21. Kerasukan Bayangan Hitam

2080 Kata

Gulungan putih bertumpuk di meja. Tintanya sudah kering, Rien tidak mau melihatnya lagi. Karena pikirannya berkecamuk. Seolah memori akhir-akhir ini muncul tanpa perintah menggentayangi dirinya. Badannya yang remuk berlumuran darah, pertarungan perebutan para seniman, senyumnya ketika bermain di jalanan pasar, ketakutan ketika datang ke kerajaan Rurua, rasa panik yang begitu besar, dilema yang tak berkesudahan, masih banyak lagi yang dia ingat. Rien pusing. Seringkali terhuyung hampir jatuh jika saja tidak dibantu pelayan menompang dirinya. Kini duduk di tepi ranjang. Memegangi kepala, melirik sana-sini ternyata semuanya buram. Tak jelas bahkan sang pelayan yang menemaninya tidak dihiraukan. Rien mendesis, perutnya tiba-tiba juga sakit. Rasanya ingin muntah, tetapi tidak mual. "Aku kenap

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN