6

658 Kata
"Yang istimewa, akan kalah dengan yang selalu ada." -anonym- Darren baru saja selesai memarkirkan motor Ninjanya di dalam garasi. Cowok yang mengenakan jaket boomber hitam itu, berjalan santai menuju rumahnya, seraya memasukkan kedua tangannya ke dalam kantong jaket. Kedatangan Darren disambut meriah oleh seorang gadis kecil yang tengah memakai baju balet kebanggaanya. Gadis itu berlari ke arah Darren seraya merentangkan kedua tangannya, meminta untuk dipeluk.  Namun, dengan santainya Darren melangkah melewati gadis kecil itu, seakan-akan ia tidak melihat. Sikap Darren, menimbulkan goresan luka menganga di hati seorang anak kecil yang baru berusia delapan tahun itu. "Abang ... " gumam bocah itu dengan bibirnya yang bergetar. Ia membalikkan tubuhnya, menatap punggung Darren yang sudah menghilang, "Kapan abang sayang sama Dira?" Darren masuk ke dalam kamarnya, cowok itu membanting tubuhnya ke atas kasur. Darren mengusap wajahnya gusar. Sejenak, ia merasa menjadi orang paling jahat di dunia ini, karena telah melukai perasaan adiknya.  Namun, wajah Dira benar-benar membuat Darren muak. Itu karena wajah Dira sangat mirip dengan wanita itu, wanita yang bahkan tidak ingin Darren ingat di dalam hidupnya. Walaupun sebenarnya wanita yang Darren benci itu berstatus sebagai Ibunya, dan wanita itu juga sekaligus menjadi penghancur di keluarganya. Tidak ada yang salah dengan Dira. Hanya Darren yang terlalu membenci Ibu dari gadis kecil itu. Ah, Darren benci ketika ia harus teringat sosok wanita itu. Ponsel Darren berdering, dengan malas, ia merogoh saku seragamnya dan meraih benda pipih itu. Darren menyipitkan matanya dan membaca deretan angka yang tertera di layar, tulisan nama Si b******k dengan capslok tertera di sana, membuat Darren segera menggeser Icon hijau dan menempelkan benda pipih itu di telinganya. "Posisi," sambar Mika saat Darren baru saja mengangkat teleponnya. "Rumah," sahut Darren dengan nada datar. "Cendrawasih nyari gara-gara," ucap Mika yang langsung membuat Darren bangkit dari posisinya. "Mereka ngapain lagi?" tanya Darren dengan nada kesal. "Salah satu anak Alardo yang sekolah di sana, nyerempet Kelvin. Mereka sengaja," "Kita balas," ujar Darren yang sudah mengepalkan tangannya. "Jangan sekarang, besok, ataupun lusa," balas Mika yang membuat dahi Darren mengernyit, "sabar dulu, Dar. Gue belum selese ngomong." "Apaan?" Darren berucap malas. "Anak-anak udah punya rencana, buat balas Alardo di saat yang tepat." "Lo semua bikin rencana tanpa persetujuan gue?"  "Santai, Bos. Lo bakalan setuju dengan cara ini, gue jamin," ucap Mika dengan yakin. "Dan, kalau seandainya gue nggak setuju?" tanya Darren dengan nada menantang. "Gue bakalan umbar hubungan gue sama Luna, nggak backstreet lagi," sahut Mika dengan nada yakin. "Nggak menguntungkan," balas Darren. "Ntar aja itu kita pikirin, gue masih ada kabar lain," "Apa?" "Bu Fero nyuruh kita jadi team keamanan buat acara camping di puncak, nanti. Katanya, kita lebih nyeremin daripada seksi keamanan di osis." "Dia kira kita bodyguard? Ogah," tolak Darren, Bu Fero kira anak Gastra itu apa?  "Ini ada hubungannya sama kelulusan kita, njir. Kalo sampe kita nggak mau, habis dah kita nggak lulus. Lo tau sendiri 'kan, catatan kenakalan kita itu sudah seberapa tebel?" "Harus banget jadi bodyguard anak-anak camping?" gerutu Darren tidak suka. "Ya, mau gimana lagi, lah. Pasrah aja, daripada kita nggak lulus," oceh Mika. "Kapan acaranya?" tanya Darren. "Belum dikabarin Bu Fero, ntar deh gue tanyain lagi. Udahan, yak. Gue lagi pusing,"  "Kenapa lo?" "Luna minta putus, k*****t. Kaga ada angin kaga ada hujan,"  "Mampus," Darren terkekeh. "Halah, tunggu aja Rachel juga minta putus. Mampus lo," sewot Mika. "Nggak bakal," balas Darren yang masih terkekeh. "Serah," Mika langsung menutup sepihak teleponnya. Itu membuat Darren semakin tertawa geli seraya menatap layar ponselnya. Mata Darren menyipit, saat melihat banyaknya panggilan telepon tidak terjawab dari Rachel. Untuk pertama kalinya, Rachel meneleponnya sebanyak itu.  Biasanya, jika Darren tidak mengangkat telepon dari Rachel, sekali saja, gadis itu sudah paham bahwa Darren sibuk atau bahkan Darren tidak ingin diganggu. Namun, ada yang berbeda kali ini. Darren menatap datar layar ponselnya, pikirannya sedang menimang-nimang, apakah ia harus menelepon gadis itu lagi atau tidak. Dan, Darren sudah menemukan pilihannya. Darren meletakkan ponselnya asal, dan lebih memilih tidur. To be continued Follow! Darrenalsca Rachel.belvania G.a.s.t.r.a
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN