“Wah benarkah? Kalau begitu, rumah kita dekat.”
Angga tak menanggapi dan hanya tersenyum tipis. Dia melirik jam tangannya lalu berpamitan untuk pergi. Dia hendak pergi untuk ke suatu tempat, Angga hanya berpamitan sebentar sembari tersenyum lalu pergi begitu saja. Padahal Zanna ingin bertanya kemana Angga akan pergi dan bertanya dimana tempat tinggalnya.
Zanna kembali melangkahkan kaki sembari melihat punggung Angga yang tegap. Lelaki itu nampak tampan dan tatapannya begitu tegas. Sayangnya Zanna belum bisa mengetahui mencari kebenaran apakah memang Angga yang memberikan surat itu.
“Zanna!” panggil Clara dengan bersemangat. Clara mnghamoirinya dan memeluknya erat.
Persahabatan mereka sudah dimulai sejak masa kecil, sejak dulu Zanna menyukai pertemanannya dengan Clara. Gadis manis itu sangat menggemaskan dan juga ceria. Clara juga sosok yang mengerti perasaan Zanna.
Mereka lalu duduk bersama di cafe, setelah memesan makanan, keduanya saling memandang. Clara menjadi ragu untuk menceritakan masalahnya ketika melihat Zanna yang agak murung. Zanna terlihat begitu berbeda, sorot matanya menggambarkan dia sedang memikirkan sesuatu.
“Zan, kamu sedang galau?” tanya Clara langsung. Senyum Zanna dipaksakan, jelas Clara tau jika sahabatnya itu sedang gelisah.
“Galau? Engga sih. Cuma ... lagi mikir sesuatu aja.”
Bayangan wajah Angga dengan surat berbentuk hati itu masih terbayang jelas, Surat yang selama ini Zanna cari tau siapa yang memberikannya.
“Cerita dong, ada apa?”
Zanna menggeleng, dia kemari untuk mendengarkan curhatan Clara, bukan malah curhat dengannya.
“Kamu dulu aja, katanya sedang galau, ada apa Clar?”
Clara menopang dagunya, mengusap wajahnya kasar menatap Zanna dengan keraguan, dia bimbang harus mengatakan apa kepada sahabatnya ini.
“Jadi ... aku bingung harus kuliah di mana,” ucap Clara menggantung, dia sengaja tak menyelesaikan kalimatnya, meminum milk shake di hadapannya sejenak.
Setelah meneguknya dua kali, baru dia menyelesaikan kalimatnya.
“Mama sama Papa nyuruh buat kuliah di Stanford, tapi aku takut sendirian di sana. Aku juga maunya sih kuliah di UI aja.”
Zanna mengangguk setuju, kuliah di luar negeri memang terlihat lebih wow daripada di dalam negeri, tetapi yang terpenting adalah kualitas diri. Kalau kita bisa menjadi yang terbaik di dalam negeri kenapa harus kuliah di luar? Belum tentu bisa menjadi yang terbaik jika kuliah di luar negeri, apalagi jika mental belum siap untuk hidup sendiri dalam empat musim.
“Aku gak bisa Zan, hidup sendirian di sana, sumpah gak kuat. Bayanginnya aja udah ngeri, belum lagi kalau di sana aku ketemu sama orang yang gak bener,” ucap Clara membayangkan ngeri.
“Tapi kalau kamu mampu, orang tua kamu mendukung, enggak masalah Clar, coba lebih berani lagi buat maju, kalau kamu kuliah di luar, kamu bisa punya pengalaman baru dan lebih mandiri.”
Clara menghela nafasnya, dia menelungkupkan wajahnya diantara kedua tangannya yang dia lipat. Membenamkan wajahnya karena frustasi.
“Dahlah, langsung daftar UI aja,” ucap Clara. Zanna hanya tersenyum menanggapi sahabatnya, dia menepuk-nepuk pundak Clara.
Seketika sepintas ide muncul di kepala Clara. Dia menatap Zanna dengan semangat.
“Kalau kamu temani aku kuliah di Stanford gimana? Mau?”
“Aku? Enggak mungkin lah Clar, aku kan enggak ada biaya, lagipula aku juga mau menemani Mas Clive di sini saja,” jawab Zanna sembari tersipu malu. Clara bisa jelas menatap wajah Zanna yang bersemu merah ketika mengucapkan ‘Mas Clive’
“Haduh, iya deh terserah. Kalau soal biaya si sebenernya abang aku pasti mampu, atau kamu mau coba beasiswa?”
Zanna menjadi tertarik dengan tawaran Clara ketika mendengar beasiswa, dia menjadi ingin mencobanya.
“Boleh deh, nanti aku coba.”
Clara lalu menawarkan menu makanan kepada Zanna, gadis itu bangkit menuju kasir memesan makanan. Saat itu Zanna mengeluarkan handphone dari tasnya, namun di saat bersamaan, sebuat kertas lipat berwarna merah muda jatuh, dia mengambilnya dan tertegun. Zanna kembali mendapatkan surat berbentuk hati itu. Zanna ingin membukanya, namun Clara sudah kembali datang dengan membawa beberapa makanan. Dia memutuskan mengurungkan niatnya, mengembalikan surat berbentuk hati itu ke dalam tasnya. Dalam hatinya bertanya-tanya, siapa yang sudah memberinya surat berbentuk hati itu? Apa memang Angga? Kalau benar, kapan dia memasukkan ke dalam tasnya? Zanna mengingat-ingat pertemuan tanpa sengajanya dengan Angga, apa mungkin saat bertemu sebentar tadi dia memasukkan surat ini lagi?
Zanna mengerjapkan matanya, logikanya mengatakan bahwa dia harus menghentikan rasa penasarannya tentang surat berbentuk hati ini. Dia harus menghentikan rasa penasarannya.
“Zan? Ngelamun apa?” tanya Clara. Jelas dia bisa melihat Zanna seperti memikirkan sesuatu. Hati Zanna sebenarnya masih ingin tau siapa yang telah memberikannnya surat-surat yang selalu hadir tanpa tau siapa pemberinya. Kalau benar lelaki ini mencintainya, kenapa tidak berani mengatakannya langsung.
“Oh enggak, cuma mikir aja ambil beasiswa atau enggak,” jawab Zanna beralasan. Dia tidak ingin Clara tau jika dia masih mendapatkan surat-surat kecil itu. Dia tidak mau terjadi kesalahpahaman, kepercayaan Clara dan keluarganya harus tetap dia pertahankan.
Mereka menikmati makanan dalam diam, sibuk memikirkan masalah mereka masing masing. Clara masih bimbang, apa dia bisa hidup sendiri tanpa orang tuanya. Dia terbiasa hidup dimanja dengan orang tuanya. Berbeda jauh dengan Zanna yang hidup mandiri semenjak orang tuanya tiada. Meski Zanna tinggal di rumah tantenya, tetapi dia seperti hidup masing-masing. Mengingat kenangan itu membuatnya sedikit terluka. Zanna mengatupkan bibirnya, menggulumnya perlahan. Rasa sakit itu masih ada, dia dibuang ditinggalkan oleh tantenya sendiri. Bagaimana bisa tantenya tega melakukan hal seperti itu, apa kesalahan Zanna?
“Ambil aja, kalau kamu keterima beasiswanya, nanti aku temenin kuliahnya. Ambil Stanford ya Zan,” ucap Clara.
Zanna mengangguk, dia mengambil kentang goreng di depannya, menikmatinya perlahan sembari memikirkan keputusan yang tepat. Sepertinya dia harus berdikusi dengan Clive terkait hal ini. Dia hanya takut membebani Clive ataupun orang lain, dia tidak ingin hal seperti itu terjadi.
Setelah berbincang dan saling melepaskan penat, mereka berdua pulang. Sembari menunggu Clive pulang dari kantor, Zanna menyiapkan makan malam spesial. Dia sendiri yang membeli peralatan memasak. Sayang sekali apartemen ini ditinggali tetapi tidak ada alat untuk memasak. Zanna memasak lengkap, masakan khas rumahan yang lezat. Biasanya Clive akan pulang pukul tujuh malam. Zanna telah selesai dengan masakannya, dapur kembali rapi dan dia sudah mandi dan cantik.
Sayangnya hingga pukul sebelas Clive belum juga pulang, berulang kali Zanna menelfonnya namun tidak ada jawaban.
Zanna merindu, tiba-tiba hatinya menginginkan Clive cepat pulang.