Menikah Denganmu

649 Kata
Clive masuk ke dalam kamarnya, mengunpat pelan, dia merasa menjadi lelaki paling bodoh saat ini. Mengajak gadis SMA kelas 3 yang hendak menginjak bangku kuliah menikah dengannya. Clive merasa ini keputusan gila, tapi dia sendiri juga merasa iba dengan Zanna. Sedangkan Zanna masih melongo di ruang tamu, dia berharap ini semua mimpi. Clive, kakak Clara yang baru saja dia temui, mengajaknya menikah. Dilihat dari umur, dua bulan lagi memang Zanna sudah cukup untuk menikah, tepat delapan belaa tahun. Tapi apa dia bisa menjadi istri Clive yang baik? Zanna menepuk kepalanya, mencubit lengannya, dia melenguh kesakitan, namun sedetik kemudian dia benar-benar membuka mata, menyadari ini bukan hanya mimpi. Dia berjalan menaiki tangga, ingin mengetuk pintu kamar Clive. Sejenak dia ragu, tapi siapa yang sanggung menolak ketampanan serta kesempurnaan Clive? Zanna mengaca pada layar ponselnya, dia bukan gadis sempurna yang pantas untuk Clive. Tawaran Clive memang menggoda, tapi dia harus bisa harus sadar diri. Tok tok tok Zanna mengetuk pelan kamar Clive. Dia menggingit ujung jemarinya, dia ragu untuk menerima tawaran Clive. Tak lama Clive membuka pintu, menyuruh Zanna untuk masuk. "Ada apa? Kenapa belum tidur?" tanya Clive. Zanna menunduk, meremas ujung bajunya. "Mmmm .... kak, kalau kita menikah ... apa kita melakukan ... itu?" Tanya Zanna "Itu apa?" tanya Clive "Itu ... reproduksi kak," ucap Zanna malu-malu. Clive tertawa keras mendengar pertanyaan Zanna. Gadis di sampingnya benar-benar menggemaskan. "Ya itu sih terserah, kenapa pakai tanya begitu?" tanya Clive. "Zanna ... enggak mau kalau gitu," ucapnya menatap Clive. Seketika Clive melongo, tidak mau? Baru kali ini ada wanita yang terang-terangan menolak Clive. Bahkan biasanya dia selalu digoda oleh wanita. Biasanya para wanita bahkan rela menyerahkan seluruh hidupnya untuk Clive, tapi Zanna benar-benar berbeda, semakin membuat Clive penasaran. "Tapi kamu butuh dana kan? Soal berhubungan seks itu masalah nanti lah, aku cuma butuh status menikah, dan kamu butuh dana dan tempat tinggal kan?" tanya Clive. Zanna mengangguk pelan, dia menahan tangisnya, ada rasa sesak dalam dirinya, harga dirinya dipertaruhkan. Entah Zanna tidak tau harus menganggap Clive lelaki baik atau tidak. Tapi yang jelas dia sangat malu karena merasa menjual dirinya dengan menjadi istri Clive. Belum lagi umur mereka sangat jauh, Zanna merasa menikah dengan om-om berduit. "Kamu kenapa menunduk? Hei, kamu kenapa Zanna?" tanya Clive menaikkan dagu Zanna dengan jemarinya. Disentuh oleh Clive membuat Zanna memundurkan duduknya, sungguh dia takut dan malu saat ini. "Zan?" tanya Clive lagi. Zanna hanya menjawab dengan gelengan. "Yasudah, kamu tidur saja dulu. Kita menikah besok, kamu harus punya banyak energi untuk berdiri di hadapan para tamu," ucap Clive. Zanna membulatkan matanya seketika, besok? Besok dia harus menikah? "Kak? Besok? Besok? Menikahnya Besok?" tanya Zanna bingung. Clive menjawab santai dengan anggukan. "Iya, besok kita menikah. Makanya kamu tidur dulu," ucap Clive. Dia lalu mengambil atmnya, memberikan kepada Zanna. "Ini sebagai pegangan kamu, mulai sekarang, semua kebutuhan kamu, aku yang menanggung. Passwordnya 786512, pakai saja sesuka kamu," ucap Clive mengedipkan matanya. Zanna masih bingung dengan apa yang terjadi, kenapa harus besok? Apa tidak bisa pernikahannya ditunda terlebih dahulu? Dia memilih untuk kembali ke kamar Clara, menatap langit-langit, tangannya memutar-mutar kartu kredit yang dia pegang. Semua terasa aneh baginya, menikah yang dipersiapkan hanya dalam waktu satu hari. Apa ini semua hanya mimpi? Sibuk memikirkan nasibnya, Zanna lama kelamaan tertidur dengan lelap. Esok paginya, sinar mentari memasuki jendela kamar Clara, membuat Clara terbangun. Dia tersenyum melihat Zanna yang terlelap, hari ini hari Sabtu, libur sekolah. Dia sengaja tidak membangunkan Zanna dan menutupinya dengan selimut. “Zan? Clar? Sudah bangun?” panggil Clive dari luar. Clara menggeliat lalu membuka pintu kamarnya, menatap Clive dengan tatapan sayup, masih mengantuk. “Kenapa Bang?” tanya Clara sembari menguap. “Bangunin Zanna, kita harus segera ke gedung pernikahan, sekarang!” ucap Clive mengguncang bahu Clara. “HAH? Siapa yang mau nikah?” tanya Clara melongo. “Aku! Aku yang mau nikah sama Zanna!” teriak Clive yang sukses membuat Clara hampir saja jantungan. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN