7

748 Kata
Rachel "Lepaskan, daripada memaksakan. Ikhlaskan, daripada menyakitkan. Relakan, daripada harus berjuang sendirian." -Anonym- Rachel menatap datar layar ponselnya. Ia tertawa miris, lagi-lagi lelaki itu tidak ada di saat Rachel membutuhkannya. Haruskah Rachel mempertahankan hubungan ini lebih jauh? Semakin dilanjutkan, Rachel semakin tersiksa. Namun, tidak dapat dipungkiri jika Rachel harus terus rela menahan sakit hati karena sikap Darren yang sangat acuh padanya. Rachel tidak mengerti di mana letak kesalahannya, Darren datang dengan tiba-tiba ke kehidupan Rachel, membuat gadis itu jatuh cinta, dan kini bertingkah seolah semuanya tidak pernah terjadi. Seakan hubungan Rachel dan Darren tidak memiliki arti. "Syel," panggilan dari arah belakang itu membuat Rachel menoleh. Aldi sedang berjalan ke arahnya dengan perlengkapan P3K di genggamannya. Jangan tanya mengapa Aldi bisa ada di sini, Rachel yang menelpon cowok itu. Rumah mereka hanya terpaut dua puluh meter, wajar jika Aldi adalah orang kedua yang dihubungi Rachel saat ia butuh, tentu saja jika Darren mengangkat teleponnya ia tidak perlu memanggil Aldi dan merepotkan sahabatnya itu. Aldi duduk tepat di sebelah Rachel, cowok itu mengambil kapas dan menuangkan alkohol di atasnya. Tangan Aldi bergerak ingin membersihkan luka yang ada di atas kening Rachel, namun gadis itu malah menghindar. Aldi menatap Rachel heran, "Kenapa?" "Gue bisa sendiri," ucap Rachel seraya berusaha meraih kapas di genggaman Aldi. Aldi menarik peralatan P3K itu menjauh dari Rachel, ia menggelengkan kepalanya.  "Lo sama sekali nggak berubah ya, Syel?" Aldi menatap Rachel heran, "kalau lo bisa sendiri, ngapain lo nelpon gue?" "Aldi, gue nggak mau debat. Siniin," sanggah Rachel yang masih berusaha merebut kapas itu dari Aldi. "Enggak," Aldi menggelengkan kepalanya, "udah cukup gue denger kata 'gue bisa sendiri' keluar dari mulut lo. Lo bukan superhero, yang bisa mengatasi semua  masalah tanpa masalah. Lo cuman manusia biasa, yang terlihat pura-pura kuat, padahal lo sebenernya hancur." "Aldi ... " panggil Rachel dengan suara lemah. "Sampai kapan, Syel? Sampai kapan lo mau jadi orang yang kayak gini? Sampai kapan sikap tangguh lo itu bisa menutupi luka yang ada di sekujur tubuh lo?" "Al, please ... " "Nangis Syel, nggak usah di tahan. Nangis bukan berarti lo lemah," ucap Aldi yang langsung membuat tangis Rachel pecah. Aldi menatap Rachel yang tengah menangis sesegukan di hadapannya, dengan sigap, Aldi merentangkan kedua tangannya. Cowok itu menarik Rachel ke dalam pelukannya yang menghangatkan, dan menenangkan. "Nangis aja, Syel. Nangis sepuas lo, gue ada di sini. Lo bisa nangis di pundak gue, lo bisa jadiin gue samsak kalo lo lagi marah, gue rela," Aldi mempererat pelukannya seraya mengelus puncak kepala Rachel, "asal lo janji sama gue, Syel. Lo nggak boleh mendam semuanya sendirian. Lo punya gue, gue sebagai sandaran lo, gue sebagai apapun yang lo mau." "Kenapa lo baik banget sama gue, Al?" tanya Rachel dengan suara lirih, "kenapa Darren nggak bisa kayak lo?" "Karena gue bukan dia, dan dia bukan gue," jawab Aldi dengan nada datar.  "Kadang gue berharap, Al. Sikap Darren yang acuh itu, bisa gue bikin gue benci dan akhirnya gue bisa ngelepas dia tanpa beban. Tapi? Dengan bodohnya gue masih sayang sama orang yang bahkan nggak perduli sama gue, Al." "Lepaskan, daripada memaksakan. Ikhlaskan, daripada menyakitkan. Relakan, daripada harus berjuang sendirian," Aldi menghela nafas, "buat apa mempertahankan sesuatu yang nggak pantas dipertahankan?" "Tapi, gue nggak sanggup, Al ... " "Lo milih sakit hati sekali, apa berkali-kali?" tanya Aldi, "kalo lo milih sakit hati sekali, putusin dia sekarang, lo bakalan menyesal sebentar, dan lo bakalan bersyukur setelahnya. Lo milih sakit hati berkali-kali? Silahkan bertahan, dengan catatan, lo bakalan terus terbebani kayak gini, setiap hari." Rachel terdiam, mencerna setiap perkataan Aldi. Cowok itu benar, bersama dengan Darren hanya membuatnya sakit, setiap hari. Bukannya membuat Rachel merasa sedikit bahagia, Darren hanya malah menambah bebannya.  Rachel memang sangat menyayangi Darren, namun, bukan berarti ia harus menjadi gadis bodoh yang selalu pasrah dengan sikap Darren, kan. Bukankah prinsip awal sebuah hubungan itu berjuang bersama? Di sini, hanya Rachel yang berjuang. Sedangkan Darren? Lelaki itu sudah berada di puncak, tanpa menunggu Rachel ikut bersamanya. "Lo bener, Al. Gue harus lepas dari dia," Rachel melepaskan dirinya dari pelukan Aldi, "gue harus mengakhiri, segalanya." "Good girl," Aldi tersenyum seraya mengelus puncak kepala Rachel. Jangan paksakan sesuatu yang hanya akan merugikan dirimu. To be continued Sekali lagi, saya kembali mengingatkan untuk yang komentar, KAK KENAPA PENDEK, PENDEK BGT WOY, GAJELAS. Udah pernah aku bilang, cerita ini partnya emang pendek", biar apa? Biar nggak terpelatuk sama ceritanya doang, tapi paham pengajarannya. Please, stop bilang PENDEK KAK, PENDEK, bikin gak mood. Hargai, lah. Ngetik yg kalian blg pendek itu juga mikirnya berjam-jam.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN