Foto

1536 Kata
Hati-hati jika suatu saat bertemu dengan laki-laki tampan, mapan yang mendekati. Bisa jadi dia bukan orang baik untukmu. Nasehat lama yang seringkali didengar Ana dari Mamanya ketika ia memasuki usia remaja. Nasehat itulah yang menjadikanya perempuan tanpa kisah cinta serta pasangan seperti teman seusianya. Bukan karena Ana tidak menarik, dia cantik dengan caranya sendiri. Banyak laki-laki yang menaruh hati padanya namun dengan halus ia menolak. Ana begitu memegang teguh peringatan kedua orang tuanya untuk tidak menjalin hubungan serius dengan lawan jenis sebelum ia lulus strata satu. Teman lelaki? Banyak sekali teman lelakinya karena sedari sekolah menengah ia terjun dalam organisasi hingga menginjak mahasiswa. Temanya banyak, karena ia bukan orang yang pemilih ditambah sifatnya yang ramah memang membuat orang yang mengenalnya akan betah mebgobrol lama dengan dirinya. Tapi semua kembali pada pesan keramat orang tuanya dengan menjadikan laki-laki hanya sebagai temanya semata. Dipejamkan matanya yang mulai mengantuk karena setelah Reksa mengantarnya pulang dari Rumah Sakit dalam rangka menghadiri seminar dengan dirinya sebagai pembicara, dia langsung membuka laptop memasukan beberapa data hasil penelitian selams dua minggunya. Hingga waktu menunjukan pukul delapan matanya sudah terasa perih, lelah karena sedari tadi terus dipandanginya. Diingatnya kembali apa yang Reksa katakan saat perjalanan pulang siang tadi. "Aku mendapatkan kejutan pagi ini. Kamu tahu Na, ada seseorang yang meletakan sebuah amplop yang berisi foto-fotomu dengan seorang lelaki. Sepertinya dia adalah sopir ojek yang kamu katakan kemaren yang kini sedang dekat denganmu" Ana berpikir mengapa ada foto dirinya bersama Radit dan diserahkan pada Reksa. Dia mulai berasumsi jika mungkin saja ada seseorang yang tidak senang pada kedekatanya dengan Reksa. Namun jika dipikir lagi, scepat itukah reaksi fans Reksa bahkan bertemu dan pergi dengan Reksa saja bisa dihitung dengan jarinya. Semakin memikirkan membuat Ana merasa pusing. Hari ini amat melelahkan baginya. Menghadapi tatapan mencemooh, sinis dari kaum perempuan penghuni Rumah Sakit kemudian kabar yang disampaikan Reksa mengenai foto ditambah otaknya juga berkelana bersama lembaran data penelitian, sungguh sangat menguras pikiranya. Dan menemui peri mimpi untuk mengistirahatkan pikiranya sejenak adalah pilihan terbaik saat ini. ****************** Hari sibuk akan dimulai Ana karena mulai sekarang ia hanya akan fokus pada lembaran data, buku yang menumpuk serta layar laptop dengan keyboard yang akan selalu berbisik. Baru saja ia akan memulai kegiatanya, suara ketukan pada pintu kamar membuat gadis itu segera berdiri dari posisinya yang tengah duduk bersandar pada tumpukan bantal. Segera ia membuka pintu tersebut, ternyata Dini sudah berdiri seraya menampilkan deretan giginya. "Eh Din, ayo masuk" Dini langsung mengekori Ana yang berbalik arah untuk berjalan masuk. Membiarkan saja pintu kamarnya terbuka. "Lagi sibuk Na?" Tanya Dini begitu melihat rupa kamar sahabatnya yang berantakan. Buku yang terbuka berserakan, kabel charger yang dibiarkan menggelantung antara ranjang dan meja, lembaran kertas yang tak kalah berserakanya membuat suasana seakan pasca mengalami bencana tsunami. "Gak juga cuma masukan data" jawab Ana sambil sedikit merapikan kertas-kertasnya agar Dini dapat duduk lebih nyaman. "Udah selesai penelitianya?" "Udah, tinggal nyusun aja" Keduanya kemudian larut dalam percakapan ringan, gurauan hingga menceritakan beberapa teman yang akan menikah. Obrolan antara sahabat dan sahabat yang terbilang jarang mereka lakukan semenjak kesibukan menyita waktu keduanya. Hingga menjelang tengah hari Dini berpamitan karena pukul dua siang ia akan masuk kerja. Makan siang bersama dengan keluarga Ana juga sudah jarang mereka lakukan. Dulu hampir tiap hari Dini akan mampir dengan keinginan sendiri atau paksaan dari Ana, hanya untuk mencicipi hidangan Mama Ana. Bagi keluarga Ana, Dini sudah dianggap sebagai anak kandungnya sendiri. Dini memang tinggal di kontrakan selama berada di kota ini. Sebenarnya orang tua Dini terbilang mampu, sangat mampu malahan karena usaha keluarga mereka mengelola sawit terbilang sangat sukses di daerah Kalimantan Tengah. Entah karena alasan apa dia memilih masuk ke Universitas di Kalimantan Timur dan tinggal di rumah kontrakan. "Oh ya, kudengar kemaren kamu datang ke Rumah Sakit sama Dokter Reksa ya?" Tanya Dini saat dirinya diantar menuju teras hendak pulang. "Iya, kamu tahu?" "Jelas saja tahu, mulut perempuan itu dimana-mana. Sekali ada kabar terbaru, seluruh Rumah Sakit langsung tahu" Jawab Dini dengan senyum sinis yang cepat-cepat ia sembunyikan. "Ya ampun pasti heboh" Ana membayangkan dirinya menjadi bahan gosip saat itu karena sosok Reksa yang menjadi incaran perempuan disana ternyata menggiring upik abu macam dirinya untuk jalan berdampingan. "Sayang ya aku pas belum datang. Padahal aku juga ingin lihat tontonan yang membuat para perawat terbakar cemburu" goda Dini dengan berat hati seraya melihat Ana yang kedapatan menahan malu. "Ya sudah aku pulang dulu" pamit Dini melambai kearah Ana yang membalas lambaian tersebut. *************** Ana merasa ragu dengan permintaan Reksa untuk datang ke tempat kerjanya. Bukan hanya ragu sebenarnya melainkan lebih pada rasa takut, pada ancaman tatapan ganas penggemar Reksa. Namun rasa penasaran pada foto yang menunjukan bahwa dirinya tengah bermesraan dengan seorang laki-laki membuatnya berpikir lagi. Reksa memang memintanya datang untuk menunjukan tentang foto tersebut. Akhirnya setelah berperang dengan rasa cemas dan rasa penasaran, dia pun memilih datang memenuhi permintaan Reksa. Sepanjang perjalanan menuju Rumah Sakit, Reksa mengiriminya pesan singkat menunjukan jalan menuju ruanganya tanpa harus bertanya pada petugas jaga atau perawat. Karena Reksa pun merasa khawatir tentang desas-desus yabg menyebar karena ulahnya membawa Ana saat seminar kemaren membuat keselamatan Ana sedikit terancam, setidaknya dari interogasi karyawan perempuan di Rumah Sakit ini. Menaiki taksi tidak lebih dari tiga puluh menit, Ana sampai. Begitu sampai di parkiran, ia menarik nafas panjang untuk menenangkan dirinya sebelum memasuki gedung tinggi dihadapanya. Kemudian ia melangkah masuk tak menghiraukan tatapan benci atau apapun yang ditujukan padanya. Memasuki lift lantai tiga, jalan ke kanan terdapat ruang Radiologi. Ruangan Reksa berada tepat disampingnya. Dengan mengetuk pintu perlahan hingga terdengar suara penerimaan dari pemilik ruangan, ia mendorong pintu tersebut dan melangkah masuk. "Sampai dengan selamat" ucap Reksa begitu melihat Ana tengah memasuki ruanganya. Reksa berdiri dari duduknya kemudian mendekati Ana untuk mempersilahkannya duduk di kursi yang berhadapan dengan kursi Reksa. "Iya, dan sekarang aku butuh minuman dingin" ucap Ana sambil menghembuskan nafas lega. Reksa tersenyum melihat tingkah Ana yang seakan baru saja keluar dari kandang harimau. Reksa berjalan menuju lemari es miliknya. Mengambil minuman botol dingin sesuai keinginan Ana. Menyerahkan langsung dan tanpa menunggu lama, Ana langsung membukanya tak sabar. Meneguk hingga setengah bagian. "Haus?" Tanya Reksa seraya mengulum senyum. Ana duduk di kursi sedangkan Reksa disebelahnya duduk di meja. Keduanya saling berhadapan namun tidak tepat didepanya langsung membuat Reksa dapat melihat keringat yang menetes dari pelipis turun ke pipi melewati pinggir matanya. "Iya. Mana foto yang kamu maksud?" Seakan Ana sudha tidak sabar mengenai rasa penasaran terhadap foto tersebut. Reksa menyerahkan amplop yang sedari tadi sudah diletakan diatas meja ketika menunggu kedatangan Ana. Dengan cepat Ana mengeluarkan isinya. Mulutnya menganga melihat adegan 'kemesraan' yang tererekam dalam lembaran foto tersebut. Disana memang ada dirinya dan Radit dengan punggung saja yang terlihat dari semua bagian tubuh Radit, tengah menyuapinya, menyapukan tissue di kening, dan saat dirinya tengah memeluk pinggang Radit yang memang dalam posiai sedang mengendarai sepeda motor. Ana bangkit dari duduknya seraya memijat pelipisnya bingung, bagaimana bisa hari dimana ia kehujanan itu ternyata ada yang membuntutinya. "Benar-benar salut sama tukang fotonya" ucap Ana sambil mengangkat salah satu foto tersebut dengan tanganya. Kemudian ditunjukan dengan jarinya sebuah foto dirinya tengah disuapi Radit. " Foto ini diambil saat hujan deras ditambah angin kencang. Sempat-sempatnya dia mengambil foto bahkan saat orang itu sendiri juga kehujanan" tunjuk Ana tanpa mengalihkan pada gambar di foto tersebut. Reksa yang mendengar hal itu dibuat terpengarah. Bagaimana bisa reaksi gadis disampingnya malah memuji dan menghawatirkan keadaan pengambil foto?. "Mungkin karena dia memang sudah merencanakan sejak awal tanpa memikirkan kemungkinan turun hujan" sahut Reksa yang diangguki Ana. "Gara-gara foto ini, besok Mama memintaku mengajakmu ke rumah" Byurrrrr "Uhuk uhuk" Ana yang tengah meneguk kembali minumanya langsung menyemburkan isinya kearah Reksa yang berdiri disampingnya kemudian tersedak saking kagetnya. Ana panik dengan noda kuning sedikit kecoklatan yang tercetak di jas putih Reksa. Terang saja noda itu terlihat karena minuman yang diberikan Reksa tadi adalah teh dengan campuran s**u. Dengan buru-buru dan merasa bersalah, Ana megeluarkan tissue dari dalam tas kemudian mengusap bagian jas dan kemeja Reksa yang basah akibat semburanya. Reksa yang mengerti kepanikan Ana kemudin melepas jasnya lalu digeletakan begitu saja di meja dan melepas dua kancing atas kemejanya agar air cipratan tidak menempel lekat pada kulitnya karena Ana yang menekan-nekan noda tersebut. "Sudah tidak apa-apa, aku ada baju ganti" Namun Ana tetap saja menekan-nekan dan mengusap noda yang terlanjur menempel. Melihat Ana tak bergeming, Reksa mencekal tanganya lembut agar gerakan tanga itu berhenti. Ana terkesiap begitu tanganya bersentuhan dengan tangan Reksa, lagi. Entah kenapa jantung Reksa amat berdebar dalam keintiman posisi mereka. Menyadari ada yang tidak beres pada jantungnya, Reksa segera melepaskan tangan Ana kemudian berjalan menghindari kedekatan yang sempat terjadi barusan. Ana mengerjap bingung namun segera duduk kembali dan membereskan kekacauan yang ditimbulkan tadi begiti melihat tissue yang tercecer di meja dan lantai ruangan Reksa. Ditempat lain, Monica menerima pesan dengan gambar yang membuat matanya langsung membelalak. Bahkan cangkir yang tadi dipegangnya langsung diletakan sedikit kasar hingga menimbukan bunyi denting cangkir dan meja kaca dihadapanya. Menekan foto yang baru saja diterimanya untuk melihat lebih jelas, kini kedua tanganya serasa tidak sabar menunggu satu persatu foto yang diterima untuk segera dilihatnya. Ada lima foto yang ia terima hari ini, sebelumnya ia sudah menerima beberapa foto di tempat sama dan beberapa foto lagi di tempat berbeda sejak ia menerima tawaran seseorang untuk bekerja sama menyingkirkan perempuan itu. Kerja bagus Din Gumam Monica dalam hati seraya memperhatikan kumpulan foto yang disimpan dalam folder khusus. Foto-foto tersebut sudah membuktikan bahwa targetnya memang benar-benar bukan orang yang tepat. ----------------------------------
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN