"Surprise, happy anniversary, sayang." Mas Lutfi menghampiri, lalu mendaratlah sebuah kecupan di atas keningku yang terhalang kerudung. "Apaan sih." Kupukul d**a bidangnya dengan sebelah tangan, lalu menatap mata elang itu dengan banyak tanda tanya. "Ini tuh hadiah buat kamu, hadiah anniversary kita." Mas Lutfi menunjuk mobil Alphard putih dengan semua jemarinya. Ia tersenyum membuat bibirku yang semula masam mulai ikutan senyum mengembang, aku memang tak bisa marah-marah lama padanya, sejak dulu bahkan sejak ia tak punya apa-apa. Aku terharu, memeluknya erat lalu melepas pelukan itu sambil menyeka air mata "Jangan nangis dong ga suka ya sama hadiahnya?" goda Mas Lutfi sambil menyeringai. Aku menggeleng sambil terus menyeka air mata yang berdesakan keluar, air mata haru, air mata ba

