putri kebingungan mencari ke mana lagi uang yang akan mencukupi untuk membayar bunga satu persen utang ayahnya, pasalnya gajinya sama sekali tidak cukup untuk itu. Ia harus mencari pekerjaan lain, tetapi ia bingung pekerjaan apa yang harus ia lakukan. Di kota besar seperti ini sangat sulit sekali mencari pekerjaan, apalagi dirinya yang hanya merupakan lulusan SMA karena tidak selesai dalam menjalani studi kuliahnya. Sebenarnya ada seorang teman kuliahnya yang menawarkan bantuan, tetapi putri memilih menolak karena ia tidak mau merepotkan temannya itu. Ia tahu kalau temannya merupakan orang berada, tetapi percuma saja ia membayar utang itu dengan cara berutang juga. Akan sangat bagus jika ia benar-benar membayarnya dengan kerja kerasnya.
"Kau yakin tidak butuh bantuanku, put?" tanya doni—teman dekat putri. Mereka bertemu saat acara OSPEK di kampus.
"Tidak, aku bercerita padamu bukan untuk meminta bantuanmu, don. Aku tidak ingin merepotkanmu," jawab putri.
"Aku sungguh tak keberatan membantumu, put, aku tidak tega jika membiarkanmu harus banting tulang untuk melunasi utang mendiang ayahmu," ujar Doni
"Aku tidak apa-apa,don, kau tidak perlu khawatir. Aku masih kuat untuk mencari pekerjaan agar aku bisa mendapatkan uang itu." putri benar-benar tidak mau merepotkan doni
"Ya sudah, aku harap semoga kau bisa mendapat pekerjaan yang layak, put. Kalau kau nanti putus asa dan butuh bantuanku, maka jangan segan menghubungiku," ujar doni.
"Terima kasih telah mendengarkanku, don, kau sungguh teman yang sangat baik." doni tersenyum sekilas mendengar ucapan terima kasih temannya itu.
"Tidak perlu sungkan, put, aku akan selalu ada untukmu. Kau ini seperti dengan siapa saja? Bukankah kita ini teman?" doni menepuk bahu putri.
"Kau sungguh baik, siapapun gadis yang akan menjadi kekasihmu pasti akan sangat beruntung," ujar putri membuat doni terdiam.
"Andai kau tahu kalau sedari dulu aku menyukaimu,put," gumam doni
"Kau bilang apa, don?" tanya put yang tidak mendengar dengan jelas gumaman doni
"Bukan apa-apa. Ah, sepertinya aku harus pergi, sebentar lagi ada kelas Pak albet," ujar doni berdiri dari duduknya.
"Hati-hati, don" putri ikut duduk.
"Jaga dirimu baik-baik, put, nanti kita bertemu lagi." putri mengangguk, ia melambaikan tangannya ke arah doni yang perlahan menjauhi area taman sekitarnya.
"Fyuhh." putri mengembuskan napasnya, begitu berat rasanya hari ini.
Wanita itu berjalan meninggalkan taman tempat pertemuannya dengan doni, ia memang meminta doni menemuinya di taman karena laki-laki itu selalu menghubunginya dan menanyakan alasan kenapa ia berhenti dari kampus. Tidak ada yang harus putri tutupi dari doni karena pria itu banyak tahu mengenai dirinya dan ia memang tidak berniat menyembunyikan masalahnya. Ia butuh teman yang bisa diajak berbagi masalahnya, ia hanya ingin bercerita tetapi tidak untuk mendapat belas kasihan orang lain. Ia ingin doni mendengarkan ceritanya agar hatinya setidaknya sedikit lega karena tidak mungkin ia menceritakan ini semua pada keluarganya di saat ia memang sengaja ingin menyembunyikannya dan diam-diam menyelesaikannya semua masalah ini sendirian.
"Hei!" Tiba-tiba saja seseorang memanggilnya membuat dirinya yang tengah berjalan sambil menunduk pun mendongak, ia memicingkan matanya untuk melihat siapa yang memanggilnya. Dari kejauhan ia tidak begitu jelas melihatnya, tetapi saat melihat orang itu senyumnya tak bisa ditahan.
"Elsa!?" teriak putri sambil melambaikan tangannya ke arah seorang gadis yang ia panggil Elsa.
"Akhirnya aku bisa bertemu juga denganmu, put," ujar Elsa saat ia sudah berdiri di hadapan putri
"Kau apa kabar, put? Sudah lama aku tak bertem
u denganmu." putri nampaknya begitu senang bisa bertemu dengan teman lamanya, ia dan Elsa sudah berteman sejak kelas satu SMP.
"Aku baik, kau sendiri apa kabar, put?" tanya balik Elsa.
"Aku juga baik."
"Sepertinya kita harus mencari tempat duduk agar obrolan kita bisa terasa nyaman," ujar Elsa saat sadar kalau sedari tadi mereka berdiri.
"Kau benar, El, tapi kita harus pergi ke mana?"
"Ah, bagaimana kalau sebuah kafe di sana?" Elsa menunjuk sebuah kafe millenial yang tak jauh dari mereka.
"Aku sedang tak punya uang untuk pergi ke sana, El, bisakah kita cari tempat lain?" tanya putri sambil meringis membuat Elsa tertawa.
"Kau tak perlu khawatir,put, aku akan meneraktirmu. Kau tenang saja," ujar elsa
"Tapi—"
"Tidak perlu sungkan denganku, lagipula kita sudah lama tidak bertemu. Aku sanggup rindu mengobrol denganmu, put." Tanpa menunggu penolakan dari putri, Elsa menarik tangan teman lamanya itu dan mengajaknya pergi menuju kafe yang ada di dekat mereka.
Ragu-ragu putri memasuki kafe itu saat Elsa terus memaksanya untuk masuk, hingga akhirnya mereka duduk saling berhadap-hadapan di salah satu bangku kafe itu. Elsa memesan minuman dan makanan ringan untuk mereka, sembari menunggu minuman dan cemilan itu disiapkan, mereka berbincang-bincang.
"Kau dari mana saja? Mengapa baru muncul sekarang?" tanya putri.Kau tahu kalau aku saat ini sudah bekerja, put pekerjaanku sangat sibuk sekali. Aku bahkan tak punya waktu istirahat, tapi demi mendapatkan uang yang banyak aku rela menghabiskan waktuku untuk bekerja," jawab Elsa.
"Kau beruntung sekali bisa mendapatkan pekerjaan dengan cepat bahkan saat kau lulus SMA, el. Kau tahu sendiri? Bagiku sangat sulit mencari pekerjaan, bahkan sampai aku berhenti dari kampus pun saat ini tak ada tempat yang menerimaku menjadi pegawainya," ujar putri mulai bercerita tentang kesusahan yang ia alami.
"Kau keluar dari kampus, put? Benarkah itu? Bukankah masuk kampus itu adalah impianmu?" Elsa terkejut mendengar kabar kalau temannya berhenti kuliah.
"Aku terpaksa mengorbankan impianku itu, El, karena saat ini aku harus melunasi utang mendiang ayahku yang jumlahnya sangat besar." putri bercerita dengan wajah sedihnya.
"Aku hanya diberi waktu sampai besok, jika besok aku tak membayar bunga satu persen dari utang ayahku maka rumah kami akan disita."
"Saat ini aku sangat bingung sekali harus mencari di mana lagi uang itu, semua sudah aku coba tetapi tidak ada yang menerimaku menjadi pegawai mereka. Aku sungguh sangat putus asa," sambung putri.
"Kau mau suatu pekerjaan, put?" Tiba-tiba saja Elsa menawarkan sesuatu yang menarik bagi putri.
"Apa itu, El? Apapun pekerjaan itu akan aku lakukan asal aku bisa mendapatkan uang dengan cepat."
"Kau mau bekerja di club malam tempatku juga bekerja?"
"Maksudmu menjadi ... tidak! Aku tidak mau, El, aku tidak mau mengorbankan harga diriku hanya demi uang." Dengan tegas putri menolak sebelum mendengar perkataan Elsa selanjutnya.
"Dengar dulu apa yang aku katakan, put, ini bukan pekerjaan seperti yang kau pikirkan," ujar Elsa.
"Lantas, pekerjaan apa itu?"
"Kau hanya perlu menjadi pelayan di club malam,put, mengantar minuman untuk pengunjung yang datang. Bayarannya sangat besar karena pemilik club malam itu sudah sangat sukses, di sana ada banyak pengunjung yang berasal dari kalangan atas. Aku yakin dia pasti akan membantumu karena kebetulan sekali saat ini club malam itu sedang mencari pelayan baru," ujar Elsa.
"Tapi aku tak yakin, El."
"Kau coba dulu, put." Evely terdiam, ia kembali berpikir hingga kemudian akhirnya mengangguk. Semoga saja pekerjaan ini bisa menjadi ladang mencari uang baginya untuk melunasi utang yang begitu banyak itu.