5

653 Kata
"Ingat, Tuhan tidak pernah memberikan cobaan melebihi batas kemampuan." -cantikazhr- Rachel menghempaskan tubuh ke atas kasur kecilnya. Gadis itu menghela nafas, lelah. Lelah dengan segalanya. Baru saja ia berniat untuk tidur, teriakan dan pintu yang diketuk dengan tidak sabaran membuatnya mengurungkan niat. Lagi, Rachel menghela nafasnya gusar. Gadis itu mengusap kasar wajahnya, menahan air mata yang sudah tiba di pelupuk matanya. Rachel bangkit dari kasur, dan berjalan menuju pintu. Ketukan dan teriakan dari luar, semakin membuat Rachel merasa berat. Berat untuk membuka pintu kamarnya yang dari tadi bergetar karena gedoran tidak santai oleh Ibunya, Rachel menghela nafas dan memutar kenop pintunya. "Lama banget sih, kamu?!" semprot seorang wanita paruh baya yang kini berdiri tepat di hadapan Rachel seraya berkacak pinggang.  "Aku nggak dengar, Bu," sahut Rachel seraya menundukkan kepalanya. "Ba, Bu, Ba, Bu, inget ya, saya bukan Ibu kamu!" geram wanita itu, "kamu lupa, ya? Kalau Ayah kamu sedang tidak ada di rumah, kamu panggil saya Nyonya. Bukan Ibu, saya nggak sudi nganggep anak p*****r kayak kamu jadi anak saya." Rachel mendongak, dan menatap tajam ke arah wanita itu, "Ibu saya bukan p*****r!" "Dia emang bukan p*****r, tapi ninggalin keluarganya sendiri buat nikah sama orang kaya? Ya dia sama aja jual diri, kurang lebih sama p*****r," lagi, wanita itu menyayat hati Rachel dengan kebenaran yang ia ucapkan. Rachel yang tadinya berani menatap wanita itu dengan mata tajamnya, kini kembali menunduk pasrah. Membiarkan bulir air mata mengalir dari pelupuk matanya, kenapa hidupnya sangat berantakkan? "Nggak usah nangis, Kamu," Lena-Ibu tiri Rachel-melipat kedua tangannya di depan d**a, "cucian udah pada numpuk, saya baru aja mecat pembantu buat menghemat biaya pengeluaran. Sana, kamu cuci!" "Nanti habis aku istirahat, Bu," sahut Rachel. "Enak, aja!" sentak Lena, "nggak ada istirahat, sebelum kamu selesaikan semua pekerjaan rumah!" "Tapi, Bu-" "Nyonya!" koreksi Lena, "saya nggak sudi kamu panggil Ibu!" "Ta-tapi," "Banyak omong!" Lena langsung menggeret tubuh Rachel ke kamar mandi, "lihat sendiri, itu cucian udah numpuk kayak gunung! Belum lagi cucian piring, nyapu halaman, semuanya nggak bakalan selesai kalau kamu malas-malasan!" Rachel menatap tumpukan pakaian itu dengan berlinang air mata. Ia bukan menangis karena disuruh melakukan pekerjaan rumah, ia hanya tidak mampu mengeluarkan emosinya yang sudah tertahan di ubun-ubun. Dan, Rachel hanya mampu meluapkan emosi itu melalui air mata. "Eh, ini anak malah nangis! Nggak usah drama, drama. Kamu pikir saya bakalan kasihan sama kamu?" ucap Lena seraya menangkup kedua pipi Rachel, "dengar baik-baik, rumah harus beres waktu saya pulang nanti. Kalau enggak, kamu tau akibatnya 'kan?" Rachel memejamkan mata seraya mengangguk pasrah, membuat seulas senyum penuh kemenangan tercetak di bibir Lena.  "Bagus, kerja dari sekarang!" Lena mendorong tubuh Rachel hingga gadis itu tidak sengaja menghantup tembok. Lena melenggang pergi begitu saja, padahal ia melihat dengan jelas bahwa kepala Rachel tadi menghantup tembok. Jelas Lena tidak perduli, toh anak itu bukan anak kandungnya. Lena lebih senang jika Rachel meninggal, itu akan mengurangi beban di hidupnya. Karena, baginya Rachel adalah beban. Rachel meringis seraya mengusap dahinya yang terasa sakit, gadis itu terduduk seraya menyandarkan kepalanya ke tembok yang dilapisi keramik itu. Rachel kembali memejamkan matanya, seraya menangis. Beginikah nasib Rachel? Ia sudah cukup menderita karena Ibunya, satu-satunya orang di dunia ini yang menyayangi Rachel lebih dari apapun meninggalkannya. Memiliki Ayah yang sama sekali tidak peduli padanya, dan seorang pacar yang mana Rachel harapkan bisa jadi tiang kehidupannya, ternyata juga tidak peduli padanya. Kadang Rachel berpikir, apakah dengan cara bunuh diri, semuanya akan selesai. Apakah penderitaannya akan berakhir? Seseorang datang dan menepuk pundaknya, mengingatkan Rachel pada Tuhan. Bahwa, sesungguhnya Tuhan tidak akan pernah memberi cobaan melebihi batas kemampuan umatnya. Cobaan diberikan agar kita mau terus berjuang.  Kalau hidup selalu mulus, kapan kita akan mengerti maknanya berjuang? Rachel harus terus hidup, ia tidak boleh lemah. Mungkin ia terlihat sendirian, namun masih ada Tuhan yang selalu ada bersamanya. Rachel harus bisa bangkit, dan membuktikan bahwa ia bisa. Ia bisa melewati ujian hidup ini. To be continued More info, follow i********: : Cantikazhr Darrenalsca Rachel.belvania
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN