Cinta

1073 Kata
Gavin mengeratkan jaketnya, udara pagi ini sangat dingin. Hujan menemaninya di perjalanan, mendung. Berulang kali dia menyalakan wiper mobil untuk menghilangkan air yang menghilangkan padangannya. Tangannya meraih saku kemejanya, mengambil ponsel,  hendak menghubungi Clive karena dia mungkin akan terlambat sampai di kantor. Baru saja hendak mencari kontak Clive, dia malah mendapati Dewina menelfonnya. Dia terkejut, lalu mengangkat telefon Dewina. “Iya? Halo Dew, selamat pagi.” Canggung. Itulah yang pertama Gavin rasakan. Di seberang sana Dewina tersenyum kecil, senyuman manis yang tak dapat Gavin lihat. Dewina tau, Gavin pasti berubah menjadi aneh gara-gara permintaan ayahnya. “Gav, kamu dimana?” tanya Dewina. Jam kantor telah lewat lima belas menit, namun Gavin tak kunjung sampai. Bukan apa-apa, hanya khawatir terjadi sesuatu dengan Gavin. “Di jalan sih, macet, ujan.” “Oke aku bilangin Clive kalau rapat ditunda ya,” ucap Dewina. “Thanks.” Singkat, Gavin lalu mematikan telepon. Rasanya menjadi aneh saat berbicara dengan Dewina, padahal Gavin belum menikah dengan gadis cantik itu. Bagaimana nanti jika mereka sudah menikah? Bisa jadi Gavin hanya menjadi patung pajangan di rumah yang tak bersuara. Gavin mengerang kesal, satu jam dia terjebak macet. Clive terpaksa melakukan rapat tanpa Gavin karena client sudah menunggu lama. Merasa terlalu lama dalam kemacetan, Gavin memarkirkan mobilnya ke pom bensin terdekat, dia lalu berlari menuju kantor walau basah kuyup. “Oh God.” Gavin mengeluh, mengadahkan kepalanya ke atas, hujan semakin deras. Untung laptob dan handphonenya sudah dia bungkus dengan tas waterproof. Dia tiba di kantor pukul sembilan, sangat terlambat. Clive menatap sebal Gavin. Sedangkan Dewina terkejut dengan pakaian Gavin yang basah kuyup. “Gausah ngantor, gak guna. Telat lagi,” ucap Clive. Gavin hanya meringis, dia memang terlambat berangkat karena bangun kesiangan. Gara-gara semalam begadang tidak bisa tidur memikirkan pernikahan dengan Dewina. “Sorry,” ucapnya. Clive lalu mengibaskan tangannya, menyuruh Gavin keluar dari ruangan. Mereka bertiga adalah teman satu kampus, satu jurusan sejak kuliah. Tidak heran jika terkadang mereka berbicara dengan akrab dan non formal di kantor. Tanpa pikir panjang, Dewin menuju outlet di dekat kantor, dia mengenakan payungnya dan membeli sepasang pakaian kantor untuk Gavin. Sedangkan Gavin sendiri masih di toilet, mengeringkan pakaiannya. Dewina mengetuk pintu toilet, tak lama Gavin keluar dengan baju yang masih basah. “Ini Vin, pakai aja. Semoga cukup.” Gavin menerima bingkisan dari Dewina, dia mau menolak, tetapi Dewina sudah terlanjur pergi dulu. Gavin menatap tas pemberian Dewina, dia lalu membukanya dan terkejut Dewina memberikan dia satu set pakaian kantor. Gavin langsung memakainya. Pas, sangat pas dipakai dengan Gavin, entah bagaimana Dewina bisa tau ukuran Gavin. Setelah rapi dengan pakaian baru, Gavin kembali ke ruangannya. Menjadi sekretaris membuat Gavin memiliki ruangan sendiri. Dia bersebelahan dengan ruangan Dewina, hanya tersekat pintu kaca. Bahkan dari pintu itu Gavin bisa melihat dengan jelas Dewina. Dia mengetuk pintu ruangan Dewina, tak lama gadis itu mengatakan, “Iya masuk aja Gav.” Dewina melirik Gavin yang hendak masuk ke ruangan, dia bersyukur baju yang dia belikan cukup untuk digunakan Gavin. “Hei, thanks ya Dew, pas nih bajunya.” Dewina tersenyum mengangguk, dia bangkit menuju mesin pembuat kopi otomatis dan memberikannya kepada Gavin. “Biar anget,” ucap Dewina. Gavin tersenyum, dia jadi membayangkan Dewina yang akan menjadi istrinya sebentar lagi. Dewina mungkin akan membuatkan secangkir kopi setiap hari untuknya. Dia tersenyum menerima kopi buatan Dewina. “Makasih,” ucap Gavin. Dia duduk di sofa, menatap Dewina. Rasanya Gavin ingin mengatakan kegundahan dalam hatinya, dia ingin menanyakan soal pernikahan kepada Dewina. “Dew, ada yang mau aku omongin.” Dewina mengerjapkan matanya, melepaskan kacamata yang melekat dan menatap Gavin. “Ada apa? Soal rapat tadi?” tanya Dewina. Gavin menggeleng, ini jam kantor, tidak seharusnya dia mengatakan hal ini sekarang, tetapi Gavin akan semakin gelisah dan tidak bisa berpikir jernih jika terus memikirkan tentang hal ini. “Bukan ini soal ...,” ucap Gavin menggantung. Masih ragu  melanjutkan kalimatnya karena dia takut Dewina akan terkejut. “Soal cowok, kamu suka sama cowok?” tanya Gavin tiba-tiba. Bukan kalimat itu yang seharusnya Gavin pertanyakan. Tetapi tiba-tiba saja dia bertanya begitu.  Tangan Gavin gemetar, entah kenapa dia merasa gemetar karena gugup. Dia gugup menanyakan tentang pernikahan dengan Dewina. “Cowok? Ada sih, kenapa emangnya Gav?” jawab Dewina langsung. Memang ada, lelaki yang disukai oleh Dewina, dan itu lelaki yang dihadapannya saat ini. “Siapa?” tanya Gavin penasaran. Setidaknya dia tidak mau menghalangi perasaan Dewina. “Ih kepo banget, rahasia lah.” Gavin menarik nafas, menghembuskannya dengan kasar. “Gausah main rahasiaan, aku mau lamar kamu nanti malam.” Dewina yang sedang menyeruput kopinya seketika tersedak. Gavin langsung mengambilkan air dan memberikan kepada Dewina. Mereka berdiri berhadapan, sangat dekat sampai membuat nafas Dewina tercekat. “Aku mau lamar kamu Dew,” ulang Gavin. Dewina spechless, dia tau ayahnya menyuruh Gavin menikahinya, namun tidak secepat ini dia rasa. “Maksud kamu?” tanya Dewina mengerutkan keningnya. “Aku cinta sama kamu.” Dewina membulatkan matanya mendengar ucapan Gavin. Dia shock, terkejut dan tak tau harus menjawab apa. Hanya mendelik menatap Gavin. “Serius Dew, aku mau nikahin kamu.” “Cin ... cinta?” tanya Dewina. Gavin mengangguk serius. Dewina tidak menyangka jika Gavin mencintainya. Tidak, Gavin berbohong, hanya demi memenuhi keinginan Baskoro dia rela berbohong. Gavin ingat Baskoro pernah menyelamatkan hidupnya saat dia terpuruk, saat dia membutuhkan uluran tangan. Mungkin ini saatnya dia membalas kebaikan Baskoro kepadanya. Ayah Dewina bagi Gavin juga ayahnya sendiri, meski sebenarnya Gavin hanya menganggap Dewina sebagai adik, dia mencoba untuk membuka hati kepada gadis cantik ini. “Iya, cinta. Siap-siap ya nanti malam aku melamar kamu.” Gavin tersenyum lalu keluar dari ruangan, acara lamaran nanti malam bukan hal yang dia rencanakan dengan Baskoro, ini murni rencananya sendiri. Dia ingin mempercepat pernikahan karena Gavin mau sisa hidup Baskoro bisa melihat pernikahan Dewina, dia sudah berjanji akan menjaga Dewina. “Gav, sebentar.” Dewina menarik Gavin, namun terlalu keras, sampai mereka terjatuh bersamaa di sofa. Tanpa sengaja bibir Gavin menyentuh bibir Dewina. Tepat saat itu Clive membuka ruangan Dewina, hendak menyerahkan berkas. Dia terkejut melihat keduanya yang berciuman. Bukannya melepas, Gavin malah melumat lembut bibir Dewina, menggunakan kesempatan ini untuk membuat Dewina percaya, dia mencintainya. “OH GOD! WOI! INI KANTOR!” teriak Clive. Dia geram melihat kedua temannya yang berciuman. Dewina langsung melepaskan panggutan Gavin dan menjauh darinya. “Sorry Clive, udah kepingin tadi.” Dewina terkejut dengan ucapan Gavin, dia menunduk malu karena ada Clive. “Kalian pacaran?” tanya Clive. Dia sungguh 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN