Perasaan Telah Hadir

1041 Kata
Cinta tidak akan menyenangkan bagi orang yang telah terluka tanpa bisa sembuh. Malam yang begitu sunyi, Clive dan Zanna sama-sama terdiam sibuk dengan pikiran masing-masing. Entah kenapa Zanna merasa terluka saat Clive mengatakan hal seperti itu. Bukannya seharusnya Clive telah melupakan masa lalunya saat memilih menikahi Zanna. Memikirkan hal itu membuat pikiran Zanna kacau, mereka tidur saling memunggungi, tidak ada yang berani mengeluarkan suara lagi. Zanna hanya bisa memendam rasa gelisahnya malam ini. Kalau pernikahan ini bagi Clive hanyalah pernikahan tanpa adanya rasa cinta, kenapa dia mengatakan mengizinkan Zanna untuk mencintainya? Kenapa bersikap begitu baik dan manis kepada Zanna, kenapa tidak bersikap dingin dan seolah tak saling mengenal saja? Zanna tak kuasa menahan rasa kesalnya, batinnya gelisah, dia tidak bisa berpikir dengan jernih. Seolah pikirannya penuh, sampai dia melelehkan air matanya lagi. Tangannya terpaksa bergerak untuk mengusap air matanya. Dia tau dia egois mengharapkan cinta dari Clive, namun semuanya dia inginkan karena dia meghargai sebuah pernikahan. Zanna menyadari bahwa pernikahan tanpa cinta hanyalah rumah tangga tanpa pondasi yang utuh. Gerakan tangan Zanna membuat Clive menyadari sejak tadi Zanna belum tidur. Dia membalikkan badannya dan menatap punggung Zanna yang bergetar, samar-samar dia bisa mendengar isakan tangis Zanna. Clive menjadi merasa bersalah membuat Zanna menangis, mungkin dia tidak seharusnya mengatakan hal itu kepada Zanna, remaja usia delapan belas tahun yang dia nikahi sudah merasa shock dengan pernikahan ini. Seharusnya Clive berbuat lebih baik dan membuatnya nyaman. Apalagi kalimatnya menjurus pada masa lalunya yang belum dia lupakan. Clive mengarungi kepala Zanna, mengusapnya pelan dan mengecupnya. Zanna terkejut dan langsung mengusap air matanya. Tangan Clive memeluk pinggang Zanna, lagi-lagi dia mengecup pipi Zanna yang membuat gadis itu merona. “Maaf.” Satu kata itu membuat hati Zanna seketika menjadi lebih tenang, rasa gelisahnya menjadi sirna. Zanna membalikkan badannya, menatap mata Clive. Kalau dekat begini terus-terusan, Clive mungkin tidak sanggup jika tidak menyentuh Zanna. Dia juga laki-laki, namun dia berusaha sekeras mungkin tidak menyentuh Zanna sampai hatinya benar-benar telah mencintai Zanna. Dia tidak tau kapan pastinya, namun dia harus tetap menjaga jarak dengan Zanna. “Maaf kenapa Mas?” tanya Zanna. Clive bisa melihat dengan jelas bulu mata Zanna yang basah, tentu saja pasti karena habis menangis. “Entah, maaf untuk semuanya. Maaf karena menjeratmu dalam pernikahan ini atau maaf karena membuat kamu menangis.” Zanna tersenyum dan menggeleng, dia menatap Clive dengan sungguh-sungguh. “Sebenarnya, aku terluka karena pikiran aku sendiri. Aku sangat sadar siapa aku Mas, maaf kalau aku lancang,” ucap Zanna. Clive menghentikan obrolan yang tidak akan ujungnya ini, dia mengalihkan pembicaraan dan mengajak Zanna tidur. Besok istrinya harus ujian, dia setidaknya harus bisa membantu Zanna untuk bisa mengerjakan dengan yang terbaik. Baby I’m not like the rest Don't wanna break your heart Wanna give your heart a break I know you're scared it's wrong Like you might make a mistake There's just one life to live And there's no time to wait, to wait Andai saja Clive lebih mempercayai Zanna untuk mencintainya, maka Zanna tidak akan pernah ragu. Dia akan sepenuh hatinya mencintai Clive. Sayangnya Clive bersikap seperti ini, Zanna hanya takut jika Clive akan meninggalkannya suatu saat nanti. Zanna hanya bisa memejamkan matanya saat ini. Menikmati detik demi detik sikap Clive yang ramah dan hangat untuknya. Zanna menyukai setiap cara Clive menghiburnya, hidup berdua dengan Clive membuatnya seperti menaiki roller coaster. *** Clive terbangun terlambat, sama halnya dengan Zanna, sampai di mobil Clive lupa tak mengenakan dasi dengan benar. Zanna inisiatif menarik dasi Clive pelan dan membenarkannya, hal itu membuat jantung Clive tiba-tiba berdebar, dia terkejut dengan perlakuan Zanna. Sungguh dia tidak menyangka Zanna akan melakukan hal ini kepadanya. Dia tersenyum kecil sembari menunduk, wajahnya bersemu merah. “Mas kenapa?” tanya Zanna menatap Clive dengan bingung.  Clive sungguh tidak menyangka jika Zanna akan berbuat semanis ini. Dia hanya tersenyum senang lalu memulai perjalanan pagi ini. Sekolah Zanna dengan kantornya tidak seberapa jauh, jadi mulai detik ini akan terus mengantar dan menjemput istrinya. Saat Zanna ada di sekolah, beberapa murid memperhatikannya dengan tatapan aneh, tetapi saat dia menemukan sosok Clara sahabatnya, dia langsung menghampiri Clara dan memeluknya. "Hai Clara! Gimana? Kamu udah siap buat ujian lari hari ini? " Clara tidak menjawab dan terdiam, sahabatnya itu seolah sedang marah dengannya. Zanna tidak tahu apa yang terjadi kenapa Clara bersikap seperti ini. "Kamu kenapa diam saja Clara? Apa kamu sedang marah denganku?" Clara hanya terdiam menunduk, tidak menjawab apapun dan membungkam. Sebenarnya ada satu hal yang mengganjal dalam hati Clara sesuatu yang menurutnya tidak pernah dia tahu sejak dulu. "Clara, Kalau kamu marah denganku bilang dong jangan diam kayak gini aku kan enggak tahu kamu kenapa marah sama aku? " Clara akhirnya memberanikan diri menatap sana dia tidak menyangka jika gadis yang di hadapannya ini yang dulunya berstatus sahabatnya kini menjadi kakak iparnya. "Aku ingin kamu jujur sama aku, Kenapa kamu tiba-tiba menikah dengan Kak Clive? Kenapa kamu tidak mengatakan kepadaku apapun dan menjelaskan sesuatu?" Zanna juga tidak tahu harus menjawab apa, namun dia tahu bagaimana perasaan Clara, pada akhirnya Zanna mencoba mencari alasan yang tepat untuk bisa membuat Clara memahami situasi yang terjadi walau sebenarnya mungkin ini tidak masuk akal. "Kenyataannya memang aku mencintai kakakmu, " ucap Zanna terang-terangan. Clara tidak percaya dengan ucapan sana dia menghentakkan kakinya dan masuk ke dalam kelas. "Clara, Apa kamu membenci aku karena aku menjadi Kakak iparmu? Kenapa kamu begini kepadaku?" Clara menarik nafasnya, dia menarik kursi dan duduk tepat di sebelah Zanna. "Bukan berarti aku membencimu menjadi kakak iparku, tetapi aku tidak suka jika ada hal yang kamu sembunyikan. Dan juga kenapa kemarin tante kamu tidak datang di acara pernikahan kamu? Apa kamu sedang hamil mengandung anak kak Clive?" Zanna terkejut dengan pertanyaan Clara hamil? Tentu saja tidak bahkan ini adalah hari pertama dia sedang menstruasi."Tentu saja tidak, aku nggak hamil!" Mendengar ucapan Zanna yang serius, Clara mencoba mempercayainya. "Lalu kenapa kamu menikah dengan kakakku? Jujur saja aku memang senang sekali kamu menjadi kakak iparku tapi aku tidak suka kalau kakakku bermain-main denganmu, Kamu itu sahabatku, kamu adalah orang yang aku sayangi, jadi setidaknya ceritakanlah kepadaku Jika ada masalah." Zanna kembali meyakinkan kepada Clara Jika dia dengan Clive memang saling mencintai walaupun sebenarnya Clara belum mempercayainya, suatu saat Zanna berjanji akan bercerita kepada Clara dia akan mengatakan apa yang terjadi sesungguhnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN