"Mungkin sekarang kamu biasa saja, tapi nanti? Ingat, penyesalan selalu datang di akhir."
***
Rachel menghela nafas seraya menatap pintu rumahnya yang terkunci rapat. Tangannya bergetar, dan nyalinya terlalu kecil hanya untuk mengetuk pintu jati yang sudah tidak kokoh lagi itu.
Baru saja tangan Rachel terangkat, pintu itu terbuka. Berganti dengan sosok Ibu tirinya yang sudah berpakaian rapi, entah ia ingin pergi ke mana. Padahal, Rachel yakin ini sudah terlalu malam untuk Ibunya keluar rumah.
"Masih inget rumah ya, Kamu?" nada sinis Lena membuat bulu kuduk Rachel berdiri.
"Tadi, aku ... " Rachel menggigit bibir bawahnya, gadis itu bingung harus memberikan alasan apa. Tidak mungkin ia mengatakan yang sejujurnya kalau ia pingsan dan ditolong oleh Aldi, bukan?
"Sudah, masuk sana. Mood saya terlalu bagus buat ladeni kamu," Lena mendorong tubuh Rachel hingga gadis itu terjerembab ke lantai, "sebagai hukuman, malam ini kamu nggak usah makan."
Kemudian, Lena melengos pergi setelah mengunci Rachel di dalam rumahnya. Rachel menghela nafas, rasanya, ia ingin kembali menangis. Namun, air matanya seakan sudah habis dan tidak mampu menangisi hal kecil seperti ini lagi.
Gadis itu bangkit dari posisinya, dan berjalan lunglai menuju kamar. Rachel langsung merebahkan tubuhnya ke atas kasur kecilnya, gadis itu memejamkan mata seraya memendam rasa sakit di sekujur tubuhnya.
Rasanya, seluruh tubuh Rachel remuk. Ini akibat ia harus melakukan pekerjaan rumah setiap hari, sekolah, dan hal lain yang sangat menguras energi. Tubuhnya tidak pernah beristirahat, kecuali saat ia tidur. Itupun, Rachel tidak pernah tidur lebih dari 4 jam setiap hari, padahal minimal tubuh manusia harus tidur selama 8 jam.
Perut Rachel berbunyi, berbarengan dengan ponselnya yang bergetar. Rachel meraih benda pipih itu di saku seragamnya, dan menggeser icon hijau yang tertera di layar tanpa membaca siapa yang menelponnya.
"Halo?" sapa Rachel dengan suara lemas.
"Halo, Syel?!" Luna langsung menyambar, "kata Aldi lo pingsan, kondisi lo gimana?" terdengar nada khawatir dari gaya biacara Luna.
"Gue baik-baik aja, Na ... "
"Mama tiri lo, gimana? Dia ngapain lo lagi kali ini?"
"Biasa lah, Na. Gue dihukum, nggak dapet jatah makan malem, dan besok nggak dikasih ongkos buat naik bus," sahut Rachel seraya tersenyum tipis. Hal itu sudah sangat biasa, hingga hal yang dianggap orang lain sangat memberatkan, bisa Rachel jalani dengan senyuman.
"Yaampun, tuh kan! Dasar nenek sihir, nggak sudi gue punya nama mirip sama dia," gerutu Luna, "lo tunggu di rumah, Syel. Gue ke rumah lo, bawain makanan."
"Nggak usah, Na. Rumah gue dikunci dari luar,"
"Bukan Luna namanya, kalau hal kecil kayak gitu doang gue nggak bisa," sahut Luna yang langsung mematikan sepihak teleponnya.
***
Darren baru saja tiba di warkop gastra seraya masih mengenakan seragam putih abu-abunya. Setelah memarkirkan ninjanya, cowok itu melangkah malas ke arah teman-temannya yang sudah lengkap di warkop itu.
Baru saja Darren duduk di sebelah Mika, cowok itu malah langsung berdiri. Alis Darren mengkerut seraya menatap aneh ke arah Mika.
"Mau ke mana, lo?"
"Luna minta temenin gue ke rumah Rachel, gawat katanya," sahut Mika.
"Lo nggak jadi putus?" Darren menaikkan sebelah alisnya.
"Justru gue bakalan putus beneran kalo gue nggak nyamperin Luna sekarang," Mika menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, "lo nggak ikut, Dar? Ke rumah cewek lo ini."
"Nggak penting," Darren bangkit dari posisinya dan berjalan masuk ke dalam warung.
Mika menatap Darren seraya menggelengkan kepalanya, tepukan di bahu membuat Mika menoleh ke belakang dan mendapati Brian yang juga tengah menatap Darren dengan tatapan yang sama dengannya.
"Itu orang keknya lagi banyak masalah," gumam Brian.
Mika menaikkan sebelah alisnya, "kata siapa?"
"Lo liat penampilannya, sejak kapan Darren kalo ke sini nggak mandi dulu?"
"Lo tau dari mana kalo dia belum mandi?"
"Lo nggak liat, dia masih pake seragam?" Brian menoyor jidat Mika.
"An-" ucapan Mika terhenti karena ponselnya bergetar.
Mika merogoh saku jaketnya, meraih benda pipih itu. Matanya membulat sempurna ketika deretan nama Luna terpampang di sana, Mika menepuk jidatnya.
"Anjir, mampus gue!" cowok itu langsung berlari ke arah motornya.
"b***k cinta," Brian menggelengkan kepalanya.
To be continued
Kalian team
#RachelAldi
#RachelDarren
Follow
Darrenalsca
Rachel.belvania