"Lihat, Mas, Sabrina bikin status kaya gini." Aku memperlihatkan story' wa Sabrina. Mas Lutfi membacanya dengan serius lalu tertawa. "Kok ketawa sih?" tanyaku sambil menepuk bahunya. "Sabrina ini kaya ga ada laki-laki lain aja," jawabnya lalu rebahan. Aku mengerlingkan mata lalu mulai membalas status wa Sabrina itu dengan kata-kata pedas. [Cari lelaki lain aja, ga usah kejar lelaki beristri kasihan istrinya] send Pesanku itu nampak centang biru dua, setelah sekian lama akhirnya nomor Sabrina terlihat sedang mengetik. [Ga bisa begitu, kami ada anak mana bisa kulupakan] Seperti itu bunyi balasan wanita tak tahu diri itu, membuat emosi meluap saja. Aku tak ingin kalah gegas mengetik balasan yang lebih panas lagi dari sebelumnya. [Kita juga udah punya anak, anak hasil ibadah loh bukan

