Reksa menatap nanar pada berkas dihadapanya. Sebuah tawaran kerjasama salah seorang sahabatnya yang kini menetap di pulau seberang. Sebenarnya cukup menggiurkan untuk menambah wawasanya serta ada berbagai seminar kesehatan yang bisa diikutinya pula disana.
Tapi tidak dengan hatinya yang bergemuruh hebat, hanya dengan mendengar nama kota itu saja sudah membuat d**a Reksa terasa sesak apalagi jika bayangan masa lalu itu datang. Meski samar namun reaksinya pasti akan sangat nyata. Sekian lamanya waktu tidak mengubah apapun, hatinya tetap sakit, merutuki kesalahanya sendiri.
Bukankah ia harus bersikap profesional atas nama pekerjaan? Meski hati dan pikiranya kini tidak berjalan sesuai. Bayangan itu tetap mengikutinya bahkan hingga sekarang, meski dalam sosok yang hampir menyerupai.
"Dok, pasien di kamar 20 E sudah sadar" interupsi Rena membuyarkan anganya.
"Baiklah, tunggu sebentar" Reksa bangkit kemudian memasang jasnya kembali yang tersampir di kursi. Berjalan lebih dulu dengan diikuti Rena dibelakangnya.
Spesialis jantung adalah pilihanya ketika memutuskan terjun dalam bidang kesehatan. Sebuah saran dari seseorang di masa lalunya ternyata amat berpengaruh hingga saat ini hingga dia berkecimpung semakin dalam dan mengantarkan namanya sebagai salah satu Dokter yang diperhitungkan kualitasnya.
***
"Loh Reksa!" Pekik kaget Ana begitu melihat laki-laki yang beberapa menit lalu mengiriminya pesan singkat untuk mengajaknya bertemu, ternyata sudah berdiri dengan tangan kanan dimasukan dalam saku celana lengkap dengan kaca mata hitam yang bertengger manis.
Jika pose seperti ini biasanya hanya terdapat di majalah fashion maka kali ini model tersebut tengah berdiri tegap dengan postur , rupa dan pakaian yang mendekati sempurna seraya mengulum senyum kearahnya.
"Kaget?" Tanya Reksa masih dengan senyum tertahanya melihat ekspresi keterkejutan Ana dihadapanya.
"Katanya masih sejam lagi kesini, kenapa sudah sampai?"
"Ada urusan disekitar sini sekalian mampir"
"Tapi aku belum selesai didalam"
"Tidak apa-apa selesaikan saja. Aku akan menunggu disana" tunjuk Reksa dengan gerakan dagu dan matanya. Ana paham dengan arah pandang Reksa. Sebuah cafe yang berhadapan dengan bank tempat Ana melakukan penelitian.
"Ok, aku akan menyusul nanti" pamit Ana kemudian ia masuk kedalam sedangkan Reksa kembali ke mobilnya, melajukan kearah cafe tersebut.
Tiga puluh lima menit kemudian Ana datang menyusul. Diedarkan pandangan menemukan sosok Reksa yang tengah duduk di deretan nomor tiga dari pintu masuk. Ana mendekat kearah Reksa.
"Lama ya?" Kemudian Ana menarik kursi berhadapan dengan Reksa.
"Tidak terasa karena sejak tadi aku membaca ini" diangkatnya sebuah jurnal yang sedari tadi dibacanya sambil menunggu Ana.
"Oh"
Reksa memanggilkan pelayan untuk Ana. Pancake durian serta lemon tea menjadi pilihan menu Ana, sedangkan Reksa hanya secangkir capucino karena memang dia sudah makan sebelum datang menemui Ana.
"Sepertinya kamu datang setiap hari kesana" ucap Reksa begitu pelayan kembali kebelakang menyiapkan menu pesanan mereka.
"Dua minggu ini memang aku datang setiap hari. Tapi minggu depan dan seterusnya hanya datang sesekali" diakui Ana selama dua minggu ini ia datang setiap hari bahkan jam masuknya ia samakan dengan para pegawai pada umumnya. Sampai-sampai ada yang mengira dirinya adalah pegawai magang, ada juga yang mengatakan dia siswi SMA yang tengah mengikuti praktek kerja di bank teraebut. Jangan heran jika banyak orang mengatakan hal itu mengingat wajah manis tanpa make up yang malah membuat wajahnya terlihat masih remaja dan tidak akan mudah percaya jika usianya sudah memasuki kepala dua.
"Sudah selesai?"
"Belum tapi sudah banyak data yang aku dapat, tinggal nyusun aja" dua minggu ini meng dirasa ia benar-benar mencari bahan penelitianya selengkap mungkin.
"Besok libur kan?" Tanya Reksa. Terang saja karena besok adalah hari sabtu. Ana mengangguk.
"Kenapa?"
"Besok kujemput jam delapan pagi"
"Mau kemana memangnya?"
"Besok juga tahu" Ana berdecak kesal dengan jawaban Reksa yang tidak jelas.
"Lama kalau nunggu besok" Reksa mengacak rambut Ana membuat gadis itu terkesiap dengan perlakuan manis Reksa. Hatinya berdesir hangat dan tiba-tiba saja wajahnya sedikit hangat.
"Besok pakai baju seperti ini saja" lanjut Reksa.
Diperhatikan kembali penampilan dirinya yang mengenakan kemeja warna salem dipadu celana panjang levis membuatnya mengernyit bingung.
"Sudah gak usah bingung seperti itu"
Seorang pelayan datang membawakan pesanan Ana. Hanya milik Ana karena pesanan Reksa sudah tersaji sedari tadi saat menunggu kedatangan Ana.
"Kamu sedang dekat dengan laki-laki mana?" Tanya Reksa hati-hati. Dia ingin memastikan hubungan yang sebenarnya antara Ana dan laki-laki yang dilihatnya tempo hari.
"Laki-laki? Apa maksudmu itu kekasih?" Tebak Ana dengan maksud kalimat Reksa barusan.
"Begitulah"
"Kalau sekedar teman, aku dekat denganmu dan sopir ojek langgananku"
"Tukang ojek?" Ana mengangguk. "Iya, setiap hari dia mengantar jemputku" Jelasnya.
Reksa manggut-manggut, ternyara Ana memang mengakui hanya sebagai teman saja. Ada kelegaan di hati Reksa mendengar jawaban Ana.
***
Sudah lebih dari lima menit Ana menunggu Reksa didepan rumahnya namun yang ditunggu tak kunjung datang. Dengan kesal ia menendang kerikil hingga terpelanting agak jauh.
Tin tin !
Suara klakson membuat Ana segera memalingkan wajah kearag suara tersebut. Reksa keluar dan mengahmpiri Ana yang terlihat kesal.
"Maaf Na, tadi ada gangguan sejenak" ucap Reksa penuh penyesalan.
" Ya sudah gak papa, lagipula belum lama juga terlambatnya" Ana melirik jam tanganya. Memang Reksa tidak terlambat lama hanya saja dia yang kelewat pagi untuk bersiap sehingga waktu terasa cukup lama menunggu Reksa.
Reksa masuk begitupun Ana. Mobil melaju kearah Rumah Sakit tempat kerja Reksa juga Dini, sahabatnya.
"Kita ke Rumah Sakit?" Bingung Ana. Kalau hanya ke Rumah Sakit kenapa Reksa memintanya memakai pakaian seperti hendak bekerja saja?.
"Iya, ayo masuk!" Reksa menggandeng tangan Ana begitu keduanya berjalan masuk.
"Kenapa digandeng sih, aku gak bakal nyasar" alasan Ana padahal ia malu sekaligus takut jika ada yang memergoki tingkah Reksa padanya. Mengingat ucapan Dini dulu jika Reksa adalah obyek incaran para gadis di Rumah Sakit ini. Ana membayangkan hal buruk akan menimpanya seperti serangan fans fanatik Reksa, munhkin.
"Kita teman kan? Tidak ada salahnya seperti ini. Toh tidak harus sepasang kekasih saja yang boleh bergandengan tangan" jawab Reksa tenang.
"Aku hanya menggandengmu karena takut setelah sampai di tempat tujuan kamu malah gugup. Hanya itu, bukan karena alasan lain" lanjutnya.
Benar, bisa saja saat sampai didalam ia akan diserang tiba-tiba oleh fans Reksa. Ah pikiranya benar-benar korban sinetron. Eh, mengenai kalimat barusan ia seperti mengingat tuduhan Radit padanya tempo hari. Ah Radit, mengingatnya membuat Ana luap memberi tahu jika mulai senin besok ia tidak memakai jasanya lagi. Sementara saja karena urusan di bank sudah selesai.
"Dilihat jalanya Na, kamu hampir menabrak pintu kaca ini" ditariknya sedikit keras tangan Ana yang tengah melamun agar tersadar kembali. Mereka berdua memang sedang melewati pintu masuk Rumah Sakit.
"Eh, iya" hanya itu jawaban Ana yang sekarang sedang gugup luar biasa. Pasalnya begitu ia melewati pintu masuk, tatapan tajam dari kau perempuan berseragam putih yang tengah duduk didepan meja, berdiri sambil membawa papan, lalu lalang sambil membawa obat .
Semua pandangan tak lepas ditujukan pada Reksa dan Ana apalagi pada kedua tangan mereka yang sedang bertautan. Benar kata Reksa jika ia butuh genggaman ini untuk menghalau rasa ngeri yang tiba-tiba merasuki dirinya. Hanya karena tatapan tajam puluhan pasang mata perawat Rumah Sakit ini.
Reksa yang mengerti ketakutan Ana hanya berbisik pelan sambil mendekatkan bibirnya didekat telinga Ana. "Tenang saja, nanti disana tidak ada yang menatapmu seperti itu".
Cara Reksa menenangkan Ana menimbulkan desas-desus yang merebak seketika di seantero Rumah Sakit. Tak terkecuali Dini yang tengah bertugas mengganti selang infus salah seorang pasien. Begitu cepatnya kabar itu membuat Dini bergegas memastikan kabar tersebut. Dan benar saja apa yang terjadi sesuai dengan gosip yang terdengar.
Dini memperhatikan kedua orang tersebut sambil mengeram marah. Dikepalkan tanganya seakan ingin meremukan tulang sahabatnya yang berani merebut mangsanya.
Sedangkan Reksa tetap berjalan tenang menggandeng Ana sambil sesekali menjawab sapaan beberapa perawat atau Dokter lain yang berpapasan denganya. Bukanya ia buta dengan keadaan sekitar, namun inilah yang ingin dibuktikan pada pengirim amplop tanpa nama pagi tadi di ruanganya yang berisi foto-foto kemesraan Ana dengan seorang laki-laki. Reksa menebak jika pelakunya pasti mengawasinya juga, dan kemungkinan adalah orang yang memiliki koneksi di Rumah Sakit ini karena melalui cctv yang terpasang , tidak ada orang yang terlihat mencurigakan.
Reksa memasuki lift menuju lantai paling atas menuju aula pertemuan yang memang digunakan Rumah Sakit ini jika sedang mengadakan acara.
"Kenapa ramai sekali?" Tanya Ana begitu mereka berdua sampai di sebuah aula dengan ratusan orang yang tengah duduk.
"Hanya mengajakmu melihat seminar kesehatan" ucap Reksa seolah menjawab pertanyaan Ana sejak kemaren.
"Kamu duduk disitu dulu" perintah Reksa sambil menunjuk salah satu kursi kosong di deretan nomor dua paling pinggir.
"Kamu?" Tanya Ana sambil mengedarkan pandangan pada beberapa orang yang sudah hadir dan duduk sambil bercakap-cakap.
"Aku disana, agar acara segera dimulai" Reksa mengisyaratkan dengan gerakan bola mata membuat Ana menganga.
"Kamu jadi pembicaranya?"
Reksa tersenyum sambil mengangguk kemudian mengacak rambut Ana. Perempuan ini sungguh polos membuatnya gemas dan sedikit mengingatkanya pada seseorang.
"Pembahasanya ringan, jadi jangan khawatir kamu tidak paham" dengan berat hati Ana pun mengangguk mengiyakan. Mau kabur juga tidak mungkin mengingat saat berjalan masuk tadi saja ia seperti ingin dikuliti padahal Reksa bersamanya apalagi jika ia berjalan sendiri, bisa jadi ia hanya tinggal nama saat sampai di rumah. Membayangkan saja ia bergidik ngeri.
Acara seminar berjalan lancar, acara ini merupakan kerjasama antara Dinas Kesehatan yang mengambil tempat di Rumah Sakit ini. Dan Dokter Reksa dipilih sebagai pembicara karena menurut mereka, selain karena disini tempatnya bekerja, juga karena banyak orang melihat kompetensinya
Selesai acara, Reksa segera menghampiri Ana yang masih duduk di tempatnya.
"Bagaimana?" Tanya Reksa berharap Ana menikmati acara tadi.
"Bagus, kamunya" kekeh Ana menggoda Reksa. Sekali lagi Reksa mengacak rambutnya seakan sudah menjadi hal biasa bagi Reksa pada Ana.
Tidak memungkiri jika Ana terpesona dengan cara Reksa mnyampaikan materi, menjawab dengan mudah sambil menyebutkan sumber bacaan yang dijadikan acuan dalam menjawab semua pertanyaan yang diajukan. Ia akan mengangkat empat jempolnya atas kepiawaian Reksa menguasai materi. Rasa kagum tak habisnya ia ungkapkan sepanjang acara berlangsung. Laki-laki ini teramat berbahaya dengan jeratanya. Dan Ana harus waspada sedari dini seperti pesan orang tuanya saat bertemu dengan laki-laki yang penuh tanda plus di matanya.
--------------------------------------