Clive membawa bungkusan makanan ke mobil, dia menyerngitkan dahinya saat Zanna bersembunyi di bawah dashboard. Terlihat Zanna yang bergetar ketakutan sampai sembunyi di bawah sana. Clive lalu masuk ke dalam mobil, dia masih memperhatikan Zanna. Dia merasa ada yang tidak beres dengan Zanna, pasti ada sesuatu yang dia takuti, ada sesuatu yang mengusik Zanna sampai dia ketakutan begitu.
“Zanna? Kamu kenapa di situ?” tanya Clive. Zanna mendongak dan kembali duduk di bangku mobil. Dia menengok ke kanan kiri, waspada jika ada tantenya. Setelah merasa aman, dia baru menatap Clive.
“Enggak papa Mas,” ucap Zanna tersenyum. Clive menghela nafasnya lalu menjalankan mobilnya. Hal yang dia tidak sukai dari Zanna adalah sikapnya yang tertutup jika ada masalah. Gadis itu akan murung tanpa menjelaskan apapun pada Clive.
“Kamu sendiri kan yang bilang kalau kita ini suami istri? Kenapa kamu malah bersikap seperti ini?” ucap Clive. Zanna langsung tertegun dengan ucapannya, dia menatap Clive yang sibuk menyetir.
“Itu ... tadi ada tante aku di restoran itu ...,” ucap Zanna.
Belum selesai gadis itu menyelesaikan kalimatnya, Clive langsung memutar balik mobilnya. Seketika auranya menjadi berubah. Seolah api membara mengelilingi Clive. Dia menghentikan mobilnya tepat di depan restorannya, dia lalu turun dan membuka pintu mobil untuk Zanna.
“Keluar,” ucap Clive dengan tatapan serius. Zanna jadi takut melihatnya. Ketika pintu mobil telah tertutup, tangan Clive terulur untuk menggenggam tangan Zanna dengan erat. Dia mengajaknya masuk ke dalam restoran. Zanna masih menunduk, dia benar-benar enggan menemui tantenya, dia menarik tangannya namun makin digenggam erat oleh Clive.
“Mas ... aku ...,” ucap Zanna menggantung.
“Dimana tante kamu?” tanya Clive langsung. Zanna menunjuk dua orang perempuan yang sedang sarapan di restoran bagian outdoornya. Clive langsung berjalan menuju mereka namun Zanna menarik tangannya lebih kuat.
“Mas, aku takut. Tolong jangan temui mereka. Kita pulang saja ya Mas?” ucap Zanna dengan tatapan memohon. Sungguh dia tidak mau saat ini harus menatap wajah orang yang telah membuangnya.
“Tenang Zanna, ada aku.”
Zanna hanya bisa menurut kalau sudah begini. Clive memeluknya dan menggandeng tangannya, dia mengajaknya menemui tantenya. Saat tantenya melihatnya, tantenya terkejut, belum lagi Zanna datang dengan seorang pria yang jelas terkenal dalam dunia bisnis.
“Clive Alvaro?” ucap tantenya berbinar menatap Clive. Siapa yang tidak mengenal Clive di dunia ini? CEO muda tampan yang terkenal.
“Selamat pagi ibu Zita Kinansih.” Clive menyapa dengan senyuman misteriusnya. Tentu saja Clive mengenal Zita Kinansih, sebelum menikahi Zanna, Clive menyuruh Gavin mencari tau siapa tante Zanna.
“Pagi, ternyata anda mengenal saya? Silahkan duduk.”
Tante Zita dengan anaknya—Citra memandang wajah Zanna, bagaimana bisa Zanna bersama Clive dan mereka berpegang tangan erat. Mereka tidak tau apa hubungan mereka, namun melihat tangan Clive yang menggenggam erat Zanna membuat mereka sedikit curiga.
“Saya orang yang tidak suka basa-basi. Pertama, saya mau menegaskan mulai kemarin Zanna Kirania adalah milik saya. Siapapun yang menyentuh Zanna akan berurusan dengan saya. Kedua, apa yang bukan milik anda akan kembali ke tangan pemiliknya.” Clive mengucapkan sembari menyeringai, wajahnya nampak seram. Sisi lain yang belum pernah Zanna lihat. Clive berdiri lalu mengajak Zanna pergi.
“Oh jadi Zanna milik anda? Maksud anda ... simpanan anda? Saya tidak menyangka anak itu menjadi w***********g saat masih muda. Zanna tidak ada hubungannya dengan saya, saya juga bukan siapa-siapanya.”
Zanna sangat kesal mendengar hal itu, dia melepaskan tangannya dari Clive mengambil air yang ada di meja dan menyiramkan ke wajah tantenya.
“Ibu Zita Kinansih! Anda jangan berbicara asal, saya istri sah Clive Alvaro. Jangan berbicara lancang atau saya laporkan anda ke polisi.”
Seketika tantenya bungkam hampir tidak percaya, istri sah? Sejak kapan Zanna menikah dengan Clive. Berita tentang pernikahan Clive itu ternyata benar. Namun tidak ada yang tau siapa mempelai wanitanya. Zanna menatap tajam tantenya, sungguh dia sangat emosi saat ini. Citra tidak tinggal diam, dia menampar Zanna namun untungnya Clive lebih cepat menangkap tangan Citra.
“Kalian jangan main-main dengan istri saya.”
Clive tidak suka dengan keributan, namun tante Zita sudah berbuat di luar batas. Clive bisa saja menghancurkan perusahaan mereka dengan mudah atau melaporkan ke polisi. Namun bukan itu rencana Clive. Dia hendak membuat mereka menderita perlahan, setiap detiknya seperti apa yang mereka perbuat dengan Zanna. Clive bukan lelaki yang menyerah dengan keadaan, dia akan melakukan apa yang orang jahat lakukan. Semua akan dia balas, tinggal menunggu bom waktu yang dia berikan.
Zanna menghela nafas saat sudah ada di dalam mobil, dia tidak kuasa menahan air matanya yang meleleh. Usia yang cukup jauh dengan Clive membuat dia harus bisa menahan diri. Clive lelaki yang baik, namun di mata orang lain, dia hanya gadis muda yang tidak memiliki apapun namun menikah dengan seorang CEO tampan dan kaya raya. Dia yakin ada miliyaran gadis di luar sana yang iri dengannya. Termasuk tantenya, pasti menganggapnya hanyalah gadis yang membutuhkan uang Clive. Walau sebenarnya kenyataan itu memang agak benar. Tangan Clive terulur mengusap bahu Zanna, dia menariknya pelan dan memeluknya erat. Sesekali mengecup kening Zanna.
“Kamu wanita yang baik, aku yang mengusulkan pernikahan ini, jadi jangan merasa kamu menjadi perempuan yang tidak benar.”
Zanna menangis semakin menjadi, Clive hanya bisa memeluknya dengan erat. Beberapa menit setelah tangisan Zanna mereda, dia mulai kembali menyetir mobilnya menuju apartemen. Mata Zanna membengkak, gadis itu juga enggan makan. Dia memilih merenung di kamarnya sendiri. Berulang kali Clive mencoba mengintip Zanna, namun gadis itu masih tetap dalam posisi sama, meringkuk memeluk guling. Dia merasakan sakit yang tak tertahankan. Hatinya menjerit seolah ingin menemui ayah dan ibunya. Zanna tak sanggup melakukan ini sendiri. Clive tidak tahan yang melihat Zanna yang sedari tadi menangis. Dia naik ke atas ranjang, mengusap pundak Zanna dan memeluknya dari belakang. Zanna memutar badannya, kini tidak ada lagi sekat diantara mereka. Dia mengusap wajah Clive, pandangannya buram, lelehan air matanya diusap halus oleh Clive.
“Zanna, aku menikahimu karena ingin membuatmu bahagia, aku benci melihatmu menangis. Jangan menangis lagi. Aku tidak suka melihat air matamu terus keluar.”
Zanna memeluk Clive erat, menyandarkan kepalanya pada d**a bidang Clive. Andai saja jika semua ini hanyalah mimpi, dia berharap ini adalah mimpi yang berakhir dengan indah. Clive membuat hidupnya seketika berubah. Dia menjadi memiliki kenyamanan dalam diri Clive.
“Bolehkah aku mencintaimu Mas?”