Lelaki Misterius

1042 Kata
Clive seketika lidahnya menjadi kelu atas pertanyaan Zanna, entah dia harus menjawab apa. Dia juga tidak tau apakah bisa mencintai Zanna suatu saat nanti. Hatinya terasa hampa meski kehadiran Zanna mulai menyembuhkan lukanya atas cinta pertamanya. Clive tidak pernah dewasa atas cinta, dia tidak mudah melupakan, namun berusaha keras tidak mengingat gadis yang dulu dia cintai. Jane, nama gadis itu, masih teriang di pikiran Clive. Dia rasa saat ini hanya membutuhkan menghibur Zanna, dia tersenyum mengusap kepala Zanna dengan lembut. “Tentu saja, aku kan suamimu, tentu boleh kamu mencintai aku.” Clive tersenyum. Zanna meraup wajah Clive dan mengecup bibirnya langsung. Clive seketika terkejut dengan Zanna, dia menjadi gugup dan wajahnya memerah. Tidak menyangka jika Zanna berani menciumnya duluan. Entah karena hasrat, nafsu atau hanya sekedar tertarik, Clive mencium kembali Zanna penuh dengan perasaan manis. Zanna tersenyum menatap Clive dia melelehkan air matanya kembali, setidaknya ada orang yang akan melindunginya mulai saat ini. “Zanna, kamu bukannya harus ujian?” tanya Clive. Zanna mengangguk, dia mengambil buku-bukunya. “Iya Mas, ini aku mau belajar. Besok ada ujian pratik olahraga.” Zanna lalu mengambil baju olahraganya, dia hendak ke lantai atas untuk ke tempat gym di apartemen ini. Setelah pamit dengan Clive, Zanna langsung naik ke atas. Clive tidak menemaninya karena dia harus menyiapkan presentasi untuk besok. Satu-satunya alat gym yang menarik bagi Zanna hanya ada treadmill, bukan karena dia menyukainya, tetapi karena ujian besok adalah berlari. *** Peluh dan keringat membasahi sekujur tubuh Zanna, dia mengelapnya dengan handuk kecil yang dia bawa. Baru saja dia mematikan treadmil, dia tanpa sengaja bertatapan dengan seorang lelaki yang nampak familiar baginya, namun Zanna lupa dia siapa. Zanna harinya tersenyum ringan saat melewatinya. “Zanna Kirania,” ucapnya pelan. Lebih tepatnya seperti menggumam. Zanna langsung berbalik dan menghadap lelaki tampan di hadapannya. Terlihat lelaki itu seusianya, tingginya sekitar seratus delapan puluh centimeter, matanya kecoklatan, alisnya tebal, hidungnya mancung dan bulu matanya lentik. “Iya?” jawab Zanna. Dia memiringkan kepalanya sembari menaikkan alisnya, bertanya-tanya siapa lelaki di hadapannya yang mengetahui namanya. “Benar Zanna?” ucapnya lagi. “Iya, benar. Kamu tau aku darimana?” tanya Zanna. Lelaki itu seketika tersenyum lebar menatap Zanna, tatapannya misterius namun tidak tajam, begitu hangat, seolah telah mengenal Zanna sejak lama. “Kita ketemu lagi.” Lelaki itu hany mengucapkan sepatah kata, dia tersenyum lalu berjalan keluar dari tempat gym. Zanna hendak mengejarnya, namun botol minumnya tersandung, membuat waktunya terulur untuk mengejar lelaki yang dia tidak tau namanya itu. Ketika hendak mengejar kembali, lelaki itu telah menghilang entah kemana. Zanna hendak mengambil handphonenya, dia membuka tas kecilnya dan melihat lagi kertas lipat berbentuk hati, dia terkejut saat melihatnya. Dia menoleh ke segala arah, hanya ada perempuan di sini, kecuali lelaki yang tadi tak sengaja melewatinya. Lelaki yang dia anggap familiar. Zanna membuka kertas lipat itu, sama persis seperti beberapa tahun yang lalu, yang dia dapatkan saat usianya masih di bangku SMP. ‘Waktu tidak bisa memberi jawaban atas pernyataan cintaku, tetapi waktu membuktikan sebesar apa perasaanku dengan rindu.’ A.P.W Surat itu lagi, tulisan yang sama akan cinta. Entah kenapa kata-kata yang manis seperti itu membuat Zanna tersenyum sendiri. Dia tidak menyangka jika akan mendapatkan lagi surat itu. Zanna lalu memikirkan lelaki tadi, apa mungkin dia yang memberinya? Zanna berjalan cepat keluar tempat gym, mencari-cari sosok lelaki itu, namun dia tak kunjung menemukannya. Zanna memilih untuk merenung terdiam sejenak duduk di bangku kosong sembari terus memperhatikan surat yang dia pegang. Lipatan kertas itu sangat rapi, ditekuk dengan hati-hati dan penuh perasaan. Namun jika memang lelaki tadi mencintai Zanna sejak dulu, kenapa dia tidak berani mengungkapkan perasaannya? Kenapa dia hanya diam saja tidak mendekati Zanna. Misterius, hingga membuat Zanna tidak menyadari jika Clive telah duduk di sampingnya. “Origami? Kamu suka membuat origami?” tanya Clive. Zanna tersentak ketika mendengar suara Clive, dia langsung meletakkan di tasnya. “Eh? Sejak kapan Mas ada di sini?” “Aku hanya bosan, lama sekali kamu olahraga, kenapa tidak langsung kembali dan malah duduk di sini? Kamu melamun sembari melipat kertas?” tanya Clive. Zanna bingung menjelaskan situasi ini, dia hanya mengangguk dan tersenyum. Clive lalu menggenggam tangan Zanna dan mengajaknya kembali pulang. Dalam genggaman Clive, Zanna merasakan kehangatan dan rasa aman di dekatnya. Lelaki tadi yang menghantui pikirannya, membuat dia menjadi ragu untuk melangkah menuju Clive. Kalau benar memang lelaki tadi yang memberikan dia surat cinta berbentuk hati saat dia ulang tahun saat itu, berarti lelaki itulah cinta pertama Zanna. Orang yang Zanna juga cintai di masa lalu. Satu-satunya surat pernyataan cinta yang pernah Zanna temui. Dia gadis yang pendiam, tidak banyak bicara atau bahkan tidak memiliki banyak teman. Zanna selalu lebih menyukai kesendiriannya, baginya hanya buku dan musik adalah temannya selain Clara. Surat cinta yang dia dapatkan beberapa tahun lalu dia ambil dari dompet, dia kembali membacanya. Orang yang sama, dia yakin akan hal itu. Sayangnya dia belum menunjukkan petunjuk apapun mengenai A.P.W. Nama itu seolah menjadi misterius dan tanda tanya bagi Zanna. Dia benar-benar bingung siapa sebenarnya lelaki itu. Bahkan bentuk tulisannya juga sama, tidak hanya Zanna dapatkan saat ulang tahun, tetapi juga buku-buku yang sering dia baca di perpustakaan. Setidaknya sudah ada enam surat berbentuk hati yang dia dapat. Semuanya kini terkumpul. Zanna membacanya satu persatu, membuat dia tersenyum sendiri di kamar. Kata-kata romantis misterius itu membuat dia benar-benar jatuh hati. “Zanna?” panggil Clive. Zanna segera meletakkan kembali ke dompetnya. Dia keluar kamar duduk di hadapan Clive di ruang makan. Clive nampak sangat perhatian dengannya karena telah menyiapkan makanan untuk Zanna. “Mas, kalau aku boleh tau ... bagaimana perasaanmu denganku? Apakah kamu ....,” ucap Zanna terpotong karena Clive langsung menjawabnya. “Tolong jangan tanya soal perasaan, aku masih menata hati. Aku beri satu clue, tidak mudah mencintai bagi orang yang pernah terluka hebat.” Zanna seketika bungkam, dia tidak lagi bertanya kepada Clive. Satu hal yang pasti, Clive belum pernah damai dengan masa lalunya. Dia mungkin masih ada rasa dengan gadis lain hingga sulit membuka hatinya kepada Zanna. Meski begitu, Zanna tidak akan pernah ragu melangkah menuju Clive. Dalam hatinya dia berharap, andai saja jika Clive dengan lelaki yang mencintainya dengan memberi surat berbentuk hati itu adalah orang yang sama, maka dia akan sungguh bahagia. Sayangnya, harapan Zanna kali ini bukanlah sesuatu yang bisa diwujudkan.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN