Tetap Bersamamu

1023 Kata
Zanna menatap ponsel barunya sembari tidur di kasur, dia memandangi setiap inchi benda kotak yang dia pegang. Pikirannya masih melayang mengenai pernikahan yang Clive ucapkan. Dua tahun, waktu yang sangat singkat, membuat Zanna berpikir pasti dia akan menyandang status janda saat kuliah nanti. Lelehan air mata tiba-tiba keluar dari pipi Zanna, entah kenapa ada rasa luka dalam hatinya. Dia tidak menyangka jika Clive akan mengucapkannya dengan sangat mudah. Kenapa Clive sangat tega mengatakan hal itu kepadanya. Gadis manis itu memejamkan matanya sejenak, menghirup oksigen, menghela nafasnya mencoba menguatkan diri. Tidak, dia tidak akan lemah hanya dengan ucapan Clive. Sebenarnya dia juga tidak berniat untuk hidup selamanya dengan Clive. Namun entah kenapa perasaannya terluka. Notifikasi di handphonenya membuat Zanna membuka matanya, dia menatap layar ponselnya, nama Clive di sana. Suaminya mengucapkan selamat malam kepada Zanna. Lengkungan manis tercetak jelas di wajah Zanna hingga membuat lesung pipinya tercetak jelas. Dia terbangun, berjalan menuju kamar Clive, kakinya menuntunnya ke sana. Ragu-ragu, dia mengetuk kamar Clive sangat pelan. “Mas?” panggil Zanna. Clive membuka pintunya dan menaikkan alis, dia menatap Zanna dengan lekat. Melihat ada bekas sudut matanya yang memerah. Clive seketika mengerjapkan matanya kenapa Zanna menangis. “Iya? Ada apa Zanna?” tanya Clive. Dia mengajak Zanna untuk masuk ke kamarnya, keduanya duduk di sofa, saling bersebelahan dan berhadapan. Zanna menggulung ujung bajunya yang tak bersalah. Dia gugup, tangan sibuk memilih, rasanya ragu menanyakan hal yang daritadi menganggunya. Namun jika dia tidak bertanya, rasanya kepalanya akan meledak. “Aku ... mau tanya sesuatu,” ucap Zanna melemah. Clive mengerjapkan matanya, dia memiringkan kepalanya, kenapa Zanna nampak gugup dan gelisah. “Iya? Tanya apa?” jawab Clive menatap Zanna. Gadis di hadapannya yang telah menyandang status istrinya seolah menyiratkan wajah sendu, apa penyebabnya Clive masih bertanya-tanya, dia gagal menerka apa yang ada di dalam pikiran Zanna. “Kenapa Mas Clive ingin pernikahan ini hanya dua tahun?” Kalimat itu meluncur begitu saja dari bibir Zanna, lancar tanpa ada hambatan. Ada rasa lega menyelimuti hati Zanna, kini dia menunduk malu. “Oh, soal itu ... ya karena aku rasa dua tahun cukup, lagipula aku juga enggak mau kamu tersiksa dengan pernikahan ini. Aku juga enggak mau kamu tertekan dengan hubungan ini,” ucap Clive. Zanna meragu dengan ucapan Clive. Dia tidak tau apa terbebani atau tidak, rasanya dia ragu untuk melangkah maju, dia sendiri tidak yakin akan perasaanya. Tetapi Zanna tidak mau mempermainkan sebuah pernikahan, kalau dia memang sudah memutuskan menikah dengan Clive, dia akan menerima semua kekurangan dan kelebihan Clive walau masih belum sampai ke tahap mencintai. “Mas, bukannya aku merasa terbebani. Aku hanya memikirkan satu hal, pernikahan kan bukan main-main, sebenarnya aku juga sudah memantapkan hati, kalau tidak bisa mencintai, setidaknya menerimamu dengan baik. Entah kenapa kalimat hanya menikah dua tahun itu membuat aku malah merasa tertekan, kenapa kita tidak menjalaninya saja daripada menyerah langsung menetapkan perpisahan?” Kalimat Zanna membuat Clive tertegun, Zanna memang masih muda, tetapi ternyata dia memiliki pikiran yang jauh lebih dewasa daripadanya. Dia tidak menyangka jika perasaan Zanna seperti itu. "Jadi, kamu enggak keberatan dan mau menjalani hubungan suami istri betulan?" tanya Clive dan Zanna langsung mengangguk. Clive tersenyum menatap Zanna. "Yasudah, kamu tidur di sini saja." Clive menarik pelan tangan Zanna dan mengajaknya tidur satu ranjang, jantung Zanna berdebar kencang. Dia tidur di pinggir sisi kanan. Clive tertawa keras melihat Zanna yang duduk menjauh, seolah takut jika dia menerkam Zanna langsung. Tangan Clive terulur mengusap kepala Zanna. Dia mendekatkan diri kepada Zanna, dia mengecup kening Zanna. “Aku bukan laki-laki yang romantis, tetapi aku akan berusaha melindungi kamu.” Zanna tersenyum mendengarnya, tangannya memegang erat tangan Clive, dia harap semuanya akan berjalan seperti ini selamanya. *** Zanna mengerjapkan matanya saat mencium aroma kopi, dia terbangun tangannya meraba-raba ke samping, tak sengaja tersentuh tangan Clive. Dia membuka matanya, Clive nampak tampan di sampingnya tersenyum sembari meminum kopi hangat, dia membaca buku di pagi hari. Zanna duduk di sampingnya, menatap Clive dengan lekat, menyusuri setiap lekuk wajahnya, Clive nampak seperti lelaki yang sempurna. Tampan dan kaya raya, paket lengkap yang dimiliki Clive. Belum lagi sifatnya yang ramah dan perhatian. Semua itu dengan mudahnya bisa saja membuat Zanna jatuh hati lebih cepat dari yang diprediksikan. “Mau kopi?” tawar Clive. Zanna menggeleng, dia menatap jam di nakas. Untung saja hari ini masih Minggu, dia masih tidak menyangka ini semua terjadi dengan cepat. Pernikahannya, dan besok dia harus sudah kembali untuk sekolah. “Enggak Mas, aku buatin sarapan dulu ya.” Zanna lalu menuju dapur, mencari bahan makanan di kulkas, namun sejak tadi dia tidak menemukan apapun di sini. Kosong melopong, seolah apartemen ini memang baru dihuni. Bahkan masih bersih berkilau, hanya ada air mineral di dalamnya. Zanna lalu berpamitan untuk ke supermarket, namun Clive mencegahnya. “Beli makanan jadi saja ya? Aku lagi malas memasak, lagi pula kamu lihat sendiri, dapurnya enggak ada kompornya.” Zanna melirik ke arah dapur, benar juga kata Clive, bahkan kompor saja tidak ada. Zanna mengangguk setuju lalu dia ke kamar mandi. “Mau mandi bareng?” goda Clive mengucapkan tepat di telinga Zanna yang membuat istrinya merinding. “Hih!” ucap Zanna langsung berlari masuk ke dalam kamar mandi. Clive tertawa keras mendengar ucapan Zanna. Entah kenapa menggoda Zanna membuat dia tersenyum sendiri. Mereka memutuskan keluar untuk membeli bubur. Ketika memasuki restoran, langkah kaki Zanna terhenti, dia terpaku sejenak karena melihat tantenya yang ada di seberang jalan. “Mas, aku nunggu di mobil saja enggak papa?” tanya Zanna. Clive bisa melihat wajah Zanna yang seketika pucat. Dia terkejut melihatnya, matanya mengikuti ekor mata Zanna dan melihat ada seorang ibu-ibu dan anak perempuannya yang duduk di taman restoran. Clive tidak tau apa yang membuat Zanna ketakutan, dia lalu mengantarkan Zanna ke dalam mobil. “Yasudah, kamu tunggu di sini ya, biar aku yang beli buburnya.” Zanna mengangguk, dia merapatkan jaketnya dan sedikit menunduk, dia tidak mau sampai tantenya tau dia ada di sini. Zanna benar-benar ingin memutuskan hubungan dia dengan keluarganya, dia sungguh tidak ingin memiliki tante sepertinya yang jahat dan tidak berperasaan. Zanna ingat bagaimana dia dibuang dan ditelantarkan begitu saja, seolah nyawanya tidak pernah berharga. Bahkan sepeser uang pun tidak diberi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN