"Luka ini lebih terasa perih, saat kamu yang jadi penyebabnya."
Mata elang Darren menatap lurus ke arah ring basket yang berada tepat di hadapannya, posisi Darren saat ini sudah siap untuk menembakkan bola berwarna orange itu ke dalam ring, yang nantinya akan menjadi penentu kemenangan kelas mereka atau justru kelas sebelah.
Dalam hitungan tiga detik, bola yang tadi sudah Darren bidik akhirnya ia lambungkan. Tepat sasaran, karena bola besar itu masuk ke dalam ring dan anggota tim Darren bersorak senang.
"Mantep, Bro!" Mika menghampiri Darren dan melakukan tos ala pria.
Darren hanya tersenyum tipis dan menyambut tinjuan kecil Mika. Anggota timnya yang lain juga memberikan selamat, tidak lama pelatih yang sekaligus guru olahraga SMA Bakti menghampiri.
"Kamu resmi jadi captain untuk perlombaan Basket bulan depan, ya!" Pak Ruji tersenyum bangga seraya menepuk bahu Darren dua kali.
"Makasih, Pak." Darren mengangguk.
"Dar," panggil Mika pelan.
Darren menoleh dan mengangkat sebelah alisnya, "Apaan?"
"Bulan depan kan kita kudu jagain anak-anak camping, lo lupa?" tanya Mika. "Lo tau sendiri kalo kita nggak lengkap, abis dah kita sama Bu Vero."
"Lo tenang aja." Darren menepuk bahu Mika dua kali, kemudian melengos pergi.
"Eh, Dar!" teriak Mika namun tidak dihiraukan oleh Darren, "tenang-tenang palalu peang!"
Darren berjalan menuju ruang ganti untuk mengganti seragam olahraganya yang basah akibat keringat. Langkahnya terhenti saat di hadapannya ada pemandangan yang sangat malas ia lihat, haruskah Darren berada di tempat ini?
Di depan sana, beberapa meter dari lokasi Darren berdiri, ada Rachel yang sedang dikelilingi sejumlah siswi yang Darren tau mereka satu angkatan dengannya. Dan Darren yakin 100%, kalau para gadis itu lagi-lagi sedang membully Rachel.
Selama tiga bulan Rachel menjadi pacarnya, selama itu juga Darren sering melihat Rachel dibully. Ia tidak pernah memisahkan atau menarik Rachel dari gerombolan itu, ia hanya menonton, padahal penyebab Rachel dibully adalah karena berpacaran dengannya.
"Lemah," gumam Darren.
"Lo udah putus sama Darren?"
Lagi-lagi Rachel menghela nafas, jadi hanya itu yang ingin mereka tahu? Bukannya sudah jelas, dengan pemandangan Lisa dan Darren yang berboncengan adalah jawaban atas pertanyaan mereka.
"Kasian amat, lo. Ditinggalin Darren demi Lisa, tapi bagus sih. Emang Lisa lebih pantes." celetuk gadis berkuncir kuda.
"Gue aja mikir keras, kok Darren mau sama lo, sih? Modelan low kasta begini, mending juga sama gue." sambung gadis yang bergincu tebal.
"Lo pake pelet, ya?" celetuk gadis berkuncir kuda yang Rachel ketahui bernama Yana.
"Kalian kenapa selalu nanyain gue perihal hubungan gue sama Darren? Gue sama Darren udah nggak ada apa-apa, kalian bisa berhenti ganggu gue?" ucap Rachel seraya menatap kesal ke arah tiga gadis di hadapannya, walau jauh di lubuk hati Rachel merasa takut.
"Santai aja, dong!" Yana mendorong bahu Rachel dengan kasar.
"Lo itu nggak punya pelindung lagi, jangan cari gara-gara!" Lara-si gadis dengan gincu tebal itu maju, hendak melayangkan tangannya ke pipi Rachel.
Rachel sudah pasrah jika hari ini ia akan menerima tamparan atas kesalahan yang tidak perbuat. Bukankah ia sudah terbiasa, disalahkan atas kesalahan orang lain?
Sadar waktu seakan berhenti, mata Rachel terbuka lebar. Tangan Lara melayang kokoh di udara, dengan satu lengan kekar yang menahan tangan gadis itu untuk mendarat mulus di pipinya.
"Bersyukur lo cewek, kalo enggak, tangan lo udah remuk sekarang." Darren menghempaskan kasar tangan Lara, tatapan membunuh itu tidak pernah lepas menatap tiga gadis di hadapannya.
"K-kok lo belain dia, sih?" celetuk Yana, "bukannya kalian udah putus?"
Darren berdecak, "Gue paling nggak suka ada yang usik kehidupan pribadi gue. Lo bertiga milih pergi, atau-"
"Oke, fine!" potong Lara dengan cepat, "cabut, girls!"
Rachel masih terpaku, namun dengan cepat kembali menetralkan pikiran, terutama jantungnya yang kini tiba-tiba berdetak tidak karuan. Barusan itu, Darren membelanya?
"M-ma-"
"Lemah." Darren menatap datar ke arah Rachel.
"Maksudnya?" tanya Rachel, bingung.
"Harusnya lo lawan, bukan diem aja. Lemah."
Darren menggelengkan kepalanya, kemudian melengos pergi meninggalkan Rachel sendiri.
Rachel masih terdiam, barusan Darren mengatainya 'lemah'? Bukannya sebelum Darren datang, Rachel sudah melawan? Cowok itu kenapa, sih?!
To be continued