Just 2 Years

1025 Kata
Zanna terperangah takjub saat melihat apartemen Clive, sangat mewah dan menakjubkan. Dia tersenyum senang melihatnya. “Ini kamar kamu, di sana kamar aku.” Clive menunjuk kamar yang terlihat di dalamnya penuh dengan nuansa ungu. Sedangkan di seberang kamar itu ada kamar dengan serba abu-abu, kamar Clive. “Loh? Kita pisah kamar Mas?” tanya Zanna bingung. Bukannya suami istri harus satu kamar? “Kamu memangnya mau satu kamar sama aku? Kalau aku khilaf, kamu enggak masalah?” tanya Clive. Zanna masih tidak mengerti maksud ucapan Clive, dia masih memikirkan maksudnya. Satu detik ... mereka masih terdiam saling memandang. Dua detik ... Zanna masih mengerjapkan matanya mencerna kalimat Clive. Tiga detik ... Zana membulatkan matanya, menyadari maksud Clive adalah berhubungan intim. Zanna langsung menggeleng dan menggeret kopernya untuk masuk. Wajahnya bersemu merah, dia sungguh tidak menyangka kalau Clive berpikiran sampai sana. Zanna merutuki kebodohannya karena dia tidak memikirkan hal itu. Bagaimanapun juga Clive lelaki dewasa, bisa saja hasrat seksualnya melonjak tak terkendali. Zanna langsung menutup pintu kamarnya. Dia mengusap wajahnya kasar, mencubit lengannya berharap ini hanyalah mimpi buruk. Menikahi Clive seolah hanya mimpi baginya. Tetapi sayangnya lengannya terasa sakit setelah dicubit, semua ini nyata apa adanya. Dia telah menikah muda dengan CEO tampan, Clive Alvaro. Meski begitu rasanya dia menjadi hampa, entah kenapa rasanya campur aduk, terkadang di sisi lain dia bahagia, namun ada juga perasaan aneh menghampirinya, seolah dia belum siap menikah. Saat ini yang perlu Zanna fikirkan hanyalah ujian nasional yang akan digelar dua minggu lagi. Dia mencuci wajahnya, lalu duduk di kasur. Memulai membaca materi, dengan seksama dia mempelajari satu persatu materi di hadapannya. Hingga akhirnya dia terusik dengan suara ketukan pintu, sosok laki-laki yang baru saja sah menjadi suaminya nampak terlihat separuh badannya mengintip Zanna. “Mau makan malam?” tanya Clive. Zanna menggeleng, dia merasa belum lapar. Dia sedang ingin berniat belajar saat ini. “Kalau begitu temani aku aja Zan,” ucap Clive melambaikan tangannya mengajak Zanna mendekat. Terpaksa Zanna menutup bukunya dan ikut dengan Clive. Dia membawa ponselnya. Clive sempat melirik ponsel yang digunakan oleh Zanna, sudah sangat jadul. Tetapi gadis itu tidak pernah ingin menggantinya. “Bisa minta nomor w******p kamu?” tanya Clive sembari mengulurkan handphonenya. “Maaf Mas, aku cuma punya nomor telepon biasa, cuma pakai sms dan telepon.” Clive tertawa keras mendengaranya, ini padahal sudah jaman canggih, dan Zanna hanya menggunakan handphone samsung champ model lama. Melihat keluguan Zanna membuat Clive tertawa sendiri. “Oke, nanti kalau gitu setelah makan aku ajak kamu beli handphone baru.” Zanna mengerjapkan matanya karena terperangah dengan Clive. “Eh? Enggak usah Mas, aku pakai ini saja, lebih suka telepon dan sms aja aku.” Clive tidak menjawab lagi, namun dia membukakan pintu mobil untuk Zanna. Mereka memasuki restoran mewah, membuat Zanna terperangah menatap restoran khas itali ini. “Mau apa?” tanya Clive memberikan buku menu. Zanna membaca satu persatu menu yang tersedia, dia terpaku pada satu menu, lagsana. Kesukaan ayahnya, dia tiba-tiba berkaca-kaca mataya, dia mengingat makanan itu membuat dia memikirkan ayah dan ibunya. Bagaimana jika mereka tau kalau Zanna sudah menikah di usia delapan belas tahun ini dengan kakak temannya sendiri? Apalagi usianya jauh diatas Zanna. “Zan? Mau makan apa?” tanya Clive lagi. Zana mengerjapkan matanya, menari nafas panjang. Dia memesan lagsana. Clive bisa melihat raut wajah Zanna yang tiba-tiba berubah menjadi sedih, dia hanya berdehem lalu mengalihkan topik pembicaraan. Sesuai janji Clive, dia mengajak Zanna ke toko handphone meski gadis itu menolak belasan kali. “Zan, kamu istri aku, jadi setidaknya kamu harus kelihatan kekinian. Aku menyukai kepribadian kamu yang sederhana dan apa adanya, tetapi yah setidaknya dengan memiliki hp baru aku jadi mudah menghubungi kamu.” Zanna akhirnya memutuskan menurut kepada Clive, sebenarnya dia merasa sungkan karena Clive terlalu banyak membantunya. Saat Zanna hendak membayarnya dengan uang sisa tabungan yang dia miliki, Clive menolaknya. “Mas, saya cari Iphone 12 Pro Max ada?” tanya Clive. Zanna langsung membulatkan matanya ketika Clive menyebutkan merk handphone termahal itu. Sungguh Zanna tidak menyangka jika Clive memang kaya raya, tetapi bagi Zanna ini semua berlebihan, apalagi dia masih pelajar, tidak terlalu membutuhkan hanphone masa kini. “Ini ada,” jawab penjual ponsel sembari memberikan kotak handphonenya. Clive membukanya dan memperhatikan isinya, setelah mengecek semuanya dalam kondisi baik, dia segera menyerahkan kartu atmnya dan membayarnya. Melihat dompet Clive yang banyak kartunya membuat Zanna kembali terpukau, belum kartu kredit yang Clive berikan kepadanya, sepertinya Zanna berencana untuk tidak menggunakannya sama sekali. Dia merasa tidak enak hidup seperti ini dengan Clive. Zanna mengingat selalu, pernikahan ini hanyalah simbiosis mutualisme. Clive memberikan handphone itu kepada Zanna. Gadis itu terlihat senyum namun lebih merasa sungkan kepada Clive. “Mas, aku sebenernya enggak terlalu butuh ini, hp ini terlalu mahal.” Clive membantu Zanna memasangkan sabuk pengaman, membuat mereka sangat dekat, Zanna sampai menahan nafasnya. Clive hanya tersenyum, dia mengacak-acak rambut Zanna. “Enggak papa, pakai saja. Hp kamu sama kok dengan hanphone saya, hanya beda casing.” Zanna melihat handphone dalam genggamannya, memang sama dengan milik Clive, seketika senyum mengembang dari wajahnya, dia merasa menjadi wanita paling beruntung di dunia karena memiliki Clive di hidupnya. Dia berharap, pernikahan ini bisa berlangsung lama. “Selama dua tahun ini aku harus baik sama kamu, karena kamu sudah berjasa menyelamatkan citraku,” ucap Clive tersenyum. “Dua tahun ini? Maksudnya Mas?” tanya Zanna tidak memahami maksud Clive. Kenapa Clive menyebutkan dua tahun. “Ya kan pernikahan ini hanya dua tahun Zan, setelah itu akan melepas kamu, membebaskan kamu boleh memilih lelaki mana saja yang kamu cintai, lagipula kamu kan masih muda, tidak harus terikat lagi dengan pernikahan ini. Setelah issue perusahaan aku membaik dan posisi kamu aku kembalikan ke perusahaan ayah kamu, ketika keadaan itu kembali, aku akan benar-benar melepas kamu. Hal yang terpenting sekarang kita pikirin gimana caranya ngusir tante kamu itu.” Deg. Zanna tidak menyangka dengan mudahnya Clive mengatakan hal itu, dia kira sampai tua nanti akan menikah selamanya dengan Clive, namun kenyataannya Clive hanya menginginkan dua tahun pernikahan. Anehnya, mendengar hal itu Zanna merasakan agak tidak nyaman, seperti sesuatu menggelitik hatinya membuatya agak marah. Zanna memilih diam, tidak merespon ucapan Clive, raut wajahnya nampak begitu datar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN