15. Senyuman Bimo

516 Kata
Dwi menoleh kebelakang dan ternyata yang menepuk pundaknya adalah Bimo. "Mas Bimo, kok bisa sampai disini? " Dwi Kaget tak menyangka Bimo bisa menemukan Dwi disana. "Aku kan sudah bilang akan menemukan mu." Kata Bimo. Kemudian Bimo melihat Aryo. Dwi menjadi canggung. "Aryo, teman Dwi waktu kuliah. " Aryo mengulurkan tangan untuk bersalaman dengan Bimo. "Bimo, Bos Dwi. " Kata Bimo. Dwi kemudian menunduk. "Oh.. aku pikir, anda pacar Dwi. Ternyata bukan. " Aryo seakan tersenyum puas. "Benar Bimo Bos ku. Tapi sebentar lagi kami bertunangan." Kata Dwi melirik ke arah Bimo seakan memberi kode. "Benarkah." Aryo melirik ke arah Bimo. "oh... Benar. Untuk apa seorang bos jauh2 datang hanya untuk bertemu karyawannya diacara pernikahan. Aku calon tunangan Dwi. " Bimo tersenyum manis. "Kalau begitu selamat ya. Semoga acara kalian lancar. Aku kesana dulu." Aryo kemudian pergi seakan menerima kekalahan. Pacar Dwi seorang Bos. Fikirnya dan Bimo juga sangat tampan. Bimo & Dwi masih di pinggir kolam renang masih diacara pernikahan temannya. "Aku tak menyangka sangat bahagia. Kamu berkata seperti tadi seakan sungguhan. Tapi aku tau kamu hanya ingin memanas-manasi mantan pacar mu kan. " Kata Bimo sampil memainkan gelas minuman ditangannya. "Aku minta maaf." Katanya Dwi. "Tidak apa2." Kata Bimo sedikit kecewakan. "Tapi bagaimana kalau sungguhan? " Tanya Dwi. "Maksudnya.? " Tanya Bimo. "Maksud aku, aku mau menerima lamaran mu. Aku mau kita menikah dan hidup bersama? " Tanya Dwi. "Apa kamu serius!? " Bimo tak percaya. "Serius." Jawab Dwi. Bimo tak berkata-kata lagi dia melompat kegirangan. Ia merasa tersenyum bahagia. Dwi juga tersenyum, ia tak menyangka Bimo akan segembira itu. Mereka pulang ke Jakarta bersama. "Setelah ini kita persiapkan pertunangan kita." Kata Bimo sambil menyetir. "Bagaimana kalau langsung acara pernikahan? " Tanya Dwi. "Kenapa?" Bimo bingung. "Aku pikir itu lebih menghemat." Kata Dwi. "Oh.Baiklah" Bimo tersenyum. "Dan... aku minta tolong. Biarkan kita saling mengenal satu sama lain dulu. Sebelum.... " Dwi kemudian terhenti. "Aku tidak melakukan hal yang kamu tidak menginginkan nya. " Kata Bimo tersenyum lagi. "Terimakasih." Dwi tersenyum malu. Sesampainya di Jakarta, Dwi memberitahu niatnya untuk menikah dengan Bimo. Orang tua Dwi sangat bahagia. Begitu juga dengan Bimo, Bimo memohon ijin pada orang tuanya. Orang tua Bimo lebih pendiam. Keluarga nya lebih kaku. Diantara kakak-kakaknya, hanya Bimo yang memiliki perusahaan sendiri. Saudara lainnya ikut bekerja di perusahaan ayahnya. "Pah... Mah... Mohon restui, Bimo akan menikah. " Kata Bimo dimeja makan keluarga. Kakak Bimo bersama istrinya ada disana. "Benarkah. Mama senang mendengarnya? Siapa wanita beruntung itu? " Tanya Mama Bimo. "Ibu sudah mengenalnya. Dia karyawan ku di kantor. Namanya Dwi, apapun posisinya Bimo sangat mencintai nya. Jadi Bimo memohon agar Papah & Mamah merestui kami. " Kata Bimo penuh harap. "Tentu saja merestui, sudah lama mama menginginkan kamu menikah. Siapapun orang itu pasti dia spesial. " Kata Mama Bimo. "Papah juga merestui, jika kamu butuh bantuan papah. Jangan pernh sungkan Papah akan membantu acara kamu sebisa papah. " Kata Papah Bimo. "Mama juga akan bantu. " Kata Mama Bimo terlihat bahagia karena akhirnya putranya akan menikah. "Selamat ya Bim, Kalau kamu butuh bantuan kakak. Kakak juga akan bantu. " Kata Kakaknya Bimo, Heru.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN