Bagas mengepalkan tangannya, rahangnya terlihat mengeras, wajahnya yang semula ramah kini berubah menjadi dingin dan datar. Tatajam matanya terlihat begitu tajam seakan-akan sedang menguliti laki-laki yang sedang berdiri tepat di depannya ini. Nana yang melirik suaminya merasa kuatir. Apalagi dia melihat tangan suaminya yang terkepal dan ingin segera meninju orang di depannya itu. Dia menggenggam tangan suaminya, menyunggingkan senyum kepada suaminya untuk menetralkan suasana hati suaminya. Bagas yang melihat senyum manis istrinya dan merasakan genggaman tangan istrinya sedikit demi sedikit mulai mengurai kepalan tangannya. Rahangnya yang semula mengeras kini sudah dia tenangkan. Tatapan matanya sudah tidak setajam tadi. Tapi raut wajahnya yang dingin masih terasa lekat. "Sapa dia deng

