Tale 132

2016 Kata

Kedua kaki Cameron rasanya gemetar ketika memasuki pelataran rumah besar nan megah itu. Ia sudah mengira bahwa Garlanda berasal dari keluarga yang ekonominya berada. Tapi ia tak menyangka jika rumahnya akan sebesar dan semewah itu. Rumah yang selama ini hanya bisa Cameron lihat lewat pamflet promosi perumahan elit, yang sering ditempel di dinding-dinding jalanan. Rumah tetangganya tak ada yang bagus begitu. Apa lagi rumahnya, yang hanya seperti kutu kupret, jika dibandingkan dengan rumah ini. Bagus saja tak cukup untuk mendefinisikan bagaimana indahnya rumah Garlanda itu. Rumah impian. Rumah yang bahkan tak berani Cameron bayangkan, akan memilikinya. Karena terlalu mustahil. "Ayo, Cameron ... sudah malam. Ayo cepat masuk. Istirahat dulu, baru kita briefing besok pagi." Garlanda sampai

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN