Mata elang Darren menatap kosong ke depan. Sudah hampir satu jam lelaki yang masih mengenakan seragam lengkap itu berdiri di atas balkon kamarnya, tanpa bergerak dan hanya diam.
Pikirannya menjalar kemana-mana. Sejak kepulangannya dari Warkop, Darren hanya diam. Cowok itu terlihat datar seperti biasa, padahal jauh di dalam lubuk hatinya, ada sesuatu yang mengganjal.
Dari dulu, ada satu sifat Darren yang tidak pernah bisa hilang. Satu sifat yang selalu membawanya ke lubang kesalahan yang sama. Mungkin simple, keras kepala dan merasa paling benar. Tapi, karena itu ia harus kehilangan.
Karena keegoisannya, dulu Darren kehilangan seseorang wanita yang sangat ia cintai. Dan sepertinya, hal itu terulang lagi.
Rachel, sosok gadis biasa saja. Awalnya, Darren memilih Rachel karena gadis itu tidak menarik dan bukan selera Darren. Jadi, Darren tidak perlu takut akan jatuh cinta pada gadis itu. Karena tujuan awal ia memacari Rachel hanya untuk membuat para fansnya menjauh.
Tetesan air pun mampu menghancurkan sebuah batu saat ia tidak pernah berhenti menetes, begitu pula dengan sikap Rachel yang perlahan bisa mengetuk hati Darren yang terkunci rapat.
Sayang, perasaan itu tumbuh terlambat karena kini Rachel sudah tidak ada di genggamannya lagi. Rasa percaya diri Darren akan Rachel yang tidak mungkin meninggalkannya karena gadis itu begitu menyayanginya, ternyata menjadi boomerang.
Namun, Darren tetaplah Darren. Keras kepala, egois dan tidak mau mengalah. Untuk apa ia menahan Rachel jika gadis itu yang memutuskan untuk berpisah dari dirinya? Sama saja itu m*****i harga diri Darren.
Lagipula, perasaan Darren pada Rachel tidak sebesar perasaan Rachel padanya. Mungkin, dalam waktu dekat perasaan yang tumbuh terlambat ini akan hilang seiring perpisahan mereka.
Tentu saja, pasti perasaan itu akan hilang.
Atau malah akan bertambah.
"Abang ... " Darren menoleh ke arah pintu kamarnya dan mendapati Dira-adiknya- sedang menatapnya dengan sedikit takut.
"Apa?" tanya Darren datar, seperti biasa.
"Kata Mama, ayo makan. Abang belum makan, kan?"
"Udah," jawab Darren masih dengan wajah datarnya.
"Abang udah makan, ya?" ucap Dira, seketika raut wajah gadis itu berubah kecewa.
Darren melihat perubahan raut wajah adiknya. Ada sedikit rasa mengganjal, hatinya menyuruh Darren untuk menghampiri gadis kecil itu untuk memeluk dan mengajaknya bermain. Seperti yang selalu Dira harapkan selama 9 tahun ini, namun lagi-lagi ego tinggi mengalahkan logikanya. Darren bergeming, sembari menatap datar ke arah adiknya.
"Kalau gitu, kita main aja yuk, Bang?" ajak Dira yang berusaha tersenyum.
"Kapan-kapan," sahut Darren.
"Berarti, Abang mau, ya?" tanya Dira bersemangat.
"Ya," jawab Darren singkat.
Jawaban singkat itu mampu membuat wajah Dira cerah, bahkan jauh lebih cerah dari biasanya. Sehebat itukah kekuatan dari jawaban Darren? Atau karena selama ini yang Dira dapat adalah penolakan, hingga jawaban Darren seakan memberikannya kehidupan?
"Kalau gitu, Dira mau turun ke bawah dulu ya, Bang!" Dira tersenyum seraya menampilkan deretan gigi putihnya, gadis kecil itu kemudian menghilang.
Darren sempat mendengar Dira berteriak 'hore' di luar kamarnya. Sebahagia itukah Dira?
Tanpa Darren sadari, bibirnya terangkat saat menyadari adiknya tersenyum karenanya. Darren baru saja tersenyum, setelah sekian lama. Sejak terakhir kali penyebab senyumnya memutuskan untuk pergi, sejak itu juga Darren tidak pernah tersenyum lagi.
***
"Serius, Na. Dia nolongin gue!"
Rachel mendengus kesal karena lagi-lagi Luna mengira dirinya berbohong. Rachel baru saja tiba di rumah, karena masih shock, Rachel sampai lupa untuk menceritakan kejadian yang baru ia alami tadi di sekolah pada Luna.
Saat sampai, Rachel langsung menelpon Luna dan inilah yang terjadi. Sahabatnya itu tidak percaya dengan kenyataan yang baru saja Rachel ungkap, alasannya karena Rachel tadi tidak langsung menceritakannya.
"Harusnya lo langsung cerita, tadi. Biar gue percaya," ujar Luna di seberang sana.
"Ya gue kan tadi shock, Na. Lo bisa bayangin ga, sih? Dia nggak pernah peduli sama gue, waktu gue minta putus juga dia nggak nahan. Tiba-tiba dia nolongin gue dari Yana dan gengnya, apa lo nggak shock kalau jadi gue?!"
"Terus, abis nolongin lo, dia ada ngomong sesuatu, nggak?"
"Ngomong sesuatu?" Rachel memutar kilas balik kejadian beberapa jam lalu, seketika hatinya berdenyut.
Lemah
"Dia bilang ... "
"Apa?"
"Dia bilang ... emm ... " Rachel menggigit bibir bawahnya.
"Dia bilang apaan, sih? Lo jangan bikin penasaran," ucap Luna, gemas.
"Dia bilang gue, lemah," cicit Rachel.
"TUHKAN, RASYEL! DIA TUH NGGAK IKHLAS, MENDING GAUSAH DITOLONGIN KALAU UJUNG-UJUNGNYA NGATAIN. DARREN INI BENER-BENER MINTA DISLEDING!" geram Luna.
Rachel refleks menjauhkan ponselnya dari telinga, "Luna, jangan teriak!"
"Habisnya gue kesel, maunya apaan, sih? Pas udah mantan baru nolongin, itu juga sempet-sempetnya ngatain. Please, itu orang pengen banget disumpahin."
"Luna! Gue nelpon lo buat dapet pencerahan, bukan denger lo nyumpahin dia," dengus Rachel.
"Pencerahan apa lagi, sih? Jangan bilang lo mau stop move on cuman gara-gara kejadian itu?!"
"Tapi, Na. Tadi itu, duh sumpah gue jadi bimbang ... "
"Gini aja deh, Syel. Lihat ke masalalu, waktu lo butuh dia dan dia nggak pernah ada. Lo liat lagi masa-masa itu, jangan terpaku dengan kebaikan nggak seberapa yang dia lakuin barusan."
Rachel menghela napasnya, "Gue bimbang banget, Na."
"Logikanya gini, Syel. Kenapa lo bisa nerima Darren yang nggak pernah perhatian sama lo, bikin lo susah dan sakit hati. Dan kenapa lo nggak bisa nerima Aldi yang selalu ada buat lo, selalu bikin lo senyum dan bahagia. Kenapa?"
"Gue juga nggak tau, Na. Rasa gue ke Aldi, nggak lebih dari seorang sahabat."
"Gue pusing ah, Syel. Ikutin kata hati lo aja, percuma gue nasehatin orang yang lagi dimabuk cinta. Sama aja gur ngomong sama orang gila," desis Luna, kesal.
"Ih, kok lo jadi marah?"
"Gue nggak marah, gue nyuruh lo bebas milih. Percuma gue kasih tau, lo kayaknya harus ngerasain sendiri dulu. Gue dukung lo sama siapapun, itu hak lo."
"Tapi, Na. Gu-"
"Rachel!!"
"Aduh, Mama Tiri gue udah balik, Na. Udah dulu, ya!" Rachel langsung mematikan sepihak telponnya, kemudian keluar kamar untuk menghampiri Ibunya.
"Anak Ibu udah pulang sekolah, ya?"
Dahi Rachel mengkerut saat melihat tingkah Ibunya yang berbeda. Anak Ibu? Sejak kapan wanita di hadapannya ini sudi memanggilnya dengan sebutan 'anak'?
"I-iya, Nyo-"
"Ibu udah masakin makanan kesukaan kamu, loh." Lena tersenyum, senyum yang dipaksakan.
Rachel semakin bingung dibuatnya, sebenarnya ini ada apa?
"Rachel ... " mendengar suara berat itu, Rachel langsung menoleh ke belakang dan mendapati Ayahnya berdiri di depan pintu.
"Ayah udah pulang?" Rachel tersenyum kemudian menghampiri pria paruhbaya di hadapannya dan langsung menghamburkan pelukannya.
"Besok Ayah harus balik lagi ke Kalimantan," ucap Ayahnya, seketika membuat Rachel menghela napasnya.
Jadi, Rachel hanya akan bebas dari Ibu tirinya selama sehari? Ah, pantas saja sikap Lena tiba-tiba berubah. Ternyata wanita itu tau bahwa Ayah Rachel akan pulang.
"Mas, Rachel, yuk kita makan siang. Aku udah masak makanan kesukaan kalian." Lena menghampiri Rachel dan Ayahnya, wanita itu merangkul Rachel dengan erat, kemudian tangan sebelahnya menggamit lengan Ayah Rachel.
Biarlah, hanya untuk hari ini. Rachel kembali merasakan kehangatan keluarganya yang lengkap, hanya untuk hari ini, seseorang tidak akan berteriak padanya atau memarahinya. Hanya untuk hari ini, Rachel merasakan kasih sayang seorang Ibu, yang sudah lama tidak ia rasakan. Walaupun kasih sayang itu palsu.
To be continued
Part ini panjang loh :))