"Sepertinya, aku sudah mencintaimu, Higon." Kalimat yang mengudara itu membungkam Higon. Ara tersenyum manis padanya setelah mengungkap kalimat itu seakan-akan itu adalah suara hatinya, namun memang Higon masih tak berkutik. Antara dua hal, tak bisa berkata-kata sebab terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Ara atau memang dia tidak mendengarnya karena ramainya pengunjung yang juga ke puncak. "Aku mencintaimu, Higon. Dan maaf telah terlambat menyadarinya." Jelas Ara lagi. Higon akhirnya bisa bernafas setelah sebelumnya ia merasakan kalau lehernya dicekat. Ia tertawa tipis, "aku tidak salah dengar, kan?. Mana mungkin aku sudah menggeser posisi pria itu dari hatimu, Ara." Kata Higon. Dia tidak percaya, bahkan mundur melepaskan tangannya dari genggaman Ara. Dia berbalik, namun yang seb

