I Must Loving You

1166 Kata
Clive berulang kali menguap menatap laptobnya, dia lelah sekali hari ini. Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Dia memutuskan ke kamar mandi dan membasuh wajahnya. Dia bergegas pulang. Handphonenya sengaja dia matikan, agar dia fokus dengan pekerjaannya. Clive menatap jam tangannya berulang kali, dia baru teringat, Zanna pasti menunggunya. Jalanan sudah sangat sepi, hanya truk besar yang melintasi jalan tol. Benar dugaan Clive, Zanna tertidur di sofa ruang tamu sembari memeluk ponselnya. Dia menjadi merasa bersalah dengan Zanna. Istrinya tidur meringkuk. Clive mengambil ponsel Zanna, meletakkan di meja lalu menggendong Zanna menuju kamar tidur. Gerakan Clive membuat Zanna mengerjapkan matanya, dia terkejut saat Clive ada di sampingnya masih mengenakan pakaian kantor lengkap. “Mas, baru pulang?” tanya Zanna mengerjapkan matanya. Dia mengusap pipi Clive, terlihat jelas nampak raut wajahnya sangat lelah. “Iya, aku mandi dulu ya.” Clive melepaskan tangan Zanna yang menangkup pipinya, namun tangan Zanna meraih tangan Clive dan mencegahnya untuk pergi. “Tidur saja Mas, kamu kelihatannya lelah. Sudah makan belum.” Clive mengangguk sudah makan, Zanna bangkit dari ranjangnya, mengambil pakaian Clive dan membantu Clive mengganti pakaiannya. Seketika Clive dan Zanna merasa canggung saat Zanna mencoba membuka kancing baju Clive. Mereka saling bertatapan, sedangkan Zanna sangat polos, dia hanya ingin membantu Clive agar tidak kelelahan. Sungguh, Clive sangat gemas dengan sikap Zanna yang sangat lucu seperti ini. Zanna terlihat gugup dan keluar kamar, dia menutup pintu kamar rapat-rapat. “Sudah, Mas ganti baju saja dulu.” Zanna mengucapkan dengan gugup. “Loh? Enggak jadi kamu bantuin?” tanya Clive menggoda Zanna, dia tersenyum sendiri melihat tingkah Zanna yang gugup seperti itu. Di matanya, Zanna hanyalah gadis polos yang tidak tau apapun. “Enggak. Mas ganti aja sendiri.” Clive tertawa keras lalu mengganti pakaiannya. Zanna menuju dapur, menatap setiap masakan yang dia buat. Sorot matanya menunjukkan kesedihan, dia hanya bisa menghela nafas melihat masakannya tak tersentuh bahkan hanya sesendok. Dia memutuskan mengambil makanannya dan meletakkan di kulkas. Zanna lalu kembali ke kamar dan ikut tidur di samping Clive. “Hari ini kerjaan banyak ya Mas?” tanya Zanna sembari saling berhadapan dengan Clive. Mata Clive sudah sangat mengantuk, dia tidak sanggup menjawab pertanyaan Zanna. Tangannya menarik Zanna lebih dekat, memeluknya dan tertidur di ceruk leher Zanna. Rasanya geli dan hangat saat nafas Clive menerpa kulit Zanna. Gadis itu tersenyum, hubungannya dengan Clive semakin membaik, dia tidak lagi takut jika Clive pergi. Zanna membalas pelukan Clive dan tertidur bersamanya. *** “Gav, emang bener kalau kamu gay?” Ucapan itu membuat Gavin tertawa, tentu saja tidak. Sahabatnya—Dewina semakin penasaran dengan Gavin ketika artikel tentang Gavin dengan Clive semakin viral. Ada juga artikel yang merilis berita tentang pernikahan Clive, tetapi berita itu ditampik oleh netizen jika hanya pengalihan issue. Gavin tersenyum menatap Dewina, dia hanya gila kerja, bukan suka kepada Clive. Dia hanya tidak tertarik kepada lawan jenis karena benci keribetan wanita. “Enggaklah.” “Terus punya kamu masih bisa aktif kalau sama perempuan?” tanya Dewina penasaran. “Astaga, yaiyalah. Aman, masa depanku masih bagus.” Dewina menyerngitkan keningnya, kalau tidak ada yang salah dengan Gavin, kenapa temannya ini tidak mencoba berpacaran atau dekat dengan wanita? Bahkan Dewina tau, semenjak kuliah Gavin selalu menolak semua wanita yang menyukainya. Ketampanan Gavin, tidak ada yang bisa menolak, kaum hawa pasti jatuh hati saat pertama kali melihat Gavin, tetapi ketika mendapati sifat cueknya, mereka pasti menyerah. “Terus kenapa kamu enggak menikah? Enggak mau bangun rumah tangga gitu? Usia kita kan udah mapan.” Gavin menggeleng, dia menyeruput cappucinonya, meletakkan kembali ke meja lalu menatap Dewina sungguh-sungguh. “Kamu tau kan kalau aku orangnya enggak suka sesuatu yang ribet. Males PDKT. Males kalau punya pasangan yang cemburuan, apa ya ... aku cuma agak trauma aja lihat orang tua aku yang cerai dan berantem tiap hari.” Oh jadi itu alasannya, kini Dewina tau mengapa Gavin enggan memiliki istri. “Mau aku jodohin enggak? Aku ada kenalan nih, lumayan cantik. Dia dokter kecantikan,” ucap Dewina. “Ogah. Urusin aja tuh kehidupan cinta kamu, cari cowok sana,” ucap Gavin. Dewina hanya tersenyum tipis menanggapinya. Mereka hanya bersahabat, murni bersahabat, sejak kuliah keduanya berjanji tidak akan saling mencintai dan tidak ada yang menarik batas. “Kalau gitu, kita saling comblangin gimana?” tawar Dewina. Gavin menaikkan alisnya, dia berpikir lama, hingga akhirnya menyetujui ide Dewina. Ketika Gavin menatap jam tangannya, dia terkejut sudah larut malam, tidak menyangka berbincang dengan Dewina selalu terasa begitu singkat. Gavin mengantarkan Dewina pulang. Di sana ayah Dewina—Baskoro sudah menunggu putrinya pulang. “Jam berapa ini Dewi? Kenapa pulang terlambat?” tanya ayahnya sembari menatap Gavin. “Maaf, tadi keasikan ngobrol sama Gavin.” “Yasudah, kamu masuk aja sana. Ayah mau bicara sama Gavin.” Gavin tersenyum kikuk menatap Baskoro, dia sudah sering berkunjung kemari karena dekat dengan Dewina. “Sini Gav, duduk.” Baskoro menyuruh Gavin duduk di sampingnya. Rumah Dewina sangat megah, ayahnya seorang pengusaha dan ibunya pemilik catering. Gavin duduk sembari menatap kolam ikan di depannya, menunggu Baskoro berbicara lagi. Sejenak keheningan tercipta diantara keduanya. “Jadi gini Gav,” ucap Baskoro. Gavin bersiap-siap dimarahi oleh Baskoro karena mengajak Dewina pergi hingga larut malam. “Iya Om, ada apa?” tanya Gavin antusias. “Kamu sebenarnya cinta atau tidak dengan Dewina?” Deg. Gavin tidak menyangka jika ayah Dewina akan menanyakan hal ini kepadanya, apa yang harus dia jawab? Cinta? Entahlah, perasaan itu seolah telah musnah dari kehidupan Gavin. Dia tidak pernah mau hidupnya terjerat dalam perasaan cinta. Baginya, cinta itu melukai, buktinya orang tuanya yang berpisah walau telah berpacaran setelah belasan tahun. Hening. Gavin tidak bisa menjawab, dia diam karena bingung memilih kalimat yang tepat untuk dilontarkan. Dia juga tidak mau menyakiti ayah Dewina. Memang dia sangat dekat dengan Dewina, mereka seperti adik kakak, tetapi rupanya Baskoro pernah melihat sikap Dewina yang mengagumi Gavin. “Jawab saja, Om enggak akan marah akan jawabanmu,” ucap Baskoro lagi. Gavin menggaruk kpalanya yang tidak gatal dan tersenyum kepada Baskoro. “Kalau soal cinta ... kayanya enggak Om. Saya hanya menganggap Dewina sebagai teman dekat,” ucap Baskoro. Mendengar ucapan Gavin, Dewina yang dibalik pintu merasa aneh, perasaannya seketika merasakan sakit, entah kenapa dia merasa begini, padahal dia harusnya tidak merasa gundah. Tetapi tetesan air mata meluncur begitu saja dari pipi Dewina. Gadis itu hendak melangkah pergi, berhenti menguping, namun kalimat ayahnya selanjutnya membuat dia menghentikan langkahnya. “Om bisa minta tolong?” tanya Baskoro. “Iya, ada apa Om?” tanya Gavin. Dia menduga jika Baskoro meminta Gavin mencarikan Dewina pasangan hidup. “Tolong nikahi Dewina, jaga dia Vin. Om punya penyakit kanker otak stadium tiga, sebentar lagi Om akan tiada, Om minta kamu jaga Dewina. Kamu cintai dia, Om gak meminta kamu menjaga dia selamanya, sampai Dewina menemukan orang yang mencintai setulus hati, bisa?” Deg. Gavin bingung harus bagaimana. Baskoro tidak pernah seperti ini. Sosok Baskoro biasanya terlihat sebagai ayah yang melindungi Dewina apapun yang terjadi. Melihat tatapan Baskoro, Gavin bingung menjawab apa. “Baik Om, saya akan menjaga Dewina.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN