19

569 Kata
(Gastra) Warung Kopi Babeh terlihat ramai seperti biasa. Beberapa motor besar terparkir dengan rapi, para pemilik motor besar itu tengah berkumpul tepat di depan warkop Babeh. Raut wajah mereka terlihat serius seraya mengamati sang Ketua-Darren, yang tengah berbicara. Di samping Darren ada Mikhael Pradipta, bisa dibilang Wakil Ketua. Mika adalah satu-satunya yang paling dekat dengan Darren setelah Brian, hanya Mika yang mengerti Darren karena mereka sudah berteman sejak masih kanak-kanak. Wajar kalau Darren menunjuk Mika sebagai wakilnya. "Jadi, kita kapan balas mereka?" tanya Sagara, ia sejak tadi hanya diam. Namun, sebenarnya Sagara sudah panas ingin cepat-cepat menghajar Alex dan teman-temannya. "Sabar, Cendrawasih itu setara sama Bakti Mulia. Alardo dan Gastra itu kuatnya hampir sama, butuh perhitungan kalau kita emang mau balas dendam," ucap Brian. "Kenapa kita baru rencanain sekarang, sih? Kenapa nggak setelah mereka nabrak Kelvin? Telat amat," desis Sagara. "Semua yang dilakukan pake emosi, bakalan jadi boomerang buat kita." Darren menatap tajam ke arah Sagara. "Darren bener," celetuk Nathan. "Lo semua tau sendiri, si Alex ketua Alardo itu liciknya gimana. Salah langkah, kita abis." "Jadi, kita kapan bales mereka?" Sagara memutar malas bolamatanya, "gerah gue, kita dikatain pecundang gara-gara diem aja waktu Kelvin sengaja mereka tabrak." "Keadaan Kelvin sekarang gimana?" tanya Ethan. "Kelvin masih di rumah sakit, udah hampir dua minggu dia dirawat. Tangannya patah," sahut Mika. "Gue pengen banget bonyokin mukanya Alex!" ucap Sagara, kesal. "Tahan," ucap Darren dengan nada datar. "Gue udah atur semuanya." "Terus, kapan?"  "Gar, lo nggak bisa berlaku sesuka lo. Semuanya butuh strategi. Fokus dulu sama hukuman kita bulan depan, baru kita bales mereka."  "Ya ampun Dar, lo nyiksa gue banget elah. Mau nonjok Alex aja gue kudu nunggu," gemas Sagara. "Udahlah, Gar. Apa yang Darren bilang itu bener, emang Darren pernah ngecewain kita?" Brian menepuk-nepuk bahu Darren, "ya nggak, Dar?" "Serah lo," sahut Darren cuek. "Eh, Dar," celetuk Nathan. "Apa kabar lo sama cewek lo? Siapa tuh namanya, Raquel apa Raisa?" "Raisa pala lo, bini orang!" Ethan menoyor jidat Nathan. "Terus? Raquel berarti?"  "Rachel, jauh amat ke Raquel." Brian terkekeh pelan. Mika menepuk jidat menyadari kebodohan sahabatnya. Ditambah raut wajah Darren yang seketika berubah masam membuat Mika berusaha menghentikan banyolan Nathan yang terus-terusan salah menyebutkan nama Rachel. "Eh, lu pada tau Lisa, kan?" Celetuk Mika. "Tau!" sahut Nathan bersemangat, "yang ketua eskul Rohis, kan?!" "Itu Nisa!" Ethan menoyor jidat Nathan, lagi. "Lah udah ganti nama?"  "Bukan ganti nama, emang dari dulu namanya Nisa. Lisa itu yang ketua Cheerleaders, elah." Sagara menggelengkan kepalanya. "Oh ... " Nathan ber'oh ria. "Kenapa, Mik? Naksir?" tanya Brian. "Lah, Lisa yang kemaren boncengan sama Darren, kan?" celetuk Ethan, membuat seluruh pandangan tertuju pada Darren. Sedangkan Mika, cowok itu melotot ke arah Ethan dengan tatapan horror. "Nah, berarti Darren udah putus!"  "Gue cabut." Darren beranjak dari posisinya, kemudian berjalan menuju motor besarnya. "Itu anak kenape, si?" tanya Nathan. "b**o lo, Nath!" Mika langsung menoyor jidat Darren, "pergi dah tuh." "Emang kenape, si? Apa salahnya ngomongin Raquel?" tanya Nathan, kesal. "Rachel!" ucap Mika, gemas. "Darren tuh lagi sensi, dia baru aja putus!" "Lah, terus ceritanya si Darren lagi galau?" celetuk Brian. "Ya kaga tau, intinya jangan ngomongin Rachel dulu."  "Bukannya Darren macarin Rachel cuman buat bikin fansnya ngejauh, ya?" Brian berucap seraya menatap sahabatnya bergantian. "Em ... " Mika menoleh ke arah lain, enggan merespon ucapan Brian. Brian menatap curiga ke arah Mika, "Gue tau, lo pasti tau sesuatu." To be continued Maaf pendek, hehe. Follow instagram g.a.s.t.r.a cantikazhr
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN