa? Tapi bagaimana caranya? Aku tidak tau apapun. Mencobanya saja baru satu kali dan langsung kau rebut." bantah Rien seraya menerima kuasnya.
"Apapun itu, panggil dia! Kita tidak punya banyak waktu untuk menikah. Cepat!" Zaro sedikit membentak.
Rien mengerjap, "Bicaramu kasar, tapi tatapanmu sangat redup. Kau ketakukan, ya? Sebenarnya apa yang kau cemaskan? Aku jauh lebih cemas darimu, takut kalau tidak bisa pulang. Ah, sudahlah. Bicara denganmu tidak ada gunanya. Lepaskan aku, biarkan aku mencoba memanggil apa yang jadi milikku."
Mendengar ucapan Rien yang lebih tenang membuat Zaro melepaskan Rien. Walaupun dia tidak mengerti apa yang Rien maksud dengan pulang.
'Pasti ada konflik besar di balik pernikahan ini. Itu sudah cukup jelas kalau aku diperalat untuk menyelamatkan kerajaan ini,' pikir Rien.
Dia mulai menutup mata. Mencoba memfokuskan dirinya pada tinta putih. Mencari dalam keheningan dan memanggil tinta itu dalam hati. Kedua tangannya terbuka. Salah satunya terisi kuas dan satunya diperuntukkan untuk tinta putih. Zaro tidak tahu apa yang dilakukan Rien, akan tetapi dia terus mengawasinya dan melihat betapa kuat ikatan Rien dengan tinta ajaib itu.
'Jika kita adalah teman, jika kita adalah satu, maka kembalilah padaku. Kau yang membawaku ke kerajaan Rurua, maka kembalikan aku ke zaman asliku. Tinta putih... Aku Mezira Rien memanggilmu,' kata Rien dalam hati.
Pintu terbuka seketika. Zaro terkejut, tetapi Rien hanya diam dan terus fokus menutup mata. Tidak ada angin ataupun orang membuat Zaro penasaran kenapa pintu itu bisa terbuka. Kemudian, cahaya yang begitu terang datang. Zaro merasa silau, tetapi berusaha tetap melihat apa yang terjadi.
"Astaga! Tinta putih? Rien, itu berhasil!" pandangan Zaro mengikuti tinta putih yang menuju ke telapak tangan Rien hingga benar-benar berhenti di sana.
Rien membuka matanya bertepatan menghembuskan napas yang memburu. Dia terkejut, tetapi senyum yang dia tampilkan. Menatap tinta putih dan Zaro bergantian.
"Lihat! Berhasil!" seru Rien.
Zaro mengangguk. Ingin mengatakan sesuatu, tetapi Darmuroi mendadak masuk ke kamar itu dengan tergesa-gesa. Zaro dan Rien menoleh bersamaan.
"Tuan Darmuroi?" kata mereka bersamaan pula. Keduanya menjadi saling pandang dan mengernyit.
Darmuroi mengambil napas sebanyak-banyaknya sambil mengibaskan tangan tanda dia lelah berlari. Pandangannya jatuh ke tinta putih di tangan Rien. Dia ternganga menunjuk tinta itu.
"Itu... Kenapa bisa pergi sendiri? Aku sedang mencari tahu bagaimana dia bisa disentuh Pangeran Zaro," kata Darmuroi masih sedikit kelelahan.
"Ha? Jadi kau yang membawanya? Aku memanggilnya karena guru menyuruhku." Rien menunjuk Zaro polos.
Darmuroi menatap Rien dan Zaro bergantian. "Oh, ternyata begitu. Syukurlah Pangeran telah menyelamatkanmu. Nisawa dan rombongannya belum juga kembali. Saat itu aku mengambil tinta putih dari kamar Pangeran. Maaf karena telah lancang, Pangeran!" menangkupkan tangannya sembari menunduk.
'Kalau seperti itu tidak mirip pak panitia. Tuan Darmuroi setia sekali dengan si Zaro ini,' batin Rien.
"Sudahlah. Bagaimana hasilnya? Yang pasti Rien tidak diragukan lagi sebagai pelukis legendaris. Dia bahkan bisa memanggil tinta itu darimu," kata Zaro.
"Benar, Pangeran. Aku sendiri tidak bisa memanggil tinta itu. Tapi setelah diselidiki baik-baik, tinta itu tidak memiliki masalah. Aku belum bisa menemukan alasannya," jawab Darmuroi.
Dia mendesah sedikit frustasi. Zaro pun sama. Rien mengerjap polos sambil meneliti tinta yang kini ada di tangannya lagi.
"Pangeran, usia kita tidak jauh beda. Bisa tidak aku memanggilmu Zaro saja?" pinta Rien seraya menaikkan alisnya.
"Lancang!" bukan Zaro yang mengatakannya, tetapi Darmuroi.
Rien tersentak, "Kenapa tidak boleh?" Rien mendekati Darmuroi dan berbisik. "Ingat jika aku bukan dari tempat kalian. Di tempatku semua orang bebas memanggil siapapun asalkan orang yang dia panggil juga setuju. Aku tidak suka dia berlagak jadi Pangeran. Dia itu guruku yang tampan. Mendadak jadi Pangeran membuatku geli. Hiiii!"
Darmuroi mendelik. "Rien, kau...," ucapan Darmuroi dipotong Zaro. "Jika kau tidak mau memanggilku Pangeran, maka aku tidak mengizinkanmu memanggilku dengan nama saja ataupun sebutan guru," kata Zaro.
Rien merengut, "Aku harus memanggilmu apa? Kakak kesatria berpedang, begitu?"
Zaro mengambil tinta putih itu lagi.
"Eh-eh, kembalikan punyaku! Kenapa kau rebut lagi? Apa maumu?!" Rien berusaha mengambil tintanya dari Zaro.
Zaro mengangkat tangannya tinggi-tinggi, "Begitu juga bagus. Hormati aku jika kau ingin tetap hidup." desis Zaro di akhir kalimatnya.
Rien meringis ngeri, "Kau seperti bunglon. Bedanya bunglon berubah warna dan kau berubah sikap. Baiklah, Kakak. Jangan makan atau bunuh aku, ya." sedikit mencicit karena Zaro menunjukkan wajah tegasnya lagi.
Deg!
Zaro memegang d**a kirinya. Meringis merasakan perasaan yang tidak jelas. Sakit, tetapi tidak sakit. Untuk kesekian kalinya dia merasakan itu ketika bertemu dengan Rien, yaitu perasaan gelisah. Zaro langsung berpaling dari Rien dan menyembunyikan tinta putih di balik pakaiannya.
"Kak Zaro, kau kenapa? Dadamu sakit?" Rien berubah khawatir.
"Jangan mendekat! Aku tidak apa-apa." sekuat tenaga Zaro berusaha mengontrol dirinya.
'Aneh! Kemarin dan tadi tidak terjadi masalah dengan hatiku. Kenapa sekarang gelisah? Jika melihat Rien maka akan bertambah parah. Kenapa?' batin Zaro sambil menatap Rien.
Rien menjadi salah tingkah dan semakin khawatir. "Tuan Darmuroi, tolong kau panggilkan tabib. Mungkin dia sedang sakit," ujarnya.
"Tidak perlu! Tuan Darmuroi, siapkan pernikahannya sekarang juga!" titah Zaro.
Rien terbelalak begitu juga dengan Darmuroi.
"Laksanakan, Pangeran!" jawab Darmuroi kemudian keluar kamar.
Zaro menahan Rien yang bingung hendak menyusul Darmuroi. "Rien, kau sudah setuju jadi jangan tarik ucapanmu," ujarnya serius.
Rien sampai menaikkan alisnya. Netranya menatap lurus di mata Zaro. Dia bisa melihat ada keresahan yang begitu jelas di sana. Kemudian, dia mengangguk tanpa keraguan. Zaro mulai tersenyum walau tatapannya masih sedikit gusar. Membawa Rien untuk pergi ke aula istana tanpa rasa takut ada serangan mendadak. Dia masih mengontrol detak jantungnya yang berdetak lebih kencang. Seiring menyusuri jalanan istana, Rien selalu memandang Zaro. Jalan di depannya tidak diperhatikan. Membuat Zaro sesekali menoleh padanya.
'Pangeran ini ada yang disembunyikan dariku. Bukan masalah kerajaan, tetapi sesuatu yang ada di matanya. Selagi alasan tinta putih bisa dipegangnya belum diketahui, maka jawaban dari pertanyaanku ini juga tidak ada. Aku sangat yakin itu,' batin Rien.
Rien tersenyum ketika tiba di prosesi pernikahannya. Hal itu terjadi begitu saja. Walaupun kekurangan anggota karena masih mengejar bayangan yang satunya, semuanya berjalan lancar hingga mereka resmi menikah.
'Ini hanya drama, haha. Iya, nanti kalau aku bangun sudah ada di rumahku dan kembali jadi gadis cantik yang modern. Pernikahan ini palsu!' batin Rien.
Mereka duduk di singgasana dan perasaan Rien tidak bisa digambarkan. Dia sungguh tidak percaya. Bukan karena dirinya yang sangat dekat dengan Zaro, melainkan baru pertama kali merasakan duduk di singgasana membuatnya gemetar seluruh badan.
'Jadi ini rasanya menjadi Putri? Aaaa, aku istrinya seorang Pangeran, haha. Hahh, sudah jangan bermimpi. Ini zaman kuno, Payah!' batin Rien lagi dan lagi.
"Kakak, kau tidak menganggap pernikahan ini sungguhan, 'kan?" bisik Rien sambil masih tersenyum.
Orang-orang di depannya mulai merayakan hari pernikahan mereka. Ada yang menikmati jamuan, sebuah pertunjukan dari berbagai seniman, juga ada yang waspada membelakangi mereka. Darmuroi hanya tersenyum di samping singgasana memperhatikan betapa gembiranya masyarakat kerajaan Rurua. Di luar istana juga ada yang merayakan. Semuanya bersenang-senang, kecuali musuh yang terus mengintai di perbatasan kerajaan.
"Aku serius." jawab Zaro tanpa menatap Rien. Dia masih senyum menikmati gembiranya semua orang.
Rien mengerutkan keningnya, "Jangan bercanda, Kakak. Hancur sudah masa depanku jika pernikahan ini serius. Aku ini...," sebelum selesai bicara, Zaro sudah menyahutnya. "Semua janji dan upacara sudah dilakukan. Bagaimana mungkin tidak serius?" Zaro melirik Rien.
'Hiii, mengerikan!' batin Rien.
"Ahaha, kalau amarahmu mau muncul bilang-bilang, ya. Agar aku bisa kabur. Tidak bisa diajak santai sedikit." melengos setelah meringis pasrah.
Zaro mendesis berpaling dari Rien membuat Rien semakin heran.
'Sepertinya aku harus segera menjauh dari Rien. Ada apa ini?' batin Zaro.
Sakit yang tidak menyakitkan. Sedikit ada rasa manis yang dia sebut lucu ketika merasakan hal itu. Terkadang detak jantungnya berdegup lebih kencang. Dia enggan menatap Rien, tetapi seolah Rien menarik perhatiannya.
"Kak Zaro, sebaiknya kau jujur saja kalau sakit. Aku punya cara ampuh untuk mengobatimu. Semua tabib di kerajaan ini tidak akan mampu menyembuhkanmu," bisik Rien.
Zaro meliriknya, "Omong kosong."
"Kalau tidak percaya, ya, sudah. Ngomong-ngomong, aku lapar. Boleh makan, tidak?" Rien menatap puas pada deretan makanan yang tersaji di antara para tamu.
"Tahan sampai nanti malam," jawab Zaro.
"Apa?! Kau jahat sekali! Sedikit saja nasi untukku tidak ada? Dasar pelit!" Rien menunjukkan celah antara ibu jari dan telunjuk.
"Kalau mau makan dengan tenang, maka tunggu nanti malam," sangat santai dan tidak peduli.
"Huh! Minta sama tuan Darmuroi juga pasti tidak dipedulikan. Dia cuma menurut padamu. Kalian orang kaya yang pelit!" Rien melengos.
Tepat ketika proses pernikahan mereka selesai, Zaro tidak membiarkan Rien beranjak meskipun dirinya sedang menahan sesuatu yang bergejolak di dalam dirinya.
"Kenapa menahanku, hah? Aku mau makan!" Rien meronta. Darmuroi masih setia di sana. Dia memanggil Rien dan Rien menoleh tanpa meronta lagi.
"Rien, setelah mendengar kabar pernikahan Pangeran dengan pelukis legendaris, kepala seniman akan datang. Dia sedang melakukan pengajaran di luar kerajaan. Sekarang Hunara dalam perjalanan bersamanya," terang Darmuroi.
"Ha? Siapa itu kepala seniman?" Rien mengernyit.
"Dia yang menguasai segala hal tentang seni di kerajaan Rurua. Guru dari semua seniman. Kau harus memberi hormat padanya." jawab Zaro sambil menarik tangannya dari Rien.
"Guru dari semua seniman?" Rien meneleng berpikir sejenak. "Wah! Semacam seniman kondang yang terhebat begitu? Aaaa, aku mau bertemu dengannya! Tidak disangka! Di sini banyak orang hebat!" pekik Rien setelahnya.
Mendengarnya membuat Zaro berdecak dan Darmuroi hanya tersenyum. Suara gemuruh langkah kaki menarik perhatian mereka. Para prajurit berlutut, tinggallah dua orang berbeda usia menghampiri Zaro dan Rien. Mereka memberi salam.
"Selamat atas pernikahan Pangeran dan pelukis legendaris. Maafkan kedatanganku yang terlambat." ketua seniman sedikit menundukkan kepala.
"Ahaha, jadi ini pak tua ketua seniman? Senang bertemu denganmu! Ah, perjalanan dari jauh pasti melelahkan, 'kan? Mari masuk, jangan sungkan-sungkan. Akan kubuatkan sirup termanis yang pernah ada! Ayo-ayo!" Rien semangat menjawab. Tanpa malu menarik ketua seniman untuk masuk ke istana lebih dalam. Zaro melototi Rien begitu juga Darmuroi.
"Eee," ketua seniman tak bisa berkata-kata.
"Ayo, tunggu apa lagi? Haishh, jangan hiraukan Pangeran yang bermuka datar itu." Rien terus menariknya.
Zaro mendesis lalu berkedip satu kali sebagai isyarat agar ketua seniman mengikuti Rien.
'Tidak sopan! Bagaimana bisa gadis ini jadi istriku? Jika bukan demi keselamatan Yang Mulia Raja Karfa dan kerajaan Rurua, aku tidak akan melakukan ini semua,' batin Zaro.
"Ini... Sangat tidak pantas. Pangeran, aku...," ketua seniman protes seiring pasrah pada Rien.
Dia yang datang dengan ketua seniman adalah Hunara yang masih membawa pedangnya. Seruling sementara tersemat di pinggang. Dia bingung dan menahan laporannya.