20. Misteri Tinta Putih

2365 Kata
 Kamar yang Rien gunakan sejak datang ke istana kini jadi penuh dengan kertas. Semerbak harum tinta menyeruak sampai keluar dari celah pintu dan jendela. Para pelayan sampai enggan menemani. Mereka beralasan sibuk melakukan pekerjaan lain. Hiasan emas di kepala dan pakaian merah pernikahan masih melekat sempurna. Dia sangat senang menghirup aroma tinta yang menurutnya penuh dengan jiwa. Jiwa-jiwa para lukisan yang menjelaskan maknanya sendiri-sendiri. Lalu, ketua seniman yang melukis itu semua atas permintaan Rien.  "Hmm, aromanya... Kau dengar? Lukisan daun kering itu berteriak. Tolong aku! Beri aku air! Oh, tiada tara jika dibanding dengan amatiran sepertiku. Tuan, kau sangat hebat!"  Rien berlarian kesana-kemari sambil melambai-lambai menggambarkan beberapa lukisan yang belum kering di sana.  "Tuan ketua seniman... Ah, bukan-bukan, tapi kepala seniman. Apa tanganmu terbuat dari kuas ajaib yang mampu menghasilkan berbagai lukisan tak ternilai harganya? Kalau semua ini dijual... AKU BISA KAYA MENDADAK!" teriak Rien seketika. Kepala seniman sampai mendelik. Dia terkekeh dan meletakkan kuasnya di samping tinta.  "Tak sebanding dengan Nona Rien yang mampu mengendalikan tinta putih. Kau tidak perlu memanggilku ketua ataupun kepala seniman. Panggil saja aku Tuan Ann. Semua orang memberi julukan itu padaku agar mudah diingat." senyumnya khas orang tua yang begitu hangat kepada Rien. Rien mengangguk dan langsung duduk di samping Tuan Ann. "Ahaha. Baiklah, Tuan Ann. Itu julukan yang singkat, haha," ramah Rien.  "Tuan Putri begitu ramah," balas Tuan Ann.  "Haishh, jangan panggil aku begitu. Panggil saja Rien." Rien mengibaskan tangannya.  "Bagaimana bisa begitu? Kau sudah menikah dengan Pangeran Zaro. Aku memberimu semua lukisan ini sebagai hadiah. Terimalah." Tuan Ann menunjuk semua karyanya.  Mata Rien melebar, "Sungguh? Aaaa, terima kasih! Kau baik sekali! Eee, tapi tetap tidak boleh memanggilku Tuan Putri. Aku tetaplah aku. Pelukis legendaris yang memegang tinta putih, hehe."  Tuan Ann nampak sedikit berpikir, "Nampaknya Darmuroi melewatkan sesuatu."  "Apa?" Rien berubah bingung.  "Nona Rien, di perjalanan menuju istana aku bertemu dengan Nona Hunara dan rombongannya. Dia bilang sedang mengejar bayangan yang membahayakanmu dan Pangeran Zaro. Kurasa ada sesuatu di balik ini." Ann mengangguk-angguk meyakinkan.  Rien mendesah, "Itu memang benar, tapi Kak Zaro sudah berhasil mengatasi semuanya. Lalu, apa Hunara menangkap bayangan jahat itu?"  "Sepertinya tidak." Tuan Ann menggeleng.  "Huft, aku pikir akan ada peristiwa besar di kerajaan ini. Namun, memikirkan sesuatu yang bahkan belum terjadi itu bisa merusak mental dan membuat hati tidak gembira. Jadi, kita lupakan saja semua prasangka buruk dan mari bersenang-senang! Haha, Tuan Ann, kalau kau memang kepala seniman berarti menguasai segala macam seni, bukan? Bisa kau tunjukkan tarian padaku?" Rien menaik-turunkan alisnya.  "Aku punya sakit pinggang akhir-akhir ini. Aku tidak bisa menari lagi." Tuan Ann mendelik.  "Ayolah, ini hanya permintaan kecil." Rien cemberut.  "Hahh, tidak bisa. Aku sudah tua. Jika bergerak sedikit saja bisa patah tulang, bagaimana?"  "Kau bercanda, ya?" Rien terus memaksa.  Mereka berdebat hanya karena tarian dan usia. Memang kepala seniman itu sudah sangat tua, akan tetapi kesehatannya masih baik. Di sisi lain Hunara melapor jika kehilangan jejak bayangan tersebut. Dia dan tim-nya mencari hingga berpencar ke berbagai arah perbatasan. Dia dan Darmuroi kini berada di kamar Zaro, sedangkan aula istana sedang dibersihkan.  "Jika seperti itu maka motifnya akan terlihat ketika malam tiba. Atau mungkin sebelum itu, bisa juga esok hari. Tapi yang jelas dua bayangan itu dari kerajaan Aru. Jika benar ulah Nisawa dan Pangeran Rezain, tolong perketat keamanan istana dan Rien. Jangan ada yang tahu jika tinta putih ada ditanganku. Kali ini yang mereka incar adalah Rien dan tinta putih. Hunara, kau sendiri berpatroli sepanjang malam. Jangan biarkan penyusup ataupun musuh merusak kehidupan rakyat." jelas Zaro sambil memakai jubah hitam setelah melepas pakaian luarnya.  Hunara mengerutkan dahi, "Baik, Pangeran! Tapi kau mau ke mana?"  Zaro memakai topeng dan pedangnya. Kemudian, menoleh ke arah Hunara. Membuat Hunara tak berkutik. "Mengejar dua bayangan itu lagi," jawabnya.  Darmuroi juga mengerutkan dahi, "Tapi istana bisa tidak aman jika kau keluar, Pangeran. Siapa yang bertanggungjawab atas keamanan istana?"  "Kau." kata Zaro melirik Darmuroi sebentar lalu benar-benar pergi dari istana. Hunara dan Darmuroi mengejarnya hingga ke luar kamar.  "Jika pangeran benar-benar menemukan bayangannya, bukan berarti Rien terlepas dari bahaya, 'kan?" Darmuroi bertanya walau menatap jalan yang dilewati Zaro sebelumnya.  "Maksudnya?" Hunara menoleh.  "Rien berhasil diculik bayangan tersebut sampai ke luar perbatasan dan Pangeran Zaro menyelamatkannya. Namun, anehnya tidak ada satu pun orang yang melihat kejadian itu. Tidak ada yang mengganjal dari penculikan itu. Maksudku jika ada niat terselubung dari penculikan itu dan kita tidak tahu kepastiannya, akan sulit melakukan tindakan jika Pangeran tidak bersama kita," jelas Darmuroi.  Hunara melebarkan matanya. "Kalau begitu gawat! Kita harus jaga Rien sekarang!"  "Tidak! Pangeran bilang motifnya akan terlihat sebentar lagi. Dia pasti sudah punya rencana. Sebaiknya kau berpatroli saja dan aku akan tetap mengawasi istana," kata Darmuroi.  Hunara mendesah, "Baiklah. Jaga Rien baik-baik. Dia harapan kita semua. Aku pergi dulu." pamitnya lalu lari sekuat tenaga.  Darmuroi mengaitkan tangannya ke belakang. Dia ingat sesuatu. Kedatangan kepala seniman bisa membantunya untuk menemukan jawaban dari tinta putih yang mendadak bisa disentuh Zaro. Dia segera mencari kepala seniman.  ~~~  Keamanan begitu ketat sampai Rien dan kepala seniman dilarang keluar kamar. Darmuroi masuk, terperangah melihat banyak ragam lukisan di ruangan itu. Rien meringis menyapanya. Menghampirinya sambil berlari kecil menimbulkan suara gemerincing perhiasan emas di kepalanya.  "Haishh, kenapa kau memanfaatkannya seperti ini? Kenapa juga belum berganti pakaian?" Darmuroi berbisik pada Rien.  "Hehe, kalau aku pulang nanti akan kubawa semua lukisannya. Jika dijual harganya mahal!" balas Rien terkikik.  Darmuroi menggeleng, "Sudah, jangan main lagi! Mana tinta putih?"  "Ha? Dibawa suami baruku. Aku juga harus mencarinya sekarang." Rien ingin keluar kamar.  Darmuroi mencegahnya, "Jangan keluar! Kau sedang dalam pengawasan ketat. Pangeran tidak ada di istana begitu juga Hunara. Hanya Jenderal dan pasukannya yang berjaga di sini." menarik Rien untuk duduk bersama kepala seniman. Darmuroi mulai menampakkan senyum ramah.  "Salam, Tuan Ann. Maaf, aku belum menyambutmu dari awal." Darmuroi duduk dengan sopan sambil menangkupkan tangannya. Rien berdecak dipaksa duduk.  "Ahaha, tidak masalah. Senang bertemu denganmu lagi, Tuan Darmuroi. Kau berhasil membuat kehebohan di seluruh penjuru kerajaan. Tinta ajaib itu sudah menemukan pemiliknya. Aku senang mendengarnya." mereka berdua menatap Rien.  'Dasar basa-basi. Tidak bisa langsung ke intinya?' batin Rien.  "Tapi aku merasa ada yang mengganjal. Tadi juga sudah bicara dengan Nona Rien." kepala seniman menunjuk Rien.  "Itu memang benar. Selain kejadian dua bayangan yang mengacaukan pernikahan mereka, tinta putih juga memiliki masalah. Mendadak bisa disentuh Pangeran Zaro," kata Darmuroi sungguh-sungguh.  "Apa? Tidak mungkin!" Tuan Ann mendelik.  "Itu benar, Tuan Ann. Aku jadi kesal gara-gara itu." Rien menyahut sembari melipat tangan di d**a.  Tuan Ann mendesah panjang, "Aku rasa ada keterkaitan antara kau dan Pangeran Zaro. Sebelumnya Pangeran Zaro tidak bisa menyentuh itu sama sekali. Namun, ketika kau mendapatkan gelar dan menaklukkan tinta itu, Pangeran langsung bisa menyentuhnya. Ada sesuatu yang tidak bisa dimengerti secara langsung."  "Maksudnya?" dahi Rien berkerut.  "Sudah kucoba berbagai cara untuk menemukan jawabannya, tetapi tidak berhasil. Lalu, Rien memanggilnya dan tinta itu kembali padanya," Darmuroi ikut berdiskusi.  Tiga orang itu berpikir serius. Setidaknya satu masalah sudah terpecahkan. Seketika Rien menjentikkan jarinya teringat sesuatu.  "Tuan Darmuroi, aku bisa memanggil tinta itu, bukan? Jadi aku bisa membuatnya kembali padaku meskipun Kakak Zaro menyembunyikannya di tempat terpencil!" pekik Rien memukul meja pelan.  Darmuroi melebarkan matanya. "Benar! Lakukan, Rien!"  Rien mengangguk kuat. Membuka kedua telapak tangannya, menutup mata, dan mencoba fokus seperti sebelumnya. Dia mencari tinta putih dalam kegelapan. Memanggilnya tanpa ada gangguan dari siapapun. Selang beberapa detik hingga berubah jadi satu menit tidak ada hasilnya sama sekali. Pintu tidak terbuka dengan sendirinya. Cahaya putih yang terpancar dari tinta itu juga tidak ada. Kehadirannya tidak bisa dirasakan.  Darmuroi dan Tuan Ann saling pandang. Rien mengernyit dalam diam. Perlahan membuka matanya karena tidak merasakan sesuatu hadir di tangannya.  "Loh, kenapa tidak ada? Tadi aku bisa memanggilnya, 'kan? Kenapa sekarang gagal?" Rien heran menatap Darmuroi dan kepala seniman.  "Bagaimana mungkin? Apa kau salah memanggil? Coba panggil lagi. Lebih fokus," suruh Darmuroi.  "Ah, mungkin tangan yang satunya harus ada kuasnya. Aku tadi seperti itu." Rien mengambil kuas yang dia simpan di balik baju kemudian meletakkannya di telapak tangan kiri. Memejamkan mata lagi dan fokus memanggil tinta putih.  Selang satu menit lagi masih tidak ada yang terjadi. Rien menggerakkan jarinya untuk merasakan kehadiran tinta putih sampai matanya terbuka lebar.  "Kenapa tidak muncul juga? Apa yang salah?" menggaruk rambutnya.  Darmuroi bingung. Tuan Ann mengetuk dagunya memikirkan sesuatu. "Apa mungkin karena dibawa Pangeran Zaro? Itu sebabnya tidak bisa dipanggil?"  Rien dan Darmuroi kompak menatap Tuan Ann.  "Apa iya? Kalau begitu tintanya tidak disembunyikan. Dia selalu membawanya kemana-mana. Sialan! Dimana dia? Akan kurobek semua pakaiannya sampai tinta putih kembali ditanganku!" Rien berdiri spontan. Ucapannya kembali meledak-ledak. Tergesa-gesa menuju pintu tidak bisa dihentikan Darmuroi dan Tuan Ann.  "Rien, jangan keluar! Perintah dari Pangeran agar kau tetap aman!" seru Darmuroi sambil berdiri.  Ceklek!!  Rien sudah membuka pintunya.  'Ha! Ada banyak sekali penjaga. Apa aku dijadikan tahanan?' batin Rien kaget.  Menoleh ke Darmuroi dan Tuan Ann dengan wajah memelas. "Kalian tolong biarkan aku keluar. Jangan jadikan aku sandera seperti ini," ujarnya.  Darmuroi menghela napas panjang. Menghampiri Rien dan melihat para penjaga yang juga melihatnya.  "Tolong panggilkan pelayan untuk mengantarkan pakaian dan menemani Nona Rien," ujar Darmuroi.  Salah satu penjaga menyetujuinya. Rien berkacak pinggang menatap Darmuroi kesal. "Hei, pak tua. Memangnya kau mau ke mana sampai menyuruh pelayan menemaniku?"  "Mencari jawaban tinta putih. Tuan Ann, mari ikut aku sebentar," pinta Darmuroi.  Dengan senang hati kepala seniman itu mengikuti Darmuroi. "Nona Rien, kuharap kau tidak keluar kamar sampai Pangeran sendiri yang mengizinkannya. Kami akan berusaha menemukan alasannya," kata Tuan Ann ramah.  "Baiklah. Tuan Darmuroi, aku lebih suka tinggal di rumahmu daripada istana. Jika jawabannya sudah ketemu bawa aku pulang, ya," rengek Rien pasrah.  Darmuroi menepuk dahinya, "Jaga dirimu baik-baik. Sebentar lagi hari akan gelap. Kalau butuh sesuatu segera beri kabar."  "Iya, Tuan!" jawab Rien malas.  Kepala seniman itu mengerutkan dahi merasa hubungan Rien dengan Darmuroi bukan sekadar dari teman sesama seniman. Dia berencana menanyakan hal itu nanti. Mereka pergi setelah pelayan datang dan membawakan beberapa pakaian untuk Rien.  'Aku tidak bisa mencegah mereka. Siapa tau alasannya bisa ditemukan. Hei, ini hari pernikahanku. Bukannya penuh suka cita malah penuh kecurigaan. Aneh sekali!' batin Rien.  Melihat pelayan itu sedari tadi diam tak berkutik membuat Rien tertawa. Pelayan itu bingung menatapnya.  "Bibi, berapa usiamu? Kenapa mau menjadi pelayan di sini? Kabur saja, di luar sana sangat bebas. Di sini pasti tertekan, 'kan? Apa Kakak Zaro suka menindas kalian?" tanya Rien di sela geli tawanya.  "Maaf, Tuan Putri. Pangeran tidak pernah memperlakukan kami semena-mena. Dia sangat baik," jawab pelayan itu masih menunduk.  Seketika tawa Rien reda. "Benarkah? Hmm, dipikir-pikir dia memang orang baik. Sshh, tapi apa alasannya menikahiku? Bibi, berapa umurnya?"  Pelayan itu berpikir sejenak, "Tahun ini Pangeran memasuki usia dua puluh satu tahun, Tuan Putri."  "Apa? Hanya lebih tua satu tahun dariku? Wah, muda sekali! Aku tidak mau memangilnya kakak lagi. Kupikir usianya tiga atau lima tahun lebih tua dari itu. Bibi, kau juga jangan memanggilku Tuan Putri. Aku Rien, bukan Tuan Putri."  "Tapi, itu tidak sopan, Tuan Putri," bibi pelayan itu menyanggah.  "Semua orang memanggilku Rien. Aku bukan tipe sombong yang gila sanjungan, Bibi. Jika aku seperti itu tidak akan menjadi pelukis legendaris, bukan?" kata Rien sudah mulai menghangat. Pelayan itu tersenyum senang. "Nona Rien, ini beberapa pakaian untukmu. Jika kurang berkenan akan kuambilkan yang baru," masih ada rasa sungkan.  "Wah, bagus-bagus! Terima kasih, ya." Rien mengambil semuanya dan mengamatinya.  'Semua ini sangat tidak nyaman. Aku ingin pakai kaosku yang kupakai ketika datang pertama kali di sini,' gerutu Rien dalam hati.  Di dekat danau belakang istana terdapat sebuah tempat khusus untuk sekadar minum teh. Danau yang begitu bersih dan bening terdapat bebatuan kecil disekitarnya juga bunga lotus tumbuh segar di sana. Pemandangan tiada duanya. Sayang jika dilewatkan.  "Perjalanan dari timur membutuhkan waktu seumur hidup. Perjalan hidup perlu menembus ruang dan waktu. Berkelana tanpa henti. Konspirasi terus merajai. Dalam kehidupan juga butuh ketenangan. Walau hanya satu hari, semua beban akan lenyap." Tuan Ann tiba-tiba ingin bersyair memandang danau di depannya.  Darmuroi bertepuk tangan. "Apa maksud dari syair itu, Tuan Ann?"  "Setiap orang yang berkelana mencari jati diri, membutuhkan waktu seumur hidup. Namun, semua kesulitan yang dihadapi memerlukan ketenangan dari diri agar seimbang dalam menghadapi masalah." Tuan Ann membuat Darmuroi tertawa.  Menyeduh teh, menikmati pemandangan hijau. "Sebenarnya kedatanganku hanya sebentar. Jika bisa membantu permasalahan kalian, maka aku akan sangat senang," kata Tuan Ann.  Darmuroi meneguk secangkir teh. "Apa kau akan kembali mengajar?"  "Semua muridku sedang membutuhkan ilmuku. Kelak akan jadi penerus di kerajaan Rurua," jawab Tuan Ann tanpa melunturkan senyumnya.  Darmuroi mengangguk-angguk, "Berhubung Tuan Ann di sini, mohon bantuannya untuk menemukan alasan kenapa Pangeran Zaro bisa menyentuh tinta putih dengan mudah." Darmuroi menangkupkan tangannya.  "Tidak perlu sungkan, Tuan. Sedari tadi aku sudah berpikir, tetapi hanya bisa mengatakannya setelah memastikan sesuatu." Tuan Ann menatap Darmuroi serius.  "Apa itu?" Darmuroi mempersilahkan.  "Rien bukan gadis sembarangan. Siapa dia sebenarnya?" Tuan Ann memicing.  Darmuroi mendesah panjang, "Ternyata Tuan sudah mengawasinya sejak tadi."  "Gerak-gerik Rien bisa dibaca jelas. Apa dia dari kerajaan jauh?" Tuan Ann semakin penasaran.  Darmuroi tidak ada pilihan lain selain menceritakan tentang Rien yang sebenarnya. Tuan Ann terbelalak. Sungguh terkejut sampai meminum teh-nya berkali-kali.  "Itu sebabnya tinta putih tidak memiliki pemilik begitu lama. Hingga akhirnya gadis itu yang dia pilih. Mezira Rien adalah pelukis legendaris yang sudah ditakdirkan. Kedatangannya kemari hanya karena tinta putih dan untuk tinta putih. Hahh, sekarang masalahnya semakin rumit. Entah kenapa Pangeran menikahinya. Rien tidak akan bisa kembali ke zamannya jika tinta putih tidak bersamanya." jelas Darmuroi disertai desahan di akhir ucapannya.  "Ternyata begitu. Berapa usianya sekarang?" tanya Tuan Ann.  "Tahun ini dua puluh tahun. Dia bilang dia seorang mahasiswa di bidang seni. Di zamannya orang-orang melukis menggunakan cat, hanya dia saja yang menggunakan tinta. Terkadang dia memanggilku sebagai pak panitia. Wajahku sangat mirip dengan seseorang yang membantunya di zamannya. Sama seperti aku yang selalu membantunya saat ini," Darmuroi menjelaskan begitu detail.  "Kalau begitu kita harus bertanya pada Rien. Apakah terjadi sesuatu ketika dia mendapatkan tinta putih sebelum datang kemari. Setelah itu kita juga harus bertanya pada Pangeran Zaro tentang apa yang dia rasakan ketika berdekatan dengan Rien," saran Tuan Ann.  "Kenapa begitu?" Darmuroi tidak mengerti.  "Karena aku curiga terjadi sesuatu yang berkemungkinan membawa kejayaan bagi kerajaan Rurua. Tentunya Raja Karfa bisa senang di tahanan musuh." Tuan Ann tersenyum penuh arti. Darmuroi masih tidak mengerti. Dia berpikir keras untuk mengartikan maksud ucapan kepala seniman. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN