“Tolong segera nikahi Dewina, dan Om mohon jangan katakan kepada Dewina kalau ini rencana Om.”
Kalimat itu masih teriang di kepala Gavin, menikahi Dewina. Dia tidak menyangka akan menikahi Dewina. Mengatakan cinta kepada Dewina dan melamarnya. Membayangkannya saja sudah membuatnya pusing bukan main. Dia jelas tidak sanggup melakukan hal ini, tetapi dia iba dengan om Baskoro. Dia bingung tetapi telah berjanji. Gavin bukan lelaki yang ingkar dengan janji begitu saja. Makin larut, pukul tiga dini hari, Gavin belum memejamkan matanya sama sekali, dia mengantuk tetapi pikirannya berkeliling kemana-mana. Apa yang harus dia persiapkan ketika nanti bertemu Dewina di kantor? Apa yang harus dia persiapkan?
Dewina, kalau dipikir-pikir pertemanan mereka sudah hampir enam tahun lamanya, keduanya masih single dan memilih tidak memiliki kekasih. Gavin tidak pernah tau jika Dewina memiliki rasa kepadanya, sedangkan Gavin, lelaki itu seperti batu, sulit ditaklukan, antara tidak peka dengan cuek. Keduanya sama. Dia tidak pernah menyangka menikah dengan sahabatnya sendiri. Gavin mencoba melepaskan semua beban pikirannya, apa yang harus dia katakan kepad orang tuanya? Ibunya ada di Boston, ayahnya di Santorini, mana dulu yang harus dia kunjungi? Rasanya waktu tidak cukup jika dia harus menikah minggu ini. Angin malam menyergap kulit Gavin, rasa dingin itu menyelimuti dirinya, dia masih tidak bisa memejamkan matanya walau terus mencoba.
“Ayo Gavin, kamu pasti bisa menuruti Om Baskoro,” ucapnya sendiri menyemangati dirinya. Gavin mencoba kembali memejamkan matanya, menuju pulau kapuk. Dia lelah, bingung dan tak tau harus bagaimana saat ini. Gavin merasa dia bukan lelaki yang pantas untuk Dewina.
***
Clive terbangun saat mendengar gemelatuk gigi Zanna, kebiasaan Zanna saat tertidur, terdengar seperti mengunyah sesuatu. Clive tersenyum kecil melihat istrinya, sangat lucu di matanya.
“Hei, bangun Zanna, sudah subuh.” Clive mengusap pipi Zanna lembut, sayangnya istrinya tidak bergerak sedikitpun. Clive lalu perlahan menarik tangannya dan bangun, dia langsung ke kamar mandi, bersiap menuju kantor. Zanna terbangun karena suara gemericik dari kamar mandi, dia langsung menyingkap selimutnya, menggelung rambutnya dan menuju dapur. Dia membuka kulkas dan mengambil makanan yang kemarin dia masak, memanasinya ke dalam microwave. Clive bahkan tidak menyadari jika sekarang dapurnya sudah lengkap dengan peralatan masak. Aroma masakan yang begitu harum membuat Clive cepat-cepat mengenakan kemeja kantornya lalu keluar menuju dapur. Dia terperangah ketika melihat dapur, sudah lengkap dengan kitchen set. Tak hanya itu, Clive juga terkejut melihat banyaknya makanan yang tersaji di meja makan. Dia tersenyum, menatap semua ini. Tidak menyangka jika Zanna menyiapkan semuanya.
“Wow, ini kamu yang masak sendiri? Wah, kamu koki yang hebat ya Zan,” ucap Clive. Dia langsung duduk, menarik kursi meja makan dan mengambil piring. Zanna mencegahnya, menggeleng dan tersenyum kepada Clive.
“Biar aku yang mengambilkan,” ucap Zanna. Dia mengambilkan Clive nasi goreng dan ayam kecap buatannya. Sederhana, namun cukup bergizi. Entah Zanna tau darimana, Clive tidak tau, Clive suka sekali nasi goreng kacang polong.
“Kamu tau darimana aku suka nasi goreng kacang polong begini?”
Zanna hanya tersenyum, dia tidak tau jika ini favorit Clive.
“Aku hanya memasaknya karena kemarin lihat acara di tv Mas, enggak tau kalau kamu suka ini.”
Clive tersenyum, dia memulai makan masakan Zanna, rmenciasanya lezat, dia sampai nambah dua piring lagi. Zanna tertawa melihat suaminya yang lahap, seketika hatinya menghangat, dia seperti menikah dengan suami yang sungguhan baik.
“Aku berangkat dulu ya,” ucap Clive, dia mengambil tasnya. Namun Zanna mencegahnya, dia meraih tangan Clive dan menciumnya. Clive cukup terkejut dengan perilaku Zanna, dia tertawa kecil. Zanna benar-benar manis.
“Tumben,” ucap Clive.
“Kan aku mau belajar jadi istri yang baik,” jawab Zanna sembari menunduk malu, tiba-tiba pipinya bersemu merah, malu dengan Clive. Zanna lalu masuk ke dalam rumahnya dengan cepat setelah Clive keluar. Dia memegang pipinya yang memanas, entah kenapa dia sangat malu saat ini, dia lalu ke kamarnya, membuka laptob dan kembali memulai mencari cari beasiswa untuknya. Zanna awalnya berpikir untuk di Indonesia saja kuliahnya, tetapi dia juga ingin keluar negeri menemani Clara. Dia tau sahabatnya itu tidak akan bisa sendirian.
Satu yang membuat Zanna menjadi ragu seketika, apakah Clive mengizinkannya untuk kuliah di luar negeri. Zanna mengambil handphonenya, hendak menelpon Clive, namun dia rasa akan mengganggu waktu Clive. Dia akhirnya menyelesaikan membuat essay untuk mendaftar beasiswa. Hari ini juga sebelum Clive mengetahui tentang beasiswa ini, Zanna ingin mencoba daftar, nanti setelah dia diterima, dia akan mengatakan kepada Clive.
Handphone Zanna berdering, unknown number, dia mengangkatnya langsung. Tidak tau siapa yang menelfonnya, tetapi Zanna mengangkatnya.
“Halo? Selamat pagi?”
Tidak ada suara di sana, hening. Zanna menyerngitkan keningnya, menatap ponselnya sejenak, lalu menempelkan lagi ke telinganya.
“Halo? Siapa di sana?”
“Ini Zanna Kirania? Saya Alucard, pengacara keluarga anda.”
Zanna terkejut, dia ingat betul pak Alucard adalah pengacara ayahnya dulu. Dia mengenalnya saat masih kecil.
“Bisa bertemu dengan saya hari ini? Kalau bisa pagi ini, ada hal penting yang harus saya katakan.”
Zanna mengiyakan lalu bertemu dengan pak Alucard di sebuah cafe. Zanna masih sendirian di sini, pengacaranya belum datang. Dia duduk tanpa memesan apapun. Rasanya tidak enak jika dia memesan duluan. Zanna menatap pergelangan tangannya, sudah tiga puluh menit dia disini, namun tidak ada yang datang. Berulang kali Zanna menghela nafasnya, hingga akhirnya Alucard datang, beliau membawa berkas penting dengan tas laptobnya.
Zanna menatap gerak gerik pak Alucard, sepertinya ada sesuatu yang penting, sesuatu yang urgent sampai harus bertemu sekarang juga.
“Jadi ada apa Pak? Kenapa bapak terlihat terburu buru?” tanya Zanna.
Pak Alucard mengeluarkan ponselnya, memberikan sebuah foto kepada Zanna. Dia juga mengeluarkan secarik kertas bertuliskan sesuatu yang membuat Zanna tercengang. Dia seketika bingung, mengerjapkan matanya.
“Bagaimana mbak?” tanya pak Alucard menatap Zanna. Sungguh, Zanna terkejut melihat hal itu, dia bungkam seketika. Zanna merasa telah melakukan sesuatu kesalahan. Dia mengambil keputusan terlalu gegabah.