Hidup tanpa luka, terasa hampa
Zanna tersenyum puas dengan hasil ujiannya, dia mendapatkan nilai terbaik di sekolahnya. Clive memujinya, dia bangga dengan kerja keras Zanna. Dia mengusap kepala Zanna dan tersenyum sangat bangga kepada istrinya.
“Zanna, ada hal yang harus aku sampaikan kepadamu,” ucap Clive tiba-tiba yang membuat Zanna seketika berhenti menatap smartphonenya. Dia mendongak, tatapan matanya menuju ke manik mata Clive yang menyiratkan kegelisahan.
“Iya? Ada apa?” jawab Zanna cepat. Clive menarik nafasnya, kembali menatap Zanna dengan sungguh-sungguh.
“Jadi aku akan pergi dua bulan ke Swiss untuk mengurus perusahaan di sana, apa kamu mau ikut denganku atau di sini saja?” tanya Clive.
“Kapan Mas berangkat?”
“Mungkin minggu depan,” jawab Clive. Zanna terdiam sejenak mendengarkan Clive, minggu depan adalah hari dimana dia mengambil ijazah kelulusan dan mulai mendaftar perguruan tinggi.
Zanna belum menjawab, dia mengambil gelas di meja dan meneguk air yang ada di dalamnya. Mimpi Zanna adalah menjadi seorang desainer yang memiliki butik. Dia menjadi bingung apakah harus mengikuti Clive. Kalau dia ikut, dia bisa saja terlambat mendaftar PTN.
“Bagaimana?” tanya Clive lagi untuk kedua kalinya. Zanna tidak bisa menjawab, dia masih bingung detik ini. Dia pasti mementingkan pendaftaran perguruan tingginya, jika tidak dia bisa terlambat nanti dan tidak mengikuti ujian PTN.
“Sepertinya tidak bisa Mas, aku di sini saja. Aku sepertinya harus mendaftar PTN mas karena kalau terlambat nanti hilang kesempatanku satu tahun.”
Clive memejamkan matanya, tangannya mengusap-usap dahinya karena bingung harus bagaimana. Kuliah di Swiss juga tidak mungkin karena hanya dua bulan saja Clive di sana.
“Bagaimana ya? Aku tidak tega meninggalkanmu sendirian di sini,” jawab Clive. Zanna sebenarnya merasa ingin ikut Clive, rasanya dia tidak mau ditinggalkan sendirian di sini, tetapi ini demi masa depannya Zanna.
“Tidak apa-apa Mas, aku di sini saja. Lagipula kan ada Clara dan Mama Papa, tenang saja.” Clive lalu menarik Zanna, membiarkan gadis manis itu duduk di pangkuannya. Clive menyibakkan rambut Zanna, menyelipkannya diantara daun telinga. Entah kenapa dia melakukan hal ini, seolah instingnya yang bergerak sendiri memperlakukan Zanna spesial.
“Zan, berjanjilah kamu baik-baik saja saat aku pergi,” ucap Clive tersenyum. Zanna mengangguk dan memeluk Clive. Dia merasa kini mereka menjadi suami istri sungguhan.
Clive membelai lembut rambut Zanna, suasana berubah menjadi romantis dan mengharukan. Namun hanya sesaat, telepon Zanna berdering. Tertera nama Clara di sana. Zanna segera mengangkatnya.
“Halo? Iya Clar?” jawab Zanna.
“Zan, kamu sibuk enggak? Aku mau ketemuan nih, atau kamu lagi sayang-sayang an sama kakak aku?” tanya Clara setengah menggoda. Semburat merah muncul di wajah Zanna, dia seketika langsung duduk di sofa, pergi dari pangkuan Clive.
Clive hanya tertawa kecil melihat Zanna tersenyum malu seperti itu.
“Halo? Kok diem aja sih?” ucap Clara.
“Iya, mau ketemuan dimana? Atau kamu mau main ke sini?” tanya Zanna. Clara di seberang sana menghela nafasnya, dia sedang gundah gulana dan bingung. Saat ini dia hanya bisa bertemu dengan Zanna.
“Di cafe Choco Friday ya, nanti siang jam satu.”
Setelah berjanjian, Zanna mematikan teleponnya, dia tersenyum sendiri melihat ponselnya. Clara seperti sedang galau karena lelaki.
***
Clive sedari tadi berkacak pinggang menamati istrinya yang berganti-ganti pakaian. Dia mengomentari setiap baju Zanna.
“Jangan, itu kelihatan pahanya.”
“Jangan itu punggungnya terbuka.”
“Ganti, itu kelihatan terlalu seksi.”
“Ganti bukan itu.”
Entah berapa ratus kali Zanna harus mengganti pakaiannya, dia merasa ribet dengan pilihan Clive. Ini itu tidak boleh. Beberapa gaun dressnya tidak diperbolehkan oleh Clive. Sampai semua bajunya terasa tidak ada yang cocok.
“Aduh Mas, aku gapunya baju lagi. Pakai apa ini?” ucap Zanna frustasi. Dia duduk di pinggir ranjang sembari memijat pelipisnya. Dia sangat pusing saat ini, pakaian apa yang akan dia kenakan untuk bertemu dengan Clara. Tidak biasanya Clive banyak mengimentari seperti ini.
Clive lalu menuju lemari pakaiannya, dia mengambil kaus lengan panjang dan celana jeans.
“Pakai ini saja.”
Zanna melongo seketika, kenapa harus pakaian biasa, padahal dia kan ingin bertemu dengan Clara di cafe.
“Kenapa pakai ini sih Mas?” Zanna memperhatikan kaus milik Clive yang pastinya akan kebesaran kalau Zanna pakai.
“Sudah pakai saja,” ucap Clive. Zanna memberengut dan terpaksa menuruti permintaan Clive. Dia tidak bisa membantah, kalau dia menolak Clive akan marah.
Belum lagi saat Zanna keluar, Clive menyuruhnya menggunakan jaket tebal padahal musim kemarau begini sangat panas. Zanna tertawa kecil melihat Clive yang mencemaskan dan peduli kepadanya, terlihat manis dimata Zanna.
“Aku pergi dulu ya Mas.” Zanna mencium tangan Clive. Entah apa yang merasuki Clive, dia menarik Zanna dan mengecup bibir Zanna dan berbisik, “Jangan melirik lelaki lain.”
Zanna tertawa mendengarnya dan mengangguk. Sikap Clive benar-benar protective. Zanna menjadi yakin jika Clive memiliki rasa cinta kepadanya.
“Jangan lupa kabari aku kalau sudah sampai ya. Kau mau aku antar juga?” tawar Clive. Zanna langsung menggeleng, cafenya tidak jauh dari apartemen, bahkan berjalan lima belas menit saja sudah sampai. Zanna terus menolak tawaran Clive, dia ingin berjalan, hitung-hitung olahraga dan menghirup udara meski panas, tetapi Zanna menyukai berjalan di pinggir trotoar diteman oleh rimbun dedaunan.
BRUK
Tanpa sengaja seorang lelaki menabraknya, Zanna terpaku saat menatap lelaki itu. Lelaki yang dia temui di gym dan namanya mirip dengan inisial yang memberinya surat berbentuk hati itu.
“Kamu? Kamu yang waktu itu ketemu di gym kan?” tanya Zanna. Angga tersenyum mengangguk, rupanya ingatan Zanna masih bagus.
“Iya, aku Angga. Kita ketemu lagi. Mau kemana?” tanya Angga. Dari penampilannya Angga nampak hendak pergi ke suatu tempat.
“Bagaimana bisa kamu di sini?” tanya Zanna.
“Rumahku di sana,” ucap Angga menunjuk bangunan menjulang tinggi yang merupakan apartemen yang juga Zanna tinggali.
Zanna mengerjapkan matanya, dia memperhatikan Angga dengan seksama. Dia menyukainya? Atau sekedar mengaguminya? Lalu kedekatan tempat tinggal mereka apakah hanya suatu kebetulan?