"Mencintaimu, ibaratkan menggenggam setangkai mawar berduri. Semakin erat aku menggenggammu, semakin aku terluka."
-cantikazhr-
Darren
Mata tajam Darren menatap datar ke arah layar ponselnya. Pesan singkat dari Rachel, entah mengapa membuat Darren sedikit ... Gugup? Ia sedang menimang-nimang, apakah ia harus menuruti keinginan gadis itu, atau tidak.
"Kenapa, Dar?" Mika yang paling pertama menyadari perubahan sahabatnya itu, melirik sekilas ke arah layar ponsel Darren yang masih menyala.
Saat ini, mereka sedang berada di basecamp. Tepatnya, di belakang gudang SMA Bakti. Tempat itu sudah diakui mereka sebagai basecamp resmi untuk Gastra, jika sedang di dalam sekolah. Di luar sekolah? Tentu Warkop Gastra.
Darren menyerahkan ponselnya pada Mika, "Baca."
Mika menatap ponsel itu dan Darren bergantian, sebelum ia meraih benda pipih itu dan membaca deretan pesan dari Rachel yang membuat raut wajah Darren berubah.
Rachel
Aku mau ngomong sama kamu, di taman belakang. Pulang sekolah, tolong, dateng ya.
"Nah loh," seru Mika, "mau diputusin kali lo."
"Mana mungkin," Darren berdelik.
"Nothing impossible, Man," Mika menepuk-nepuk pundak Darren.
Darren terdiam memikirkan omongan Mika. Pikirannya menjelajah ke mana-mana, apakah Rachel benar-benar ingin putus? Kalau iya, pasti Darren akan kembali diserbu oleh para gadis di sekolahnya dan Darren tidak menyukai hal itu.
Saat Darren berstatus memiliki pacar saja, mereka masih berani mendekati Darren terang-terangan dan itu tentu sangat mengganggu. Apalagi, jika Darren kembali menyandang status jomblo? Sudah dapat dipastikan, hidup Darren tidak akan tenang.
***
Rachel duduk termenung di bawah pohon rindang. Gadis itu sedang menanti kehadiran seseorang, meski Rachel tidak yakin orang yang ia tunggu akan datang.
Di genggaman Rachel, ada setangkai mawar merah yang masih berduri. Gadis itu tersenyum tipis, mawar itu seperti Darren.
"Kenapa?"
Rachel mendongakkan kepalanya, dan mendapati Darren sedang berdiri di hadapannya. Dari bawah sini, Rachel dapat melihat rahang tegas Darren, hidungnya yang mancung, serta matanya yang tajam.
Rachel bangkit dari posisinya, gadis itu berdiri untuk menyamai tingginya dengan Darren. Namun, usaha Rachel sepertinya sia-sia, karena tingginya dan Darren sangat berbeda jauh. Rachel hanya sedada Darren, membuatnya harus mendongak saat ingin berbicara dengan cowok itu.
"Duduk dulu," ajak Rachel yang sudah kembali pada posisinya, Rachel menepuk tempat kosong di sebelahnya.
"Ck, langsung ngomong aja. Gue banyak urusan, bentar lagi juga hujan," Darren menatap Rachel tajam.
"Sebentar, aja," pinta Rachel lagi, akhirnya Darren menurut dan memilih duduk di sebelah gadis itu.
"Sekarang, apa?" tanya Darren dengan nada tidak sabaran.
"Dulu, kamu nembak aku, di sini," Rachel tersenyum tipis seraya menunduk, "pake bunga yang kayak gini."
Darren mengikuti arah pandangan Rachel, dan mendapati setangkai mawar merah, persis seperti yang pernah ia berikan, dulu. Itu adalah mawar pertama dan mungkin terakhir yang Darren berikan.
Rachel menoleh dan menatap Darren dengan mata sayunya. Darren ikut menoleh, dan matanya langsung tertuju pada pelester yang tertempel di atas kening Rachel.
"Itu kenapa?" tanya Darren seraya menunjuk luka Rachel dengan dagunya.
Rachel menyentuh lukanya, seraya menatap Darren, "kalau kemaren kamu angkat telepon aku, pasti kamu tau ini kenapa."
"Gue sibuk," Darren menoleh ke arah samping.
"Emang kamu selalu sibuk, kan?" Rachel tertawa miris, "sibuk dengan duniamu, yang nggak pernah ada aku. Aku ada di dunia kamu, tapi di duniamu yang terbuang, di bagian ceritamu yang nggak penting. Di sana tempat aku, kan?"
"Lo mau ngomong apaan, sih? Kenapa berbelit-belit? Buruan, keburu hujan," desak Darren tidak sabaran.
Rachel lagi-lagi tertawa getir, gadis itu mengangkat mawarnya, dan menunjukkannya tepat di hadapan Darren.
"Mencintai kamu itu, sama kaya menggenggam mawar ini," Rachel menggenggam erat mawar itu, tanpa merasakan rasa sakit di tangannya karena tertusuk duri mawar.
"Lo gila?" Darren menarik tangan Rachel, ia membuka paksa tangan gadis itu.
Tangan Rachel mulai mengeluarkan darah di beberapa titik, namun gadis itu sama sekali tidak meringis sakit. Ia hanya menatap datar ke arah luka barunya. Luka itu tidak seberapa, dengan yang sudah pernah Rachel rasakan.
"Semakin aku genggam, semakin sakit," lanjut Rachel yang membuat Darren menatapnya tidak suka.
"Lo ngomong apaan, sih?" Darren bangkit dari duduknya, tangannya bergerak menarik tangan Rachel, "mau hujan, gue anter lo pulang."
"Nggak usah," tolak Rachel, "aku belum selesai ngomong."
"Buruan," desak Darren.
Rintik hujan mulai turun, membasahi dua insan yang kini tengah berdiri saling menatap. Darren mulai gerah, ia ingin segera pergi kalau saja kondisi Rachel tidak membuatnya tetap bertahan dan rela berdiri seperti orang bodoh di bawah guyuran hujan.
"Hubungan ini, cuman bikin aku sakit. Suatu hubungan itu harus diraih berdua, bukan sendiri. Di sini, kayanya cuman aku yang terlalu sayang, tapi kamu enggak," air mata Rachel mengalir deras, namun tidak terlihat karena terhapus oleh derai hujan, "kamu nggak pernah ada di saat aku butuh, kamu nggak pernah anggap aku ada."
Darren terdiam seraya menatap Rachel, tatapannya datar, tidak menyiratkan bahwa ia merasa bersalah. Padahal, jelas sekali kalau ia yang salah. Namun, Darren tidak mau mengakui hal itu.
"Dulu, kamu bilang aku segalanya. Tapi, sikap kamu sekarang? Itu menjelaskan kalau aku bukan apa-apa," Rachel menghela nafasnya, "lebih baik, nggak usah lagi ada kata kita. Kamu dengan duniamu, dan aku dengan duniaku."
"Lo mau putus?" tanya Darren yang sedari tadi hanya diam seraya mendengarkan.
Rachel tidak menjawab, gadis itu menoleh ke arah lain. Dan, hal itu sudah cukup menjadi jawaban untuk Darren.
"Oke," Darren menganggukkan kepalanya, "kita, putus."
Darren melangkah menjauh, meninggalkan Rachel yang masih berdiri tegak di bawah guyuran hujan. Gadis itu menangis, tetapi air matanya langsung terhapus oleh rintik hujan.
Di balik tembok, ada dua orang yang kini tengah tertawa senang karena akhirnya masa yang mereka tunggu telah tiba.
"Kita berhasil."
To be continued
2
00 vote + 100 komen buat double update
Silahkan nistakan Darren :)
Darrenalsca
Rachel.belvania
Cantikazhr