"Penyesalan selalu di akhir, kalau di awal namanya pendaftaran." Rachel mulai sadar, kesadarannya terus meningkat hingga saat ini ia dapat membuka matanya. Pandangannya masih buram dan sedikit berkunang-kunang, ditambah kepalanya yang dirasa sangat pusing. Entah perasaannya saja, Rachel merasakan ada orang lain di sini. Mungkin ini hanya mimpi, karena tadi ia bermimpi ada yang mengelus pipinya dengan lembut. "Syel, lo udah sadar?" ah, ternyata itu Luna. Rachel mengerjab-ngerjabkan matanya, agar pandangannya lebih jelas. Ia menemukan Luna tengah berdiri di sampingnya seraya membawa nampan berisi makanan, Rachel bahkan lupa kalau ia belum makan sejak kemarin. "Gue kenapa, Na?" tanya Rachel dengan suara lemahnya. "Lo tadi pingsan," jawab Luna ketus. "Kan udah gue bilang, kalo lo nggak

